Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gairah Sang Bodyguard

Gairah Sang Bodyguard

Venus Harristian, penyanyi pop ternama, terancam bahaya setelah menyaksikan kejahatan besar. Demi melindunginya hingga hari kesaksian di pengadilan, Dion Elang Juliandra, seorang polisi, direkrut menjadi pengawal pribadinya. Namun, kedekatan intens menumbuhkan perasaan terlarang di antara mereka. Padahal, baik Venus maupun Dion telah memiliki pasangan dan terikat janji pernikahan masing-masing. Di tengah teror, mereka terjebak antara kesetiaan dan gairah cinta yang sulit tertahan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Bunyi sirene polisi terdengar sampai ke luar hotel The Carlington tempat terjadi pembunuhan terhadap seorang konglomerat yang tengah merayakan ulang tahun istrinya. Edgar Luther ditemukan tewas dengan lima belas luka tusukan di sekujur tubuhnya di sebuah koridor di hotel mewah tersebut.

Polisi langsung datang untuk menutup hotel, menggeledah, melakukan identifikasi sampai mereka menemukan sebuah lift yang berhenti dan segera menurunkannya kembali.

Ketika lift terbuka, Venus Harristian tampak berada di dalam ketakutan meringkuk.

“Nona, Anda tidak apa-apa?” tanya polisi yang menghampiri dan Venus langsung memeluk sambil menangis. Venus diamankan dan diberikan pelayanan medis untuk memeriksakan kondisinya.

“Nona, bisakah kami mewawancaraimu sekarang?” tanya seorang penyidik yang datang pada Venus.

“Tolong panggil Kakakku!” pinta Venus dengan ketakutan. Polisi itu tak bisa menolak Pihak NYPD kemudian memanggil Rei Harristian yang merupakan Kakak laki-laki dari Venus Winthrop Harristian. Rei pun langsung datang begitu mendapat panggilan dari polisi tentang adiknya.

“Venus!” panggil Rei dengan panik berlari ke arah Venus yang langsung berdiri dan memeluknya.

“Oh, Sayang! Kamu gak pa-pa? Coba Kakak lihat!” Rei begitu panik memeriksa kondisi adiknya lalu memeluknya lagi.

“Maaf, Tuan Harristian ...” Rei berbalik setelah ada suara dari arah belakangnya. Seorang detektif polisi datang menghampiri Rei dan Venus. Rei kemudian menjulurkan sebelah tangannya untuk menjabat tangan detektif itu.

“Namaku Detektif Daryl Brooke!”

“Aku Rei Harristian!” Detektif itu pun mengangguk.

“Kami memanggilmu kemari atas permintaan adikmu, Nona Venus Harristian. Nona Harristian kami temukan di dalam lift dalam posisi ketakutan. Kami ingin mengambil keterangan dan kesaksian dari Nona Harristian dan jika tidak keberatan, Anda bisa ikut menemani?” tawar detektif itu dengan sopan.

“Tentu saja. Terima kasih Detektif!” Detektif Brooke kemudian mengarahkan Rei yang merangkul Venus ke salah satu sudut di lobi tersebut untuk wawancara awal.

“Aku tidak tahu kenapa lift itu malah berhenti di lantai delapan. Aku ingin kembali ke klub!” Detektif itu terus mencatat hal penting sambil mengangguk-angguk.

“Apa ada yang mencurigakan sebelumnya? Seperti seseorang yang mengikutimu, Nona?” Venus mengatupkan bibirnya dan menoleh pada Rei sejenak.

“Tuan Edgar Luther mengikutiku ke kamar mandi wanita dan ...”

“Apa!” sahut Rei cepat dan kaget. Venus menoleh lagi pada kakaknya dengan raut polosnya yang cantik.

“Tapi aku langsung menghentikannya. Dia bilang dia hanya ingin bicara denganku. Setelah aku menolaknya, aku langsung pergi dan tak melihatnya lagi. Tapi begitu aku keluar dari lift aku malah melihat seseorang sedang menusuknya!” jawab Venus dengan raut ketakutan yang terlihat jelas. Rei jadi ikut cemas dan merangkul Venus lagi.

“Aku mengerti, Nona. Tapi itu artinya kamu adalah satu-satunya saksi mata yang menyaksikan penusukan dan pembunuhan itu!” ujar detektif itu dengan nada dingin. Rei lantas menoleh pada polisi itu dengan pandangan tak nyaman.

“Lalu apa yang akan kalian lakukan? Bagaimana jika sekarang adikku yang diincar?” sahut Rei dengan nada agak tinggi. Detektif itu pun mengangguk mengerti.

“Tuan Harristian, kami menyadari jika dalam kasus seperti ini jika ada saksi yang langsung menyaksikan maka kami harus mengambil keterangan dan kesaksian yang lengkap. Aku tidak bisa melakukannya di sini. Jadi aku meminta agar Nona Harristian bisa datang kembali esok pagi dan menemuiku,” jawab detektif itu lagi masih dalam keadaan tenang. Rei jadi mendengus kesal dan tak melepaskan rangkulannya pada Venus.

“Untuk keselamatan Nona Harristian akan diantarkan oleh polisi. Sampai ia bersedia untuk menjadi saksi, kami baru bisa memberikan perlindungan saksi!” sambung detektif itu lagi makin membuat Rei kesal. Ia hanya bisa merangkul dan terus mengelus pundak Venus yang masih ketakutan.

“Untuk malam ini, kami akan mengantarkanmu!” tawar detektif Brooke lagi.

“Kawal saja kami, biar aku yang bawa adikku pulang!” detektif itu pun mengangguk setuju.

“Baik, Tuan Harristian! Silahkan!”

***

Derap kaki bergerak dengan serempak membentuk barisan yang rapi dan kokoh. Dengan seragam coklat yang dilapisi oleh rompi anti peluru, pelindung bahu, siku, lengan, lalu paha, lutut hingga betis, para polisi personel Sabhara dari Kepolisian Resort sedang memasang barikade. Mereka tengah membuat perlindungan pada pengendalian situasi keamanan atas demonstrasi yang tengah terjadi.

Kepala Unit Satuan Pengendalian Massa (Dalmas), Dion Juliandra langsung turun untuk mengatasi dan mengurai demonstrasi berpotensi disusupi dan rusuh. Dengan wajah tegang, ia terus memasang insting penglihatannya dengan baik.

“Dan, kita harus bergerak sekarang!” ucap salah satu anggotanya melapor.

“Jangan, tunggu kabar dari Peter!” balasnya sambil sedikit menunjuk memperingatkan. Anggotanya itu pun mundur dengan perasaan cemas.

“Komandan, kita mulai dilempari batu!”

“Panggil Gerry!” perintahnya pada salah satu anak buahnya. Tak berapa lama, pria yang dipanggilnya pun datang menghadap. Dion lantas menarik pundak pria itu dan separuh berbisik.

“Mas, saya akan menyusup! Kayaknya Peter dalam bahaya, gak ada kabar dari dia sama sekali,” ujar Dion pada pria yang ternyata adalah wakilnya itu. Wakilnya itu mengernyit menoleh padanya.

“Kita kirim aja anggota lain untuk ngecek. Gak perlu Komandan yang langsung ke sana!” tukasnya. Dion tetap menggelengkan kepalanya.

“Gak bisa. Ini semua tanggung jawab saya! Mas Gerry pimpin anak-anak di sini. Gantiin saya! Kita tetap sesuai skema rencana awal, mengerti?” Dion tak menunggu wakilnya mengiyakan, ia langsung berbalik pergi.

“Huh, entar kalo ada apa-apa, aku yang kena semprot pimpinan!” rutuknya mengomel.

Suasana makin rusuh dan Dion hanya membawa tiga orang anggotanya untuk mendampingi. Dion kemudian membuka helm pelindung dan seluruh pelindung kecuali rompinya.

“Dan, masa kita gak pakai pelindung?” tanya salah satu anak buahnya.

“Terlalu kentara kalau kita masuk dengan pakaian seperti ini! Tinggalkan yang lain, pakai rompinya saja!” perintah Dion lagi mengambil risiko yang cukup besar.

“Kalau ketahuan bisa mati kita!” rutuk salah satunya.

“Sudah diam!” hardik Dion membungkam anak buahnya. Dion memerintahkan agar anak buahnya berpencar. Para demonstran sedang melakukan provokasi pada polisi yang tengah menahan laju mereka. Dari kejauhan, terlihat seorang pedagang bakso tengah jadi bulan-bulanan para preman yang ikut demonstrasi. Benak Dion pun terusik

“Kamu cari Peter dan bawa dia kembali! Aku akan ke sana!” perintah Dion pada salah satu anggota yang mengikutinya.

“Lho, Komandan mau ngapain?” protes si anggota.

“Udah, nurut aja!” bungkamnya lagi dan menyusup untuk menolong tukang bakso itu.

“Hei!” hardiknya keras. Para perusuh itu berbalik pada Dion dan menyadari bahwa itu adalah polisi. Dion langsung menendang dan memberikan beberapa pukulan sebelum mereka kabur untuk memanggil teman-teman mereka.

Di tengah perkelahian itu, sebuah mangkuk bakso tiba-tiba melayang ke kepala perusuh sampai pecah.

“Peter!” Peter hanya menyengir dan memiting perusuh yang tadi ia pukuli lalu menyeretnya. Dion juga melakukan yang sama.

“Siapa yang bayar kalian?” tanya Peter tanpa basa-basi.

“Aku bisa masukin kalian ke penjara dan gak akan pernah keluar! JAWAB SIAPA YANG BAYAR KALIAN!” bentaknya lagi lebih keras. Dion juga menekan wajah salah satu perusuh ke dinding batako yang keras dan kasar sampai ia mengaduh kesakitan.

“Ampun Pak ... ampun, Pak!”

“Jawab!” desak Dion meski tak membentak, suaranya menggeram kesal.

“I-Iya itu ...”

“Bang Komar!” Peter dan Dion saling melirik satu sama lain.

“Komar si bule?” perusuh itu mengangguk.

“Jadi benar ini bukan demonstrasi tapi kerusuhan!” ungkap Peter pada Komandannya.

“Kalian ditangkap! Ayo jalan!” Dion dan Peter anak buahnya lantas menarik para perusuh itu untuk dibawa ke kantor polisi.

Dion dengan cepat kembali ke barisannya dan kembali memegang kendali. Ia pun mengambil pengeras suara dan memberi pengumuman yang mengejutkan.

“JIKA DEMO INI TIDAK BERSIH DALAM 10 MENIT, KALIAN SEMUA AKAN DITANGKAP! PEMIMPIN KALIAN, KOMAR SI BULE SUDAH DITAHAN. JADI MENYERAHLAH!”.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bodyguard Mafia Seksi
8.4
Drystan Cordner tidak menyangka akan menjadi pengawal pribadi Avyana Burcardo, putri mafia yang gemar mengoleksi pria tampan. Di tengah godaan Avyana yang intens, Drystan berjuang keras menjaga profesionalitas meski hatinya goyah. Avyana sendiri merasa geram karena Drystan terus menekankan batasan status atasan dan bawahan di antara mereka. Akankah Avyana berhasil mengubah sosok Drystan yang polos menjadi pria yang lebih agresif dalam hubungan ini?
Sampul Novel Brontak Dalam Sempak
9.0
Ujang menantang Datok dengan penuh amarah demi menunjukkan kekuatannya yang selama ini terpendam. Meski baru berusia dua puluh tahun, ia kini mengerahkan seluruh kemampuannya melalui teknik Tisu Magic yang mengubah tubuhnya menjadi lapisan baja kokoh. Di sisi lain, Datok bersiap dengan jurus Telo Rasa Meki yang mengeluarkan uap panas membara. Keduanya melesat secepat kilat hingga menciptakan ledakan dahsyat saat ajian pamungkas mereka saling berbenturan di udara.
Sampul Novel DENDAM INDRIANA
9.0
Indriana harus menelan pil pahit saat status pengantin barunya berubah menjadi janda dalam semalam. Setelah kepergian sang ayah pasca pernikahan mendadak dengan Andi, dunianya runtuh seketika. Pengkhianatan keji dan perselingkuhan yang terungkap menghancurkan kepercayaannya pada cinta. Kini, putri terpandang itu bangkit dengan kemarahan membara untuk membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkan hidupnya. Sanggupkah ia melewati ujian ini?
Sampul Novel Ikatan Suci
8.8
Mona, janda dari seorang pahlawan negara, harus menerima takdir saat ayahnya, Jenderal Handoko, menjodohkannya dengan Galih. Keputusan ini mengejutkan banyak pihak karena Galih adalah mantan narapidana kasus narkoba. Di balik pernikahan yang penuh tanda tanya ini, Mona berusaha mencari alasan sebenarnya Galih bersedia menikahinya. Dua jiwa yang menyimpan luka lama kini terikat dalam janji suci, menghadapi pengorbanan demi mengungkap kebenaran di balik persatuan mereka.
Sampul Novel Kecanduan Istriku yang Bermuka Dua
9.7
Julien menyangka Kelsey adalah wanita lemah yang butuh dilindungi, namun dugaannya salah besar. Kelsey justru sangat tangguh dan kerap terlibat perkelahian fisik hingga membuat Julien kewalahan menghadapi laporan kekerasannya. Meski lelah dengan tingkah sang istri, Julien merasa kecanduan dan tak mampu melepaskannya. Situasi memuncak saat Kelsey nekat kabur membawa anak mereka. Akankah obsesi Julien pada istri bermuka duanya ini berakhir dengan kebahagiaan?
Sampul Novel Legenda Sage Pengendara Phoenix
9.3
Kiran, pemuda dari Qingchang, tak sengaja bertemu The Flame, Phoenix legendaris milik Sage Putih Alaric yang gugur melawan Kaisar Warlock. Demi bertahan hidup, Phoenix yang sekarat itu melakukan ritual penyatuan jiwa berbahaya dengan Kiran. Ingatan tersebut dikunci hingga Kiran dewasa dan dikenal sebagai jenius ilusi di Institut Magentum. Namun, rahasia besar terungkap saat ia dituduh sebagai pengkhianat dan penerus Klan Phoenix Merah, memicu pengejaran maut oleh Kekaisaran Hersen.