
Ghost At School
Bab 3
Mereka yang melihat orang-orang tersebut seakan tak percaya. Yui dan Arisawa saling bertukar pandang, mereka tak paham seakan kedua orang tuanya menyembunyikan sesuatu dari mereka. Yui mengangkat bahunya tanda bahwa kakaknya juga tak tahu sama sekali. Kenzo memegang tangan istrinya yang gemetar tersebut. Pikirannya kalang kabut entah kemana berusaha untuk menyembunyikan atau memberitahukan supaya Yui dapat aman tak mengetahui apa yang sudah terjadi.
“Sudahlah kita sudahi di sini.”
“Tunggu, ada yang ingin ibu katakan.”
Kenzo yang mendengar bahwa Akiko akan memberitahukan apa yang terjadi kaget, ia menarik tangan Akiko dari kerumunan keluarganya dan menjauh beberapa meter, “Apa yang kau pikirkan, Akiko? Kau ingin memberitahu mereka.”
“Aku takut. Setidaknya aku ingin Yui aman.”
“Jangan sekarang. Waktunya tidak pas.”jelas Kenzo.
“Lalu, mau bagaimana lagi? Aku hanya ingin Yui tidak berteman dengan Izikawa. Kalau sampai hal itu terjadi aku tak tahu lagi bisa saja ramalan itu benar dan Yui yang akan jadi korban.”jelasnya kalut.
“Lupakan ramalan itu. Fokus terhadap pernikahan anakmu, Akiko.”
“Tapi..”
“Sudahlah, jangan kau cemaskan masalah itu. Lupakan dahulu.”
Akiko tak menjawab ia hanya memberikan anggukan, mereka berdua pun kembali berkumpul bersama dengan keluarganya. Tomoko yang melihat ibunya sudah duduk, ia pun penasaran dengan perkataan terakhir ibunya, “Bu, memangnya apa yang ingin ibu katakan?.”
“Ibu hanya ingin tahu kapan kau tahu kau hamil?.”tanya nya penasaran.
Tomoko yang mengetahui bahwa bukan hal tersebut yang ingin ibunya katakan, “Aah, sepertinya bukan hal itu yang ingin ibu tahu, ada yang ibu sembunyikan ya?.”godanya.
“Jawab saja pertanyaan ibu.”katanya yang berusaha mawas diri di hadapan keluarganya sendiri.
“Ya, setelah kejadian itu aku dan Jao beberapa kali melakukan hubungan badan. Ayah mengetahuinya ketika ayah menelepon’ku dengan menggunakan video call.”katanya yang malu mengakui.
“Lalu kapan kau mengetahuinya?.”
“Tiga minggu yang lalu.”
“Hampir satu bulan yang lalu.”koreksi ayahnya.
==Satu Bulan yang Lalu==
Sebuah telepon berbunyi, Tomoko yang masih dalam keadaan tanpa berbusana, mencari handphonenya sendiri, ia mengambil dan mengangkatnya tak tahu bahwa ayahnya yang meneleponnya, “Halo.”katanya yang masih dengan suara seperti orang baru bangun tidur.
“Perlihatkan mukamu, Tomoko.”
Tomoko yang tak asing mendengar suaranya, tiba-tiba dia memperlihatkan separuh tubuhnya tak berbusana kehadapan ayahnya, “Apa yang kau lakukan, tanpa berbusana?.”kata ayahnya yang kaget setengah mati.
“Ayah!.”katanya yang seakan tak percaya dan berusaha menutupi tubuhnya sendiri.
“Pulang hari ini juga!.”teriaknya marah dan memutus telepon dengan anaknya.
Jao menghampiri Tomoko yang baru bangun, ia membawakan sarapan omelete dan susu. Tomoko bingung mau bicara apa dengan Jao. Jao mencium bibir Tomoko dan Tomoko lupa akan apa yang baru saja terjadi. Masih tanpa busana sama sekali, mereka kembali berhubungan intim layaknya suami istri hingga mereka berdua lemas.
Telepon Tomoko kembali berbunyi, ia melihat takut-takut ayahnya lagi yang menelepon dan benar saja, ayahnya yang menelepon. Ia kalut dan bingung hubungannya dengan Jao sudah ketahuan terlampau batas, “Jao ayah’ku tadi menelepon satu jam yang lalu. Aku terpergok tidak menggunakan pakaian. Ia tahu kita sudah berhubungan badan. Aku di suruh pulang ke Jepang hari ini. Pastinya kau akan kena omel oleh ayah dan ibu’ku. Temani aku.”katanya sembari mengambil bajunya yang tak karuan dimana dan bersiap-siap untuk berkemas kembali ke Jepang.
“Aku akan bertanggung jawab. Aku bantu kau berkemas.”
“Setidaknya aku harus mengangkat video call ayah’ku dahulu.”
“Gunakan bajumu. Pura-pura saja kau tak mendengarnya.”katanya yang sudah pasrah akibat ketahuan Tomoko tak mengenakan baju. Tomoko pun mengenakan bajunya dan mengangkat telepon ayahnya, ayahnya memberitahukan bahwa ia sudah memesan tiket pulang untuk anaknya. Bahkan ia sudah mengurus sampai ke Universitas bahwa ada urusan keluarga yang sangat mendesak sehingga ia harus pulang sekarang.
Tomoko dan Jao kembali ke Jepang. Ayahnya Kenzo hanya bisa menunggu kedatangan putrinya. Ia berharap bisa menyelesaikannya. Sekretaris pribadinya, Yumiko, menjadi korban kemarahan Kenzo sebelum kedatangan putrinya, “Yumiko, jika anak’ku sudah datang. Suruh ia ke ruangan’ku. Kau dan karyawan lainnya boleh pulang. Maaf jika aku marah dengan’mu kemarin.”katanya sembari meminta maaf kepada Yumiko.
“Baik, pak. Itu tidak masalah, saya tahu bapak bahkan saya sudah bekerja lama dengan Bapak. Permisi, pak.”katanya sembari kembali ke tempat ia bekerja. Beberapa teman sekerjanya berusaha membuat Yumiko untuk tetap tenang.
“Apa yang ia katakan?.”
“Setelah putrinya datang, ia meminta kita pulang. Feeling’ku tak enak ini.”
“Ada apa ya? Padahal putrinya yang di Jerman tak pernah buat masalah malah adiknya yang ketiga setahu’ku sering membuat masalah.”
Tak berapa lama pintu pun terbuka, Tomoko, sampai di kantor ayahnya. Yumiko melihat kedatangan Tomoko dengan membawa kopernya, “Kau, ada apa? Ayahmu marah sekali kepada’ku kemarin.”
“Yumiko, tolong aku.”katanya memelas.
“Hei, Tomoko, ada apa?.”tanya salah satu pegawai.
“Aku tak berani masuk ke dalam.”
“Ada apa?.”katanya yang berusaha mencari tahu kebenarannya.
“Aku ketahuan ayah sudah berhubungan badan dengan Jao.”katanya yang berusaha minta tolong. Yumiko pun bersedekap terkejut dan beberapa pegawai pun menggeleng-gelengkan kepalanya,“Tolol sekali kau kenapa kau bisa ketahuan.”
“Aku tak tahu kalau yang menelepon ayah, Miko, aku tak sengaja memperlihatkan separuh tubuh’ku.”
“Kau ini, kau tahu sendiri bagaimana ayahmu marah sama aku kemarin? Sekarang aku tanya, kau sudah datang bulan atau belum?.”tanya Yumiko.
“Ya, aku tahu ayah marah besar kemarin dan aku belum datang bulan. Pokoknya aku tak mau masuk ke ruangan ayah.”katanya keukeh.
Yumiko tak tahu harus berkata apa, ia bingung harus bicara apa lagi, “Kau tetap harus masuk ke dalam. Kami di suruh pulang oleh ayahmu. Cek ke dokter, feeling’ku mengenakan bahwa kau hamil.”
“A..aku hamil!?.”katanya seakan tak percaya.
“Kalau kau sudah berhubungan badan dan kau belum datang bulan ada kemungkinan kau hamil. Aku minta kau cek ke rumah sakit.” jelas Yumiko. Tomoko semakin terpojok ia tak tahu harus bicara apa dengan ayahnya, “Hadapi ayahmu. Aku pulang.”katanya yang meninggalkan Tomoko seorang diri. “Ayo, kita pulang semuanya.”perintah Yumiko kepada semua yang ada di tempat itu. Dengan berat hati Tomoko masuk ke dalam ruang kerja ayahnya, ia masuk dengan langkah pelan yang tak tahu akan jadi apa ia di dalam ruangan ayahnya,
“Ayah.”
“Masuk.”kata ayahnya.
Tomoko masuk, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Ia menahan rasa tangis, ingin rasanya bersembunyi di balik punggung Ibunya namun tak ada. Yumiko pun tak ada, rasa bersalah membuncah di hatinya sendiri seakan membuat malu keluarga sendiri. Ia mulai menangis, caci maki keluar dari mulut ayahnya tak karuan.
“Ayah malu! Sejak kapan ayah punya anak seperti ini? Ayah menyekolahkan mu ke Jerman untuk mendukung cita-citamu tapi apa balasannya. Tidur dengan Jao sebelum menikah!.”katanya marah.
Tomoko pun menangis di hadapan tak tahu mau berkata apa lagi hanya satu kata yang keluar dari mulutnya, “Ayah, maaf.”
“Tak ada ampun kau kali ini! Berapa kali kau melakukannya?.”
“Aku tak ingat.”
Kenzo pun melonggarkan dasinya, ia melempar testpack ke Tomoko. Tomoko yang baru pertama kali melihatnya, tahu apa yang di minta ayahnya, “Pergi ke kamar mandi cek. Habis itu kita ke dokter.”
Tomoko keluar dari ruangan ayahnya dan mendapati seluruh ruangan sudah kosong tak ada orang, ia menuju kamar mandi, ia mengikuti yang ada di tulisan testpack tersebut. Ia menunggu hasilnya, dua garis merah terlihat, kata-kata Yumiko tergiang di kepalanya, matanya merah. Ia kembali ke ruangan ayahnya dengan muka pucat pasi, “Dua garis atau satu garis?.”tanya ayahnya. Tomoko tak dapat menjawabnya. Ia terduduk di hadapan ayahnya. Kenzo sudah dapat mengetahuinya, “Kita ke dokter.”
Mereka berdua diam membisu seperti patung tak ada yang berbicara. Supirnya pun juga sudah di suruh pulang seakan sudah di rencanakan ayahnya, Tomoko tak tahu harus berkata apa pun. Ia hanya bisa mengikuti ayahnya pergi, ia melihat sebuah tulisan yang baru ia lalui, Rumah Sakit Beika.
Di Rumah Sakit Beika, Kenzo sudah mendaftarkan anaknya Tomoko terlebih dahulu. Ia menuju ke lantai yang di tuju, lantai empat. Ia melangkahkan kakinya ke bagian Nurse Station, “Ibu Tomoko.”kata suster yang melayani.
“Ya.”
“Boleh saya periksa terlebih dahulu. Ada keluhan?.”tanya susternya.
“Hanya mau periksa.”
“Baiklah. Normal ya, bu.”
Tak berapa lama nama Tomoko kembali di panggil untuk masuk ke ruangan Dokter Ryoko. Mereka berdua masuk ke dalam ruangan karena Tomoko hanya bisa diam saja tak mampu berbicara Kenzo akhirnya menjelaskan, “Bu Tomoko, mari kita periksa.”kata Dokter Ryoko.
Dokter tersebut meminta Tomoko, untuk membuka celana panjangnya dan pakaian dalamnya. Ia melakukan langsung dengan tangannya sendiri. Dokter tersebut meminta Tomoko untuk mengikuti ia untuk menarik nafas dan melepasnya supaya Tomoko bisa rileks, “Pak, mau melihat kandungannya?.”tanya dokter tersebut. Kenzo pun memberanikan dirinya untuk melihat kondisi cucunya, sebuah layar menangkap jelas bahwa usia kandungan Tomoko sudah jalan satu bulan, “Untuk bayinya belum terlihat tapi sudah ada kantungnya. Mohon di jaga saja. Saya akan memberikan resep.”jelas dokter tersebut.
Dokter itu meminta Tomoko untuk mengenakan kembali celananya dan kembali ke tempat ia bekerja. Ia pun memberikan resep kepada Kenzo, bahkan memintanya untuk menjaga kandungan anaknya karena ia terlihat sedang mengandung anak kembar. Kenzo keluar dari ruangan dokter di ikuti oleh Tomoko. Mereka pergi lagi ke bagian administrasi untuk menyelesaikannya dan menunggu obat mereka.
Tomoko tetap masih diam tak berkutik, Kenzo hanya bisa berfikir. Ia membawa mobilnya ke arah bandara dan membeli dua buah tiket ke Osaka. Hanya itu yang ada didalam pikiran kepalanya, Tomoko pun menyerahkan passportnya ke ayahnya sendiri. Mereka berdua menaiki pesawat yang akan segera tinggal landas. Sesampainya di Osaka dan mereka keluar dari lobby, Kenzo memberhentikan sebuah taksi dan membantu Tomoko menaruh kopernya di belakang bagasi. Kenzo meminta di antarkan ke Hotel The Luxorius.
Sesampainya mereka di The Luxorius, Kenzo memesan kamar untuk satu orang. Ia mengantarkan putrinya. Di dalam kamar tersebut Kenzo meminta, Tomoko untuk duduk dekat dengan dirinya, “Maafkan ayah. Maaf, jika ayah sudah menamparmu.”
“Ayah marah dengan’ku?.”
“Sangat bahkan Yumiko pun menjadi korban kemarahan ayah.”jelas Ayahnya.
“Maafkan aku juga ayah.”
“Kau mungkin berfikir mau berlindung di belakang punggung ibumu. Jangan harap bisa berlindung dari ibumu. Bahkan mungkin ibumu hanya bisa memarahimu tidak ada solusinya. Untuk sementara waktu kau bersabarlah. Kau harus menikah dengan Jao bulan depan, aku sudah menghubungi beberapa perancang gaun pengantin. Pilihlah, mereka akan ke sini. Dan, jaga kandunganmu. Jangan melakukan aktivitas yang berat.”katanya dengan menghela nafas. “Ayah balik dulu.” Kenzo meninggalkan putrinya seorang diri di ruangan.
Tomoko hanya bisa melihat kepergian ayahnya, namun entah dorongan dari mana, ia mengejar ayahnya dan memeluknya dari belakang. Ia menangis tak karuan di belakang punggung ayahnya, ia tahu bahwa ia sudah menghancurkan hati ayahnya sendiri. Kenzo mematung, tak bisa meninggalkan putrinya seorang diri. Ia membalikan tubuhnya dan memeluk putrinya, “Sudah jangan menangis. Jangan kau pikir ayah tega memarahimu, ayah juga masih punya hati, Tomoko. Kalau ayah masih marah, ayah masing sayang dengan dirimu. Hati siapa yang tidak hancur jika mengetahui putrinya hamil terlebih dahulu? Kami orang tuamu, Tomoko.”
“Maaf’kan aku. Aku tak berfikir jauh atas apa yang sudah aku dan Jao lakukan. Aku pikir ayah akan mencampak’kan aku ternyata malah sebaliknya.”
“Karena kau putri ayah. Sebagai ayah pasti ayah akan membelamu, walau dengan kemarahan.”katanya sembari memegang wajah putrinya dan menghapus air mata putrinya, “Sudah jangan menangis, nak.”
==Satu Bulan Sekarang==
“Ya, begitulah kisahnya.”kata Tomoko yang masih ingat bagaimana hubungan dirinya dengan ayahnya menjadi sangat dekat sekali.
“Pantas kalian jadi dekat.”kata Akiko.
“Semua sudah ku atur. Tinggal kalian yang akan menjalankannya, sudah aku tak mau berlarut-larut dalam masalah ini. Kembali ke kamar masing-masing, besok akan padat acara kita.”jelas ayahnya.
“Setelah itu ia baru memberitahu’ku bahwa dirinya hamil, bi.”jelas Jao.
“Ckck..kalian ini benar-benar. Dan, kau sayang, mengapa kau terpikir menyembunyikan Tomoko kau di hotel’ku?.”
“Daripada aku mencari hotel yang lain lebih baik hotel’mu.”
“Oh iya benar kalian bisa menikmatinya di sini. Gratis untuk kalian tak perlu bayar.”
“Pastilah. Kan ini hotel milik, Ibu.”goda Yui.
“Ayo kembali ke kamar masing-masing.”kata Kenzo.
Mereka semua akhirnya kembali ke kamar masing-masing dan beristirahat sebab besok mereka akan melakukan banyak sekali rangkaian acara yang mungkin akan menguras tenaga mereka semua.
Anda Mungkin Juga Suka





