
Gairah Sang Bodyguard
Bab 3
Rei kemudian membawa Venus keluar dari hotel tersebut lewat jalan belakang. Ia tak ingin ada reporter yang mengetahui jika adiknya Venus adalah saksi dari pembunuhan itu. Sekarang keselamatan Venus bisa menjadi sangat riskan dan berbahaya.
“Aku pulang ke apartemenku aja, Kak!” pinta Venus setelah mereka setengah jalan. Rei menoleh dan mengernyitkan keningnya pada Venus.
“Mau ngapain kamu sendirian di sana? Apa Gareth ke rumah?” Venus menggelengkan kepalanya.
“Tapi aku bisa telepon dia ...”
“Ah, udahlah! Mana dia sekarang? Gak ada kan?” sahut Rei dengan nada kesal. Venus hanya menundukkan pandangannya dan diam saja. Rei paling tidak suka dengan pilihan Venus pada Gareth. Sekalipun Gareth seperti layaknya calon menantu idaman dari keluarga Harristian, tapi Rei tak pernah ramah pada Gareth.
“Aku sudah coba telepon dia. Mungkin dia masih sibuk, Kak,” balas Venus dengan suara lembutnya pada akhirnya. Rei hanya menghela napas dan menggeleng pelan.
“Malam ini kamu pulang ke rumah Mommy. Atau kalau kamu mau, kamu bisa tidur di tempatku, Ven. Yang jelas kamu gak boleh ke apartemen kamu sampai masalah ini selesai!” perintah Rei membuat Venus tak bisa membantah. Venus hampir tak pernah membantah perintah kakaknya sama sekali. Ia begitu penurut dan sebagai anak tengah, Venus seperti jembatan yang menyatukan seluruh anggota keluarga.
“Aku dengar Mommy sudah melayangkan permohonan cerai ke pengadilan ya?” tanya Rei beberapa saat kemudian. Venus menoleh dan menggeleng tanda tak tahu.
“Masa sih Kak? Tapi ...”
“Bagus kalau mereka cerai! Aku udah gak tahan lihat Mommy nangis terus!” gerutu Rei tetap menggenggam tangan Venus dan tetap menyetir pulang ke rumah ibu mereka.
“Gimana audisi di Boston?” tanya Venus iseng saja sambil menoleh tersenyum. Rei tak tersenyum dan menoleh sekilas lalu menggeleng.
“Memangnya kenapa dengan audisi Boston?” Rei balik bertanya.
“Aku dengar Kak Rei ke sana.” Rei malah tak menanggapi dan diam saja. Wajahnya tak tampak nyaman dan Venus tak ingin bertanya lebih jauh soal itu. Rei adalah seorang rapper dan produser ternama sekaligus pemilik label rekaman Skylar Labels. Dan Skylar Labels baru saja menggelar audisi pencarian penyanyi untuk sebuah ajang pencarian bakat terkenal di US.
Mereka pun keluar dari lift untuk berjalan melalui koridor dan masuk ke penthouse milik keluarga Harristian. Ibu mereka Claire Wintrop sudah menunggu begitu cemas di ruang tamu. Begitu anak-anaknya masuk, Claire langsung datang dan memeluk Venus.
“Sayang, kamu gak pa-pa? Kamu gak pa-pa kan?”
“Aku ga pa-pa, Mom. Cuma syok aja,” jawab Venus dengan lembut. Wajahnya tampak lelah dan Claire pun menarik putrinya itu diikuti oleh Rei yang ikut masuk usai meletakkan kunci mobil dan membuka jaketnya. Claire pun membawa Venus duduk di ruang tengah lalu mengambilkan segelas air untuknya.
Setelah ia minum, barulah Claire meminta Venus untuk bercerita tentang yang terjadi di hotel tersebut. Sementara Rei ikut duduk di salah satu sofa di depan adiknya.
“Aku gak tahu apa yang terjadi, Mom. Entah kenapa lift itu bisa berhenti di sana dan ketika aku keluar, aku malah melihat seseorang menikam Tuan Luther. Oh, aku takut banget!” keluh Venus sambil memegang kepala dengan kedua tangannya dan menunduk. Claire langsung memeluk Venus yang tampaknya cukup trauma dengan apa yang terjadi.
“Oh, Sayang! Kamu pasti takut dan trauma. Ada Mommy, Nak! Mommy gak akan biarkan siapa pun menyakiti kamu!” ucap Claire menenangkan sambil terus memeluk Venus. Venus pun mulai terisak lagi dan ikut memeluk ibunya. Rei hanya menarik napas dan melepaskannya perlahan dengan raut khawatir.
“Aku rasa, aku akan menempatkan beberapa pengawal untuk kamu, Venus. Aku akan bicara dengan Om Jay atau Ares soal ini!” sahut Rei kemudian. Venus dan Claire sama-sama menoleh pada Rei dan tak bicara apa pun.
“Apa kamu mau tidur di kamar Mommy?” tawar Claire pada Venus yang tersenyum lalu menggelengkan kepalanya sambil memajukan bibir.
“Mommy ... ntar aku dikira anak kecil lagi!” protes Venus sedikit merengek.
“Lho, kamu dan Chloe kan masih bayi-bayi Mommy!” jawab Claire makin membuat Venus tersipu dan memeluk ibunya lagi. Rei tersenyum hanya memperhatikan saja. Sepertinya malam ini, ia harus menginap di rumah ibunya juga. Adik bungsu Venus yaitu Chloe sedang menginap di rumah salah satu temannya untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Ia baru saja pindah kampus dan tugas kuliahnya menumpuk cukup banyak.
Setelah Venus masuk ke dalam kamar, Claire lantas menghampiri Rei dan sedikit bicara dengannya.
“Kamu serius mau menempatkan anggota Golden Dragon untuk menjaga Venus?” tanya Claire dengan suara rendah. Rei menghela napas berat dan mengangguk.
“Terpaksa Mom!”
“Kenapa gak minta tolong Gareth aja!” Rei langsung berdecap kesal dan menggeleng.
“Venus bahkan menelepon dia dan gak diangkat. Menurut Mommy, laki-laki macam apa dia?” tukas Rei dengan nada kesal. Claire hanya bisa diam dan ikut menghela napas sembari membuang pandangannya ke samping. Sesungguhnya mereka memiliki alternatif lain tapi syaratnya yang tak ingin dipenuhi oleh Claire.
“Apa yang Mommy pikirin?” tegur Rei melihat ibunya seperti melamun. Claire sedikit terkesiap dan menoleh lagi pada Rei.
“Uhm, gak ada ...”
“Mommy pikirin Daddy ya? Mommy berencana minta bantuan Daga Nero?” tebak Rei membuat Claire terdiam. Claire memang sempat berpikir seperti itu. Usai salah satu paman mereka, James Belgenza meninggal, Daga Nero yang sebelumnya merupakan kelompok mafia sudah berubah menjadi perusahaan jasa keamanan pribadi diambil alih oleh Arjoona Harristian, suami Claire. Dan sampai sebelum Arjoona meninggalkan rumah, keluarga Harristian masih di bawah perlindungan Daga Nero.
“Enggak kok! Ngapain!” bantah Claire tapi ia memang tampak gugup juga ragu.
Di kamarnya, Venus kemudian membersihkan diri lalu berganti pakaian agar bisa beristirahat malam ini. Hatinya masih sangat resah dan takut. Tapi ia tak ingin menampakkannya pada siapa pun.
Ia tak ingin dianggap sebagai wanita lemah yang tak bisa melindungi dirinya sendiri. Itulah mengapa Venus menolak tawaran ibunya untuk tinggal di kamarnya malam ini. Venus memilih beristirahat di kamarnya dahulu.
“Kenapa kamu belum hubungi aku, Gareth?” gumam Venus dengan lembut sembari duduk di pinggir ranjang. Sebelah tangannya terus mengusap layar ponsel menunggu telepon balasan dari Gareth. Ia sudah menghubungi Gareth sekali lagi tapi pria itu malah mematikan ponselnya.
Pandangan Venus perlahan beralih pada balkon kamarnya yang menyajikan pemandangan New York yang gemerlap saat malam hari. Semua begitu indah kecuali hatinya. Perlahan kakinya berjalan dan berhenti di pintu pembatas balkon. Ia bersandar dengan mata terus memandang indahnya malam-malamnya yang sepi.
Gareth begitu manis saat dulu ia membuat Venus jatuh cinta. Semakin lama, Venus yang lebih ingin perhatiannya, Gareth malah makin menjauh. Pekerjaan dan kesibukannya sebagai pengusaha dan billionaire menenggelamkan banyak waktunya untuk Venus.
Bahkan di saat-saat seperti sekarang, Gareth tak kunjung muncul. Air mata itu kembali menetes begitu saja. Hati Venus mulai kesepian dan Gareth makin tak mengerti jika ia pun butuh perhatiannya.
Anda Mungkin Juga Suka





