
Ghost Boyfriend
Bab 2
Sialan! Kemana manusia kampret itu? Umpat Arka dalam hati ketika pagi itu ia mencari Damar ke kamarnya. Tumben pagi-pagi sekali kamar Damar sudah terkunci dalam keadaan kosong? Biasanya jam segini dia masih asyik molor melukis sprei tempat tidur.
Dengan gontai Arka kembali ke kamarnya. Ia hanya ingin meminta Damar menghapus foto-fotonya bersama Carla sebelum besok pagi ia terbang ke Indonesia. Beberapa dari foto itu sedikit vulgar dan bisa menyebabkan fitnah jika ada orang yang melihatnya. Walaupun sebenarnya itu bukan keinginannya, dan Carla lah yang selalu agresif seperti itu, tapi tetap saja Arka merasa risih dan tak nyaman jika foto itu masih ada di dunia ini.
Lebih baik ia melanjutkan prepare sambil menunggu kedatangan Damar. Banyak barang-barang yang belum masuk koper. Setelah ini, ia takkan kembali ke tempat ini lagi, jadi semua barang-barangnya harus ia angkut ke Indonesia. Ada sih beberapa barang yang sudah tidak berguna lagi, rencananya itu akan ia hibahkan ke Damar saja.
Arka duduk di lantai di antara koper-kopernya yang masih berserakan. Ia memilah milah mana barang pribadinya, dan mana oleh-oleh untuk Ziva dan keluarganya. Sudah sejak beberapa hari yang lalu ia memang sengaja membeli oleh-oleh di sini. Termasuk juga cincin untuk Ziva. Ada juga beberapa benda yang sebenarnya sudah ia beli beberapa bulan bahkan tahun lalu, hanya saja ia baru bisa membawanya sekarang.
Sejak berangkat ke Jerman ia memang belum pernah sekalipun pulang ke Indonesia. Selain terkendala biaya, juga terkendala pandemik Covid-19 yang mengharuskan beberapa negara di dunia lockdown. Terutama Jerman dan Indonesia. Berbagai aturan ketat seperti vaksin, swab, dan wajib karantina juga membuatnya malas untuk melakukan perjalanan ke luar negeri. Jadi walaupun kuliahnya sempat dilakukan secara online, ia terpaksa tetap bertahan di Jerman.
Arka terkejut ketika tiba-tiba handphone nya berbunyi. Ia meraih handphonenya di atas meja dan tersenyum senang ketika melihat panggilan video call dengan nama Ziva di sana.
Dengan perasaan bahagia seperti biasanya ia mengangkat video call itu dan merebahkan tubuhnya di kasur, mencari posisi ternyaman.
"Hallo sayang..." sapanya ketika wajah Ziva muncul di layar. Namun sedetik kemudian senyum yang sedari tadi menghias wajahnya hilang seketika, ketika ia melihat raut wajah sedih Ziva lengkap dengan matanya yang sembab.
"Ada apa sayang?" Tanya Arka sedikit cemas. Ia jarang melihat Ziva seperti ini. Karena selama ini Ziva adalah gadis yang ceria dan penuh energi positif.
"Jahat..." bisik Ziva. Arka mengernyitkan alis, "Kamu jahat!" Teriak Ziva lebih keras.
"Maksudnya apa? Kamu kenapa?" Tanya Arka mulai panik.
"Kenapa kamu tega sama aku???" Kali ini Ziva tampak histeris. Ia menangis dengan keras, yang membuat Arka harus bangkit dan duduk di tepi tempat tidur. Arka sadar jika ada masalah yang serius.
"Tolong jelasin, sayang... Aku gak ngerti. Kamu kenapa?" Tanya Arka lagi. Ziva tak menjawab. Ia masih menangis dengan satu tangan menutupi wajahnya.
Arka terdiam. Ia membiarkan Ziva melanjutkan isak tangisnya sampai puas. Nanti jika Ziva sudah merasa lega, Ziva pasti akan lebih tenang dan mereka akan bisa membicarakan masalah ini baik-baik.
Benar saja. Beberapa menit kemudian tangis Ziva berhenti. Ia mengusap air mata di wajahnya dengan tisu, lalu menatap Arka dengan tatapan tajam menusuk.
"Ada sesuatu yang ingin kamu katakan padaku, bi?" Tanya Ziva memancing, dengan harapan Arka akan bicara jujur padanya. Arka menggeleng.
"Tentang apa?"
"Mungkin ada sesuatu yang kamu sembunyikan, dan kamu ingin berkata jujur padaku?"
"Aku tak pernah menyembunyikan apa-apa..." Jawab Arka. Ia mulai bingung kemana arah pembicaraan Ziva sekarang. Ziva menarik nafas panjang.
"Kamu tahu kan, aku sangat percaya sama kamu. 100%. Dan selama ini aku selalu menerima kamu apa adanya. Jadi lebih baik sekarang kamu jujur aja. Aku mau denger penjelasan dari kamu. Sebenarnya kamu masih mau kita putus atau terus?"
"Hei! Hei! Hei! Kok bawa bawa putus? Ada apa ini??" Potong Arka sedikit emosi sambil bangkit dari tempat tidur. Ia semakin tak mengerti tak ada angin atau hujan, tiba-tiba Ziva mengatakan kata putus seperti ini? Kata yang selama ini menurut mereka berdua adalah kata yang haram untuk diucapkan.
"Jangan pura-pura gak tahu deh!"
"Ziva... Sumpah aku gak ngerti apa yang sedang kamu bicarakan. Aku salah apa sampai kamu seperti ini?"
"Menurut kamu, kamu salah gak?"
"Enggak!"
"Ooh...! Jadi 'itu' gak salah?" Ulang Ziva dengan nada mengejek.
"Eh! Bukan begitu maksudnya. Maksudku 'itu' apa? Aku sudah melakukan apa?" Sahut Arka sadar ia salah menjawab.
"Kamu merasa sudah melakukan apa?" Tanya Ziva lagi. Arka mulai berjalan mondar mandir di kamarnya, hal yang selalu ia lakukan ketika panik. Ia berpikir keras tentang maksud kalimat Ziva.
"Ah! Kenapa berbelit-belit sih? Tinggal ngomong aja aku sudah ngapain!" Kali ini Arka mulai berteriak. Ia ikut emosi karena dipojokkan tanpa alasan yang jelas seperti itu.
Ziva cemberut. Ia merasa kecewa. Selama berpacaran, Arka jarang sekali membentaknya. Dan kali ini, di saat Arka sudah melakukan kesalahan, kenapa malah Arka yang marah? Kenapa harus berpura-pura bego sih? Padahal di foto itu jelas apa yang sudah ia lakukan. Tak mungkin ia tanpa sadar melakukan semua itu.
Perlahan Ziva meraih laptopnya, lalu mengarahkan kamera handphonenya kesana. Wajah sembab Ziva yang dari tadi Arka lihat, sekarang beralih ke layar laptop Ziva. Dan Arka mendelik.
Ada fotonya bersama Carla disana!!! Foto yang menurutnya vulgar dan ingin ia hapus. Foto yang dari semalam mengganggu pikirannya dan membuatnya mencari-cari Damar dari tadi pagi. Arka memperhatikan foto itu. Bagaimana bisa foto ini sampai di Ziva? Ada yang sengaja mengirimnya lewat email. Damar! Pasti dia! Siapa lagi kalau bukan si kampret itu???
"Kamu selingkuh kan?" Tuduh Ziva to the point. Kali ini kamera handphonenya kembali mengarah ke wajahnya yang masih tampak cantik walaupun berlinang air mata.
"Ini gak seperti yang kamu pikirkan... Aku bisa jelaskan. Damar! Ini semua gara-gara Damar!" Kata Arka. Ia berniat membela diri tapi bingung harus menjelaskan dari mana.
"Kenapa sih nyalahin orang, sementara jelas-jelas di foto itu ada kalian berdua!" Potong Ziva kesal karena Arka masih mengelak, "kalian pelukan, ciuman, pangku-pangkuan, dengan posisi cewek itu memakai pakaian seksi??"
"Dia itu temennya Damar, sayang... Namanya Carla..." belum selesai Arka menjelaskan, Ziva sudah memotong...
"Oh, jadi namanya Carla. Sejak kapan kalian berhubungan?"
"Sayang, ini gak seperti itu... Please dengerin penjelasanku dulu..." Pinta Arka. Kali ini nadanya lebih lembut dan memelas.
"Oke, silahkan jelaskan sejak kapan kalian berhubungan dan sekarang kamu mau kita putus baik-baik atau enggak."
"Aku gak ada hubungan apa apa sama dia!!!" Ralat Arka kesal karena tak dipercaya, tapi kemudian wajahnya kembali memelas, "Please Ziv... Aku gak mau putus. Aku mau ngelamar kamu. Aku mau nikah sama kamu..."
"Menurut kamu, aku masih bisa nikah sama kamu setelah aku tahu kamu selingkuh di belakangku? Enggak Arka... Aku gak bisa menerima perselingkuhan dengan alasan apapun."
"Aku gak selingkuh, Ziv..." kata Arka lirih.
"Maaf kalau aku gak bisa nemenin kamu di sana selama beberapa tahun ini. Maaf kalau aku gak bisa jadi pacar yang kamu harapkan. Jadi, aku mencoba untuk memaklumi jika kamu mencari kebahagiaan lain di luar sana."
"Ziv... Aku gak selingkuh..."
"Makasih ya, sudah jadi pacar yang baik selama ini. Terima kasih sudah ngasih aku kebahagiaan dan harapan, walaupun ternyata semua itu harus hancur... "
"Ziv..."
"Semoga kamu bahagia..."
"Ziva..."
"Bye!"
"ZIVA! ZIVA!" Teriak Arka memanggil ketika Ziva memutus sambungan video callnya. Arka berusaha menelepon balik berkali-kali tapi terlambat, Ziva sudah memblokir nomornya.
"Aaaarrrgghhh!!!" Dengan marah Arka membanting handphonenya ke tempat tidur. Hancur. Semua rencananya bahkan impiannya sudah hancur.
Dan ini semua gara-gara DAMAR!!!
Anda Mungkin Juga Suka





