Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Garis Cinta

Garis Cinta

Diza sontak melayangkan protes saat merasakan perlakuan kasar dari kekasihnya. Menanggapi keluhan tersebut, Rayden segera meminta maaf dengan nada lembut. Pria itu berjanji akan melanjutkan interaksi mereka secara lebih perlahan dan berhati-hati. Sembari menenangkan suasana, Rayden mulai melonggarkan dasi yang telah melilit lehernya selama berjam-jam demi memberikan kenyamanan lebih bagi mereka berdua dalam momen intim yang penuh dengan ketegangan romantis tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Kenapa?" tanya Rayden bingung.

Diza memonyongkan bibirnya-tanda kalo dia sedang tidak mood dan menatap Ray sebal. "Habisnya cewek-cewek kurbel bin jablay bin cap cabe 5 kilo itu pada liatin kamu bee ... dan aku gak suka itu!!" 

Rayden terkikik geli mendengar kata-kata Diza apalagi saat melihat ekspresi istrinya itu. Diza mengembungkan pipinya dan berusaha lepas dari kukungan Ray melihat suaminya hanya menertawainya tanpa membujuknya. "Udah lepasin aku."

Ray berusaha menghentikan kikikannya dan kembali membujuk si Ratu Ngambek tanpa mengendurkan pelukannya. "Dih ngambek ... udah gini aja nanti jalannya kamu sambil peluk aku kayak tadi aja ya hon?"

Diza masih mengembungkan pipinya tapi sudah berhenti memberontak dan menyamankan pelukannya pada Rayden. "Nggak! Nggak aku udah gak mood lagi! Mau pulang!"

"Loh terus gimana nasib pembalasan dendam ke abang yang udah ngebully kamu? Nanti Namo berubah pikiran lagi," ucap Rayden.

"Bener juga ya ... nanti bagaimana nasib kartu limited edition abang aku?" tanya Diza pada dirinya sendiri.

DRRRTT DRTTT.

Ponsel Diza bergetar, Diza segera mengecep pesan yang masuk.  “Bee , temen aku mau ketemu aku di tokonya, yuk kesana,” ucap Diza menejelaskan pesan yang masuk ke ponselnya.

"Nah kan ... udah yuk lanjut jalannya," ucap Ray lalu melepaskan pelukannya dan menggandeng lengan Diza. Ray kembali melanjutkan langkah tapi diurungkan saat ia merasa seorang yang digandeng tidak mau bergerak.

Menoleh ke belakang dengan tangan tertaut dengan Diza dan mendapati muka cemberut Diza. "Kenapa honeeyy?" tanya Ray perhatian.

Diza melepaskan tautan tangannya dan membuka lebar kedua tangannya. "Peluukkk ..."

Ray kembali ke belakang dan memeluk Diza. "Uuuu honeynya aku lagi pengen dimanja-manja ya?" ucap Ray sambil menggoyangkan pelukan mereka.

Kepala Diza yang ada di dada Ray melakukan gerakan mengangguk berulang kali. Diza mendongakkan kepalanya. "Ayo jalan tapi bee harus peluk pinggang honey. Trus gak boleh bee lepas kecuali honey yang minta oke?" 

"Ay ay captain," ucap Ray dengan senyuman dan mengecup dahi Diza.

Mereka mulai kembali melanjutkan perjalanan mereka setelah perdebatan mereka yang panjang dengan Ray yang merangkul pinggang Diza erat. Cukup lama mereka berjalan tanpa suara dan Ray mulai heran dan mencari topik menarik untuk bicara pada Diza.

Ray memandang Diza memulai pembicaraan. "Honeyy tempatnya masih jauh?" 

Diza balas memandang Ray. "Nggak kok bee ... cuman tinggal naik lift doang."

"Oo ... di lantai dua ya? Yang pake hiasan patung kucing yang tangannya goyang-goyang itu ya hon?" tanya Ray sok tau.

Diza menghentikan langkah mereka dan melepaskan pelukan Ray. "Iiihhhh itu mah tokonya Ce Alin yang jual mutiara itu bee! Honey mau ke lantai tiga tokonya kak Winma. Ih pasti kamu mikirin Ce Alin yang putih, cantik, mulus itu kan? Mangkanya kamu selalu inget Ce Alin kan? Ada hubungan apa kamu sama Ce Alin hah??" tanya Diza dengan menggebu 

"Honeyy aku gak ada hubungan apa-apa sama dia kok. Suerr deh!" ucap Rayden memposisikan jari telunjuk dan tengahnya membentuk V dan menunjukkannya pada Diza.

Diza menyedekapkan tangannya dan mengembungkan pipinya. "Trus kok bisa inget ce alin?" 

Ray mencubit kedua pipi chubby Diza dengan gemas. "Iih kamu lucu deh, kamu lupa ya? Cincin kamu belinya dimana? Kalung? Anting? Kan kita beli semuanya ke Ce Alin, jadi aku kira kamu mau mampir ke sana dulu?"

Melepaskan cubitan Ray pada kedua pipinya. "Iihh tapi kan aku mau ketemu temen aku bee, bukan mau beli perhiasan," rengek Diza.

Ray mengelus-elus rambut Diza sayang. "Iyaa iyaa.. honeey aku cuma mau mancing kamu aja habisnya kamu diam aja dari tadi. Kenapa hmm?"

Diza mengambil sebelah tangan Ray yang mengelus kepalanya dan menggenggamnya. "Gak apa-apa bee, honey cuman jagain bee dari tatapan para jablay itu bee." 

Ray menangkup wajah Diza dengan sebelah tangannya. "It's okay honey. Kalau kamu masih khawatir apa perlu aku pake masker dan kaca mata hitam?" 

Awalnya Diza menunjukkan wajah penuh binar tapi memikirkan bee-nya yang harus kesusahan karena memakai kaca mata hitam dan kepanasan karena masker ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya. "Nggak, nanti bee kesusahan. Biar honey aja yang jagain bee."

"Uuh manisnyaa honeey ku. Ayo kita harus segera sampai. Honeynya-Rayden gak boleh kecapean," ucap Ray kembali merangkul pinggang Diza.

"Em," jawab Diza dan ikut melangkah bersama Rayden.

Melanjutkan langkah mereka yang lagi dan lagi sempat  tertunda akibat perdebatan mereka yang yaaah .... seperti itulah.

Mereka memasuki lift bersamaan dengan seorang wanita yang usianya kira-kira sedikit di atas mereka. Tampilan wanita itu modis dan dewasa.

Hanya ada tiga orang di dalam lift dengan posisi Diza - Rayden - cewek ular itu sebutan dari Diza. Well- Diza memberi juga bukan tanpa sebab. Itu karena sedari tadi cewek ular itu selalu berusaha mencari perhatian bee-nya.

Entah itu dengan cara memainkan rambutnya dengan nakal, memoleskan lipstik merah terang sambil memonyong-monyongkan bibirnya dan sekarang dia berusaha menempelkan badannya dengan bee-nya. 

'Ooh tidak ini sudah di luar batas cewek ular!'- batin Diza

"Bee pindah!" Ray yang sedari tadi hanya memandang wajah istrinya yang memandang wanita sebelahnya dengan mata menyipit terkejut gaesss!

"Oh oke," ucap Ray kalem lalu pindah ke sebelah Diza.

'Rasain lo. Gak bisa caper lagi kan' -batin Diza dengan melirik wanita itu tajam

Wanita itu juga balas melirik Diza tajam 'Si*l! Mangsa gue!'-batinnya

Saling lempar tatapan tajam itu di akhiri dengan Diza sebagai pemenang karena akhirnya wanita itu lebih memilih memutuskan pandangannya.

Tapi tiba-tiba ....

"Aduuhhh kok kepala gue pusing ya," ucap suara di sebelah Diza yang tidak ia pedulikan

Berbeda dengan Ray yang akan menunjukkan reaksi pedulinya pada wanita yang hampir jatuh itu tapi dihalangi Diza. "Kamu selangkah pergi kesana, aku pulang naik taksi!" 

Ray menghentikan gerakannya saat mendengar suara istri tercintanya itu. "Tapi ..."

"Dia baik-baik aja kok, kalo udah pingsan baru kita tolongin dia, biar dibuang ke laut," ucap Diza datar.

Si wanita yang berpura-pura sakit itu langsung marah-marah pada Diza. "Heh mulut lo gak pernah di sekolahin ya!!"

"Lo yang gak pernah di seolahin. Pake goda suami orang lagi!!" 

"Heh bit-"

"STOP!!!" teriak Ray tegas dengan suara dalamnya itu menimbulkan kesan yang wow amazing gitu.

"Jaga omongan anda ya B**ch!" Ucap Ray yang sudah berada dihadapan wanita itu dengan suara rendahnya sambil menunjuk wanita itu.

Wajahnya sudah merah tanda ia sangat malu dan merasa terhina oleh perkataan Ray. Untung situasi nya tepat. Lift terbuka. Jadi ia bisa langsung kabur begitu saja meninggalkan pasangan gila itu. 'Issh g*la tuh pasangan!'-batinnya

Diza lalu memeluk Ray penuh sayang sambil berjalan keluar lift

"Thank you my lovely hero" ucap Diza dengan senyum manis.

"Anything for you my honey" balas Ray tak kalah manis.

Ray kembali merangkul pinggang Diza, "Jadi.. mau kemana kita?" Nyanyi Ray meniru Dor* the explore.

"Kesanaa..." jawab Diza sambil menunjuk sebuah toko yang sudah tampak sepi itu.

"Yakin kesana? Kok udah sepi?" Tanya Ray terlihat tak yakin

"Iya itu butik temen aku yang baru buka, trus katanya dia mau kasih desain pertama bajunya buat aku, Tapi aku bilang mau beli aja bee" cerita Diza.

"Oooh" Ray hanya membulatkan mulutnya saja.

"Yuk yuk lebih cepat.. lebih cepat.." ucap Diza melepas pelukan Ray dan mulai menyeret tangan Ray yang tentu saja tidak bisa terseret tapi Ray berusaha menyesuaikan langkahnya dengan Diza.

"Iya sayang pelan ajaa" kata Ray menenangkan istrinya yang terlalu excited itu.

"Oke.. okee.. " mereka lalu melangkah biasa dengan tangan bergandeng dan digoyangkan ke depan dan belakang.

Tapi setelah sampai di depan pintu masuk Diza langsung melepaskan tangan Ray dan berlari kearah sahabatnya.

"Aaaa Winmaa kangen!!!" Teriak Diza lalu berlari ke pelukan Winma yang tengah berdiri di sebuah manekin memakai gaun yang indah berwarna biru dengan taburan berlian yang berkilau.

Rayden hanya tersenyum melihat kelakuan istrinya yang kekanakan saat bertemu sahabatnya itu.

Setelah selesai berpelukan Diza segera mengajak Winma agar berkenalan dengan suaminya itu.

"Winma ini Rayden. Rayden ini Winma. Dan gak usah ada jabat tangan ya..." diakhir kalimat ia memberikan senyum yang lebar sampai menunjukkan giginya.

Winma mencubit hidung Diza, “Sejak kapan anak kecil jadi suka cemburu gini?”.

“Ishh, apaan sih Winma.” Ucap Diza protes sambil menghempaskan tangan Winma.

"Iya, iya nggak usah ngambek gitu dong, tapi aku ngerti kok, suami kamu ganteng bangeett!!" Ucap Winma menggoda Diza.

"Jangan dekat-dekat Rayden!" Ucap Diza cemberut lalu menarik Ray menjauh dari Winma.

"Hahahaahahahaaaa gantengan pacar aku kok ba-bi " ucap Winma tertawa dan mencubit pipi Diza pelan.

"Iiihh gak lucu tauk!" Ucap Diza cemberut.

"Iya-iya maaf deh... sini deh gaun yang ini bagus gak? Aku udah buatin ini khusus buat sahabat dari orokku ini.." ucap Winma bangga sambil menunjukkan gaun yang dipakai manekin itu.

"Iih bagus aku suka!" Kata Diza sambil bertepuk tangan.

"Mbak tolong yang ini bungkusin ya buat temen saya harus rapi ya mbak" ucap Winma pada salah satu pegawainya.

"Oh iya aku gak enak masa harus gratis sihh win? " tanya Diza tak enak hati.

" Dih siapa bilang gratis? Itu hadiah supaya kamu ngasi amplop yang banyak buat aku, 2 bulan lagi aku nikah sama Renoo..!!" Ucap Winma bahagia.

"Hah beneran?" Tanya Diza tak percaya.

"Iya dongg jangan lupa dateng yaa.. ini undangannya. Harus dateng lo!" 

"Iya-iya kita datengkan bee?" Tanya Diza pada Rayden. Ray mengangguk dan membuat senyum Diza terkembang.

"Udah nih pergi sana. Jangan romantis-romantisan depan gue, gue sibuk!" Ucap Winma setelah memberi Diza sebuah tas besar yang berisi gaun biru tadi.

"Ih kok gitu kan Diza masih kangen Winmaa" ucap Diz cemberut .

"Kita bisa ketemu kapan-kapan lagi lis, maaf ya aku lagi sibuk. Kamu tahukan aku baru buka toko apalagi mau ngurus pernikahanku habis ini"  Winma memberi penjelasan pada Diza.

"Aku mau ban-"

"Sst baby udah ada yang urus nanti kamu dan yang lainnya tinggal lihat pas hari-H aja yaa oke baby acuu?" Ucap Winma sambil memeluk Diza.

"Oke, kita pulang ya? Bye!!!" Ucap Diza melepaskan pelukan Winma dan keluar bersama Ray.

"Honeyy mau shoping dulu?" Tanya Ray.

Diza memandang Ray dengan mata sayunya "Gak capek, kita pulang kerumah aja ya?" 

Dan dengan senyum yang meneduhkan hati itu Ray dengan ringan menjawab  "Oke honeyy"

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel DIBUANG MANTAN, DIKEJAR CEO SULTAN
9.8
Demi menyelamatkan ayahnya dari ibu tiri, Aruna terpaksa menjadi pengasuh Maira, putri dari bosnya yang bernama Brahmana. Namun, pengabdian di kediaman sang CEO justru menjeratnya dalam dilema antara kebencian masa lalu dan cinta yang mulai tumbuh. Meski mencoba pergi, ketulusan Maira dan kejujuran Brahmana terus mengejarnya. Aruna kini terjebak dalam pilihan sulit: mempertahankan dendam demi sang ayah atau menyerah pada dekapan cinta sang sultan.
Sampul Novel Dipaksa Melayani CEO-Cinta Satu Malam
9.1
Sefia adalah Wedding Organizer sukses yang nasib cintanya berakhir tragis. Tepat semalam sebelum menikah, ia memergoki Wisnu berselingkuh dengan asistennya sendiri. Hancur karena dihina, Sefia yang kalap menawarkan dirinya kepada pria asing di dalam lift. Namun, candaan itu berujung petaka saat pria setinggi 180 cm tersebut benar-benar membawanya ke ranjang. Kini Sefia terjebak dalam konsekuensi satu malam yang mengancam masa depannya tepat di hari pernikahan.
Sampul Novel Ditinggalkan Karena Burik
9.6
Andra tega menceraikan Aisyah hanya karena penampilan fisiknya yang dianggap tidak menarik. Namun, roda kehidupan berputar cepat saat Aisyah bertransformasi menjadi sosok yang mempesona hingga membuat sang mantan suami didera penyesalan mendalam. Di tengah situasi tersebut, keduanya justru terjebak dalam sandiwara rumit. Mereka terpaksa berpura-pura tetap harmonis demi menjaga perasaan orang tua, meski luka lama dan kenyataan pahit menghantui hubungan mereka.
Sampul Novel Kau Menikahi Aku Dengan Benci
8.0
Anjani terjepit dalam dilema saat suaminya, Prakasa, menghilang saat bertugas. Di tengah duka, ia dipaksa menikahi Arjuna demi menggantikan adiknya yang kabur. Sebagai dokter spesialis, Anjani justru dipandang rendah dan dianggap hanya mengincar harta oleh keluarga Arjuna. Namun, situasi makin rumit ketika Prakasa tiba-tiba muncul kembali. Kini, Anjani harus menghadapi konflik legalitas pernikahan dan kebencian Arjuna yang perlahan mulai berubah menjadi rasa cinta.
Sampul Novel Kau Milikku
9.4
Hanna sangat membenci Will Greyson, pria angkuh yang langsung meminta kontak fisik saat pertama kali mereka bertemu. Kegilaan Will berlanjut ketika ia tiba-tiba melamar Hanna demi menjadikannya sarana terapi pribadi. Meski ditolak mentah-mentah, miliarder sombong ini tak mau menyerah begitu saja. Hanna yang geram berniat memberi pelajaran keras pada pria asing itu, sementara Will bertekad menaklukkan hati gadis yang berani menentangnya tersebut.
Sampul Novel Kubalas Kesombongan Ipar Dan Mertuaku
9.0
Menjadi istri di keluarga kaya ternyata tak seindah bayangan. Alih-alih bahagia, aku justru diperlakukan layaknya budak oleh mertua dan ipar yang licik. Hanya karena aku lulusan SMA, mereka terus menghinaku dengan kejam. Namun, aku tak tinggal diam menghadapi penindasan ini. Setelah menemukan jalan untuk meraih kekayaan dan kesuksesan besar, kini saatnya aku bangkit. Aku akan membungkam kesombongan mereka dan membalas setiap perlakuan buruk yang kuterima.