
Gawat, Pak Bos Ada Maksud Lain
Bab 3
Setelah menjalani hari ini dengan perasaan putus asa, aku mempertimbangkan segalanya semalaman. Namun, aku masih belum berani mengajukan pengunduran diri.
Meskipun tindakan Jonathan berlebihan, aku hanya bisa menggertakkan gigi, menelan segala kepahitan ketika melihat wajah anakku yang menggemaskan.
"Anak kesayanganku, Ibu pergi … bekerja dulu."
Anakku seolah-olah bisa mengerti. Dia mengedipkan mata besarnya yang seperti anggur sambil terkikik. Dia juga tidak marah ketika ibuku menggendongnya untuk mengganti popoknya.
Aku menjadi makin gugup ketika menambahkan susu terlebih dahulu ke dalam kopi yang aku siapkan. Namun, Jonathan bahkan tidak melihatnya, melainkan menatap dadaku yang seakan ingin meledak.
Kali ini, aku sudah menjahit kancing kemejaku dengan kuat.
Aku berkata dengan panik, "Aku … sudah menambahkannya."
Jonathan mengetuk meja dengan buku-buku jarinya, lalu membalas, "Aku suka minum yang segar."
Bagaimana dia bisa ... bagaimana dia bisa melakukan ini?
Wajahku merona karena malu, sama sekali tidak bersedia melakukan sesuatu yang tidak senonoh. Namun, di bawah tatapan Jonathan yang mengintimidasi, aku perlahan-lahan membuka kancing bajuku.
Namun, yang membuatku takut adalah tangan besarnya yang sulit diatur.
"Pak Jonathan!"
Aku meronta dengan keras. Tubuhku tidak mampu menahan rangsangan seperti itu.
Jonathan mengangkat alisnya dengan ekspresi kejam, lalu berkata, "Bu Linda benar-benar seorang pemula. Kopi yang kamu buat terlalu pekat, jadi kamu perlu menambahkan air."
Tidak, itu sama sekali tidak mungkin ….
Bagaimana bisa ada rangsangan seperti ini?
Aku merintih. tidak mampu membendung suara yang terputus-putus di tenggorokanku.
Sudut bibir Jonathan sedikit terangkat. Dia menyiksaku tanpa memedulikan diriku. Pria itu memandangi berbagai emosi yang aku tunjukkan dengan perasaan puas.
"Pak Jonathan, lebih lembut …."
Untungnya, panggilan telepon yang mengingatkan tentang sebuah rapat menyela, langsung menghancurkan suasana yang penuh gairah.
Mataku seakan dipenuhi kabut kebingungan, sementara tubuhku begitu lemas hingga aku ingin berdiri untuk melarikan diri. Namun, senyum Jonathan tampak makin nakal. Apa yang diambilnya membuat tubuh bagian bawahku merasakan hawa dingin.
Pria ini benar-benar memasukkan benda itu ke dalam saku jasnya begitu saja!
"Ruang konferensi cukup hangat, jadi Bu Linda nggak perlu memakai begitu banyak pakaian," ujar Jonathan.
Omong kosong macam apa yang pria ini katakan?
Namun, Jonathan sudah bangkit berdiri, sementara aku harus segera mengikutinya. Meskipun rok yang aku kenakan tidak terlalu pendek, aku selalu merasa bahwa ruang konferensi ini memiliki mata dari semua sisi.
"Pak Jonathan, proyek ini lebih sukses dari yang diharapkan …."
Aku dipaksa berdiri di samping Jonathan. Hawa dingin itu membuatku merasa sangat tidak aman. Namun, tangan panas pria itu malah membuatku makin takut.
Terutama karena dia begitu berani.
Bibirku hampir tergigit, sementara aku masih sedikit linglung ketika rapat selesai.
Namun, Melissa datang menghampiriku, lalu berkata dengan nada iri, "Linda, Pak Jonathan sangat menjunjung tinggi dirimu. Dia sangat memperhatikanmu di ruang rapat."
Jonathan memang sangat memperhatikanku, tetapi aku jadi tidak bisa berdiri setelah mendapatkan seluruh perhatiannya. Aku lebih suka tidak mendapat perhatian seperti ini.
Aku mencoba membuat alasan dalam keadaan linglung, "Nggak, mungkin memang Pak Jonathan adalah orang yang baik."
Melissa hanya tertawa saat mendengar ini.
Anda Mungkin Juga Suka





