
Gairah Liar Tuan Xavier
Bab 2
Rigel dan Xavier saling beradu pandang, “Emm begini Dok, kami menemukan dia sudah tergeletak di jalan, dan kami pun memutuskan membawanya ke sini.” Jelas Rigel pada sang Dokter .
“Apa tidak ada kerabat atau keluarga yang bisa di hubungi?”
Rigel menggelengkan kepalanya, “Tidak ada Dok, apa keadaaya parah?” tanya Rigel.
“Tidak, dia hanya pingsan akibat kelelahan, sekarang dia sudah sadar di dalam, dan boleh di bawa pulang." Tak seberapa, Arabella keluar dari ruang UGD dengan di tuntun oleh Suster. Arabella sedikit terkejut melihat kedua lelaki tampan itu ternyata yang di sebut oleh suster tadi, ia di dalam tadi sempat bertanya pada suster mengapa bisa ia ada di sini, dan si Suster pun menjawab ‘Mbak di bawa oleh dua lelaki tampan .’
“Ini benaran tidak apa-apa Dok? Apa tidak perlu di rawat inap?” tanya Rigel, mengambil alih lengan Arabella dari Suster dan membantu Bella berdiri tegak.
“Tidak apa-apa Pak, dia hanya perlu rutin meminum vitamin yang telah saya berikan resepnya, silakan di tebus nanti ya.”
Arabella hanya mengangguk . ‘Bagaimana aku mau nebus vitamin, bayar rumah sakit ini saja aku tidak tau bagaimana caranya.’ Batin Arabella lirih dengan wajah sedihnya.
“Saya permisi.”Dokter dan para suster pun pergi dari hadapan mereka.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Rigel yang masih setia memegangi lengan Arabella agar tak terjatuh.
Arabella tersneyum, senyum yang mampu membuat kedua lelaki itu terkesiap akibat kecantikan dari wajah gadis di hadapannya mereka itu.
‘Gila manis banget nih cewe.’ Batin Rigel terpesona.
“Emm terimakasih banyak sudah menolong saya, tapi boleh kah saya meminta tolong lagi Pak?” cicit Arabella pelan, sembari melapaskan tubuhnya dari pegangan Rigel.
“Ya boleh, ada apa?” tanya Rigel, sedangkan Xavier sedari tadi hanya diam sembari bersedekap menatap Bella dari atas sampai bawah.
“Tolong bayarkan biaya rumah sakit ini Pak, saya akan membayarnya nanti, untuk sekarang saya tidak memiliki uang.” Cicit Arabella pelan dengan kepala yang menunduk, sebenarnya ia cukup malu dan tak enak hati mengatakannya, namun ia tak memiliki pilihan lain saat ini.
“Masalah biaya rumah sakit ini kamu jangan khawatir, sudah kami bayar.” Ucap Rigel membuat Mata Arabella berbinar mendengarnya ,“Terimakasih banyak Pak, terimaksih.” Ucap Arabella meraih tangan Rigel lalu menciumnya berkali-kali.
“Eh sudah-sudah, tidak perlu seperti itu.” Ucap Rigel tak enak hati.
“Terimakasih banyak Pak.”
“Gak usah panggil Pak lah, lagi pula aku tidak setua itu buat di panggil Bapak.”
Arabella menggaruk pelipisnya sembari menyengir kuda, membuat kesan imut pada dirinya.
“Sudah kan? Ayo pulang!’’ ajak Xavier pada Rigel.
“Sebentar napa Vi.” Rigel kembali menatap Arabella dari ujung kaki sampai ujung rambut, penampilan Arabella saat ini sungguh memprihatinkan.
“Kamu mau pulang ke mana? Biar sekalian kita anterin.” Ajak Rigel.
Arrabella terdiam dengan wajah yang sedih mengingat saat ini ia tak punya tujuan untuk pulang. “Hey.” Tegur Rigel menyadarkan Bella dari pikirannya.
“Saya tidak punya tempat untuk pulang Mas.” Lirih Bella pelan dengan tangan yang saling bertaut.
Rigel dan Xavier kembali saling pandang dengan kening yang berkerut heran. “Maksudnya gimana?” tanya Rigel.
“Mungkin kalian akan menyebut saya berbohong, tapi ini kenyataannya, saya di usir dari rumah Tante dan Om saya, dan sekarang saya tidak punya tujuan untuk pulang.” Ucap Bella dengan wajah sedih dan malu.
Rigel dan Xavier lagi lagi beradu pandang. “Sebentar ya,”Ujar Rigel pada Bella, setelah itu menarik tangan Xavier untuk menjauh dari Bella.
“Apa?” taya Xavier langsung.
“ Vi kau tidak kasihan? Tudak ada niatan buat nampung dia?” tanya Rigel pada lelaki yang terlihat angkuh itu.
“Ogah! Kau aja sana!” sahut Xavier datar.
“Vi, jadiin dia pengasuh Boy aja gimana?” saran Rigel.
“Aku masih mampu mengasuh Boy seorang diri, lagian pembantu di rumah sudah ada dan bisa membantu ngurus Boy.”
Rigel mengusap wajahnya gusar.“Yaudah kalau gitu biar ku bawa ke apartemen ku saja.”
Mata Xavier terbelalak. “Gila!! Yang ada aku yang kena marah Grandma kalau sampai tau kau membawa perempuan ke apartemen.” Semprot Xavier, Rigel itu bagaikan adik Xavier di keluarga , jadi jika Rigel macam-macam, Xavier yang akan kena marah, karena tak memperhatikan sang adik .
“Ya makanya, bawa di ke rumah mu.” Suruh Rigel lagi.
“Biarin aja, dia kenapa sih!? Kau tidak dengar dia di usir, pasti itu ada sebabnya, bagaimana kalau dia orang jahat? Pencuri?”
“Itu tidak mungkin Vi, lihat lah penampilannya! Manaada tampang-tampang jahat.”
“Gak perduli!”
“Kau ini sungguh tidak punya hati !! Lo gak dengar cerita pilu dia, bayangin kalau itu Boy.” Ucap Rigel sedikit kesal dengan sahabat, Kakak, sekaligus atasannya itu.
Xavier terdiam sesaat, di lihatnya Arabella yang masih setia berdiri di tempatnya tadi. “Oke, aku mengalah lagi kali ini!” sahut Xavier.
“Nah gitu dong!” Senang Rigel. Keduanya kembali menghampiri Arabella.
“Hey, siapa nama mu?” tanya Rigel dengan suara terdengar ramah dan berdahabat.
“Nama saya Arrabella Casandra.”
‘Cantik.’ Xavier langsung menggelengkan kapalanya sendiri membuang rasa kagumnya itu.
“Kamu mau tidak jadi asisten rumah tangga di rumah Bang Vie, kan kata mu, kamu gak punya tujuan untuk pulang, kalau mau jadi asisten di rumah Bang Vi, kamu bisa tinggal di sana.” Jelas Rigel memberikan tawaran.
Wajah Arrabella beseri kegirangan mendengar itu, “Hah? Ini serius? Boleh Mas saya kerja di sana? “ tanya Arabella antusias dengan wajah girang.
“Iya boleh, ya kan Bang?”
“Hm.” Xavier menganggukkan kepalanya sebagai jawaban .
“Alhamdulilah terimakasih banyak Mas, Mas siapa namanya?”
“Aku Rigel, dan dia Xavier.” Ucap Rigel memperkenalkan dirinya dan Xavier. Bella hanya mengangguk menanggapinya.
Setelah menebuskan obat serta vitamin, mereka kembali mebelah jalanan yang basah karena habis hujan.
Tak seberapa mereka tiba di hadapan rumah yang begitu besar dan megah bak istana di dunia kartun. Bella sampai terperangah dengan mulut yanh terbuka lebar ketika keluar mobil melihat rumah semegah itu di hadapannya.
‘Bagus sekali .’ kagumnya.
“Bel, ayo.” Ajak Rigel pada Bella. Sedangkan lelaki bernama Xavier itu sudah melenggang pergi lebih dulu.
“Iya Mas Rigel.” Bella pun mengikuti langkah Rigel di hadapannya memasuki rumah yang di sebutnya sebagai istana itu.
“Ayo sini.” Rigel menarik tangan Bella, serta mengambil alih tas yang di bawa oleh Bella. Lelaki itu sangat baik sekali tak sedikitpun ia merasa jijik pada Bella yang berpenampilan biasa.
Hingga tiba di ruang tamu, di mana ada Xavier yang telah duduk dengan bocah lelaki berumur lima tahun di pangkuannya.
“Bel, ini Boy anak Bang Vier.” Ucap Rigel meperkanalkan bocah lelaki yang duduk di pangkuan Xavier dengan tangan mengalung di leher lelaki arogan itu.
“Boy, perkenalkan ini Kak Bella, dia mulai sekarang akan tinggal di sini, dan akan membantu semua urusan Boy.” Ucap Rigel menjelaskan pada Boy.
“Ihh tenapa ada lagi Daddy! Kan cudah ada Mbok iyem dan Yoyi.” Sahut bocah lelaki denagn pandangan tak suka.
Rigel hanya bisa menalan ludah kasar medapati keponakannya yang begitu mirip dengan sang Daddy nya itu, sama-sama songong. “Boy! Gak boleh gitu dong.” Tegur Rigel .
Sementara Bella hanya tersenyum, ia maklum saja karena Boy masih kecil. Toh seumuran Boy memang lagi nakal-nakalnya, begitu pikir Bella.
Gadis itu celingak-celinguk mencari keberadaan ibu dari Boy itu, namun tak juga ia temukan. ‘Kemana Ibu anak ini?’ Tanyanya di dalam hati.
“Bang di mana kamar Bella?” tanya Rigel pada Xavier.
“Mbok,” panggil Xavier. Tak lama wanita paruh baya pun datang, ia adalah Mbok (pembantu) di rumah itu, Mbok tak seorang diri bekerja di rumah besar Xavier , ada juga Loli yang di sebut oleh Boy tadi.
“Ada apa Tuan?” Tanya Mbok Iyem setibanya di hadapan mereka.
“Antarkan dia ke kamar yang kosong, dia akan bekerja di sini mulai sekarang.” Ucap Xavier.
“Oh begitu.” Mbok Iyem pun tersenyum, lalu menuntun Bella menuju ke arah dapur dimana kamar para pembantu berada .
“Nah ini kamar kamu ya? Yang sebelah ini kamar Loli, dan di sebelah Loli itu kamar saya.” Ucap Mbok Iyem menunjukkan sebuah kamar yang berjejer rapi.
“Iya Mbok. Terimakasih.”
“Ayo masuk.” Keduanya pun masuk ke dalam kamar yang terbilang lengkap dan bagus.
“Salam kenal ya Bella, saya Mbok Iyem, saya sudah lama bekerja sama Tuan Vier.” Ucap Mbok Iyem tersenyum ramah.
“Iya Mbok Iyem, maaf merepotkan.”
“Ah tidak seperti itu, santai saja ya. Kalau kamu butuh apa-apa, bilang saja pada Mbok ya.” Ucap Mbok Iyem sebelum pergi meninggalkan Bella di sebuah kamar yang cukup luas baginya, kamar itu padahal kamar khusus paa asisten rumah tangga, tapi memiliki fasilitas yang lenagkap, ada rajang, lemari,meja rias, serta ber AC.
‘Wow bahkan kamar ku dulu tidak seperti ini.’ Ucap Bella mengingat kembali kamar tidurnya di rumah sang Paman, yang hanya ada kardus dan selembar kain sebagai alas tidur.
Bella mengeluarkan semua pakaiannya, namun sayang semua pakaiannya basah akibat terkena hujan. ‘Yah bagaimana mau berganti baju jika seperti ini?’ lirihnya pasrah. Ia pun memutuskan untuk tidak berganti pakaian, ia hanya membenahi sedikit penampilannya, seperti mengikat rambut panjangnya dan mengelap wajahnya yang terlihat sedikit kusam.
Setalah di rasa sedikit rapi, barulah Bella keluar dari kamar, ia berniat untuk memulai pekerjaannya.
“Bell, sini!” panggil Rigel.
Bella pun tersenyum lalu menghampiri kedua lelaki yang sedang duduk di ruang keluarga tak lupa dengan bocah lelaki yang sedang meminum susu di dalam dot.
“Iya Mas Rigel, ada apa?”
“Loh kok gak ganti baju?” tanya Rigel memperhatikan penampilan Bella.
“Baju saya semuanya basah Mas Rigel, tidak apa-apa, besok baru saya akan berganti pakaian.” Sahut Arabella.
“Pinjamin baju mu Bang,” bisik Rigel pada Xavier yang memangku Boy.
Xavier menatap Bella dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Glek! ‘Sial kenapa badannya begitu sexy?’ batin Xavier lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya dari tubuh Bella.
“Loli!” paggil Xavier dengan suara lantang, tak lama datang seorang wanita yang kira-kura usianya 20 tahun, wanita itu menghampiri mereka, Loli sedikit melirik ke arah Bella.
“Ada apa Tuan?” tanyanya.
“Pinjamkan baju mu padanya.” Titah Xavier.
Loli terlihat kesal menatap Bella yang menundukkan kepalanya. “Ayo ikut aku.” ajak Loli pada Bella.
“Permisi dulu Mas.” Mata Loli terbelalak mendengar panggilan Bella untuk sang majikan, yang menggunakan embel-embel ‘Mas’.
Setibanya di kamar Loli, wanita itu menutup rapat pintu kamarnya, dan menatap tajam kearah Bella.“Heh kamu itu anak baru gak usah sok kecentilan di rumah ini, pakai acara manggil Mas segala, kamu gak sadar kamu itu pembantu, gembel lagi, sebenarnya aku tuh ya ogah minjamin baju, tapi karena Tuan Xavier yang menyuruhnya terpaksa deh.” Ucap Loli panjang lebar, Bella sedikit terkesiap mendapati perlakuan Loli yang tak menyukainya itu.
“Nih pakai ini!” Loli melemparkan satu lembar baju kaos berwarna putih dengan celana pendek.
“Emm terimakasih Mbak.” Ucap Bella.
“Ingat ya! Kamu jangan banyak tingkah di sini! Kamu itu anak baru! Udah sana keluar! Ganti baju di kamar mu!” perintah Loli, Bella pun keluar kamar Loli dan masuk ke dalam kamarnya yang berseblahan dengan kamar Loli.
Dengan cepat Bella menganti pakaiannya dengan baju milik Loli. “Apa celana ini tidak terlalu pendek?” monolog Bella menatap pantulan dirinya di depan cermin besar, saat ini ia semakin terlihat seksi, karena badan berisinya memakai baju milik Loli yang memiliki badan kecil, alhasil baju Loli menjadi kentat di badannya, hingga membuat lekuk badannya semakin terlihat, celana kain yang di berikan Loli pun semakin membuat penampilan Bella terlihat seksi.
Setelah itu Bella pun memutuskan keluar kamar. Ia berniat pegi ke dapur untuk mebantu Mbok Iyem dan Loli, namun belum samapi ia di dapur suara Xavier menghentikan langkahnya.
“Apa tidak ada baju yang lebih pendek dari itu?” Sinis Xavier menatap tubuh Bella dengan tatapan berkabut nafsu.
“Maaf Tuan, tapi Mbak Loli yang meberikannya bukan saya yang memilih.” Sahut Bella, ia sengaja mengganti pangilannya setelah di marah oleh Loli tadi.
Glek!
‘Sial!’ Xavier menelan ludahnya susah payah, lalu berjalan cepat keluar, “Jaga Boy, saya keluar sebentar!” perintahnya.
“Siap Tuan.” Sahut Bella.
Sedangkan lelaki itu berjalan cepat kearah luar dengan kaki panjangnya, tangannya merogoh saku celana yang ia kenakan saat ini, lalu mengambil benda pipih berwarna hitam miliknya.
“Halo sayang kenapa kau mebutuhkan ku malam ini?” Goda wanita di seberang telpon sana.
“Hm! Cepat datang ke hotel!” sahut Xavier. Tut! setalah itu dengan cepat ia pergi mengendarai mobil mewahnya.
Setibanya di hotel mewah miliknya sendiri, Yups!! Xavier merupakan pemilik hotel itu. Ia langsung masuk ke dalam, “Apa dia sudah datang?” tanya Xavier pada wanita cantik si resepsionis hotel .
“Dia sudah menunggu di kamar biasa Pak.” Sahut Resepsionis itu.
“Hm,.” Xavier langsung melangkah menuju kamar 201 kamar di mana biasa ia bercinta dengan para wanitanya. Xavier merupakan lelaki maniak s*x tak banyak yang tau mengenai hal itu. Dan sudah banyak wanita yang ia tiduri, bukan ia yang memaksa tapi para wanita itu sendiri lah yang bertekuk lutut memohon untuk di tiduri olehya, karena Xavier bagaikan dewa Yunani bagi mereka, mereka samapi rela di tiduri begitu saja oleh Xavier.
Anda Mungkin Juga Suka





