
Gairah Membawa Petaka
Bab 3
Pyar....
Tamparan Arman pada Zoni terdengar jelas ditelinga Kia dan Arini. Serentak mereka memegang kaki Arman untuk menyudahi amarahnya.
"Hentikan omong kosongmu itu, Zoni. Jangan ikut campur urusan Papa, urus saja Mamamu yang sudah menjelang tua ini, suatu saat ketika usiamu sudah seperti Papa, kamu akan tau apa gunanya wanita muda dalam kehidupanmu," tanpa rasa menyesal sakalipun, Arman menumpahkan semua amarahnya pada Zoni. Bahkan ia tak segan membela Cantika didepan anak dan istrinya.
Kia tak pernah menyangka bahwa Arman akan berbuat seperti itu kepada mamanya. Orang yang selama ini ia hormati dan selalu menjadi cinta pertamanya malah menuai luka yang begitu dalam padanya, bahkan Kia juga menyadari kalau mamanya pasti lebih sakit dan terluka saat melihat perselingkuhan yang dilakukan oleh papanya.
"Aku tak sudi memiliki sifat seperti Papa, menjadi bajingan yang taunya hanya bermain perempuan. Aku punya Adik dan Ibu seorang perempuan, yang harus ku hormati dan hargai, begitu pula pada wanita yang nantinya akan menjadi istriku." Cecar Zoni yang tidak bisa diam lagi melihat kalakuan Arman yang begitu tidak senonoh, bahkan dirumahnya sendiri. Rumah yang ditinggali oleh keluarga kecilnya. "Papa harusnya sadar, kalau Papa punya Kia, Pa. Dia juga perempuan, putri kesayangan Papa, bagaiamana perasaan Kia, jika suatu saat memiliki seorang suami seperti Papa, yang hobinya hanya memarahi istri, menyiksa bahkan menghianati. Apa Papa tega melihat Kia diperlakukan seperti itu, Pa?" Suara parau Zoni membuat Kia tertunduk dalam diam. Menyimak setiap perkataan Kakak yang sangat menyanyangi dan senantiasa memikirkan masa depan Kia.
Tapi tidak dengan Arman, hatinya sekeras batu. Bahkan ia tidak pernah berfikir bahwa Kia akan mendapatkan suami seperti yang dikatakan oleh Zoni dan istrinya. Arman akan selalu mengusahakan yang terbaik untuk Kia, dan dia juga tidak akan membiarkan Kia mendapatkan suami seperti dirinya. Jelas Arman tidak mau Kia bernasib sama seperti Arini, Ayah mana yang ingin anaknya mengalami hal serupa. Begitu pula dengan Arman.
"Hah, kamu sama saja dengan mamamu, Zoni. Selalu mengaitkan Kia dengan apa yang Papa lakukan. Kamu tidak perlu bawa-bawa Kia, dia putri Papa. Jelas Papa tidak akan membiarkan hidup Kia tersiksa dengan menikahkan dia dengan laki-laki bajingan. Jalan hidup seseorang itu tidak sama, jadi jangan samakan Kia dengan mamamu itu."
Arini hanya terdiam membisu mendengar perkataan Arman, dia tidak menduga jika suaminya itu tetap saja kukuh dengan persepsinya sendiri. Bahkan saat disangkut pautkan dengan Kia, dia tetap mempertahankan perbuatannya yang ia anggap tidak akan berimbas pada masa depan Kia.
Cantika keluar dengan pakaian yang sudah terpakai rapi ditubuh moleknya. Ia menggunakan high heels setingga 7 sentimeter, pakaian ketat yang hanya menutupi sebagian pahanya. Rambut yang tergerai panjang dan tas jinjing yang ia gunakan sangat menandakan bahwa dia benar-benar wanita yang mampu menggoda pria mana saja dengan penampilannya itu.
***
Zoni melihat jijik kearah Cantika yang berjalan layaknya wanita sosialita, padahal dalam benak Zoni ia wanita murahan yang sangat kotor, dan berhasil menghancurkan keluarganya. Menyakiti mamanya, bahkan menyakiti dia dan juga Kia.
Sekilas Kia membuang muka terhadap Cantika yang memandangnya, rasa benci dan kesal atas perbuatan yang ia lakukan dengan papanya sendiri.
"Cepat bawa wanita selingkuhan Papa ini keluar dari rumah ini, Pa. Aku tidak sudi melihatnya, jika Papa memang menyayangi Kia, jangan pernah bawa dia kesini lagi. Aku muak melihat kelakuan Papa yang lebih parah dari pada seekor binatang," Kia tidak bisa menahan gejolak untuk tidak berkata kurang sopan pada Arman, ia benar-benar jijik melihat serta mendengar perkataan Arman yang sedari tadi tetap membela wanita yang telah merenggut kebahagiannya bersama Kakak dan Mamanya.
Raut wajah Arman menegang, tatkala ia mendengar ucapan Kia yang begitu kasar. Padahal selama ini ia tidak pernah sekalipun berujar dengan kata-kata yang kasar pada Kia. Rasanya seperti ditikam dengan pisau yang sangat tajam, saat anak yang ia jaga dan diperlakukan dengan baik, secara tiba-tiba berucap seperti itu padanya.
Lain halnya dengan Cantika, ia menyunggingkan senyuman penuh ejekan pada Kia. "Bocah kecil, mau kamu berkata seperti apapun juga, tidak akan mengubah keadaan. Papamu lebih menyukaiku, lantas kamu bisa berbuat apa? Meminta Papamu untuk lebih mencintai mamamu kembali, jelas itu hal yang mustahil." Ujar Cantika dengan penuh percaya diri.
Arman tidak bisa berkutik sama sekali, ia masih terpukul dengan ucapan Kia. Tapi apa yang dikatakan Cantika memang benar, dia sudah merasa tidak tertarik pada Arini. Dari segi penampilan cara Cantika membuat dirinya terbuai, jelas Arini kalah jauh.
Cantika memegang lengan Arman erat. Menunjukkan hubungan mereka yang benar-benar saling mencintai. Meski hanya sebatas hubungan diatas ranjang.
"Ayo, Mas. Kita pergi dari sini. Kedua anakmu sudah sangat kasar padaku, tapi sekarang aku sudah merasa puas. Karena kamu benar-benar membuktikan rasa cintamu padaku, dengan kita bercinta disini di rumahmu." Senyum penuh kemenangan pada Cantika, seakan ia ingin bersorak menikmati kemenangannya atas Arman.
Bulir air mata Kia dan Arini semakin jatuh tanpa terkendali. Pertanda akan rasa sakit yang begitu dalam, melihat laki-laki yang mereka sayangi ternyata lebih memilih selingkuhannya dari pada keluarganya sendiri. Hancur berkeping, bahkan kata maaf pun rasanya tidak bisa mengembalikan keluarga mereka seperti dulu lagi.
Entah bagaimana setelah ini. Apakah Arman akan terbuka hatinya? Dan kembali pada Arini atau malah sebaliknya. Meninggalkan luka mendalam pada anak serta istrinya, dan pergi bersama Cantika, wanita yang selama ini ia puja-puja. Paras memang cantik layaknya model bintang lima, pelayanan service yang diberikan oleh Cantika juga tak kalah dari wanita-wanita bayaran kelas atas.
Akan tetapi, Arman tidak pernah terpikir untuk meninggalkan keluarganya. Karena bagaimanapun keadaannya, dia tetap memiliki alasan tersendiri. Mengapa lebih memilih selingkuh dan menuruti semua permintaan Cantika. Arman menangkap kebencian pada sorot mata Kia, yang ia tampakkan pada Arman kala saling bertatapan.
"Kia, jangan berkata kasar pada Papa. Selama ini Papa sangat menjaga amarah Papa padamu, lain halnya jika pada Kakak serta mamamu itu. Papa akan bawa Cantika pergi, tapi kamu harus tau. Kalau Papa merasa sakit saat mendengar kamu menyamakan Papa dengan binatang."
Apa tidak salah, Arman berkata seperti itu pada Kia? Jika dia saja merasa sakit hati dengan ucapan Kia yang menyamakannya dengan binatang, lantas bagaimana dengan perasaannya dan juga mamanya? Yang jelas-jelas sudah melihat perbuatan yang tidak harusnya mereka lihat disini. Andai Kia bisa, ia ingin sekali mencekik wanita yang bernama Cantika itu. Namun ia takut, papanya malah akan lebih parah lagi menyiksa dan berkata kasar pada mamanya. Yang mengakibatkan rasa sakit yang terlebih lagi.
Anda Mungkin Juga Suka





