Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gerhana

Gerhana

Gerhana Putri Alam tak menyangka perselisihannya dengan preman garang bernama Tangguh Langit Ramadhan justru menumbuhkan benih cinta. Meski Tangguh bersikap dingin dan merasa tidak pantas bersanding dengan putri seorang jenderal, Gerhana tetap yakin ada perasaan tulus di balik sikap acuh tersebut. Tangguh bersikeras menepis kenyataan itu, namun Gerhana balik menggoda rahasia sang pria yang diam-diam sering menatap fotonya. Akankah perbedaan status menyatukan mereka?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Eh ada Mbak Rani. Nggak ada apa-apa kok, Mbak. Kepala saya cuma benjut dikit doang. Soalnya tadi pagi mobil saya nyium kios martabak, dan Bang eh Pak Izar bermaksud untuk memeriksa luka saya." Gerhana buru-buru menjauhkan kepalanya sehingga tangan Abizar hanya menyentuh udara. Ia segera berdiri dan menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada Mbak Rani. Ia tidak ingin menciptakan kesalahpahaman di antara dua orang kekasih.

"Eh kamu kok berdiri, Dek? Duduk aja lagi. Kening kamu memar itu kayaknya," kata Mbak Rani spontan. Gerhana menghela napas lega. Syukurlah. Setidaknya adegan ala-ala sinetron tidak terjadi. Mbak Rani memang dewasa lahir batin. Buktinya si mbak sekarang malah ikut memperhatikan keningnya. Aman lah dunia.

"Sebaiknya kamu ke rumah sakit deh, Dek. Lihat, keningmu sampai benjol begitu. Atau kamu mau Mbak panggilin si Dika? Si Dika pasti pasti lebih kompeten mengobati luka kamu dari pada dokter abal-abal ini. Kalau Dika itu kan dokter beneran. Bukan dokter amatiran seperti atasan kamu ini." Mbak Rani menunjuk Abizar dengan dagu. Mengejek pacar tersayangnya. Abizar hanya menaikkan satu alis dengan ekspresi wajah santuy.

"Ya namanya juga P3K dadakan alias Pertolongan Pertama Pada Kepedulian. Biar pun Mas amatiran, tapi setidaknya kan ada niat untuk menolong," Abizar ini sifatnya mirip sekali dengan ibunya, Tante Lily. Selalu ada saja jawabannya apabila ia dicela.

"Dika itu maksudnya Dokter Mahardika adik Mbak Rani ya? Nggak perlu, Mbak. Cuma luka kecil begini. Ntar juga sembuh sendiri. Hehehe."

Mencari dokter Dika sama saja artinya dengan mencari penyakit. Mbak Yohana itu possesive abis orangnya. Setiap pasien suaminya yang berusia di bawah lima puluh tahun, pasti akan dicemburuinya. Kecuali pasiennya itu laki-laki. Baru aman.

"Ya sudah, Nana ke ruangan Bagas dulu ya? Mau mengecek komposisi drawing-an Bagas. Sepertinya tadi ada sedikit gambar yang harus dikoreksi. Permisi." Gerhana meninggalkan ruangan meeting. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan komposisi drawing-an Bagas. Ia hanya mencari alasan untuk meninggalkan sepasang kekasih itu. Tidak enak menjadi obat nyamuk di antara dua insan yang sedang cinta-cintanya. Ia tahu diri. Ia hanya merasa sedikit berdosa karena sudah menumbalkan Bagas. Padahal hasil drawing-annya sempurna. Jangan-jangan telinga Bagas menjadi gatal lagi karena sudah difitnah yang bukan-bukan.

Baru saja keluar dari pintu ruang meeting, ponselnya bergetar. Ternyata Mbak Nuri, fans setia kakaknya. Pasti si Mbak ingin meminta bantuannya lagi untuk mendapatkan hati Mas Guruh. Bukan rahasia lagi kalau Mbak Nuri ini menyukai kakaknya. Usia Mbak Nuri yang hampir dua tahun di atas kakaknya tidak menjadikannya minder. Mbak Nuri malah dengan bangganya mengatakan bahwa Mas Guruh akan bahagia lahir batin karena mendapatkan wanita yang dewasa. Yang mengerti cara memanjakan pria sekaligus mandiri secara finansial. Bukan wanita kekanakan yang hanya akan menjadikannya supir dan ATM berjalan. Mbak Nuri memang se-pede itu.

Gerhana mengangkat ponsel seraya mendorong pintu ruangan dengan bahu. Tangan kirinya penuh dengan dokumen sementara tangan kanannya memegang ponsel. Setelah menghempaskan pinggul di kursi, barulah ia menjawab panggilan dari Mbak Nuri.

"Hallo Mbak Ri, tumben jam segini menelepon Nana? Mau nraktir makan siang ya? Diterima dengan senang hati kok undangannya?"

"Ck, kecik lah kalau kamu cuma minta ditraktir makan siang. Restorannya pun bisa Mbak beli, asal kamu sukses mencomblangi Mbak dengan Mas-mu. Hehehe. Eh Na, makanan kesukaan Guruh apa sih? Mbak pengen ngasih kejutan pas makan siang besok di kantornya?"

Nah kan? Bener tebakannya.

"Mas Guruh itu suka makan ikan, Mbak. Mau digoreng, dikukus, disambel sampai digulai pun pasti disikat semua. Aduh!" Gerhana meringis saat tidak sengaja menyentuh keningnya yang memar. Sepertinya pulang kantor nanti ia memang harus ke dokter. Siapa tahu ada luka dalam di kepalanya. Kan tidak lucu juga kalau tetiba ia jadi amnesia?

"Kamu kenapa, Na? Kok kayak kesakitan gitu?"

"Nana tadi nyerempet kios martabak, Mbak?"

"Hah? Astaga, kok bisa? Tapi kamunya nggak kenapa-napa kan?"

"Nggak sih, Mbak. Cuma benjol dikit doang. Ini Nana lagi nungguin anak penjual martabaknya,"

"Lah kok ditungguin? Jangan-jangan anak penjual martabaknya ganteng ya, Na? Makanya sampai kamu tungguin? Seru juga ya, Na. Jadi kayak FTV. Ketabrak, ke rumah sakit eh jadian. Hehehe."

"Kejadian yang seperti itu kan cuma ada di novel dan sinetron, Mbak. Ketabrak, ke rumah sakit, jadian. Kalau di dunia nyata mah, ketabrak, ke rumah sakit, mati, tahlilan."

"Hahaha... lo lucu amat ya, Na? Beda beut sama si Guruh. Ya sudah, Mbak belajar masak dulu di internet biar ntar hasil masakannya bisa dipertanggungjawabkan dunia akhirat. Kamu ke rumah sakit buruan gih. Takutnya ntar ada luka dalam lagi."

"Siap, Mbakku."

Setelah Mbak Nuri menutup telepon ia bergegas ke pantry mencari kotak P3K. Bermaksud mengobati keningnya dengan pengobatan seadanya. Suara langkah-langkah kaki yang mendekat membuatnya memalingkan wajahnya. Selena. Staff admin sekaligus teman baiknya di kantor ini. Karena di kantor ini penghuninya mayoritas laki-laki, kehadiran sesama rekan kerja wanita otomatis menjadikan mereka dekat. Selain Selena ada satu orang yang berjenis kelamin perempuan dari divisinya, yaitu Marsya, sekretaris Abizar. Mereka bertiga berteman cukup akrab. Hanya saja Mbak Marsya sudah dua hari ini tidak masuk karena sakit.

"Sini gue obatin, Na. Pasti lo terlambat bangun karena lupa nyetel alarm lagi kan? Na... Na... baru aja tiga hari ortu lo ke luar kota, lo udah keteteran begini? Gimana kalo sebulan coba?" Selena meraih kotak P3K. Membubuhkan betadine pada kapas sebelum menekankannya lembut ke keningnya.

"Ya mau gimana lagi, Len? Pelupa gue ini parah. Biasanya kan ibu gue yang bangunin pagi-pagi. Lah ini ibu gue kagak ada di tempat, beginilah jadinya nasib gue. Mana diomelin sama boss besar lagi. Ya jadi ngebutlah gue."

"Dasar anak durhaka. Lo yang bangun kesiangan malah nyalahin ibu lo."

Bagas menyusul masuk ke pantry. Tangannya terlihat menenteng plastik berisi gorengan. Pasti Bagas ingin minum kopi. Sudah menjadi kebiasaan Bagas kalau minum kopi harus ditemani dengan sepiring gorengan. Biar nikmatnya kenyang katanya. Ia juga selalu membuat kopinya sendiri alih-alih dibuatkan oleh OB. Bagas ini serba bisa. Di rumah pun ia kerap memasak apabila istrinya repot mengurus anak kembar mereka. Beruntung sekali istrinya bukan?

"Maksud gue nggak gitu juga kali, Gas. Gue mah cuma cuhat." Gerhana memutar bola matanya. Bagas ini ya begini ini orangnya. Suka nyamber pembicaraan orang tanpa melihat topik permasalahannya. Bensin banget kan?

"Sebagai orang yang lebih berpengalaman dalam dunia balap mobil, gue akan memberi wejangan berharga untuk lo," tukas Bagas seraya mengambil sebuah piring. Menyalin gorengannya.

"Apaan?"

"Usahakan kalo lo lagi ngebut itu jangan kenceng-kenceng supaya nggak nabrak." Sahut Bagas kalem.

"Huuuuu... mana ada orang ngebut itu pelan, Bambank." Gerhana dan Selena meneriaki Bagas yang hanya nyengir-nyengir kuda.

"Gue duluan ya? Gue mau memeriksa ulang hasil drawing-an lo," Gerhana menunjuk Bagas. "Tadi gue cuma ngeliat sekilas doang karena waktunya mepet. Walau biasa hasil drawing-an lo oke, tapi tetep harus gue periksa ulang. Kalo nggak double check dan ada komposisi yang salah, bisa diginiin gue sama boss besar." Gerhana membuat gerakan menggorok lehernya sendiri. Ucapannya hanya disambut tawa oleh kedua rekannya. Seperti inilah suasana kantornya. Walaupun didominasi oleh para pemilik hormon testoteron, tapi selalu aman, damai, sentosa. Dengan catatan kalau boss besar mereka uratnya lurus ya?

=================================

Gerhana melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul 17.30 WIB dan anak si ibu penjual martabak belum juga datang. Padahal ia sudah menunggu setengah jam lebih lama dari jadwal kepulangannya. Kantor sudah sepi. Rekan-rekan kerjanya sebagian besar sudah pulang. Hanya tinggal Joko, OB kantor yang tengah membersihkan ruangan. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang saja. Sepertinya anak si ibu benar-benar tidak ingin menerima pertanggung jawabannya. Tetapi ia akan tetap mempertanggungjawabkan perbuatannya. Toh yang bermasalah itu antara ia dan si ibu. Bukan dengan anaknya yang sangar itu. Minimal ia akan menjenguk si ibu dan mengganti kerugian yang telah ia perbuat. Sebaiknya sepulang dari rumah sakit nanti ia menyinggahi lokasi tempat berjualan si ibu tadi. Mudah-mudahan saja si ibu masih ada di sana.

Dan di sinilah ia berada. Di antara jajaran kios-kios makanan pinggir jalan. Tetapi kios si ibu tadi kosong melompong. Stealingnya sudah tidak ada lagi. Mungkin sedang diperbaiki. Setelah memarkirkan mobilnya, ia keluar dan bermaksud menanyakan alamat rumah si ibu pada pedagang yang lain. Siapa tahu ada di antara mereka yang mengetahui alamat rumah si ibu.

"Eh lo lagi lo lagi yang nongol di mari. Mau ngapain lagi lo ke sini?" Bukannya menemukan jejak si ibu atau anaknya, ia malah bertemu dengan dua preman reseh tadi. Kalau tidak salah namanya Barda dan Jaka. Mereka berdua keluar dari kios sate dan kini sedang menghampirinya.

"Saya mau mencari ibu--" Gerhana mengingat-ingat nama si ibu.

"Ibu Wardah. Anda berdua tahu alamatnya tidak?

"Ngapain lo nanya-nanya alamat? Mau lo diabisin sama si Tangguh?" Barda mendengus kasar seraya bertolak pinggang.

"Saya mau membayar uang ganti rugi atas kerusakan yang tidak sengaja saya lakukan tadi,"

"Ooohhh... bilang dong dari tadi." Sikap Barda mendadak manis bin ramah.

"Udah lo titip aja duitnya sama gue. Ntar gue sampein dah sama Bu Wardah. Kalo lo ke rumahnya, ntar lo dimaki-maki lagi sama si Tangguh. Udah, siniin duitnya?" Barda membuka telapak tangannya sambil cengengesan. Rezeki nomplok ini namanya mah.

"Oke. Mana KTP Anda?" Gantian sekarang Gerhana yang membuka telapak tangannya. "Terus nanti Anda harus bersedia saya photo juga ya? Sebagai barang bukti." Tukas Gerhana kalem.

"Lah ngapain juga lo bocah minta KTP sama photo gue segala? Lo nggak percaya ya sama gue?" Bentak Barda kesal. Ekspresi wajahnya sudah tidak manis lagi.

"Ya iyalah. Kan kita juga baru ketemu dua kali di sini. Mana suasana ketemunya tidak enak lagi. Bagaimana saya bisa mempercayai Anda begitu saja?" Gerhana keukeuh dengan persyaratannya. Dipikir ia bodoh apa?

"Ck! Lo percaya deh sama gue. Gue janji itu uang akan gue kasih ke Bu Wardah. Suwer!" Barda mengangkat tangannya. Membuat tanda V tanya bersumpah.

"Nggak bisa. Janji zaman sekarang itu nggak bisa dipegang. Bisanya cuma discreenshoot atau di photo." Gerhana kembali menggelengkan kepalanya. "Begini aja, Anda beritahu saya alamat lengkap si ibu dan saya akan memberi Anda tips. Bagaimana? Deal?" Tawar Gerhana. Si preman seketika tersenyum sumringah.

"Deal!"

"Kalo lo berani ngasih alamat gue sama ini bocah, siap-siap aja lo gue mutilasi kecil-kecil!!!"

"Eh capung, belalang, kupu-kupu!"

Gerhana kaget saat mendengar suara bentakan dari arah belakangnya. Anak Bu Wardah rupanya. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Capek-capek ditungguin dari tadi, eh ternyata orangnya ada di mari. Anak baik mah ada ada jalannya. Ya kan?

"Waduh, maap ya Guh. Gue kagak tahu kalo lo ada di sini," Barda nyengir. "Gue tadi mah cuma becanda doang elah. Iya kan, Jak?" Barda menyenggol Jaka yang berdiri di sampingnya. Meminta dukungan. Si Tangguh ini mah serem. Dia tidak pernah main-main dengan ucapannya.

"Becanda? Kayaknya kagak deh, Bar. Kan tadi lo yang bilang sendiri kayaknya ada rezeki nomplok yang menghampiri. Rezeki nomploknya maksud lo tadi bocah ini kan?" Jaka menunjuk Gerhana.

Mampus! Barda auto pucat. Si Jaka yang komposisi otaknya sekilo kurang satu ons ini memang payah kalau diajak bekerja sama. Otaknya belum nyampe sampai ke sana. Keseringan macet karena kurang gizi sepertinya.

"Gue... gue..." Barda menggaruk-garuk kepalanya yang tidal gatal. Salah tingkah karena ketahuaan berbohong.

"Lo denger baik-baik ya, Bar? Kalo lo sampe berani melanggar aturan yang udah gue buat, gue abisin lo!" Desis Tangguh geram. Ia kemudian berpaling pada Gerhana yang cengo memandang perseteruan antar preman live show di depan matanya. Serem juga euy kalo si Tangguh-Tangguh ini sudah berbicara. Kayaknya memang lebih aman kalau orang ini diam-diam saja.

"Tadi pagi kan saya sudah mengatakan kalau saya tidak butuh pertanggungjawaban kamu. Kamu mengerti bahasa Indonesia bukan?!" Kuatnya desibel suaranya membuat Gerhana meringis. Subhanallah ternyata Abizar ada saingannya sekarang. Anak Bu Wardah ini gualake poll! Setelah membentaknya, si Tangguh-Tangguh ini berjalan meninggalkannya begitu saja. Tidak mau buruannya kabur, Gerhana mengekor di belakangnya.

"Saya mengerti, Abang Preman. Tapi saya tidak suka merugikan orang lain, makanya saya--"

"Aduh!!!"

Gerhana meringis saat keningnya yang baru saja diperban dokter menabrak keras bahu Tangguh. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Tangguh akan berbalik dengan tiba-tiba. Denyutan di kepalanya membuat matanya berkaca-kaca. Sakit sekali soalnya.

"Maaf, saya tidak sengaja." Gerhana belum bisa bersuara. Rasa sakitnya menghilangkan kemampuannya berbicara. Ia perlu menenangkan dirinya dulu.

"Sakit sekali ya?" Sekonyong-konyong Gerhana merasakan ada telapak tangan besar yang mengelus pelan keningnya yang terluka. Gerhana membeku. Posisinya saat ini dekat sekali dengan Tangguh. Ia sampai bisa melihat jakunnya yang bergerak-gerak dan rahangnya yang ditumbuhi oleh bulu-bulu halus. Ia terpesona. Ia tidak pernah berdekatan dengan seorang pria selain ayah dan kakaknya.

Tuk! Gerhana kaget lagi saat Tangguh menyentil lembut pelipisnya.

"Makanya kamu jangan keluyuran sepulang kerja. Sebaiknya kamu pulang dan istirahat. Ah, satu lagi. Jangan berani-berani mendatangi rumah saya. Ingat itu!" Kali ini Tangguh benar-benar berlalu. Ia menaiki sepeda motornya dan hanya meninggalkan kepulan asap di belakangnya.

Lo kira gue bakalan nyerah gitu aja? Lo liat aja, gue akan melakukan apapun untuk menunaikan tanggung jawab gue!

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Buku Harian Seorang Pengacara Muda
8.3
Edward Cicero adalah pemuda ambisius yang sedang menempuh pendidikan demi menjadi pengacara profesional. Namun, langkahnya di sekolah hukum langsung diuji saat ia harus menangani kasus perdana melawan perusahaan asuransi raksasa. Edward kini terjebak dalam dilema moral yang berbahaya. Ia wajib memenangkan gugatan itu dengan segala cara, termasuk menempuh jalur kriminal, atau ia akan menghadapi konsekuensi pahit berupa pengusiran dari kampusnya.
Sampul Novel GADIS BIASA VS BOSS MAFIA
8.6
Anne Mary, gadis jenius berusia 18 tahun, terjebak dalam pusaran maut setelah menyaksikan pembunuhan cinta pertamanya oleh bos mafia, Marcio Lamparska. Dituduh sebagai tersangka, Anne diculik Marcio ke Spanyol untuk dilatih secara fisik. Meski awalnya berniat membalas dendam dengan mendekati Marcio, Anne justru jatuh cinta. Konflik memuncak saat Iosef, musuh Marcio yang posesif, menyelamatkannya. Kini Anne tumbuh menjadi pembunuh tangguh yang harus memilih antara dendam atau komitmen hati.
Sampul Novel GAIRAH TENGAH MALAM
9.5
Seorang fotografer alam liar melakukan ekspedisi mendalam ke jantung hutan Amazon yang misterius. Di sana, ia bertemu dengan pemandu lokal tangguh yang memicu ketertarikan kuat sejak awal. Di balik pesona hutan hujan yang eksotis, mereka harus menghadapi berbagai rintangan berbahaya yang mengancam nyawa. Di sela ketegangan dan ancaman alam tersebut, tumbuh gairah membara yang menyatukan keduanya dalam sebuah petualangan cinta yang penuh dengan risiko dan aksi.
Sampul Novel MAFIA DI KEJAR GADIS OBSESI
9.2
Dunia berlutut di hadapan bos mafia kejam yang dikenal sangat agresif dan tak kenal ampun. Namun, otoritasnya mendadak goyah saat menghadapi seorang gadis pemberani berjiwa pejuang. Berbeda dari orang lain, pebisnis tangguh ini justru berani membangkang, berdebat, hingga menggoda sang mafia tanpa rasa takut. Meski sang bos mencoba segala cara untuk mengintimidasi, keberanian gadis itu justru membalikkan keadaan. Akankah kekejaman sang mafia luluh oleh obsesi unik ini?
Sampul Novel Mendadak Menjadi Permaisuri ke 6
9.1
Seorang dokter genius masa kini tiba-tiba terbangun dalam tubuh permaisuri abad ke-17 yang baru saja diceraikan Pangeran Keenam. Meski dikhianati demi wanita lain, ia tidak peduli dan memilih fokus membangun karier medis dengan ilmu modernnya. Keahliannya memikat hati rakyat hingga Sang Kaisar sendiri. Awalnya ia menolak cinta, namun takdir menyeretnya ke dalam dilema emosional antara perasaan terlarang dan pengorbanan besar yang harus ia tentukan.
Sampul Novel My Sweetheart is Nerd?
9.6
Shenia Ereshva, putri konglomerat, diam-diam terlibat dalam geng motor yang menentang shadow economy. Ia jatuh hati pada Rafka, pemuda genius korban perundungan, dan bertekad memenangkan hatinya. Namun, Rafka ternyata menyimpan rahasia serupa sebagai anggota geng motor. Keduanya pun dipertemukan kembali dalam misi besar untuk menjatuhkan organisasi R Black yang sangat kuat. Di tengah tumpukan rahasia ini, mampukah cinta mereka bertahan tanpa mengancam misi?