
GAIRAH LIAR PENGANTIN PENGGANTI
Bab 3
“Aku akan membayar semua tagihannya, asal kamu mau menjadi pengantin minggu depan. Gimana?”
Belia bimbang dan bingung. Ia tampak dilema dengan keputusannya. Ia takut dengan resiko yang akan dia terima suatu saat.
Beberapa saat Belia berpikir. Ia membaca surat kontrak yang ada di tangannya. Ia tak ingin melewatkan sedikitpun kalimat di dalam surat kontrak yang dia baca tersebut.
“Kamu bisa memikirkannya terlebih dahulu,” kata Bianca.
“Aku udah pikirkan. Aku menerimanya,” ucap Belia. Ia mencoba menyakinkan dirinya atas keputusan yang baru saja dia ambil.
“Baiklah, kalau begitu. Kamu bisa tanda tangan kontraknya,” pinta Bianca.
Setelah itu, keduanya menandatangani surat tersebut di atas materai. Setelah selesai menandatangani surat tersebut. Bianca menyimpan surat tersebut.
“Ingat ya, aku punya satu syarat untukmu,” kata Bianca.
“Apa lagi?”
“Kamu nggak boleh jatuh cinta sama dia, ingat itu,” tegas Bianca memperingati Belia.
Belia hanya mengangguk mendengar peringatan itu. Ia tak peduli dengan cinta atau semacamnya. Ia hanya fokus pada keselamatan neneknya.
Beberapa saat kemudian, Bianca bangkit dari tempatnya. Sebelum pergi, ia menoleh ke Belia. Lalu mengucapkan sesuatu.
“Malam ini, kamu datang ke rumah keluarga Haditama. Dan mulai hari ini kamu menjadi Bianca, bukan Belia. Mengerti, kan?”
Belia mengangguk paham. Setelah itu, Bianca pergi dari hadapan Belia. Ia tampak lega sekali karena berhasil menemukan penggantinya.
“Aku bisa keliling dunia sekarang, tanpa harus menjadi boneka keluarga Haditama yang menyebalkan,” ujar Bianca sebelum masuk ke mobilnya.
Sementara di dalam restoran. Belia tampak bingung dan bimbang. Tetapi hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menyelamatkan neneknya. Ia sudah tak peduli dengan resiko yang akan dia temui suatu saat nanti.
“Setidaknya aku udah melakukan yang terbaik untuk Nenek. Tuhan, maafkan aku,” lirihnya.
Sekarang ia harus melakukan semua perintah Bianca. Salah satunya dia harus mengundurkan diri dari pekerjaannya. Karena sebentar lagi, dia akan sibuk menjadi nyonya di keluarga Haditama.
Keesokan harinya, Belia naik taksi menuju kediaman keluarga Haditama sesuai permintaan Bianca. Sesampainya di sana, ia bergegas turun dan melangkah ke rumah besar seperti istana. Ia tercengang melihat megahnya rumah keluarga Haditama.
Entah apa yang akan terjadi di dalam rumah itu nantinya. Ia sedikit bimbang dan ragu untuk masuk ke dalam rumah itu. Tetapi ia sudah ditunggu oleh keluarga besar Haditama.
“Selamat datang, Bianca,” sambut Sopia dengan senang hati. Sambutan hangat dari wanita tua itu cukup membuat Belia merasa lega. Ketakutan yang sejak tadi menghantuinya seketika luntur saat melihat senyum yang terbit dari wajah ramah sang Nenek.
Belia hanya bengong melihat wanita itu menyambutnya. Ia memang tak mengenal wanita itu, tetapi dari pertemuan pertama ini sudah memberikan kesan yang menyenangkan.
“Bianca, apa kamu nggak menyukai rumah ini?” tanya Sopia lagi.
“Oh, nggak kok, Nek. Aku senang sekali bisa berkumpul dengan keluarga Nenek. Aku hanya terkejut,” ungkap Belia.
“Anggap aja rumah sendiri. Karena sebentar lagi kamu akan menjadi menantu di keluarga ini. Keluargamu dan keluarga kami memang sengaja menjodohkanmu dengan cucu Nenek. Supaya keluarga kita tetap bersatu,” tutur Sopia.
Belia tersenyum mendengar kalimat manis dari Sopia. Tak lama berselang, anggota keluarga lain datang menghampiri Belia yang ada di ruang tamu. Pandangan mereka kepada Belia tidak menyenangkan, membuat Belia merasa takut kalau sampai mereka tak menyukai kehadirannya.
“Jadi ini calon menantu kita?” tanya Helena, wanita muda yang merupakan calon mertua dari Belia.
“Aku pikir cantik kayak bidadari. Ternyata wanita biasa aja,” ejek Bastian, calon bapak mertua.
“Iya nih. Si Nenek. Kok bisa-bisanya jodohin cucu yang ganteng banget dengan cewek biasa kayak gitu. Duh, kasian Arkan,” keluh Helena menghina Belia.
Mendengar ejekan itu, Belia hanya bisa bersabar. Ia tak menyangka mendapat perlakukan serendah itu. Melihat situasi yang kurang menyenangkan itu, Sopia langsung angkat bicara.
“Kalian ini apa-apaan sih. Gimana pun dia itu calon menantu keluarga ini. Tolong jangan menghinanya. Apa kalian nggak tahu, dia cucu keluarga Dwipangga. Apa kalian mau mendapat masalah gara-gara menghinanya begitu?” tanya Sopia.
Helena maupun Bastian hanya bisa terdiam mendengar pertanyaan tersebut. Tentu mereka tak memiliki kuasa apapun dibandung Sopia. Mereka tak akan berani melawan Sopia jika mereka menginginkan warisan dari keluarga Haditama.
Belia lalu duduk di sofa empuk yang berkelas internasional. Pandangannya mengelilingi isi rumah ini, tentu semuanya memiliki kualitas terbaik. Hal itu semakin membuat Belia minder.
Tak lama berselang, seorang pria tampan baru saja turun dari mobil sport seharga miliaran rupiah. Ia langsung masuk dan menghampiri keluarganya di ruang tamu. Kebetulan dia mendapat telepon untuk pulang lebih cepat dari kantornya.
“Kamu?” Arkan terbelalak. “Jadi kamu calon istriku?” tanya Arkan.
Belia juga tak habis pikir, kenapa ia harus bertemu dengan pria itu lagi. Kesan buruk yang diberikan oleh Arkan saat pertama kali bertemu saat itu, membuat Belia benci dengan Arkan hingga detik ini.
“Nenek, jadi aku disuruh pulang cepat-cepat hanya untuk bertemu dengan gembel ini?” hina Arkan.
“Tutup mulutmu, Arkan. Berani sekali kamu menghina cucu keluarga Dwipangga. Bersikap sopan sama dia. Lagipula, dia itu calon istrimu. Paham!”
Arkan terdiam. Sejenak dia merenung. Ia tak menyangka kalau pelayan itu adalah cucuk dari keluarga yang kaya raya.
“Kok bisa sih?” gumamnya.
Ia memang tahu kalau wanita di depannya itu adalah seorang pelayan restoran. Bahkan mereka pernah bercekcokan di restoran tersebut.
Arkan terlihat sangat kesal bertemu dengan wanita paling menyebalkan dalam hidupnya. Tetapi lagi-lagi dia tak bisa menolak keinginan neneknya yang telah menjodohkannya dengan wanita tersebut.
“Nenek nggak mau tahu. Suka ataupun nggak. Kamu harus menerimanya dan mencintainya. Kalau kamu berani melanggarnya, maka jangan berharap kamu akan mendapatkan sepeserpun warisan keluarga ini. Mengerti!”
“I-iya, Nek.” Arkan tak berkutik.
Belia tak berkomentar apa-apa. Ia tahu posisinya saat ini dan sadar kalau dia juga terpaksa melakukan hal itu demi biaya operasi neneknya.
“Bianca, jangan dipikirin ya. Nenek harap kamu nyaman dalam keluarga ini. Karena sebentar lagi kalian akan segera menikah.”
“Iya, Nek.”
Belia mengembangkan senyumnya. Ia cukup lega karena masih ada nenek Sopia yang peduli dengannya. Meski semua anggota keluarga lain sangat membencinya.
Setelah acara pertemuan itu, Belia lalu pergi dari rumah itu. Sopia meminta Arkan untuk mengantar wanita itu ke apartemen milik Arkan. Karena tidak mungkin wanita itu akan kembali ke rumahnya yang berbeda pulau.
Dalam perjalanan, Arkan tampak kesal dengan perjodohan yang dilakukan oleh keluarganya. Ia merasa dipaksa untuk melakukan hal tersebut.
“Kenapa kamu mau menerima perjodohan konyol ini?” tanya Arkan.
“Aku nggak tahu. Aku juga terpaksa melakukan ini,” jawan Belia.
“Oh, terpaksa. Tapi mau-maunya kamu melakukan itu. Nggak waras kamu ya?”
Belia langsung menoleh ke arah Arkan. Ia terlihat kesal dan sangat membenci sikap Arkan yang selalu merendahkannya. Sayangnya, Arkan tak peduli dengan perasaannya.
Sesampainya di apartemen. Arkan mengantar Belia ke kamarnya. Sebelum dia pulang, ia memperingati Belia.
“Jangan harap aku akan mencintaimu!”
***
Anda Mungkin Juga Suka





