
Gairah Membawa Petaka
Bab 2
Siang itu, Zakia dan Zoni pulang Sekolah seperti biasanya. Zoni selalu menjemput Kia dari sekolahnya, karena Kia saat ini masih duduk dibangku SMP kelas 9, sedangkan Zoni sendiri sudah kelas 11 SMA. Usia mereka tidak terpaut jauh, hanya berjarak 2 tahun saja.
"Dek, Hari ini kan ulang tahun Mama. Bagaimana kalau kita buat surprise buat Mama, ajak Papa sekalian." Ujar Zoni pada Kia yang memegang pinggang Zoni dari belakang.
Tidak ada respon dari Kia yang saat itu dibonceng oleh Zoni. Kia sibuk dengan pikirannya sendiri, Karena sebetar lagi dia akan menghadapi beberapa ujian untuk kelulusannya. Rasa khawatir dan takut Zakia selalu menghantui setiap hari setelah pulang sekolah, sebab ia selalu berfikir takut tidak bisa lulus diujian pekan ini.
Beberapa mata pelajaran yang selalu menjadi kelemahan bagi gadis remaja itu, yakni Matematika, Fisika dan Kimia. Hingga saat Zoni tengah mengajaknya bicara pun ia jadi tidak menyadarinya.
"Dek, kamu dengerin Kakak ngomong gak sih?" Tegur Zoni pada Kia yang masih sibuk dengan isi pikirannya sendiri.
"Eh iya, Kak. Kenapa tadi?"
"Kamu lagi mikirin apa sih? Kakak perhatikan dari tadi, kayak gak fokus sama sekali,"
"Kia cuma lagi kepikiran sama ujian kelulusan kok, Kak. Takut aja gitu, kalau sampai gak lulus." Tutur Kia yang memang sejak tadi resah dan tak karuan dengan ujian kelulusan yang menjadi salah satu persyaratan masuk SMA.
"Udah gak usah dipikirin, pasti lulus kok. Kamu tenang saja. Mau berapapun nilainya yang penting kamu sudah berusaha semaksimal mungkin. Lagi pula sekolah gak akan tega kali, ngebiarin siswanya gak lulus."
Apa yang dikatakan Zoni memang benar. Sebenarnya semua siswa kelas akhir yang akan mengikuti ujian kelulusan, pasti akan lulus semua. Hanya saja, pikiran Kia yang terlalu over thinking membuat dirinya semakin tidak percaya diri.
Ditengah perbincangan mereka, tiba-tiba Kia teringat sepenggal ucapan Zoni tadi, yang mengatakan akan membuat surprise untuk mamanya, tapi karena Kia terlalu sibuk berfikir sendiri, ia jadi lupa dengan tanggapan apa yang akan ia berikan pada Zoni.
"Oya, Kak. Kakak tadi bilang mau buat kejutan buat Mama? Kejutan apa, Kak? Kia ikut saja deh, Kakak tinggal bilang saja apa yang perlu Kia lakukan. Pasti Kia kerjakan kok," ucap Kia yang mulai fokus pada kejutan yang akan ia dan Zoni berikan.
"Iya, kita buat surprise kecil-kecilan saja. Yang penting Mama senang hari ini, tugas kamu hanya membuat Mama dan Papa pergi berdua keluar dari rumah, nanti kita siapin segala sesuatunya. Nah, kamu bujuk Papa agar mau. Karena Kakak yakin, jika kamu yang minta sama Papa. Dia pasti akan menuruti."
"Oke, cuma gitu doang, kan! Gampang itu mah,"
Kesepakatan antara keduanya sudah mencapai fix. Tinggal bagaimana nanti Kia bisa membujuk Arman agar mau melakukan apa yang ia pinta, karena selama ini Arman tidak pernah menolak permintaan Kia. Dia sangat menyanyangi Kia sejak kecil, dan Arman senantiasa menjaga Kia dari apapun itu.
***
Motor yang dikendarai oleh Zoni dan Kia sudah memasuki halaman rumah mereka. Hal yang menarik perhatian adalah, tumben siang ini Papa mereka sudah ada di rumah. Biasanya sore baru pulang dari Kantor,.
Arman bekerja disalah satu perusahaan sebagai salah satu staf karyawan, tidak memiliki jabatan tinggi. Akan tetapi kehidupan keluarga mereka bisa dibilang menengah keatas meski hanya dengan gaji pas-pasan, ditambah lagi dengan pekerjaan sampingan Arini yang membuka jasa loundry di rumahnya. Meski hanya Loundry, namun bisa menghasilkan uang yang tidak sedikit. Sebab lingkungan yang mereka tinggali dekat dengan pesantren yang cukup maju, dan memiliki santri yang lumayan banyak. Sehingga banyak dari para santri tersebut yang menggunakan jasa Loundry milik Arini.
Zoni dan Kia hendak masuk kedalam rumah. Berganti pakaian dan menjalankan misi yang tadi sudah mereka sepakati bersama, dan lagi kebetulan Arman Papa mereka sudah ada di rumah siang ini. Jadi Kia bisa meminta papanya untuk membawa Arini pergi keluar rumah untuk menyelesaikan misinya dengan Zoni.
"Assalamualaikum, Ma, Pa. Kia pul..." Kia tertegun saat melihat kejadian yang ada didepannya. Kia segera berhambur pada Arini yang tersungkur dilantai dan mencoba melindungi mamanya akibat ulah Arman yang dengan keras mendorongnya tadi. "Apa yang Papa lakukan, kenapa Papa menyiksa Mama seperti ini? Apa salah Mama, Pa?" Jerit Kia pada Arman yang menampakkan amarah saat tau mamanya dianiyaya oleh papanya sendiri.
Kia tau, selama ini Arman memang memiliki tempramen yang keras pada Mama serta kakaknya. Namun tidak pada dirinya, Kia selalu menjadi kesayangan Arman. Dan tak pernah sekalipun bersikap kasar padanya.
Zoni yang pada saat itu mendengar teriakan Kia, langsung masuk tanpa memanggil salam terlebih dahulu seperti biasa. Tak kalah terkejutnya seperti Kia, Zoni juga terlihat syok dengan pemandangan didepannya. Amarah Zoni membuncah saat melihat Arini menangis dipelukan Kia. Ia tidak pernah melihat Arman sekeras itu pada mamanya selama ini, meski memang sering Arman memarahi mamanya begitu pun juga dengan dia. Tapi tidak sampai menganiyaya seperti saat ini.
"Pa, jangan keterlaluan. Apa yang sudah Papa perbuat pada Mama? Papa boleh saja memarahi Mama, tapi tidak dengan menyiksanya, Pa. Zoni tidak terima jika Mama diperlakukan seperti ini." Tak kalah marahnya dengan Kia, Zoni berteriak dengan penuh amarah atas perbuatan Papanya pada Arini. Wanita yang selama ini selalu ia hormati dan selalu membela Zoni, ketika Arman memarahinya.
"Kia, Sayang. Mamamu itu sudah berbuat kesalahan, jadi Papa memberikan sedikit pelajaran padanya. Kamu jangan khawatir, mamamu tidak akan kenapa-napa." Dengan suara yang dibuat lembut, Arman menjelaskan apa yang ia perbuat pada Arini hanya sebatas karena kesalah Arini. Meski faktanya yang bersalah disini adalah dia. "Dan untuk kamu, Zoni. Jangan ikut campur, ini urusan Papa dan Mama. Jangan coba-coba jadi anak pembangkang kamu, ya!"
"Kesalahan apa, Pa? Kenapa Papa begitu tega menyiksa Mama seperti ini. Dan..." Ucapan Kia terhenti saat sorot matanya melihat wanita yang ada di kamar kedua orang tuanya. Wanita yang saat itu melihat pertunjukan keluarga yang saat ini terlibat percekcokan akibat perselingkuhan yang dilakukan olehnya bersama Arman.
"Siapa wanita itu, Pa? Kenapa dia hanya memakai selimut tanpa pakaian? Jelaskan pada Kia, Pa. Apa yang sudah Papa perbuat bersamanya? Dan untuk apa Papa membawanya kesini, Pa?" Amarah Kia semakin menjadi kala melihat Cantika yang tanpa dosa tersenyum kearahnya.
Zoni yang mendengar Kia menyebut seorang wanita, segera menghampiri Kia dan Arini. Melihat apa yang sebenarnya terjadi hingga mamanya disiksa seperti ini oleh Arman. Mata Zoni terbelalak saat mendapati wanita yang tadi Kia teriaki. Benar saja, wanita itu hanya bertelanjang dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.
"Pergi kamu wanita jalang, untuk apa kau berada ditempat tidur orang tuaku? Dasar wanita murahan, berani sekali kau masih duduk santai di atas sana, dan menyaksikan Mamaku disiksa seperti ini," tak hanya Kia, Zoni merasakan amarah yang luar biasa membuncah hingga keubun-ubunnya. Tidak rela melihat Arini yang tersiksa. Namun juga mendapat penghianatan dari Arman.
Anda Mungkin Juga Suka





