
Gairah Liar Tuan Xavier
Bab 3
Di sebuah kamar hotel , terdengar suara desahan seorang wanita yang kini menggerakkan badannya dengan begitu liar di atas tubuh Xavier, sedangkan lelaki itu hanya diam, membiarkan wanita yang kini bergerak liar itu mengejar kepuasannya sendiri.
‘Sial! kenapa bodynya selalu terngiang.’ Xavier, lelaki itu tak merasakan kepuasan meskipun sedang bercinta dengan salah satu model ternama, pikirannya terus tertuju pada sosok Bella, lebih tepatnya pada body Bella yang di lihatnya di rumah.
“Akhhh!” jerit Gebi si model cantik jelita, wanita itu terbaring lemah di samping Xavier.
Xavier bangkit dan memakai celananya, hanya celana, karena bajunya tak di lepasaknnya. “Mau kemana?” tanya Gebi lemah menatap sosok lelaki tampan yang selalu di idolakannya itu.
“Pulang, kau tidak memuaskan ku!” Ucap datar lelaki arogan, Xavier Andara Yin Yue.
“Ta-tapi kita belum selesai Xa.”
“Aku tidak akan membuang-buang waktu ku hanya untuk memuaskan mu!” Desisnya lalu melenggang pergi meninggalkan model cantik yang kini terbaring lemah tanpa busana di kasur hotel.
Xavier berjalan dengan angkuhnya, tujuannya saat ini adalah bar yang tersedia di hotel miliknya itu. “Seperti biasa.” Ucapnya pada bartender.
“Siap Tuan.” Satu gelas minuman beralkohol pun di serahkan bartender itu pada Xavier.
“Ekhem, mau aku temani,” seorang wanita berpakaian terbuka menghampiri Xavier, wajahnya cantik sepertinya berdarah China juga. Satu hal yang pasti, wanita itu adalah penghuni hotel miliknya. Xavier menatap intens wanita itu dari atas sampai bawah. ‘Masih bagus body wanita itu(Bella)’ gumam Xavier membatin, lalu memalingkan wajahnya ke lain arah, wanita yang berusaha mendekati Xavier itu sadar jika Xavier tak tertarik padanya , ia pun langsung pergi tanpa berpamitan.
****
“Daddy mana?!” teriak Bocah lelaki yang kini berdiri di kasur berseprai kartun, tangannya bersedekap dada, dengan raut wajah kesal menatap Bella.
“Boy Sayang, Daddy kamu lagi keluar sebentar, ada keperluan , Boy sama Tante aja ya?” Bujuk Bella sembari berjalan mendekat kearah bocah lelaki yang wajahnya sangat mirip dengan wajah Xavier, bedanya Boy versi anak kecil dan Xavier dewasa.
“Boy mau cama Daddy! Boy gak mau cama kamu!” jawab bocah itu masih setia bersedekap dan menatap tajam Bella.
‘Aduh kenapa anak orang kaya selalu seperti ini, cerewet.’ Batin Bella.
“Boy, harus makan dulu nanti baru kita tunggu Daddy kamu, gimana?”
“No! Boy mau makan cama Daddy!”
Bella memejamkan matanya dan menarik nafas dalam, mencoba menambah kesabarannya.
Pintu kamar di buka perlahan, “Gimana mau Bel?” tanya Mbok Iyem sembari masuk.
Bella menggelengkan kepalanya dengan wajah lesu. “Masih kekeuh mau sama Daddy-nya Mbok.” Sahut Bella.
“Boy ganteng, makan sama Mbok Iyem mau?” bujuk Mbok Iyem dengan suara halus.
”No! mau cama Daddy!”
Bella menelisik kamar bocah lelaki itu yang terlihat lucu dengan nuansa kartun Spons berwarna kuning dan bintang laut yang berwarna merah muda. Bella tersenyum ketiak sebuah ide muncul di benaknya, gadis itu duduk di tepi ranjang Boy.
“Sini deh Tante bisikin,” panggil Bella melambaikan tangannya ke arah Boy.
Boy terlihat ragu-ragu hendak mendekat.
“Ayo gak papa, sini.”Akhirnya bocah lelaki itu pun luluh, ia mendekat kearah Bella.
“Kamu suka makan kue gak?” tanya Bella.
“Cuka.”
“Tante bisa bikin kue yang enak banget buat Boy, kuenya gambar sponsboob loh.”
Mata Boy terlihat berbinar.”Benalkah?”
Bella mengangguk antusias, “Hum! Makanya Boy makan dulu, setelah itu baru Tante bikin kan kuenya, bagaimana, setuju?” Bujuk Bella.
“Janji bikin kue ?”
“Janji.”
“Hm, baikyah!” Bella tersenyum senang akhirnya ia berhasil membujuk majikan kecilnya itu.
“Gedong!” pinta Boy menjulurkan kedua tangannya pada Bella.
“Oke, ayo Tante gendong!” dengan senang hati Bella menggendong bocah lelaki yang beratnya tak seberapa itu. Mbok iyem pun ikut tersenyum senang melihat Bella berhasil mebujuk Boy dengan cepat, pasalnya selama ini, mereka selalu membutuhkan waktu yang lama untuk membujuk bocah lelaki itu.
***
Sesampianya di meja makan, Bella langsung mengautkan makanan untuk majikan kecilnya itu. “Silahkan Boy.”
“Tidak cuka cayur! Mau cama ayam goyeng caja.”
Bella menatap Mbok Iyem.
“Memang seperti itu Bell, dia sangat susah sekali makan sayur.” Ucap Mbok Iyem memberitahu, Bella pun hanya mengangguk paham.
Seperti yang telah di janjikan oleh Bella, saat ini gadis itu sudah berkutat dengan berbagai macam bahan untuk membuat kue, dengan di temani Boy yang duduk meperhatikannya di meja makan, dengan kaki menjuntai kebawah.
“Tante, Boy mau dot!” rengek Boy pada Bella.
“Mau Dot? Sebentar ya Sayang, Tante cuci tangan dulu.” Bella dengan cepat mencuci tangannya setelah itu membuatkan Boy susu.
“Ini dot untuk Boy, bilang apa?” Ucap Bella mengajari bocah itu berucap terimakasih.
“No!” Sahut Boy acuh, lalu menyumpal mulutnya dengan Dot berisi susu.
Mulut Bella terbuka mendengar sahutan bocah kecil itu. ‘Kecil-kecil sudah arrogant.’ Gumam Bella dalam hati.
“Ya sudah Boy tunggu di sini ya, Tante lanjut bikin kuenya.” Bocah itu menganggukkan kepalanya dengan dot yang menyumpal mulut.
Beberapa menit berlalu , akhirnya kue buatan Bella telah di masukkan ke dalam sebuah open, “Boy, kok di-‘’ Bella menghentikan ucapannya ketika menoleh mendapati Boy yang tergerak terbaring tidur di atas meja makan, ia dengan perlahan menghampiri bocah lelaki yang kini tertidur di atas meja makan dengan dot yang terlepas dari mulut. “Uhh kacian anak ganteng,” Bella dengan perlahan menggendong tubuh kecil itu, hendak membawanya ke kamar Boy sendiri.
“Loh tidur Bell?” tanya Mbok Iyem yang baru tiba di dapur.
“Iya Mbok kelelahan sepertinya, Bella tidurin dulu.” Ujar Bella.
“Iya Bell.” Bella pun berlalu dengan menggendong Boy, membawanya naik ke lantai atas di mana kamar bocah lelaki itu berada, kamarnya tepat berseblahan dengan kamar Xavier sang Daddy.
Dengan perlahan Bella meletakkan tubuh bocah lelaki yang saat ini tertidur, “Enghh Daddy.” Gumamnya dengan mata yang terpejam.
‘Kasihan Boy.’ Tutur Bella pelan membelai sayang pipi gembul lelaki kecil itu. Dan dengan perlahan ia bangkit dari kasur namun tangannya di tahan oleh Boy.
“Daady, tetap di cini.” Bella terdiam, dan dengan terpaksa ia kembali ke samping Boy dan ikut berbaring di sana, dengan tangan Boy yang menggenggm erat lengannya.
Cup!
Di kecupnya sayang pipi gembul Boy, hingga kantuk pun menyerangnya membuat matanya dengan perlahan tertutup, dan tertidur.
*
Mbok Iyem yang mendengar suara open berbunyi langsung saja mematikan open itu, lalu ia pergi untuk memberitahu Bella, namun ketika ia membuka kamar majikan kecilnya itu, ia mengurungkan niatnya untuk meberitahu Bella lantaran melihat Bella yang terlelap dengan Boy yang memeluk lengan Bella.
‘Biarkan saja lah, aku simpan saja di dalam kulkas, besok pagi baru lanjutkan, gak tega juga aku, Bella juga pasti masih lelah.’ Batin Mbok Iyem dan kembali menutup pintu.
****
Xavier melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi, tangannya sesekali memijit pangkal hidungnya sendiri, guna meredakan rasa pusing di kepalanya efek dari minuman beralkohol yang ia tegak banyak di bar hotel miliknya tadi.
Tak seberapa ia telah tiba di kediamannya yang sangat mewah bak istana itu, ia langsung masuk ke dalam rumah, tujuannya adalah kamar sang putra, Boy Andara Yin Yue. Dengan sisa kesadarannya yang masih tersisa, Xavier langsung saja masuk ke dalam kamar Boy, namun tatapannya tertuju pada sosok wanita yang kini juga sedang terlelap bersama sang anak, di lihatnya keduanya saling berpelukan.
Glek!
“Akhh Shit!” tangannya terasa gatal hendak meraba bokong berisi Bella yang kini menggoda imannya, di tamabh baju kaos gadis itu terangkat ke atas hingga terlihatlah sedikit perut rata , putih bak porselnnya.
‘Akhh sialan!’ rutuk Xavier ketika ada sesutu yang mengeras di bahwah sana. Kesadaran lelaki itu mulai menipis, semntara kabut nafsu sudah mengenadalikan dirinnta, hingga tanpa sadar tangan kekaknya itu terulur meraba bokong padat milik Bella, di remasnya pelan.
“Emphhh!” lenguh Bella dengan mata yang terpejam dan sedikit bergerak hingga pelukannya pada Boy terlepas. Xavier semakin berani mendengar suara desahan keluar dari mulut Bella, membuat kelakiannya semakin bangkit dan bergairah, tanpa basa basi di tindihnya tubuh Bella, dan mulai di ciuminya leher gadis yang masih tertidur itu. Tak hanya mengecup tetapi meberikan gigitan kecil hingga menimbulkan bercak merah di sana.
“Manis sekali.” Gumamnya menjilat bibirnya sendiri, dengan tangan yang bergrilya di bagian dada Bella yang masih terbungkus rapi.
Bella yang mulai merasa terganggu dengan perlahan membuka matanya, alangkah kagetnya ia mendapati sang majikan ada di atasanya .
Bruk! Bella dengan cepat mendorong tubuh Xavier hingga lelaki itu menjauh dari tubuhnya, dan dengan cepat bangkit dari baringnya.
“Tu-tuan apa yang sedang anda lakukan?” tanya Bella ketakutan, badannya bergetar takut dengan kedua tangan menyilang di depan dada.
Sedangkan Xavier meremas rambutnya sendiri, lelaki itu terduduk di pinggir ranjang, rupanya dorongan Bella sedikit memberikan kesadaran padanya, “Pergilah! Cepat!” usirnya pada Bella , khawatir ia akan lepas kendali lagi membiarkan gadis itu terap di kamar.
Bella pun langsung mengambil langkah seribu, keluar dari kamar Boy, ia masih kaget dengan yang di lakukan Xavier padanya tadi. ‘’Sepertinya Tuan Xavier sedang mabuk, makanya seperti itu aku juga mencium aroma alkohol dari mulutnya.” Monolog Bella berjalan cepat menuju kamarnya yang berada di bawah tepatnya didekat dapur, karena kamar khusus para asisten rumah tangga memang berada di sana.
Bella dengan cepat masuk ke dalam kamarnya sendiri dan menguncinya rapat-rapa, takut lelaki itu menerobos masuk ke kamarnya, karena orang yang tak sadarkan akibat minuman keras tak bisa di kendalikan, begitu pikir Bella.
‘Ya tuhan takut banget.’ Lirih Bella ketakutan di dalam kamarnya.
*
Sedangkan Xavier terus mencoba tetap sadar, sementara itu bayangan tubuh indah Bella seakan melekat di benaknya, seakan menghantui dirinya, hingga membuat gejolak gairah kembali menguasai saat ini, ia pun memilih masuk kedalam kamar mandi, menuntaskannya sendiri.
***
Pagi hari pun tiba Bella terbangun dari tidurnya, rupanya sakin takutnya ia tadi malam hingga tak sadar jika ia tertidur dalam posisi duduk.
Brak! Brak!
Bella terperanjat ketika mendengar suara nyaring berasal dari puntu kamarnya.
“Bella! hei! Bangun!” teriakan Loli masuk ke dalam kamar, Bella pun dengan cepat berjalan menuju pintu dan mebukanya.
“Bagus! Belum dua puluh empat jam kamu di sini sudah banyak tingkah kamu ya!! Bangun! Banyak pekerjaan menanti!” sembur Loli bercekak pinggang memerahi Bella.
“Iya Mbak, maaf.” Bella pun langsung keluar kamarnya dan menuju dapur, sebleumnya ia masuk ke dalam kamar mandi terlebih dahulu untuk menuci wajah.
“Selemat pagi Bell.” Sapa Mbok Iyem ketika Bella keluar dari kamar mandi, wanita paruh baya itu sibuk dengan masakannya.
“Pagi Mbok, maaf ya Mbok Bella kesiangan bangunnya.”
“Tidak masalah, kan kamu baru, itu juga efek dari kelelahan, sekarang kamu mandi saja dulu.” Suruh Mbok Iyem dengan sangat ramah.
Bella menggelengkan kepalanya, “Saya membantu Mbok saja dulu, mandi belakangan saja.”
“Ya sudah, oh iya Bell itu kue buatan kamu Mbok taruh di lemari pendingin tadi malam gak enak membangunkan kamu.”Ujar Mbok Iyem.
“Oh iya Mbok, terimakasih ya.”
“Kamu lajutkan saja kue itu takutnya si Tuan Boy nanti cari kuenya.”
Bella pun mengangguk paham , “Iya Mbok.” Baru saja Bella membuka lemari pendingin, suara lelaki yang tadi malam di takutinya menghetikan pergeraknya.
Anda Mungkin Juga Suka





