
Gairah Liar Sang Mantan
Bab 2
Pov Suci
Aku Suci, aku memiliki tubuh yang kata teman-temanku begitu indah dan membuat iri. Padahal menurutku aku memiliki badan yang sedikit gemuk, tapi orang-orang malah bilang montok -_-
Aku anak pertama dari 4 bersaudara, adikku 3 dan laki-laki semua. Mereka bernama ajis (SMP kelas 8), indra (SD kelas 3), dan surya (3 tahun). Mereka adalah adik tiri ku, ya adik tiri. Karena ayahku kandung meninggalkan ibuku saat sedang mengandungku. Ibuku lalu menikah dengan ayah tiriku yang bernama paijo. Meskipun ayah tiri namun dia menyayangiku seperti adik-adiku yang memang anak kandungnya, sedangkan aku hanya anak tiri.
Ayahku memang terlihat galak dan tegas, makannya hingga saat ini aku dilarang berpacaran. Padahal saat itu aku sedang menjalin kisah asmara dengan andi. Ya saat kejadian di warnet aku mulai mengalami perubahan pada perasaanku. Aku jadi semakin sayang kepada andi, sebetulnya ciuman itu bukan ciuman pertamaku. aku berbohong kepada andi pada saat itu dan aku belum bisa untuk mengatakan yang sejujurnya. Pada saat kami berciuman, ada seperti listrik yang menyengat tubuhku dan membuatku hanyut dengan ciuman andi. Aku merasakan tangan andi mulai memegang pinggang dan perutku, sangat geli dan aku sebelumnya berfikir pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya tapi entah kapan akupun sedikit lupa. Saat andi ingin menyentuh dan meremas payudaraku, aku mulai teringat kapan aku merasakan ini sebelumnya. aku menghentikan ciuman ku dan menarik tangan andi untuk melepas payudaraku.
Ya, aku teringat sebelumnya aku merasakan seperti ini sebelumnya. Kejadian itu terjadi saat liburan kenaikan kelas 10 ke kelas 11. Saat itu ada kakek ku dirumah, kakeku tinggal di kota t dengan nenek dan budeku. Saat kakek baru saja tiba memang hanya aku sendiri di rumah karena ayah dan ibuku sedang pergi dan adik – adikku sedang bermain di lapangan. Meskipun beliau kakek tiriku namun aku sangat sayang, dan beliau pun dangat baik kepadaku layaknya kakek kandung. Saat aku sedang tiduran di kamar dan memakai baju terusan seperti baby doll sehingga menampakkan sedikit pahaku. Aku mendengar suara pintu di ketuk dan suara lelaki yang mengucapkan salam.
Kakek: “ assalamuallaikum”
Aku: “wallaikumsalam”
Akupun langsung membuka pintu dan ternyata kakekku yang datang, saat aku membuka pintu aku melihat kakek malah memperhatikan ku dari ujung kepala hingga kaki, akupun menyapa kakek.
Aku: “kakek sendirian?”
Kakek: “eh iya nduk” (kakek menjawab sambal sedikit terkaget)
Aku pun membawa tas kakek dan menyuruhnya untuk masuk kerumah. Setelah membuatkan minum untuk kakek aku pun ijin untuk mandi. Setelah mandi aku keluar hanya menggunakan handuk (kebiasaanku dirumah setelah mandi memang hanya memakai handuk). Aku mendengar suara seperti orang menahan rasa sakit dari ruang tamu. Ya, itu suara kakekku. Aku yang mendengarnya langsung menghampiri kakek dengan masih menggunakan handuk. Aku berfikir biasa saja, karena dengan kakek meskipun hanya kakek tiri.
Aku: “kenapa kek?”
Kakek: “eh eh nduk, ini pinggang kakek kok sakit sekali. Karena terlalu lama duduk di bis.”
Kakek berbicara kepadaku tapi matanya bukannya melihat wajahku tapi malah melihat payudaraku yang terlihat belahannya. Aku pun yang sedikit risih dengan tatapannya berencana untuk memakai pakaian dulu di kamar. Aku pun berkata “yaudah kek, aku pake baju dulu trus nanti aku pijitin.” Saat aku berbalik badan tangan ku dipegang oleh kakek. Akupun menghentikan langkahku.
Kakek: “tolong pijitin sekarang saja nduk, kakek sudah tidak tahan ini pinggangnya pegel banget”.
Aku pun terdiam dan kakek langsung menggandeng tanganku menuju sebuah kamar. Ya, kamarku adalah yang dituju kakek.
Setelah sampai kakekku pun langsung membuka bajunya dan mulai terlhiat perut yang agak buncit. Akupun masih berdiri di pinggir pintu dan aku dikagetkan dengan suara kakek, “nduk tutup pintunya trus pijitin kakek”. Akupun sperti terhipnotis lalu menuruti perintah kakek.
Kakek: “sini nduk pijitin pinggang kakek” (kata kakek sambil tengkurap di kasurku)
Aku: “aku pake baju dulu aja ya kek”
Kakek: “udah nanti aja, toh Cuma kakek minta pijitin sebentar.”
Akupun lalu beranjak ke meja kamarku untuk mencari minyak kayu putih karena aku biasa menaruhnya disana. Tapi aku sedikit bingung kenapa minyak kayu putih ku tidak ada. Aku masih berusaha mencarinya hingga ada suara dibelakangku yang mengagetkanku.
Kakek: “kamu cari ini to nduk” (sambal menunjukkan minyak kayu putih yang aku cari)
Akupun kaget, karena kakek berbicara disamping kupingku sambal sedikit mencium tengkuk leherku. Akupun mulai merasakan badan kakek di punggungku, setalah aku menatap kaca di depanku. Aku kaget ternyata kakek sangat dekat denganku bahkan aku sedikit merasakan sebuah tonjolan di pantatku. Aku baru pertama mengalami kejadian seperti ini dan aku tidak menginginkannya. Lagi-lagi aku seperti terhipnotis, kakek sedikit mendorong bahuku sehingga aku terduduk di pinggir kasurku. Lalu kakek duduk disebelahku. Akupun bingung harus berbuat apa, lalu kakek membuka pembicaraan.
Kakek: “Koe ternyata wes gede yo nduk? (Kamu ternyata udah besar ya nduk?)” (kakek berkata sambal membelai rambutku yang asih agak basah)
Aku: “i..iya kek hehe”
Kakek menarik bahuku untuk merapatkan ke tubuhnya aku pun sedikit terkejut “aahhh kek”. Kakekpun mulai mengelus-elus bahuku dan sambal menciumi rambutku. Aku merasakan sangat gelid an sedikit memberontak. Kakek malah sedikit tertawa setelah aku sedikit memberontak.
Kakek: “Dulu tuh kamu pas masih kecil sering minta mandi sama kakek, pake baju juga sama kakek.”
Aku: “i…itu kan dulu kek, sekarang kan aku udah...” (aku menghentikan perkataanku saat merasakan tangan kakek yang tadinya mengelus bahuku sudah mulai berusaha menyelinap melalui ketek ku dan meraba perutku.)
Kakek: “Sudah apa nduk?” (Tanya kakek sambil terus meraba perutku yang masih tertutup handuk.)
Aku: “Sudah ge..de kek”
Kakek: “haha iya nduk, kamu sekarang udah gede.” (kata kakek sambal mencubit pinggangku)
Aku: “ahhhkkk, kakek.”
Aku menggerakan badanku lebih keras, fatalnya aku lupa jika masih menggunakan handuk dan lilitan handuk ditubuhku hamper lepas. Aku berusaha menmbetulkan lilitan handukku, tetapi kakek malah semakin merapat kan tubuhku ke tubuhnya. Kepalaku kini bersandar di dadanya. Pipiku merasakan sedikit geli karena bersentuhan dengan bulu dada kakek.
Kakek: “mana coba yang katanya udah gede” (kata kakek sambal meraba perutku).
Aku merasakan tangan kakek meraba-raba perutku sampai ke pingganggku, sperti mencari sesuatu. Aku merasakan tubuhku sanagat geli, dan aku merasakan memekku sedikit basah. Aku yang saat itu belom mengetahui tentang sex tidak tau kenapa memekku bisa basah. Kakek terus meraba tubuhku dan aku tidak bisa menahan desahanku “ahhkkkk..ahhkkkk..kek…ahhhkk geli kek, udaahhh kek katanya mau dipijitin.” “udah nduk diem aja, pinggang kakek udah gak sakit kok.” (kata kakek).
Aku memejamkan mataku dan mulai sedikit menikmatinya. Dan aku tiba2 dikagetkan dengan payudara kiriku yang diremas oleh kakek.
Aku: “ehhh jangannhhh kek ahhkk.” (aku merasakan payudaraku diremas walaupun masih dari luar handukku tapi rasanya geli sekali.
Kakek: “gede sekali nduk.” (kata kakek sambal masih meremasi payudara kiriku)
Aku: “kek udahhh kek ahkk, jangann kek huhuhu” (aku mulai menangis, aku bingung harus bagaimana)
Kakek masih saja meremasi payudaraku bahkan sekarang kedua tangannya sudah berhasil meremasi kedua payudaraku. Aku hanya bisa mendesah dan menangis. Aku memperhatikan tangan kakek meremasi payudaraku.putingku tak luput dari tangan kakek. Meskipun masih menggunakan handuk tapi kakek dapat menemukan putingku.
Kakek: “handuknya dibuka ajaya nduk, trus kakek pakein baju kayak dulu hehe.”
Aku: “ahhh udah kek, akum au pake baju sendiri ahhkkk.” (kakek dengan tiba2 mencubit putting kiriku.)
Kakek: “udah nduk gapapa, kakek pakein baju ya.” (kata kakek sambal berusaha membuka handukku)
Aku sangat malu karena bagian atas payudaraku sudah terlihat, dan sedikit putingku juga sudah terlihat. Aku mulai panic. Dan tiba2….
“kakkkkk, aku pulang”.
Bersambung
Anda Mungkin Juga Suka





