
Ghost Boyfriend
Bab 3
Arka kembali meraih handphone nya dan mencoba menghubungi Damar. Dia ingin bicara dengan makhluk satu itu dan menanyakan apa alasannya mengirim foto itu ke Ziva. Bahkan lebih dari itu, apa sebenarnya tujuan Damar mengenalkan Carla padanya. Apa memang dari awal ini yang diinginkan Damar? Dia dan Ziva bertengkar dan berpisah?
Ah! Arka segera menepis pikiran itu. Dia tak mau berpisah dengan Ziva, dan membayangkannya saja dia tak mau. Kata kata adalah doa, dan dia tak mau berdoa yang jelek-jelek. Ziva sudah menjadi tujuan hidupnya, dan dia tak mau kehilangan Ziva begitu saja hanya karena fitnah yang sudah dibuat oleh Damar!
"Sialan! Kemana sih si kampret itu?" Umpat Arka sebal ketika tahu nomor Damar tidak aktif. Pasti Damar sengaja pergi pagi-pagi untuk menghindarinya. Damar tahu kalau Arka dan Ziva akan bertengkar, dan Arka pasti mencarinya sebagai satu-satunya tersangka utama.
Arka menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia masih tidak menyangka semua ini akan terjadi sehari sebelum kepulangannya ke Indonesia. Padahal selama 5 tahun dia dan Ziva bertahan sekuat mungkin. Ironis sekali jika semua perjuangan mereka berdua harus berakhir sia-sia seperti ini.
Dengan lunglai Arka kembali duduk diantara koper-kopernya. Dia melanjutkan pekerjaannya tadi, tetapi dengan tidak bersemangat. Biar bagaimanapun, ia tetap harus ke Indonesia. Dia harus bertemu langsung dengan Ziva bagaimanapun caranya. Lagian, sudah tak ada lagi yang bisa ia lakukan di sini.
Mungkin besok Ziva takkan menjemputnya di bandara. Tapi tak apa. Arka berniat akan langsung pergi ke rumah Ziva sesampainya ia di Indonesia. Tak ada alasan lain baginya untuk mengulur waktu lagi.
"Carla itu suka banget sama lo, bro." Arka ingat itu yang sering diucapkan Damar kepadanya.
"Ya hak dia dong. Trus kenapa?"
"Sayang aja kalau dianggurin."
"Kalo lo mau buat lo aja." sahut Arka tanpa ekspresi. Dia memang paling kesal jika Damar mulai menjodoh-jodohkannya.
Sebenarnnya Carla bukan cewek pertama yang dikenalkan Damar padanya. Sudah banyak cewek yang dibawa Damar keluar masuk ke kamar ini. Tapi tak ada satu pun yang membuat Arka tertarik. Mereka hanya lewat begitu saja buat Arka. Karena dimata dan dihati Arka hanya ada Ziva seorang.
"Kenapa sih lo bisa setia banget sama Ziva?" Tanya Damar suatu hari.
"Karena gue sudah komitmen sama dia. Dan bagi gue, Ziva itu sempurna." Jawab Arka tulus tanpa banyak berpikir. Damar manyun mendengarnya.
"Kalau gitu, lo sama Carla, Ziva buat gue aja!" Usul Damar asal ngomong. Arka langsung melotot sambil melayangkan tinjunya di depan wajah Damar.
"Lo udah bosan hidup ya?"
Damar tertawa melihat reaksi Arka itu. Dia tak menyangka sahabatnya benar-benar bucin setengah mati kepada Ziva.
Tanpa sadar mata Arka mulai berkaca-kaca... Ia sangat rindu pada Ziva. Dan baru kali ini ia merasa rindunya tak bisa dibendung lagi. Dadanya terasa sakit dan sesak menahan rindu yang begitu berat.
*
Jakarta, 2 Februari 2022
Arka menarik nafas panjang ketika kakinya menginjak bandara Soekarno-Hatta. Sudah 5 tahun lamanya ia tak menginjakkan kakinya di tempat ini. Di sinilah dulu ia berpisah dengan Ziva untuk yang terakhir kalinya. Dan seharusnya di sini jugalah ia sekarang bertemu dengan kekasihnya itu.
Tapi tak apalah. Tak ada gunanya juga menyesali apa yang telah terjadi. Arka juga tak mau terus menyalahkan Damar dan Carla. Sekarang yang ia pikirkan hanyalah bagaimana caranya memperbaiki hubungannya dengan Ziva. Ia harus bisa menjelaskan semuanya dan meyakinkan Ziva jika semua yang Ziva pikirkan itu tak benar.
Setelah mengambil semua koper kopernya, Arka pun segera pergi ke tempat di mana taxi taxi berada. Ia tak memperlambat langkahnya sedikitpun, bahkan tak mampir ke toilet, atau berhenti sejenak di rest area untuk menghubungi keluarganya. Di otaknya hanya ada bayangan tentang Ziva seorang.
Arka merasa lega ketika langsung mendapat taxi. Ia pun menghela nafas ketika duduk di jok depan. Baru lah ia ingat akan orang tuanya. Ia pun segera mengambil handphone untuk menelepon mamanya. Terakhir kali mamanya telepon kemarin lusa, saat keadaan masih baik-baik saja. Dan memang gara-gara masalah dengan Ziva, ia sampai lupa untuk memberitahu soal kepulangannya kepada sang mama.
"Hallo, ma..." sapa Arka ketika terdengar suara di ujung sana, "lagi ngapain? Di rumah?"
Arka melirik arloji di pergelangan tangan kirinya sekilas. Pukul 19.00. Ia tahu bahwa pukul segini biasanya mama papanya sedang duduk santai di rumah.
"Arka lupa mau kasih tahu... Arka pulang ke Indonesia ma..." kata Arka ketika taxi mulai melaju. Ia menutup handphonenya dengan telapak tangan sebentar dan menyebutkan alamat rumah Ziva kepada sopir. Ya, dia memang berniat langsung menuju rumah Ziva sekarang.
"Hallo, ma..." ulang Arka karena tak mendengar perkataan mamanya tadi. Ternyata mamanya sedikit histeris karena terkejut anak lelakinya tiba-tiba pulang tanpa pemberitahuan.
"Kamu dimana sekarang??!! Mama jemput ya??!!" Tanya mama Arka.
"Tak usah, ma. Arka sudah naik taxi. Tapi... Arka gak langsung pulang. Ada keperluan penting yang harus Arka urusin dulu." Jelas Arka. Terdengar nada kecewa dari ujung sana.
"Tunggu Arka di rumah ya, ma? I love you... Bye..."
Arka memutus sambungan teleponnya, lalu menatap ke arah jalan dengan pandangan kosong. Ia sibuk berdoa, semoga Ziva mau menemuinya. Karena percuma juga ia memikirkan berbagai kalimat penjelasan jika untuk bertemu saja Ziva tak mau.
"Dari mana mas?" Tanya sopir taxi tiba-tiba membuka percakapan. Arka sedikit tersentak karena lamunannya buyar seketika.
"Dari Jerman pak." Jawab Arka kepada sopir paruh baya itu.
"Ooo... Kuliah apa kerja di sana?"
"Kuliah."
Arka sempat menelan ludah ketika mobil taxi yang mereka naiki masuk ke dalam tol, karena taxi melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Arka melirik ke arah bapak sopir sekilas. Sang sopir terlihat sangat serius melihat jalan di depannya. Raut wajahnya sedikit tegang. Entah apa yang sedang ada dalam pikiran bapak itu, Arka memang paling bisa membaca raut wajah seseorang. Dan sekarang Arka tahu bahwa bapak ini sedang memendam masalah dan tak baik-baik saja. Namun, Arka tak mau ikut campur. Ia kembali melemparkan pandangan ke arah jalanan.
"Anak saya satu-satunya, kayaknya seusia mas." Ujar si bapak sopir kembali membuka percakapan. Arka menoleh.
"Oya? Kuliah atau kerja?" Tanya Arka coba menanggapi
"Gak dua-duanya." Jawab si bapak dengan wajah melas. terlihat raut kecewa di sana. Itu membuat Arka hanya diam tak tahu harus menjawab apa. Tapi Arka menebak, bapak ini pasti sedang memikirkan anaknya.
"Anak saya susah dibilangin mas. Disuruh kuliah gak mau. Disuruh kerja gak mau. Tiap hari hanya tidur, makan, main game saja.. Saya sudah tak tahu lagi harus bagaimana. Padahal saya juga sudah gak muda lagi." jelas si bapak mulai curhat, "saya gak minta lebih sama dia. Saya hanya minta dia bisa bertanggung jawab sama dirinya sendiri aja. Nanti kalau saya dan ibunya sudah gak ada, trus gimana nasibnya?"
"I-iya pak..." sahut Arka. Ia merasa kasihan sekaligus kagum dengan bapak ini. Karena kebanyakan orang tua memang berpikiran seperti itu, hanya saja tak banyak anak yang mengerti akan kewajibannya. Si bapak hanya memikirkan nasib anaknya kelak, ia tak menuntut dibahagiakan atau lainnya.
Arka menatap si bapak dengan wajah simpati, si bapak tersenyum ke arah Arka. Terlihat matanya sedikit berkaca-kaca. Si bapak pun mengusap air mata yang mengembun di sudut matanya dengan punggung tangan kiri. Saat itulah Arka melihat ke arah jalan di depannya dan terkejut.
"AWAAASSS PAAAKKK!!!" Teriak Arka spontan ketika tiba-tiba melihat sebuah bak truk besar di depan mobil mereka...
Si bapak berusaha membanting setirnya ke arah kanan dan...
BRAAAAAKKKKKK!!!!!!
Kesadaran Arka pun hilang seketika saat itu juga.
*
Anda Mungkin Juga Suka





