Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gamelan Retak

Gamelan Retak

Kedekatan yang intens memicu benih cinta di hati Watining dan Fakhri. Meski perasaan mereka saling bertaut, hubungan ini terhalang oleh status Fakhri yang masih terikat pernikahan dengan Arianti. Fakhri pun enggan meninggalkan istrinya demi Watining. Namun, rahasia ini akhirnya terungkap hingga Arianti melayangkan gugatan cerai karena tak sudi dikhianati. Di tengah kemelut rumah tangga dan dilema moral, akankah cinta terlarang mereka berakhir bahagia?
Bab
Bagikan

Bab 3

Menjelang waktu makan siang, Fakhri mendatangi meja kerja Watining. Dia mengajak Watining makan siang sekaligus membicarakan tentang keberangkatan mereka dua hari lagi. Perempuan itu terlihat murung dan hanya mengangguk ketika Fakhri mengajaknya pergi ke kafetaria yang ada di seberang kantor mereka.

Fakhri merasa ada yang tak beres pada Watining, tetapi agak ragu untuk menanyakan hal itu. Fakhri khawatir kalau apa yang dialami Watining adalah hal yang terlalu pribadi untuk ditanyakan. Meski sudah seperti saudaranya sendiri, Fakhri membatasi diri untuk tidak masuk ke wilayah privasi Watining, kecuali perempuan itu yang mengizinkannya.

Seorang pelayan mengantarkan dua gelas es teh manis pesanan Fakhri dan Watining. Fakhri sengaja minta didahulukan minuman pesanannya karena biasanya pesanan makanan akan datang agak lama di waktu istirahat yang ramai pengunjung seperti itu.

"Terima kasih, Mbak," ujar Fakhri ketika pelayan itu meletakkan minuman pesanan mereka.

Watining masih diam. Sesekali, dia melakukan sesuatu di ponsel yang dipegangnya. Rasanya, Fakhri ingin membiarkan Watining sampai perempuan itu buka suara. Namun, Fakhri tak bisa menahan diri untuk tak menanyakan mengapa Watining bersikap begitu. Kalau Watining tetap berdiam diri, Fakhri merasa kurang enak harus membicarakan rencana keberangkatan mereka.

"Ada apa, Mbak?" Fakhri mulai buka suara sambil memandang Watining yang tertunduk sambil memandangi ponselnya. Tak lama, perempuan itu mengangkat wajahnya sambil menghela napas panjang.

"Hari ini, tepat tiga tahun Mas Heru meninggal. Ndak terasa ... rasanya baru beberapa bulan lalu," ujar Watining lirih.

"Iya, Mbak. Aku juga kehilangan. Kita kirim doa saja." Fakhri agak berhati-hati dan membatasi tanggapannya. Watining sangat sensitif kalau menyangkut masalah Heru sejak suaminya itu meninggal dunia.

"Ada hal yang aku mau ceritakan sama kamu. Cerita yang belum pernah aku ceritakan sama siapa pun." Nada bicara Watining masih tetap lirih. Fakhri membiarkan perempuan itu berbicara tanpa menanggapinya. Dia melihat gurat kesedihan di wajah ayu itu. "Tapi ... aku ceritanya nanti saja, ya? Kalau kita di luar kota," lanjut Watining. Apa yang hendak diceritakannya tampaknya merupakan hal yang cukup berat untuk diceritakan. Fakhri hanya mengangguk menanggapinya.

"Makanan kita sudah datang," ujar Fakhri mengalihkan pembicaraan ketika pelayan mendekati meja tempat mereka duduk dan menyajikan pesanan mereka.

"Terima kasih," ujar Fakhri pada pelayan itu. "Mari, Mbak, kita makan!" ajak Fakhri pada Watining.

* * * * *

Fakhri dan Watining mengikuti petugas hotel yang mengantarkan mereka ke kamar tempat mereka menginap. Kamar yang dipesankan untuk mereka berupa kamar-kamar yang berjajar menghadap ke taman di bagian tengah dan memiliki teras di bagian depan setiap kamar.

"Kamarnya yang ini dan itu," ujar petugas hotel ketika berdiri di depan kamar 103 dan menunjuk ke kamar 104 di sebelahnya. Petugas itu lalu membukakan pintu dan menyilakan masuk.

"Terima kasih, Mas." Fakhri memberikan uang tip dan petugas itu meninggalkan mereka setelah mengucapkan terima kasih.

"Mbak di sini, ya!" ujar Fakhri.

"Yang mana saja. Di sini juga boleh." Fakhri lalu mengangkat tas bawaan Watining dan meletakkannya di dekat lemari pakaian. Ketika Fakhri membalikkan badannya, dia melihat Watining tampak mencari-cari sesuatu.

"Mbak cari apa? Remote AC?"

"Iya," jawab Watining singkat sambil terus mencari. Fakhri merasa geli. Dia juga mengalami hal yang sama ketika menginap di situ sebelumnya.

"Di sini, dingin, Mbak. Enggak perlu AC. Lihat tuh!" ujar Fakhri sambil menunjuk sisi-sisi ruangan, "enggak ada AC-nya."

Watining tersenyum malu. "Aku konyol, ya?"

"Aku enggak bilang begitu," ujar Fakhri sambil menenteng tas bawaannya dan bersiap keluar kamar itu. "Aku ke kamarku dulu."

"Makasih, ya. Entar kabari saja kalau mau keluar!"

Sambil berjalan ke kamarnya yang letaknya bersebelahan dengan kamar yang ditempati Watining, Fakhri sempat menoleh dan mendapati Watining masih berdiri di ambang pintu melihat dirinya. Fakhri segera membuka pintu kamar dan meletakkan tas bawaannya di dekat lemari. Ditutupnya pintu kamar, lalu bergegas menuju kamar mandi. Sejak tadi, dia sudah menahan untuk buang air kecil.

Fakhri mengamati kamar yang ditempatinya. Sebuah kamar yang tampak sederhana dan tak seperti kamar-kamar hotel yang pernah dia tempati. Itu hotel yang sama yang ditempatinya pada kunjungan sebelumnya. Merasa tubuhnya letih setelah perjalanan selama delapan jam, Fakhri membaringkan tubuhnya. Diambilnya ponsel yang sebelumnya diletakkannya di kasur. Dia baru ingat untuk mengabari Arianti bahwa dia sudah sampai di hotel. Setelah mendapat balasan dari Arianti, Fakhri meletakkan kembali ponselnya di kasur dan memejamkan matanya.

Fakhri rasanya baru saja setengah tertidur ketika notifikasi pesan di ponselnya berbunyi dan mengagetkannya. Jam di ponselnya menunjukkan pukul lima. Tak terasa dirinya sudah tertidur selama lebih dari setengah jam. Fakhri membaca pesan yang masuk dari Watining. Perempuan itu memanggil Fakhri ke kamarnya untuk bercerita.

Sebenarnya, Fakhri masih merasa akan melanjutkan tidurnya, tetapi ditepiskannya keinginan itu. Fakhri menduga mungkin Watining akan menceritakan apa yang waktu itu akan dikatakannya ketika mereka makan siang. Fakhri beranjak dari tempat tidur, lalu bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya. Setelah merasa segar dan merapikan rambutnya, Fakhri meninggalkan kamarnya menuju ke kamar Watining.

Fakhri baru saja akan mengetuk pintu kamar yang ditempati Watining ketika pintu itu tiba-tiba dibuka. "Ayo, masuk!" ajak Watining.

Watining membiarkan Fakhri masuk, sementara dirinya menutup kembali pintu kamar. Fakhri langsung duduk di kursi yang ada di dekat meja yang bersisian dengan tempat tidur. Watining duduk di tepi tempat tidur menghadap ke arah Fakhri.

Watining terdiam sejenak sambil memandangi wajah Fakhri. Apa yang akan dikatakannya tampak berat untuk meluncur dari lidahnya. Fakhri hanya menunggu dengan sabar tanpa berkata apa-apa.

"Fakhri, aku minta kamu janji untuk ndak ngomong sama siapa-siapa tentang apa yang akan aku ceritakan ini." Fakhri mengangguk meski belum tahu apa yang akan dikatakan Watining.

"Dua hari setelah Mas Heru meninggal," Watining memulai ceritanya, "aku mendapat telepon dari seorang perempuan. Dia mau ngomong sama Mas Heru. Aku bilang Mas Heru sudah meninggal karena serangan jantung. Setelah tahu kalau aku istrinya Mas Heru, dia minta izin untuk datang ke rumahku. Aku persilakan dia datang." Watining terdiam sejenak. Dia tampak mengatur napasnya.

"Besoknya, dia beneran datang. Dia cerita tentang hubungannya dengan Mas Heru yang sudah berlangsung enam bulan lebih. Dia bilang Mas Heru akan menikahinya dalam waktu dekat. Karena dia ndak bisa nelepon ke ponsel Mas Heru, dia nelepon ke rumah." Suara Watining tertahan. Matanya mulai basah. Pundaknya mulai berguncang-guncang ringan. Kepalanya tertunduk. Air mata tak kuasa untuk ditahannya lagi dan meleleh di pipinya.

Fakhri beranjak dari tempat duduknya dan berpindah ke samping kiri Watining. "Sabar, ya, Mbak!" ujarnya sambil menepuk-nepuk pundak kiri Watining.

Tak lama, perempuan itu mengangkat wajahnya dan menatap wajah Fakhri yang masih menepuk-nepuk pundaknya. Tiba-tiba, Watining memeluk tubuh Fakhri. Dia menangis sejadinya. Fakhri tak tega melihat Watining yang larut dalam kesedihannya.

Fakhri balas memeluk tubuh Watining dan membiarkan perempuan itu terus menangis dalam pelukannya hingga pundaknya terasa basah oleh air mata. Setelah beberapa menit, tangis Watining reda. Namun, Watining tetap membenamkan wajahnya di sekitar pundak Fakhri yang terus mengusap-usap punggung perempuan itu untuk menenangkannya.

Watining mengangkat wajahnya, "Makasih, ya, sudah mau denger ceritaku dan nenangin aku." Fakhri mengangguk sambil tersenyum.

Sebenarnya, Fakhri merasa jantungnya berdegup kencang merasakan tubuh Watining dalam pelukannya. Dia merasa sedih bercampur gugup. Namun, Fakhri membiarkan sampai perempuan itu bergerak melepaskan diri dari pelukan.

Watining mulai tenang. Disekanya air matanya. "Aku mohon kamu jangan cerita ke siapa pun tentang masalah ini. Biar cukup kita yang tahu. Kadang, aku pikir Mas Heru memang lebih baik meninggal daripada tetap hidup dan kawin lagi dengan perempuan itu. Kedengarannya jahat, ya?" Watining kembali menyeka air matanya yang meleleh begitu saja dengan tisu.

"Kamu tahu ndak, apa yang paling menyakitkan? Aku ndak bisa tanya masalah ini ke Mas Heru karena dia keburu meninggal. Itu yang paling menyakitkan. Aku ditinggal dengan masalah yang aku sendiri ndak tahu pasti kebenarannya." Meski suaranya masih parau karena menangis, Watining sudah kelihatan lebih tenang dibanding sebelumnya.

Fakhri beranjak ke meja dan mengambil sebotol air mineral. Setelah dibukanya segel dan tutupnya, disodorkannya botol minuman itu ke Watining. "Minumlah, biar Mbak lebih tenang!"

Setelah Watining tenang, Fakhri mohon diri. "Mbak, aku mau mandi dulu. Entar habis magrib, kita makan."

"Fakhri," panggil Watining ketika Fakhri sudah mencapai pintu kamar. Fakhri membalikkan tubuhnya menghadap Watining yang sudah ada di belakangnya. Watining kembali memeluk tubuh Fakhri. "Makasih, ya. Aku lega sudah bisa menceritakan masalah yang lama kupendam."

"Iya, Mbak." Fakhri melepaskan tubuhnya dan meninggalkan Watining selagi bisa menguasai dirinya sendiri.

*** Bersambung ***

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95KXY" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95KXY
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Durhaka Dibutakan Nafsu
7.9
Saat ibu mertuanya kritis akibat kecelakaan, sang istri diabaikan oleh suaminya sendiri yang sibuk membantu mantan kekasihnya, Stacy. Pengacara itu bahkan menolak mengirimkan uang pengobatan dan menuduh istrinya berbohong. Setelah sang ibu meninggal, sang suami justru maju sebagai pembela Stacy di pengadilan atas kasus tabrak lari dan berhasil membebaskannya. Begitu kebenaran terungkap saat sang istri menuntut cerai, pria itu baru menyadari bahwa korban tewas yang ditabrak oleh kekasihnya adalah ibunya sendiri.
Sampul Novel Crazy In Love
8.2
Pria ini nyaris sempurna dengan paras rupawan layaknya idola Korea, tatapan tajam, dan kecerdasan luar biasa meski ia pemalas. Tubuh atletisnya selalu sukses memikat hati para wanita. Namun, ia memiliki satu rahasia yang memalukan: namanya, Jamaluddin. Rasa kesalnya memuncak saat seorang gadis berani menertawakan nama itu dengan keras di depan umum. Kini, ia bertekad untuk membalas dendam dan menghancurkan gadis yang telah mempermalukan harga dirinya tersebut.
Sampul Novel Gairah Istri yang Tersembunyi
8.9
Abigail Putri terikat pernikahan paksa demi wasiat sang kakek. Di balik sosoknya yang biasa, ia menyembunyikan identitas profesional yang penuh gairah. Suaminya, seorang psikolog sekaligus CEO penerbitan yang dingin, justru terobsesi pada satu penulis misterius tanpa tahu itu adalah istrinya sendiri. Saat rahasia besar Abigail mulai terancam terbongkar, ia harus bernegosiasi dengan sang suami. Namun, perlindungan atas rahasia tersebut menuntut harga yang sangat mahal.
Sampul Novel Jangan Salahkan Aku Pergi
9.5
Kehidupan Merrisa Amalia berubah drastis tepat di hari pernikahannya. Setelah melewati malam pertama yang sakral dan menyerahkan segalanya, sebuah rahasia kelam terungkap. Adi, pria yang baru saja resmi menjadi suaminya, ternyata telah membangun keluarga lain di luar sana. Kenyataan pahit bahwa Adi sudah memiliki istri dan anak menghancurkan hati Mer seketika. Akankah Mer bertahan dalam kebohongan ini, atau memilih pergi demi harga dirinya?
Sampul Novel Melodi Rindu di Senyap Malam
9.3
Melodi Rindu di Senyap Malam mengisahkan pencarian mendalam seorang individu akan arti cinta dan pengampunan. Di balik keheningan malam yang sunyi, pembaca dibawa menelusuri perjalanan spiritual serta emosional yang menyentuh jiwa. Setiap momen senyap menjadi ruang refleksi untuk merenungi makna hidup yang tersirat dalam kerinduan. Novel modern ini menyajikan narasi penuh perasaan yang mengajak kita menghargai setiap detik hening sebagai melodi kehidupan yang indah.
Sampul Novel Menikahi Asistenku
8.4
Anton Pratama dikenal sebagai pengusaha sukses yang sangat tegas serta cerdas di kota besar. Namun, di balik kegemilangan kariernya, tersimpan sebuah kisah rahasia yang jarang diketahui publik. Sementara itu, Alya baru saja bergabung sebagai asisten di perusahaan Anton dengan perasaan yang campur aduk. Meski merasa sangat gugup, ia tetap antusias menghadapi peluang langka ini. Dari kejauhan, Alya menatap meja kerja sang bos sambil merasakan ketegangan yang nyata.