Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ghost Boyfriend

Ghost Boyfriend

Arka terpaksa menjadi arwah penasaran setelah kecelakaan maut merenggut nyawanya di waktu yang salah. Mendapat peluang terakhir untuk kembali ke dunia, ia meminta bantuan Zulfi, seorang pengangguran, demi menuntaskan urusan yang tersisa. Arka ingin memastikan kekasihnya, Ziva, tetap bahagia meski ia telah tiada. Mampukah Arka pergi dengan tenang setelah melihat kedekatan Ziva dan Zulfi? Bisakah ia mengubah hidup Zulfi menjadi lebih baik sebelum waktu habis?
Bab
Bagikan

Bab 2

Sialan! Kemana manusia kampret itu? Umpat Arka dalam hati ketika pagi itu ia mencari Damar ke kamarnya. Tumben pagi-pagi sekali kamar Damar sudah terkunci dalam keadaan kosong? Biasanya jam segini dia masih asyik molor melukis sprei tempat tidur.

Dengan gontai Arka kembali ke kamarnya. Ia hanya ingin meminta Damar menghapus foto-fotonya bersama Carla sebelum besok pagi ia terbang ke Indonesia. Beberapa dari foto itu sedikit vulgar dan bisa menyebabkan fitnah jika ada orang yang melihatnya. Walaupun sebenarnya itu bukan keinginannya, dan Carla lah yang selalu agresif seperti itu, tapi tetap saja Arka merasa risih dan tak nyaman jika foto itu masih ada di dunia ini.

Lebih baik ia melanjutkan prepare sambil menunggu kedatangan Damar. Banyak barang-barang yang belum masuk koper. Setelah ini, ia takkan kembali ke tempat ini lagi, jadi semua barang-barangnya harus ia angkut ke Indonesia. Ada sih beberapa barang yang sudah tidak berguna lagi, rencananya itu akan ia hibahkan ke Damar saja.

Arka duduk di lantai di antara koper-kopernya yang masih berserakan. Ia memilah milah mana barang pribadinya, dan mana oleh-oleh untuk Ziva dan keluarganya. Sudah sejak beberapa hari yang lalu ia memang sengaja membeli oleh-oleh di sini. Termasuk juga cincin untuk Ziva. Ada juga beberapa benda yang sebenarnya sudah ia beli beberapa bulan bahkan tahun lalu, hanya saja ia baru bisa membawanya sekarang.

Sejak berangkat ke Jerman ia memang belum pernah sekalipun pulang ke Indonesia. Selain terkendala biaya, juga terkendala pandemik Covid-19 yang mengharuskan beberapa negara di dunia lockdown. Terutama Jerman dan Indonesia. Berbagai aturan ketat seperti vaksin, swab, dan wajib karantina juga membuatnya malas untuk melakukan perjalanan ke luar negeri. Jadi walaupun kuliahnya sempat dilakukan secara online, ia terpaksa tetap bertahan di Jerman.

Arka terkejut ketika tiba-tiba handphone nya berbunyi. Ia meraih handphonenya di atas meja dan tersenyum senang ketika melihat panggilan video call dengan nama Ziva di sana.

Dengan perasaan bahagia seperti biasanya ia mengangkat video call itu dan merebahkan tubuhnya di kasur, mencari posisi ternyaman.

"Hallo sayang..." sapanya ketika wajah Ziva muncul di layar. Namun sedetik kemudian senyum yang sedari tadi menghias wajahnya hilang seketika, ketika ia melihat raut wajah sedih Ziva lengkap dengan matanya yang sembab.

"Ada apa sayang?" Tanya Arka sedikit cemas. Ia jarang melihat Ziva seperti ini. Karena selama ini Ziva adalah gadis yang ceria dan penuh energi positif.

"Jahat..." bisik Ziva. Arka mengernyitkan alis, "Kamu jahat!" Teriak Ziva lebih keras.

"Maksudnya apa? Kamu kenapa?" Tanya Arka mulai panik.

"Kenapa kamu tega sama aku???" Kali ini Ziva tampak histeris. Ia menangis dengan keras, yang membuat Arka harus bangkit dan duduk di tepi tempat tidur. Arka sadar jika ada masalah yang serius.

"Tolong jelasin, sayang... Aku gak ngerti. Kamu kenapa?" Tanya Arka lagi. Ziva tak menjawab. Ia masih menangis dengan satu tangan menutupi wajahnya.

Arka terdiam. Ia membiarkan Ziva melanjutkan isak tangisnya sampai puas. Nanti jika Ziva sudah merasa lega, Ziva pasti akan lebih tenang dan mereka akan bisa membicarakan masalah ini baik-baik.

Benar saja. Beberapa menit kemudian tangis Ziva berhenti. Ia mengusap air mata di wajahnya dengan tisu, lalu menatap Arka dengan tatapan tajam menusuk.

"Ada sesuatu yang ingin kamu katakan padaku, bi?" Tanya Ziva memancing, dengan harapan Arka akan bicara jujur padanya. Arka menggeleng.

"Tentang apa?"

"Mungkin ada sesuatu yang kamu sembunyikan, dan kamu ingin berkata jujur padaku?"

"Aku tak pernah menyembunyikan apa-apa..." Jawab Arka. Ia mulai bingung kemana arah pembicaraan Ziva sekarang. Ziva menarik nafas panjang.

"Kamu tahu kan, aku sangat percaya sama kamu. 100%. Dan selama ini aku selalu menerima kamu apa adanya. Jadi lebih baik sekarang kamu jujur aja. Aku mau denger penjelasan dari kamu. Sebenarnya kamu masih mau kita putus atau terus?"

"Hei! Hei! Hei! Kok bawa bawa putus? Ada apa ini??" Potong Arka sedikit emosi sambil bangkit dari tempat tidur. Ia semakin tak mengerti tak ada angin atau hujan, tiba-tiba Ziva mengatakan kata putus seperti ini? Kata yang selama ini menurut mereka berdua adalah kata yang haram untuk diucapkan.

"Jangan pura-pura gak tahu deh!"

"Ziva... Sumpah aku gak ngerti apa yang sedang kamu bicarakan. Aku salah apa sampai kamu seperti ini?"

"Menurut kamu, kamu salah gak?"

"Enggak!"

"Ooh...! Jadi 'itu' gak salah?" Ulang Ziva dengan nada mengejek.

"Eh! Bukan begitu maksudnya. Maksudku 'itu' apa? Aku sudah melakukan apa?" Sahut Arka sadar ia salah menjawab.

"Kamu merasa sudah melakukan apa?" Tanya Ziva lagi. Arka mulai berjalan mondar mandir di kamarnya, hal yang selalu ia lakukan ketika panik. Ia berpikir keras tentang maksud kalimat Ziva.

"Ah! Kenapa berbelit-belit sih? Tinggal ngomong aja aku sudah ngapain!" Kali ini Arka mulai berteriak. Ia ikut emosi karena dipojokkan tanpa alasan yang jelas seperti itu.

Ziva cemberut. Ia merasa kecewa. Selama berpacaran, Arka jarang sekali membentaknya. Dan kali ini, di saat Arka sudah melakukan kesalahan, kenapa malah Arka yang marah? Kenapa harus berpura-pura bego sih? Padahal di foto itu jelas apa yang sudah ia lakukan. Tak mungkin ia tanpa sadar melakukan semua itu.

Perlahan Ziva meraih laptopnya, lalu mengarahkan kamera handphonenya kesana. Wajah sembab Ziva yang dari tadi Arka lihat, sekarang beralih ke layar laptop Ziva. Dan Arka mendelik.

Ada fotonya bersama Carla disana!!! Foto yang menurutnya vulgar dan ingin ia hapus. Foto yang dari semalam mengganggu pikirannya dan membuatnya mencari-cari Damar dari tadi pagi. Arka memperhatikan foto itu. Bagaimana bisa foto ini sampai di Ziva? Ada yang sengaja mengirimnya lewat email. Damar! Pasti dia! Siapa lagi kalau bukan si kampret itu???

"Kamu selingkuh kan?" Tuduh Ziva to the point. Kali ini kamera handphonenya kembali mengarah ke wajahnya yang masih tampak cantik walaupun berlinang air mata.

"Ini gak seperti yang kamu pikirkan... Aku bisa jelaskan. Damar! Ini semua gara-gara Damar!" Kata Arka. Ia berniat membela diri tapi bingung harus menjelaskan dari mana.

"Kenapa sih nyalahin orang, sementara jelas-jelas di foto itu ada kalian berdua!" Potong Ziva kesal karena Arka masih mengelak, "kalian pelukan, ciuman, pangku-pangkuan, dengan posisi cewek itu memakai pakaian seksi??"

"Dia itu temennya Damar, sayang... Namanya Carla..." belum selesai Arka menjelaskan, Ziva sudah memotong...

"Oh, jadi namanya Carla. Sejak kapan kalian berhubungan?"

"Sayang, ini gak seperti itu... Please dengerin penjelasanku dulu..." Pinta Arka. Kali ini nadanya lebih lembut dan memelas.

"Oke, silahkan jelaskan sejak kapan kalian berhubungan dan sekarang kamu mau kita putus baik-baik atau enggak."

"Aku gak ada hubungan apa apa sama dia!!!" Ralat Arka kesal karena tak dipercaya, tapi kemudian wajahnya kembali memelas, "Please Ziv... Aku gak mau putus. Aku mau ngelamar kamu. Aku mau nikah sama kamu..."

"Menurut kamu, aku masih bisa nikah sama kamu setelah aku tahu kamu selingkuh di belakangku? Enggak Arka... Aku gak bisa menerima perselingkuhan dengan alasan apapun."

"Aku gak selingkuh, Ziv..." kata Arka lirih.

"Maaf kalau aku gak bisa nemenin kamu di sana selama beberapa tahun ini. Maaf kalau aku gak bisa jadi pacar yang kamu harapkan. Jadi, aku mencoba untuk memaklumi jika kamu mencari kebahagiaan lain di luar sana."

"Ziv... Aku gak selingkuh..."

"Makasih ya, sudah jadi pacar yang baik selama ini. Terima kasih sudah ngasih aku kebahagiaan dan harapan, walaupun ternyata semua itu harus hancur... "

"Ziv..."

"Semoga kamu bahagia..."

"Ziva..."

"Bye!"

"ZIVA! ZIVA!" Teriak Arka memanggil ketika Ziva memutus sambungan video callnya. Arka berusaha menelepon balik berkali-kali tapi terlambat, Ziva sudah memblokir nomornya.

"Aaaarrrgghhh!!!" Dengan marah Arka membanting handphonenya ke tempat tidur. Hancur. Semua rencananya bahkan impiannya sudah hancur.

Dan ini semua gara-gara DAMAR!!!

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Calamity Of Love
9.4
Camilio Danielle Osvaldo adalah jenius ber-IQ 150 dengan prestasi militer gemilang. Namun, patah hati mendalam akibat ditinggal wanita tercinta mengubah hidupnya. Mike, petinggi Black Nostra, mengajaknya bergabung ke sindikat mafia global tersebut. Meski awalnya menolak karena nurani, Camilio akhirnya luluh setelah melihat solidaritas luar biasa di sana. Di balik aksi kriminal, ia menemukan kehangatan keluarga yang tak terduga dalam kelompok tersebut.
Sampul Novel Delasio
8.0
Alesio gemar mempermainkan wanita hingga Adela datang mempermalukannya di depan umum. Saat musuh mulai berdatangan untuk menghancurkan Alesio, Adela justru muncul sebagai penyelamat. Hubungan mereka pun berkembang menjadi persahabatan yang erat. Namun, kedekatan itu perlahan mengungkap rahasia kelam dan fakta masa lalu yang saling terhubung. Luka lama yang terbuka memaksa Alesio menjauh dan menyesali persahabatan yang seharusnya tidak pernah terjalin di antara mereka.
Sampul Novel Gairah Ana Dalam Perjalanan Waktu
9.3
Nuna terlempar ke masa lalu tepat setelah berjuang menyelesaikan skripsinya yang sulit. Secara mengejutkan, ia terbangun kembali sebagai bayi di sebuah dunia gaib yang asing. Di sana, Nuna harus berhadapan dengan penguasa iblis serta jajaran pria tampan yang penuh pesona. Akankah ia mampu menavigasi kehidupan barunya yang penuh petualangan dan romansa ini, atau justru menemukan jalan pulang ke dunianya sendiri? Sebuah perjalanan waktu yang tak terduga kini dimulai.
Sampul Novel Hati Alpha yang Terlambat
7.9
Vanessa Price rela mengorbankan sumsum tulangnya demi Timothy Oliver, tanpa menyadari itu hanyalah bagian dari 100 rencana balas dendam kejam sang pria. Selama empat tahun, Timothy menyiksa Vanessa demi membela ibu tirinya, Bryanna. Namun, penyesalan mendalam baru datang saat Timothy menemukan jasad Vanessa beserta tes kehamilan di reruntuhan tambang. Kini, Vanessa bangkit untuk melawan balik segala tipu daya cinta yang telah menghancurkan hidup dan kariernya.
Sampul Novel Reinkarnasi Pembunuh Bayaran: Dendam dari Tubuh Kedua
8.4
Liu Yifen adalah pembunuh bayaran yang tewas saat bertugas, namun dewi misterius memberinya kesempatan hidup kembali. Dalam misi barunya, ia bereinkarnasi ke tubuh pilihan pertama. Sialnya, maut kembali menjemput sebelum tugasnya usai. Ia ambruk bersimbah darah di tanah basah sementara musuhnya tersenyum puas melihat nyawanya hilang. Apakah perjalanan Liu Yifen benar-benar berakhir di sana, ataukah takdir masih menyimpan reinkarnasi lain baginya?
Sampul Novel Satu-PD176
9.5
Sinta dan putrinya terjebak dalam serangan senjata oleh musuh suaminya, Leo. Tragisnya, pengawal kiriman Leo malah kabur saat maut mengancam. Di ambang kematian, Sinta gagal menghubungi Leo berkali-kali hingga kakaknya, Yosan, datang menolong. Saat panggilan ke-99 tersambung, Leo justru memaafkan sang pengawal meski anak mereka tewas. Hancur karena pengkhianatan itu, Sinta sang pengusaha senjata terbesar memutuskan untuk bercerai dan menghentikan seluruh pasokan untuk Leo.