
Gairah Terkutuk
Bab 3
Pukul 7 malam, Hart kembali duduk di ruangan tengah setelah mandi dan bersiap, pemuda itu masih mengenakan pakaian yang sama dengan semalam.
Lalu Ali tiba, masuk bersama beberapa orang yang membawa koper pakaian.
"Kalian lama sekali, aku mulai gatal." Hart langsung beranjak menghampiri mereka.
"Tolong antar barang-barang itu ke kamarnya!" pinta Ali pada dua orang yang sebelumnya telah diminta menemaninya untuk mengambil barang-barang Hart di tempat tinggalnya dulu.
"Ikut aku." Hart mengambil salah satu koper kecil, sisanya dibawa oleh mereka.
Selesai mengganti pakaian, Hart kembali ke ruang tengah, disusul Liana dengan gaun hitam yang sebelumnya telah ia siapkan.
Mereka langsung bertolak menuju pusat kota dengan sedan hitam yang biasanya dibawa oleh Ali. Limosin putih yang sebelumnya mengantar Liana telah kembali ke rumah utama keluarga Veronica, rumah yang akan mereka tuju.
"Apakah pestanya meriah?" tanya Hart yang mulai gugup.
"Pestanya tertutup, hanya dihadiri beberapa orang penting saja untuk merayakan pencapaian salah satu perusahaan keluarga Veronica, " jelas Ali yang mulai memperlambat laju kendaraannya dan berhenti tepat di depan gerbang utama.
Penjaga membuka gerbang untuk mereka, kendaraan itu kembali melesat di tengah pekarangan yang sangat luas. Dari jauh Hart dapat melihat rumah mewah yang berdiri kokoh di depan sana.
"Wah, besar sekali," decak kagum pemuda itu.
"Tolong jaga mata dan ucapanmu nantinya, jangan sampai membuatku malu," tegur Liana yang hanya menatap ke samping sejak tadi.
"Tenanglah, Nona. Aku tidak sekolot itu." Hart menatap wajah Liana di kaca spion.
Akhirnya tiba juga mereka di depan gedongan keluarga Veronica.
"Biar aku saja." Hart menahan Ali yang hendak turun dan membuka pintu mobil untuk Liana.
"Huffft." Hart menghela napas, menatap mantap ke depan kemudian menyusul Liana.
Ia masih harus menapaki jalan lurus beberapa meter untuk sampai ke depan pintu rumah mewah itu.
Baru saja pemuda itu hendak melangkah masuk, dua orang pria berbadan besar tiba-tiba menahannya. Hart terpaksa menghentikan langkahnya, menatap telapak tangan yang menempel di dadanya dengan alis mengerut.
"Dia bersamaku," sahut Ali dari belakang, pria itu menyusul setelah memarkirkan mobilnya.
Dengan pandangan sedikit sombong, Hart menatap kedua pria raksasa di depannya bergantian. 'Lepaskan tangan kalian' begitulah makna tatapannya.
"Bergegaslah Hart, kita tak boleh jauh-jauh dari Liana," ajak Ali.
Mereka masuk, kemewahhan di dalam rumah sontak membuat Hart terkesima. Kekaguman jelas tampak dari raut wajahnya.
"Selamat malam, Pak." Seorang pemuda dengan jas hitam menyapa Ali dan membungkuk sedikit memberi hormat, hal itu juga dilakukan pengawal lain yang berbaris di sana, para pengawal junior Ali.
"Itu Liana di sana," tunjuk Hart.
Ali berhenti, dan Hart mengikuti geriknya.
"Kau lihat wanita tua yang sedang berbicara dengan Liana?" bisik Ali seraya merapikan pakaiannya.
Hart melakukan hal sama, "Ya," jawabnya.
"Kita akan ke sana, jangan bicara apa pun padanya kecuali jika ditanya, dan jawab seperlunya saja." Ali terus memandang ke arah Liana.
Hart mengangguk paham, lalu mengikuti apa yang dilakukan Ali, berdiri tegak dengan pandangan lurus mengarah pada Liana.
"Ayo!" ajak Ali setelah menerima isyarat panggilan dari Liana.
Mereka mendekat, semakin dekat semakin gugup perasaan Hart. Namun, ia berusaha tetap bersikap santai.
"Nyonya," sapa Ali sedikit membungkuk pada wanita yang duduk di kursi mewah layaknya singgasana.
Lagi-lagi Hart hanya bisa mengikuti gerakan Ali.
Ialah Veronica Elisa-nenek Liana, pemilik saham dari tiga perusahaan milik keluarga Veronica, salah satunya dipimpin oleh Liana.
"Jadi kau budak Liana?"
"Budak?" batin Hart, ia tak mengerti maksud ucapan wanita itu.
Hart masih tertunduk diam.
"Hart, beliau bertanya padamu," bisik Ali di sampingnya.
Hart hanya menatap mata Ali, ia tidak tahu harus menjawab apa. Budak? Apakah kata itu hanya hiasan atau memang dalam artian yang sebenarnya.
"Iya, Oma. Dia budak aku." Akhirnya Liana yang menjawab pertanyaan itu.
"Baiklah, akan aku umumkan."
Wanita itu berdiri, " tapi aku tidak mengizinkanmu tinggal di rumah itu, Liana," tegasnya sebelum mulai berbicara pada tamu-tamunya.
"Ali, minta perhatian semua orang!" Nyonya Elisa maju beberapa langkah lalu berhenti tiba-tiba, Hart yang masih berdiri di sana menghalangi jalan.
Ali segera menarik tubuh Hart, menjauhkan dari hadapan Elisa. hal itu sontak menyadarkan Hart dari lamunan dan segera mengatur kembali posisi berdirinya.
Dengan suara yang lantang, Ali mulai menarik perhatian orang-orang, "selamat malam para hadirin sekalian, mohon perhatiannya sebentar. Nyonya Veronica akan menyampaikan beberapa hal untuk kita."
Perhatian setiap orang di ruang itu langsung tertuju pada Elisa, wanita berusia 60-an yang masih terlihat bugar.
Ia mulai berbicara, diawali dengan ucapan selamat datang, ungkapan terima kasih dan beberapa lelucon basa-basi sebelum akhirnya mengumumkan keberhasilan perusahaan mereka.
"Perusahaan keluarga kami akhirnya berhasil menempati posisi kedua sebagai pemegang saham terbesar Altar Group," ungkapnya penuh kebanggaan yang disambut tepuk tangan meriah semua orang.
"Kalian pastinya sudah tahu kebiasaan keluarga kami, yaitu gemar membeli seseorang yang kemudian dijadikan sebagai budak." Hart semakin merasa ada yang tidak beres setelah mendengar pemaparan Elisa.
Lalu Elisa berbalik sedikit dan menunjuk ke arah Hart, "Pria ini ... budak baru kami, dia milik salah satu cucuku. Kalian boleh melakukan apa saja terhadapnya, tapi dengan izin Liana, pemiliknya," ungkapnya.
Hart dapat melihat tatapan setiap orang yang mengarah padanya, tatapan merendahkan, tatapan yang memandang hina.
"Silakan nikmati pestanya," kata Elisa mengakhiri.
Beberapa tamu mulai menghampiri nyonya besar itu, memberi ucapan selamat dan menjilat.
Sementara Hart yang masih terpukul dengan ucapan Elisa hanya bisa menatap Liana dan menahan amarah.
"Apa maksud ucapan wanita tua itu, Ali?" tanya Hart dengan mata menyala.
"Tolong jaga kata-katamu, Hart! Wanita itu bisa membunuhmu jika mendenggar ucapanmu," bisik Ali satu-satunya tempat bagi Hart untuk mendapatkan jawaban.
"Ikut aku," ajak Ali.
Begitu berbalik, seseorang yang tiba-tiba ada di sana menghentikan langkah mereka.
"Budak Liana cukup menarik juga, tampan dan ... tubuhnya bagus." Wanita itu mulai meraba tubuh Hart.
"Heii, apa yang kau lakukan!" Bentak Hart menyingkirkan tangannya.
"Awwhh," rintihnya manja.
"Nona Viana, mohon maafkan dia," pinta Ali membungkuk meminta ampun untuk Hart.
"Kau kasar, ya. Aku suka pria kasar. Siapa namamu?" Tampaknya Viana tidak mempermasalahkan perlakuan kasar Hart padanya.
"Rainer Hart," jawab Hart yang mulai menjaga sikapnya, ia tak ingin Ali mendapat masalah karena dirinya.
Veronica Arviana, wanita berusia 35 tahun, tapi masih tampak seperti gadis 18 tahun. Semuanya karena perawatan yang mahal.
Viana adalah adik kandung ibu Liana, wanita ini juga memimpin salah satu perusahaan milik keluarga Veronica. Perusahaan yang ia pimpin tidak memperkerjakan leki-laki satu orang pun, semua karyawannya adalah wanita.
Viana tidak pernah punya niat untuk menikah semenjak hatinya disakiti oleh seorang lelaki. Wanita itu juga memiliki budak, beberapa orang budak sebagai mainannya, tentu saja semuanya lelaki tampan dan masih muda.
"Hart? Rusa jantan." Viana membisikkan makna nama Hart tepat di telinga pemuda itu, bisikan lirih seakan mendesah dengan kedua telapak tangan menempel pada dada Hart.
"Hei kau, ke mari!" Viana memanggil salah satu pelayan yang membawa minuman untuk para tamu.
"Maaf, Nona. Kami minta izin untuk keluar sebentar," pinta Ali yang terlihat panik, tapi permohonannya ditampik dengan tangan lentik Viana.
Entah kenapa Ali terlihat panik.
Setelah mengambil segelas minuman pada nampan yang dibawa pelayan, Viana langsung menuangkan minuman itu di atas kepala Hart.
"Kalian semua lihatlah, budak hina ini berani menggodaku!" Teriakan tuduhan Viana menarik perhatian semua orang.
Hart ingin meronta, tapi dengan sigap Ali menangkap tangannya sebelum diayunkan. Ali menatap mata Hart, memberinya isyarat agar tetap tenang.
"Setelah melihat sikap kurang ajar budak ini, minuman kalian pasti terasa menjijikkan. Tuangkan saja ke wajahnya dan ganti dengan yang baru." Viana kembali berteriak, menatap benci ke arah Hart.
Orang-orang mulai bergantian menumpahkan minuman ke arah Hart, atau menuangkan langsung di atas kepala pemuda malang itu sambil tertawa.
"Aku mohon, jangan melawan." Ali berbisik pada Hart saat ia ikut menuangkan minuman padanya. Hanya itu cara agar ia bisa mendekati Hart tanpa dicurigai.
Setelah mendapatkan peringatan dari Ali, Hart hanya bisa diam dengan semua penghinaan yang ia terima. Hart tidak ingin bertindak bodoh, hal yang mungkin semakin merugikan dirinya dan Ali.
Lalu, ke mana Liana?
Wanita itu ada di sudut ruangan, duduk di kursi mini bar, menikmati pemandangan penghinaan terhadap Hart dengan sebotol anggur yang didatangkan langsung dari luar negeri. Bukannya menghentikan mereka, ia justru menjadikan hal itu sebagai tontonannya.
"Lepaskan pakaianmu!" perintah Viana menunjuk wajah Hart.
"Huh?"
"Kau tidak dengar? Aku bilang lepaskan pakaianmu, sampah!" bentak Viana murka.
Anda Mungkin Juga Suka





