Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ghost At School

Ghost At School

Yui dan sahabatnya bertekad membebaskan arwah penasaran yang terjebak di sekolah. Namun, kenyataan pahit menghantam saat Yui menyadari melalui mimpi bahwa korban pertama adalah teman dekatnya sendiri. Penyelidikan mereka mengungkap fakta kelam bahwa dalang di balik teror ini merupakan anggota keluarga mereka yang mencari keadilan atas masa lalu. Di tengah tekanan batin dan misteri yang mencekam, mampukah mereka mengakhiri kutukan ini selamanya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi-pagi harinya mereka sudah sibuk sekali, beberapa pelayan membantu merapihkan barang-barang mereka yang sudah akan di bawa menuju Osaka. Osaka di kenal akan kota makanan, mereka langsung meluncur menuju bandara. Pak Park dengan setia, menemani Akiko. Beberapa jam kemudian mereka semua sampai di Bandara, “Please Your Attention. Passengers of Japan Airlines on Flight Number JA785 to Osaka, Tokyo. Please Boarding from door B01 Thank You.” begitulah pesan yang di kumandangkan bahwa pesawat mereka akan segera berangkat, menuju Osaka sebelah timur Jepang.

“Bu, kita di kelas apa?.”tanya Arisawa yang sudah lama tak naik pesawat.

“Seperti biasa, tuan muda.”kata Pak Park.

“VIP?”

“Business Class.”sahut ibunya.

Mereka pun dengan segera menaiki pesawat tersebut dan pesawat pun tinggal landas menuju Osaka. Di dalam pesawat justru Pak Park terlihat sangat sibuk. Pak Park memilihkan jenis makanan yang hanya bisa di makan oleh mereka semua, bahkan Pak Park juga mengiring mereka jika mereka mau ke toilet atau kemana saja. Beberapa orang di kelas Business memang sedikit mungkin bisa di hitung hanya hitungan jari termasuk dengan keluarga Akiko. Salah satu mereka yang juga pebisnis menegurnya,

“Ma’am, Where you come from? Can we talk just for a minute? I have a business that might benefit for you.”

“Sir, You can talk with my secretary. He will manage the time for you and me.”sahut Akiko.

“It’s okay, no problem, ma’am.”

“Thank’s for your offer.”

“Pak Park, tolong kau atur pertemuannya.”

“Baik, akan saya aturkan.”

Pak Park menemui orang asing tersebut dan mereka berbicara dengan Bahasa Inggris. Mereka setuju akan bertemu setelah beberapa minggu dari kepulangan mereka semua di Osaka. Pak Park juga menjelaskan bahwa Akiko adalah pemilik mall dan hotel terbesar yang ada di Tokyo. Mendengar hal tersebut pria itu terkejut, ia tak menyangka bahwa ia bisa bertemu secara langsung dengan pemilik hotel yang baru saja ia tinggalkan.

Pesawat pun turun, sesampainya di Osaka Pak Park sedikit kewalahan karena bukan hanya harus mengurus bisnis yang akan di jalankan tetapi ia juga harus mengawasi Yui dan Arisawa. Pak Park sedikit tak mau mengawasi Yui karena Yui cenderung lebih membuat masalah di bandingkan Arisawa. Pak Park meminta Akiko, Yui dan Arisawa untuk dapat menunggu di ruang tunggu. Mobil yang akan mereka tumpangi sampai, mobil tersebut di desain khusus dan istimewa hanya untuk beberapa orang. Dengan warna silver dan hitam yang mengkilat mengesankan bahwa mobil tersebut sangat mahal sekali, supir yang membawanya pun juga harus memiliki lisensi. Supir itu turun dan membantu membawakan barang mereka semuanya masuk ke dalam mobil tersebut.

Di dalam mobil Arisawa dan Yui hanya bisa diam, tak bisa berkomentar banyak. Mereka diam seribu bahasa. Mobil itu membawa mereka ke sebuah hotel berbintang lima. Ya, Hotel itu adalah milik Ibunya. The Luxorius.

The Luxorius, di desain sendiri oleh salah satu perancang terkenal pada masanya. Bahkan eksterior yang digunakan merupakan eksterior luar, beberapa barang mereka juga import termasuk dari Indonesia. Beberapa barang antik tersebut di simpan rapih, salah satunya adalah Sasando yang sangat terkenal di Indonesia. Pegawai yang mengenal CEO mereka telah datang berusaha membawakan barang-barang mereka, tiba-tiba di saat yang bersamaan Tomoko kakak kedua mereka menghampirinya, “Bu.”teriak Tomoko yang senang akan kehadiran ibunya. Tomoko yang memiliki struktur wajah oval, di sertai dengan rambut panjang ikal dan hidungnya yang mancung membuat ia terlihat lebih dewasa.

“Tomoko.”kata Akiko yang seakan tak percaya kehadiran putrinya, “Kapan kau datang?.”tanya Akiko.

“Bukan’kah ayah sudah menceritakan kepada, ibu.”

“Ayahmu belum menceritakannya.”

“Ahhh, menyebalkan sekali, aku pikir ibu sudah tahu. Aku akan menikah tepatnya besok.”

Akiko yang mendengar bahwa putrinya akan menikah besok terkejut, “Kenapa terburu-buru? Ibu tak tahu sama sekali!.”

“Dasar ayah.”

“Dimana ayahmu?.”

“Di restoran, sedang bersama dengan Jao.”katanya

“Jawab pertanyaan, ibu, Kenapa kau terburu-buru menikah?.”

Tomoko akhirnya harus membuka rahasianya kepada ibunya sendiri bahkan dengan perasaan malu dan segan, ia mau tak mau harus menceritakannya, “Aku hamil duluan. Kau akan segera punya cucu.”

Akiko yang mendengar anaknya sudah terlebih dahulu mengandung, hanya bisa terkejut, tak bisa berkata apa-apa bagaikan petir di siang bolong perasaannya hancur namun senang, “Bu, maaf ‘kan aku. Semua sudah ayah yang mengaturnya. Itu kenapa ayah sekarang sedang bicara dengan Jao.”

“Kapan kejadiannya?.”

“Bulan lalu.”

“Kuliahmu?.”

“Setelah pernikahan aku akan kembali dengan Jao.”

“Sudah ibu bilang berkali-kali, jangan melakukan terlebih dahulu, kenapa kau tak mau mendengarkan ibu!.”katanya yang harus menerima kenyataan.

“Maaf.”

“Bu Akiko, silakan ke restaurant. Pak Kenzo sudah membuka tempat kembali.”kata salah satu pegawainya.

“Di mana Pak Park?.”

“Pak Park sedang bersama dengan Pak Kenzo.”

“Baiklah, aku akan menyusul.”

Kirosuki-Jao adalah pemegang saham terbesar di Jepang, Jao Corporation. Mereka berdua bertemu di Jerman tempat Tomoko bersekolah. Tomoko yang melihat adik-adik mereka sudah besar berusaha untuk berbaur dengan mereka yang masih kecil sekolah,

“Hai, apa kabarnya kalian semua?.”kata Tomoko.

“Mengapa hanya ibu yang di tegur sedangkan kami tidak?.”tanya Yui yang sembari menyilangkan tangannya. Tomoko yang mendengar hal tersebut hanya tersenyum, “Kenapa kakak hanya tersenyum?.”

“Suatu saat nanti kau akan mengetahuinya, Yui. Ayo, kita bertemu dengan ayah dan ibu.”katanya sembari mengajak kedua adiknya tersebut.

“Kakak, kapan pulang?.”tanya Arisawa.

“Sudahlah. Pastinya akan kakak ceritakan.”

Mereka meninggalkan lobby dan menuju restaurant yang sudah dipesankan oleh ayahnya, Kenzo. Kenzo yang melihat Jao sedikit marah, sudah menodai putrinya, “Tak habis pikir aku dengan’mu, Jao. Bisa-bisanyan kau menodai putri’ku sebelum menikah.”

“Paman, maaf. Aku tak sengaja.”jawab Jao. Jao memiliki wajah yang oval namun simetris, kulitnya sedikit pucat menambah kesan bahwa dirinya seperti orang yang punya banyak pikiran.

“Harusnya kalian melakukannya setelah menikah, bukan sebelum menikah.”katanya yang sembari memotong bagian steak dan memakannya.

“Sudahlah, paman. Toh aku pasti akan bertanggung jawab juga.”

“Memang kau harus bertanggung jawab. Yaa sudahlah tak perlu kita bahas lagi. Ingat satu hal, Jao, kalau kau berani menyakiti anak’ku lagi. Kau akan berhadapan dengan Ibunya bukan aku lagi.”katanya dengan tegas.

PLAK!! Jao yang merasakan pukulan dari belakang menengoknya, “Bibi, sudahlah.”katanya memelas kepada Akiko.

“Kau ini!.”katanya yang berusaha memukul Jao kembali.

“Sudahlah, Akiko, aku sudah memarahinya!.”kata Kenzo yang berusaha menenangkan istrinya.

“Kenapa seenaknya saja kau menodai putri’ku?.”katanya dengan nada marah. Jao tak bisa berkutik apapun ia tak tahu bahwa hidupnya sedang terancam.

“Bu, sudahlah, jangan memarahi Jao.”kata Tomoko yang menyusul di belakang.

“Kau ini juga membelanya terus menerus.”

“Sudah! Tak ada yang perlu di bahas lagi!.”kata Kenzo yang berusaha meredamkan semua ke amarahan di antara mereka bertiga.

“Kau juga tidak memberitahu’ku.”kata Akiko kesal kepada suaminya.

“Kalau aku memberitahumu, apa kau bisa menyelesaikannya? Yang ada kau hanya bisa memarahi putrimu sendiri tanpa ada solusi.”

Akiko terdiam benar yang di katakan suaminya bahwa bisa saja ia tidak menemukan solusi malah memperparah mental anaknya tersebut, “Kau kan bisa memberitahu’ku ketika dia sudah ada di Tokyo.”katanya yang berusaha membela diri.

“Masalah sudah selesai, Tomoko akan menikah besok!”katanya marah bahkan ia juga tak mau berlarut-larut dalam menyelesaikan masalah putrinya. Semua terdiam, mereka memesan makanan satu per satu. Pak Park pun juga ikut memesan makanan, mereka makan sampai habis.

“Tomoko, ceritakan kepada ibu bagaimana kejadiannya dan kapan kau kembali ke Tokyo?.”tanya ibunya.

“Aku akan menjawab yang kedua terlebih dahulu. Aku sudah di Jepang satu bulan yang lalu. Ayah yang mengurusnya setelah ayah tahu bahwa aku hamil.”

Akiko serasa tak berdaya suaminya menyembunyikan rahasia dari dirinya. Namun mau bicara apa lagi toh nasi sudah berubah jadi bubur. Dan, benar jika dirinya yang berusaha untuk menyelesaikannya malah akan mencemari nama baik Akiko sendiri di saat Hotel dan Mall nya sedang berkembang pesat, “Maaf, aku paham kenapa kau membantu’ku.”kata Akiko yang baru paham saat itu juga.

“Itu yang ‘ku pikirkan. Di saat bisnis’mu sedang meroket apakah mungkin kau bisa menerima berita seperti itu? Itu kenapa aku melakukannya diam-diam tanpa sepengetahuan dirimu.”

“Maaf’kan aku jika aku hanya sibuk dengan bisnis’ku. Maafkan aku, sayang.”katanya yang berusaha mengambil hati suaminya.

“Ya, aku maafkan. Memang hanya itu yang aku pandang baik untukmu, Akiko.”katanya yang memegang tangan istrinya itu.

“Tomoko, ceritakan apa yang terjadi.”

==Dua Bulan yang Lalu==

Minggu yang indah, Tomoko menikmati suasana Jerman yang saat itu sedang bagus-bagusnya. Jao menemaninya dengan memetikkan bunga yang indah di samping jembatan. Beberapa pengunjung hilir mudik di jembatan tersebut, mereka berdua larut akan kemesraannya. Jao menyematkan sebuah bunga indah ke rambut Tomoko.

“Ayo, aku ingin memperlihatkan sesuatu kepadamu.”kata Jao kepada Tomoko.

“Mau kemana kita?.”

“Kau lihat saja nanti.”

Jao membawa Tomoko melintasi samudra dengan kapal spedd boatnya. Hanya mereka berdua tak ada lagi yang menganggu mereka. Minuman dan makanan pun juga sudah tersedia. Diam-diam ketika Tomoko sedang menikmati pemandangan Jao mematikan mesin speed boat dan menemani Tomoko.

Ia memeluk Tomoko dari belakang dan mencium lehernya. Suasana romantis terasa di antara mereka berdua, Tomoko melihat ke arah calon suaminya, “Aku mencintaimu.”katanya dengan tersenyum.

“Aku juga. Kau mau menikah dengan ‘ku?.”tanya Jao.

Tomoko yang mendengar terasa tak percaya bahwa Jao melamarnya di atas speed boat dan di tengah hamparan laut yang mengelilinginya, “Ya.”kata Tomoko dengan bahagia. Jao yang mendengar bahwa lamarannya telah di terima oleh Tomoko menutupnya dengan ciuman manis di bibir Tomoko. Mereka pulang dan memberitahukan kepada keluarganya masing-masing.

Ke esokan harinya, Jao dan Tomoko pergi ke pesta temannya. Mereka bersenda gurau dan Jao terlihat mabuk akibat teman-temannya yang terlalu sering memberinya minuman keras. Padahal Jao tak bisa minum terlalu banyak, “Jao, bangunlah. Aku tak mungkin membawamu.”kata Tomoko sembari memapah tubuh Jao yang lemas keluar dari ruang pesta tersebut.

Tomoko membawa Jao keluar menuju parkiran, ia mengambil kunci mobil milik Jao, ia menduduki Jao di kursi penumpang depan dan menstarter mobil tersebut. Tomoko melintas keluar dari tempat yang telah mempengaruhi Jao, sesampainya di apartemen, Tomoko meminta bantuan kepada petugas setempat untuk memapah tubuh Jao yang sudah tak berdaya masuk ke dalam apartemennya. Tomoko mengucapkan terima kasih atas apa yang telah mereka lakukan.

Jao yang masih dalam pengaruh alkohol menghampiri Tomoko. Tomoko tahu bahwa Jao masih dalam pengaruh alkohol. Jao mencium bibir Tomoko dan membawa ke dalam kamarnya, Tomoko melepas keperawanannya pada malam itu juga. ia merasakan apa yang belum pernah ia rasakan, seluruh darahnya berdesir hebat, ketika Jao memegang seluruh bagian sensitivitasnya, ia merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Darah segar pun mengalir membasahi daerah kewanitaannya. Ia masih merasakan sakit tak tertahan namun bercampur rasa enak yang ada di dirinya.

== Dua Bulan Kemudian ==

Akiko yang mendengarnya sangat-sangat geram akan perilaku Jao yang di luar kendali tersebut, ia mengepalkan tangannya seakan berusaha untuk memukul laki-laki tersebut yang sudah merebut keperawanan anaknya.

“Maaf, bibi, aku dalam pengaruh alkohol.”katanya yang merasa bersalah.

“Kau sudah tahu tak bisa minum kenapa masih minum.”kata Tomoko dalam bahasa Jerman kepada Jao.

“Kau tahu akibatnya ‘kan kalau aku menolak acara minum-minum.”

“Harusnya kau bisa menolak dengan halus.”

“Hei, jangan bicara dengan bahasa jerman. Pak Park, apa kata mereka?.”tanya Akiko yang tak bisa bicara dengan bahasa Jerman.

“Mereka mengatakan kenapa Pak Jao masih harus menerima tawaran minum tersebut jika tidak bisa minum. Pak Jao tidak bisa menolaknya karena mungkin itu acara yang membawa nama baik perusahaan Jao Corporation, kata Tomoko, seharusnya Pak Jao bisa menolaknya dengan halus.”jelasnya dengan detail. Jao terdiam seakan tak percaya bahwa sekretaris ibunya paham akan bahasa Jerman, sedangkan Tomoko sudah tahu bahwa Pak Park pasti mengerti.

“Benar yang dikatakan oleh putriku. Harusnya kau bisa menolak dengan halus, setidaknya kau juga harus menjelaskan bahwa kau tidak bisa minum.”

“Kalau aku menolaknya, mereka pasti akan membatalkan kerja sama antara perusahaan.”

“Lebih baik kau kehilangan itu di bandingkan dengan kau seperti ini jadinya. Paham maksud’ku?.”

“Aku paham. Tapi, boleh ‘kah sekretaris bibi bekerja dengan’ku juga?.”tanya Jao.

“Tak boleh.”

“Bagaimana jika kau ‘ku ajarkan menembak saja?.”tanya Pak Park. Jao yang mendengarnya tak sengaja tersedak akibat pembicaraan yang sudah melenceng tersebut. Namun, Akiko sendiri setuju, ia menganggukan kepalanya kepada Pak Park.

“Aku bukan tentara.”katanya sembari menyeka mulutnya.

“Setidaknya kau punya kelebihan di bandingkan kau harus terjadi seperti ini lagi bagaimana? Aku bersedia jika kau mau belajar menembak dengan sekretaris’ku. Asal kau jangan mengambil sekretaris’ku saja, karena aku tak pandai bahasa. Kalau kau mau tahu ia mantan tentara Amerika.”

“Pantas saja, bibi, terlihat dari mukanya seram.”

“Setidaknya masih lebih seram yang di seberang sana.”celetuk Arisawa yang menunjuk beberapa meja tak jauh dari mereka. Semua pandangan tertuju dimana Arisawa menunjuk orang-orang tersebut.

Akiko yang melihatnya seakan tak percaya, ia shock bercampur dengan ketakutan, pikirannya kalut. Ia berusaha menyembunyikan namun Kenzo bisa membaca dari raut wajah istrinya, sebuah pertanda apa ini.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Genderang Perang Manusia Elektrokinesis
8.2
Manfred Argianta Bergmans atau Gian menjalani hidup penuh penderitaan akibat perundungan keluarga dan teman sekolahnya. Hanya Alicia yang setia mendukungnya, meski hal itu memicu intimidasi yang lebih parah. Setelah menolong kucing malang, Gian menerima warisan kekuatan elektrokinesis dari sosok misterius dalam mimpi. Didampingi seekor tikus putih sebagai mentor, ia memulai misi balas dendam. Namun, saat dianggap monster dan Alicia menjauh, sanggupkah Gian memenangkan perang ini?
Sampul Novel Ksatria Naga Phoenix
8.3
Ramalan kuno di Benua Arkandaria memperingatkan kemunculan Naga Langit yang akan membawa kiamat. Hanya Ksatria Naga Phoenix yang mampu menghentikannya, namun sosok sakti ini hanya dianggap dongeng. Zhu Fei, putra Panglima Zhu Lei, diramalkan menjadi ksatria pertama tersebut. Di usia lima tahun, ia harus menjalani latihan berat di Pulau Pek Long demi memenuhi takdirnya. Akankah ia berhasil mencegah kehancuran dunia atau ramalan itu tetap menjadi legenda?
Sampul Novel Mendadak Menjadi Permaisuri ke 6
9.1
Seorang dokter genius masa kini tiba-tiba terbangun dalam tubuh permaisuri abad ke-17 yang baru saja diceraikan Pangeran Keenam. Meski dikhianati demi wanita lain, ia tidak peduli dan memilih fokus membangun karier medis dengan ilmu modernnya. Keahliannya memikat hati rakyat hingga Sang Kaisar sendiri. Awalnya ia menolak cinta, namun takdir menyeretnya ke dalam dilema emosional antara perasaan terlarang dan pengorbanan besar yang harus ia tentukan.
Sampul Novel Pedang Kebenaran Sejati
8.7
Permana Brata adalah pendekar dengan masa lalu kelam yang penuh noda hitam. Demi menebus dosa lamanya, ia berkelana menyebar kebaikan. Berbekal jurus Sepuluh Syair Bumi Pertiwi dan Pedang Kebenaran Sejati, Permana bertekad mencari orang tuanya. Meski rintangan berat menghadang, ia tak gentar menghancurkan setiap aral. Prinsipnya teguh: membasmi angkara murka dan memusnahkan kejahatan agar kedamaian sejati tercipta di seluruh jagat raya.
Sampul Novel PENDEKAR Sabda JAGAD
8.4
Jalu Sajiwo, seorang yatim piatu, memulai pengembaraan demi menuntut keadilan bagi keluarganya. Dahulu, Sekte Rajawali Emas sangat perkasa sebelum fitnah keji dari rival-rivalnya menghancurkan kejayaan mereka. Di masa kepemimpinan Ki Respati, ayah Jalu, sekte ini terus ditindas dan dihina. Kini, Jalu harus berjuang di tengah intrik, pengkhianatan, dan duel maut untuk membersihkan nama baik sekte serta membawa Rajawali Emas kembali ke puncak tertinggi dunia persilatan.
Sampul Novel PETUALANGAN KE KOTA PARIS
8.8
Pasca perceraian, seorang wanita muda memutuskan terbang ke Paris demi memulihkan jati dirinya yang hilang. Di tengah keindahan kota tersebut, ia bertemu seniman tampan yang mengubah pandangan hidupnya secara drastis. Hubungan mereka berkembang menjadi romansa yang sangat intens, dibalut dengan eksplorasi dunia seni yang mendalam. Perjalanan ini menjadi titik balik baginya untuk menemukan kembali gairah serta semangat hidup yang sempat redup di masa lalu.