
Gairah Nikmat Kopi Susu
Bab 3
"ini ke rekening beta punya ade di kampung, nanti dia kasih sama beta pu mama" Ale menyodorkan kertas agak lusuh bertuliskan no rek BRI atas nama wanita atas nama Halimah Pettu.
" kata adik saya ada biaya transfer kalau dari bank lain 6500, jadi ini saya kasih ke Ci Boss 1,5 sama 6500" ale menyodorkan uangnya.
Fany tertegun sesaat....."ngga usah Ale, biar gue kirim ke adik lu yah....gue ambil yang 1,5 ongkos transfernya ngga usah"
Ale kaget sesaat..."makasi Ci Boss....Ko Boss...makasih banya2" sambil nunduk dia minta diri.....
"ini gue transfer sekarang" kata Fany sambil meraih ponselnya
"sudah yah" ujar Fanny sesaat kemudian
"Makasih banyak Ci Boss" ujar Ale
Sebelum Ale pergi.....
"lu tinggal dimana disini?" Tanya Alvin
"kontrak di petakannya Haji Basri dekat gang peong, Ko Boss...'"
"peong dekat sini?"
"Iya Koh Boss..."
Alvin diam sejenak......
"berapa disitu"
"450"
"petakan"
"iya Ko Boss"
"Trus makan lu" cecar Fany
" pagi palingan beli nasi uduk atau lontong sayur 10 ribu, trus malam paling nasi goreng dan pecel lele 15 ribu, Ci Boss."
"cukup itu?"
"Cukup, Ci Boss....saya kan ngga ngerokok....paling ada lebih sedikit buat beli paket data" sambil senyum malu.....
Alvin manggut manggut
"ya sudah....."
"makasih Ci Boss, Koh Boss...' Ale lalu segera balik ke belakang
Alvin lalu bilang ke istrinya
"Ale lebih baik suruh tinggal di kamar belakang aja kali yah....' Usul Alvin
" terserah aja....."
" Tommy ngga apa2 khan kalau Ale tinggal dirumah?" Tanya Alvin
"lah, Tommy setiap ada PR prakarya emang siapa yg dia suka minta tolong?"
Alvin kaget, dia baru tahu kalau Thomas anaknya juga dekat dengan Ale
Langsung manggil Ale lagi....
"Ale, baju lu beresin.... Besok lu pindah....tinggal am ague dirumah....dikamar belakang dekat gudang ngga kepake juga.... Nanti lu bawa tuh pickup ke rumah kalau mo pulang, berangkat juga lu bawa ke toko..." perintah Koh Alvin...
Ale kaget, tapi sekaligus dia senang dan bersyukur.....Alhamdulillah Ya Allah.....berkahMu sungguh tidak hambaMu duga......
Ale kemudian pindah dari petakan sederhananya ke rumah Koh Alvin bosssnya dia. Kamar belakang itu meski buat pembantu jauh lebih bagus disbanding kamar petakannya, ada AC juga, kamar mandinya pas disamping kamarnya.
Dia menaruh tas kecil berisi sedikit bajunya dan celananya, ada lemari kecil dan kursi serta meja disamping kasurnya yg tanpa dipan, Mbak Ratmi lalu memberi 2 seprai dan sarung bantal. Ini nanti buat seprai dan gantinya....jangan jorok yah....demikian pesan wanita paruh baya yang sudah lama juga kerja sama keluarga Koh Alvin.
"Makanan ada dimeja belakang dekat kompor" ujar Mbak Ratmi lagi....." nanti pagi, sama malam makanan kamu dipisahin ditaruh dekat kompor yah"
"makasih banyak, Mbak"
Ale tahu diri, disuruh tinggal gratis dan makan gratis, sepulang dari toko dia sibuk di rumah beres-beres, mulai dari cabut rumput, menyapu halaman depan, beresin loteng atas, sampai pasang keran atau selang yang rusak.
Mobil majikannya juga tidak luput dari kreasinya, setiap hari jika bukan malam, pagi hari langsung dia cuci.....
"Ale, lu jangan tiap hari cuci mobil gue.... 2-3 hari seklai atau kalau kotor aja" kata Koh Alvin..."tipis nanti platnya" sambungnya sambil bercanda.
Yang jelas Alvin dan Fany banyak terbantu oleh hadirnya Ale, karena itu saat Ale merapihkan taman depan yang selama ini dibiarin begitu saja, mereka sangat senang, bahkan mereka berdua ikut untuk hunting tanaman murah untuk ditanam didepan.
Keluarga Alvin dan Fany yang pada datang sampai kaget, biasanya depan rumah gersang, perlengkapan bengkel main ditaruh begitu saja, kita sudah jadi taman yang apik, burung-burung peliharaan Alvin juga digantung rapih berjejer, dan garasi yang jorok juga kini sudah lebih bersih dan rapih....
"lu ngaceng yah....." terdengar suara Pak Wandi
Fany sedang di gudang kering dibelakang toko displaynya, dibalik dindingnya memang sudah gudang yang ada kursi plastic tempat mereka duduk saat istirahat atau lagi senggang, meski terhalang tembok dan harus keluar dari pintu depan, tapi ventilasi dinding belakang langsung ke bagian gudang, sehingga pembicaraan mereka terdengar oleh Fany yang di gudang display depan....
Dia yang sedang memegang kaleng lem Aibon, terdiam sebentar dan jadi ingin tahu apa isi percakapan anak buahnya dia....
"dih...iya ngaceng bego..." timpal si Kebot
"nggalah" tangkis Ale
"mulutluh ngga, kontol lu bejendol" kata Wandi lagi
Hahahahahah ketawa mereka
"lu lihat si cici yang tadi yah......mulus beud yah pahanya.... Lama berdiri sambil pilih2 pipa, pantas lu ngaceng...hahahah" timpal Kebot lagi
Fany ingat, tadi ada pembeli yang masih muda berkulit putih, datang dan langsung memilih pipa paralon di rak pipa, dan Ale kebetulan yang melayaninya. Pakaian gadis tersebut memang sangat mini dengan rok pendek diatas lutut, dan kaos ketat, jadi wajar jadi pembicaraan dan perhatian pekerjanya.
"ah, lu kayak ngga ngaceng aja" ujar si Ale
"gue ngaceng dirumah juga ada lawan. Ale....lu yang kasian...."timpal Kebot" iya ngga Beh?" cari dukungan buat ngebuli Ale...
"iye bener" ketawa si pak Tua....
Fany geleng-geleng kepala...
"Ah, si Ale ama Ci Fany juga ngaceng dia ngelihatnya" ujar si Pak Wandi
Fany kaget dengar namanya disebut.....terkesiap....bingung antara marah atau
Tapi dia diam dan tidak beranjak, malah ingin dengar lagi apa bayolan mereka apalagi namanya dia ikut disebut.
Suara ketawa mereka berderai kembali....
"ngga lah...dia boss kita masa ngaceng..." ujar Ale
"ah boss sih boss...tapi perempuan cantik mah tetap aja kali bikin lu ngaceng...." Kejar si kebot....
"iya...kemarin gue lihat dia ngaceng pas Ci Fany pake tanktop ama celana pendek...." Ujar Wandi pelan tapi tetap aja terdengar oleh Fany.....langsung disambung oleh tawa mereka.
"ah sudah..beta cabut dulu...parah babe omongannya ini....kacau...tak jelas...." Ujar Ale menjauh sambil tertawa.
Fany segera berjalan ke depan begitu mereka bubar, dia kaget dan berdebar debar hatinya, ternyata jika kita diomongin orang seperti ini yah.
Dia ingat memang kemarin dia menggunakan baju yang ketat model tanktop biasa yang bertali lebat, hanya saja celana pendek yang dia pakai agak pendek, sehingga pahanya terlihat lebih keatas dibanding celana yang biasa selutut yang dia biasa pakai.
Tapi iya sih, yang pada datang aja kadang suka jelajatan, atau pas dia ke pasar dengan baju yang agak ketat mata-mata lelaki pada suka melototinya, apalagi yang kerja sama dia yang tiap hari lihat.
Biar ajalah, pikir Fany, toh mereka beraninya dibelakang, tidak berani bicara langsung atau kurang ajar secara terbuka kepadanya, mereka masih menghormatinya.
"Ale" teriak Fany.... " Cat dulux putih dong yang 25 liter"
"siap Ci Boss"
Ale segera muncul menenteng cat dulux dari belakang sesuai yang diminta
"berapa nih, Ci?" Tanya yang mau beli
"1,2 juta boss" jawab Ale, karena Fany lagi hitung-hitung di kalkulator besar di etalase...
"bisa kurang ngga?"
"Tanya Boss deh" jawab Ale
"kurang 20 ribu deh buat langganan.."ucap Fany
"oke sip..."
"taruh di bagasi yah" perintahnya ke Ale
Ale mengangkat cat nya lalu menaruh di bagasi mobil pembeli tersebut
Sejenak Fany teringat pembicaraan mereka tadi, dia diam-diam meperhatikan celana Ale. Memang agak menggelembung sedikit, ditambah lagi dengan celana Ale yang robek-robek tidak beraturan, sehingga gembulannya terlihat jika diperhatikan dengan saksama.
Dada Fany jadi berdesir dan geli sendiri, membayangkan ular hitam dibalik celana Ale
Hih serem batinnya dia
Maklum dia tidak suka dengan pria yang berkulit hitam, nonton bokep yang interacial aja dia tidak suka, makanya terbayang gembulan Ale yang hitam membuat dia bergidik dan geli sendiri.
Kulitnya saja hitam isinya pasti lebih hitam lagi, pikir Fany.
Suatu pagi beberapa hari kemudian sebelum berangkat ke toko
Fany berjalan ke belakang....lalu mengetok kamarnya Ale
"Ale..."
"siap Ci Boss..." Ale yang baru selesai mandi dan hanya pakai celana pendek segera menyambar handuk untuk meneutupi badannya, lalu membuka pintu kamarnya
Fany menyodorkan kantong plastik kresek
"tuh ada sikat gigi, odol, sabu cair, shampoo, ama baju dan celana pendek lu....biar ada baju ganti lu kalo kerja jangan pake celana robek itu lagi..."
"Makasih banyak Ci Boss...." Ale setengah menunduk berterima kasih
Fany lalu berbalik masuk ke rumahnya lagi, sepintas dia lihat kamar Ale tertata rapih dan tidak bau sengit seperti baunya jika siang hari di toko sudah kena sinar matahari setelah sekian lama bekerja di terik matahari.
Ale senang dan girang sekali, memang kesibukannya hampir tiap hari masuk kerja, karena Pak Wandi selalu libur hari senin, Kebot hari Rabu, dia sendiri yang masuk setiap hari, membuat dia sulit cari waktu ke pasar beli celana atau kaos. Sudah punya rencana gajian mau beli, tapi Ci Boss keburu beliin dia beberapa pasang.
Pagi itu dia langsung pakai baju baru dan celana barunya, dan setiba di toko Fany tersenyum melihatnya, agak mendingan bathin Fany...
"Boss, Pak Joni katanya belum ada untuk bayar" laporan Pak Wandi
"belum ada? Sudah mau 8 bulan juga belum ada sama sekali?"
Bersambung
Anda Mungkin Juga Suka





