
Gawat, Pak Bos Ada Maksud Lain
Bab 2
Menghadapi pelecehan terang-terangan dari atasanku, yang bisa aku lakukan hanyalah mengencangkan kemejaku. Air mata mengalir dari mataku.
Siapa sangka Jonathan adalah seorang bajingan di balik layar.
Namun, semuanya tidak berhenti sampai di situ.
Setelah dia mencicipinya, keningnya sedikit berkerut. Jonathan berkata dengan nada tidak puas, "Aku sudah membayar Bu Linda dengan gaji yang begitu tinggi, tapi kopi buatan Bu Linda nggak terasa susunya. Lupakan saja, aku akan melakukannya sendiri."
Bagaimana dia akan melakukannya sendiri?
Pada detik berikutnya, aku pun mengetahuinya.
Jonathan bangkit berdiri dengan cepat, tangannya yang besar menggapai ke arah tempat yang sudah lama diincarnya.
"Jangan!"
Kerah kemejaku yang rapuh langsung terbuka dengan robekan, sementara Jonathan segera membenamkan kepalanya.
"Ah, Pak Jonathan, jangan …."
Perlawananku berangsur-angsur melemah.
Beban di dadaku akhirnya terangkat, tetapi Jonathan masih tidak melepaskannya.
"Uh …. Jangan …."
"Apanya yang jangan?" Tangan Jonathan meraba ke seluruh tubuhku. "Apakah suamimu membuatmu begitu bahagia?"
'Dari mana aku punya suami?' pikirku.
Sambil menggigit bibir dengan erat, aku akhirnya tidak memiliki kekuatan untuk melawannya.
Jonathan masih tidak melepaskanku ketika berujar, "Kamu adalah sekretaris pribadiku, apa kamu nggak ingin melangkah lebih jauh denganku?"
Memangnya pria ini pikir dia siapa?
Memang benar dia tampan dan kaya, tetapi di dunia ini pun ada orang yang tidak tergiur dengan uang. Jangankan lagi dengan bajingan sepertinya!
Aku memelototinya dengan mata merah.
"Uh, sakit …."
Jonathan terkekeh, lalu dengan cepat melakukan pembalasan yang tidak kunjung berhenti. Sampai akhirnya ada seseorang yang datang untuk melaporkan pekerjaannya.
Dia merapikan bajuku, lalu berkata dengan nada puas, "Bu Linda, jaga dirimu dengan baik. Susu sebanyak ini nggak akan cukup untuk memberi makan dua orang."
Karena merasa malu dan kesal, aku bergegas keluar dengan kepala tertunduk.
Aku akhirnya berhasil kembali ke meja kerjaku dengan kaki lemas. Rekan kerja baruku, Melissa, menghampiriku dengan penuh kekhawatiran.
"Wajahmu merah sekali. Linda, apa kamu demam?" tanya Melissa.
Aku menggelengkan kepala.
"Apa kamu terangsang ketika melihat Pak Jonathan tadi?" Melissa menyeringai menggodaku, lalu melanjutkan, "Apa kamu berkhayal melakukan sesuatu dengan Pak Jonathan?"
Tanpa sadar aku langsung menjawab, "Nggak!"
Melissa menunjukkan ekspresi yang bisa dipahami semua orang ketika berujar, "Nggak apa kalau kamu sedikit berfantasi, selama itu nggak terlihat oleh Pak Jonathan. Dia paling membenci orang yang terobsesi padanya."
'Apakah kita sedang membicarakan Pak Jonathan yang sama?' pikirku.
Orang yang ada di kantor CEO itu jelas-jelas adalah seorang bajingan. Aku tidak tahu berapa banyak karyawan wanita yang sudah disentuh olehnya. Pria itu begitu mesum hingga dia bahkan tidak melepaskan seorang Ibu yang sedang dalam fase menyusui.
Bahkan sampai sekarang, dadaku masih terasa sakit.
Melissa menghela napas, lalu berkata, "Haih, orang yang berada lebih dekat dengan tujuan memang akan mendapatkan lebih banyak keuntungan. Kalau kedua belah pihak sama-sama menginginkannya, nggak ada yang akan dirugikan. Tapi Pak Jonathan sama sekali nggak memahami cinta. Levina yang duduk di posisi kerjamu sebelumnya, dia dipecat karena gagal menggoda Pak Jonathan."
Aku mengetahui tentang hal ini. Aku juga mengerti bahwa sulit bagi mereka untuk menemukan pekerjaan yang baik di industri ini jika sudah disingkirkan dari Grup Jarvis.
Jadi, aku tidak bisa membiarkan diriku dipecat setelah baru bekerja selama beberapa hari.
Anda Mungkin Juga Suka





