
Godaan Di Balik Jebakan Untuknya
Bab 2
Meskipun merasa bingung dengan arah pembicaraan ini, aku memilih diam dan menunggu Fredy melanjutkan. "Wade, kita sudah kenal berapa lama?" tanya Fredy tiba-tiba.
"Kurang lebih 10 tahun, aku juga nggak menghitungnya," jawabku.
"Wade, aku mau cerita sesuatu, tapi kamu jangan tertawain aku," kata Fredy sambil mematikan rokoknya, seolah-olah telah mengambil keputusan besar. "Akhir-akhir ini aku merasa nggak ada gairah lagi sama Yudith. Tapi kalau membayangkan dia bersama pria lain, aku langsung naik birahi. Menurutmu, kenapa aku bisa begini?"
Saat itu aku baru menyadari bahwa masalah ini cukup serius. Mungkin ada yang tidak beres dengan sahabatku ini. "Kalau begitu, nggak usah dipikirin saja?"
"Masalahnya lebih buruk dari yang kubilang. Sekarang, hampir setiap malam aku nggak bisa tidur karena bayangan dia dan pria lain terus menghantuiku. Semua orang menganggap Yudith seperti bidadari, tapi kamu nggak tahu, aku sudah lama nggak menyentuhnya."
Fredy menatapku serius, "Kamu satu-satunya orang yang bisa aku percaya. Jadi, aku mau kamu membantuku."
"Gimana caranya aku bisa membantu?" tanyaku.
"Wade, menurutmu bagaimana Yudith?" tanya Fredy lagi.
Dia mengulangi pertanyaan yang sama seperti saat makan tadi. Aku bingung harus bagaimana menjawab. Mataku secara refleks melihat ke arah Yudith yang sedang melangkah masuk ke vila. Tubuhnya yang ramping, pinggul montok, dan kaki jenjangnya membuat pikiranku melayang.
"Wade, aku sudah perhatikan caramu melihatnya. Aku tahu kamu menahan diri karena kita bersahabat, dan aku mengerti itu," kata Fredy sambil menepuk pundakku.
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?" tanyaku akhirnya.
Fredy menghela napas dan berkata pelan, "Aku sudah bicara sama dia. Sekarang cuma tinggal menunggu keputusanmu. Kamu cuma perlu ...." Dia mendekatkan mulutnya ke telingaku dan berbisik.
Ketika kami masuk ke dalam vila dengan membawa peralatan, Yudith sudah membuka sebotol anggur dan menuangkan ke tiga gelas. Wajahnya memerah, tangannya sedikit bergetar, dan dia tidak berani menatapku secara langsung.
Aku langsung meneguk habis anggur di gelasku, lalu naik ke lantai dua untuk mengamati sekitar. Aku memutuskan adegan pertama akan diambil di kamar utama di lantai dua. Ketika aku kembali ke bawah, Fredy sedang berbicara di dekat telinga Yudith. Wajah Yudith memerah, jelas Fredy mengatakan sesuatu yang cukup provokatif.
Kami naik ke kamar utama di lantai dua. Aku menutup tirai dan memberi isyarat kepada Fredy untuk menyiapkan lampu.
Foto pertama, Yudith mengenakan jubah mandi dan duduk di depan meja rias. Aku mengambil gambar dari sudut belakang samping, dengan sudut pandang dari atas ke bawah.
"Tegakkan pinggangmu, tarik kerah sedikit lebih terbuka, lihat ke arah sini, ya, begitu," kataku sambil memberikan arahan. Yudith masih tampak sedikit gugup, tetapi akhirnya dia berhasil berpose sesuai instruksiku.
"Bayangkan malam pertama kalian ...."
Kilatan lampu kamera menyala dan foto itu pun selesai. Di layar, terlihat seorang wanita yang malu-malu dan menawan, tetapi tetap memiliki kesan polos yang mengalahkan semua model yang pernah kufoto sebelumnya.
Seiring waktu berlalu, koordinasi kami menjadi semakin lancar. Setelah menyelesaikan satu set foto, Fredy memberiku isyarat dengan matanya. "Waded, kita masuk ke inti sekarang."
Mendengar hal itu, tubuh Yudith kembali tegang.
"Kamu mau ambil gambar seperti apa?" tanyaku.
"Kamu yang atur, kami akan ikuti," jawab Fredy.
"Baik, Yudith, jangan tegang. Kita ambil beberapa foto yang agak sensual," ujarku.
Kali ini, Yudith mengenakan gaun tidur bertali tipis. Dia berlutut dengan kaki sedikit ditekuk, dan membungkukkan pinggang rampingnya untuk menampilkan lekuk tubuh yang sempurna.
Saat aku hendak menekan tombol rana, Fredy tiba-tiba berkata, "Tunggu sebentar, Sayang. Lepaskan celanamu dulu."
Wajah Yudith memerah sepenuhnya. Dengan malu-malu, dia perlahan mengangkat gaunnya ....
Anda Mungkin Juga Suka





