Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gairah Cinta Senior

Gairah Cinta Senior

Diana memprioritaskan masa depan di atas asmara, bahkan nekat menolak cinta Arga meski mereka saling suka sejak lama. Namun, keteguhannya diuji saat ia memasuki dunia perkuliahan. Di tengah upaya Arga yang terus mengejarnya dari jauh, Diana justru bertemu Bara, senior galak dengan reputasi bad boy yang mulai menunjukkan ketertarikan padanya. Kini Diana terjebak dalam dilema antara kesetiaan pada masa lalu atau menyerah pada gairah baru yang menantang.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Gue suka lo, Diana!" teriak Arga di depan teman-teman sekolahnya yang tengah sedang beristirahat.

Diana yang sedang mengobrol dengan beberapa temannya di lapangan yang tersedia bangku panjang pun menoleh. Semuanya mendadak hening lalu tak lama suara sorakan terdengar meriah.

Diana menoleh ke semua teman-temannya dan dia menggeleng-gelengkan kepalanya karena teman-temannya bertanya-tanya ada apa di antara dirinya sampai Arga menyatakan perasaannya.

"Iya! Gue suka lo, Diana! Lo nggak salah dengar!" lagi, teriak Arga.

Diana menepuk keningnya karena merasa apa yang Arga katakan itu sangat bodoh. "Ayo, terima Diana!" beberapa yang lainnya berteriak agar Diana menerima pernyataan cinta Arga.

Namun Diana mengabaikannya dan memilih menuju kelasnya yang disusul teman-temannya yang lain. Padahal ia sebenarnya menahan malu tapi Diana mencoba memasang wajah kebalnya.

Sampai saat di kelasnya, ia duduk di mejanya dan terkejut karena Arga menyusulnya juga, membuat teman-temannya berada di belakang Arga.

"Gue suka sama lo sejak kelas 10, Di. Gue nggak bisa berhenti untuk nggak suka lo," jelas Arga padanya.

Namun Diana masih diam dan memilih tidak menjawabnya. Ia sendiri bingung harus bagaimana menjawabnya jika di hadapan teman-temannya seperti ini.

"Di, jawab saja. Tolak juga nggak apa-apa kalau lo belum siap," ujar Hani, salah satu temannya.

Arga lalu menoleh ke Hani dan memelototinya. "Diam lo, Han. Dia pasti juga suka sama gue," kata Arga dengan percaya diri.

Tiba-tiba Diana tertawa keras membuat yang lain tercengang mengapa Diana tertawa seperti orang gila yang dengan dadakan seperti itu.

"Percaya diri banget sih lo, Ga. Gue nggak pernah suka sama lo! Asal lo tahu itu, ya! Jangan dipikir lo cowok populer di sini lantas membuat gue suka sama lo. Nggak sekali pun!" jelas Diana akhirnya.

Arga diam seribu bahasa. Ia yang tadinya bersimpuh dengan setangkai mawar putih untuk Diana, kini berdiri dan menatap Diana dengan tatapan yang tajam. Perasaannya merasa malu karena baru kali ini ia ditolak oleh wanita yang disukainya, di hadapan teman-temannya.

"Lo yakin? Lo nggak menyesal nantinya?" tanya Arga yang mana nada suaranya sudah berubah.

"Hmm ... ya. Sangat yakin."

Arga lalu pergi dan mematahkan tangkai mawar itu lalu melemparnya asal. Diana sebenarnya terkejut melihat respons Arga, tapi ia terlihat biasa saja dan baru bisa bernafas lega.

***

Selepas sekolah selesai, Diana keluar kelas bersama teman-temannya dan merencanakan untuk belajar bersama untuk ujian nasional. Mereka merencanakan belajar bersama di rumah Diana dan Diana tidak keberatan untuk itu.

Sebuah bola basket yang memantul ke arahnya dengan perlahan berhenti tepat di kedua kakinya saat ia melewati lapangan basket. Diana menoleh ke bawah dan mengambil bola itu. Lalu ia melihat sekumpulan anak-anak basket, termasuk Arga ada di sana, menunggu Diana melemparkannya kembali.

"Di, lempar!" teriak Aris.

Diana bukannya menatap Aris, malah matanya terpaku pada Arga yang menatapnya dalam diam dengan keringat yang membasahi kepala rambutnya.

"Di! Lo bengong apa, sih?" tanya Amel. "Cepat lempar ke mereka!"

Diana terkejut dan ia pun melempar balik bola basket itu ke arah anak-anak basket yang ternyata diterima Arga. Ada suasana mencekam di antara keduanya walau yang lain bersorak satu sama lain lantaran mereka seperti mengira Diana sengaja melemparnya ke arah Arga.

Cepat-cepat Diana berlalu dari sana dengan jantung berdegup kencang.

"Lo sengaja ya, lempar itu ke Arga?" tanya Sinta.

"Nggaklah. Itu reflek saja, kok."

"Hmm, kita kira begitu," sambung Hani dan yang lainnya mengangguk.

"Terus, lo beneran nggak suka dia? Parah banget ih, kalau nggak suka si Arga," tanya Sinta.

Sayangnya Diana memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Sinta yang mewakili teman-temannya. Baginya, ia enggan membagi apa yang ia rasakan pada teman-temannya lantaran ia tahu tidak semua orang tahu bagaimana ia merasakan sesuatu.

Jamuan makanan dan minuman yang di siapkan Paula, Ibu Diana, hampir mendekati habis oleh teman-temannya Diana. Mereka lebih banyak makan dan minumnya ketimbang belajar seperti yang mereka janjikan.

Wanita jika berkumpul dengan satu niat, pastilah akan timbul hal-hal yang baru seperti gosip. Diana yang lebih rajin dari pada lain pun fokus pada apa yang ia pelajari. Pikirnya, setidaknya ada yang waras dan bisa menjelaskan materi yang mereka pelajari pada teman-temannya yang lebih banyak fokus pada gosip.

"Wah, makasih ya, Tante buat jamuannya, he he he. Maaf ya, kalau kedatangan kita merepotkan," ujar Hani dengan sopan mewakili yang lain.

"Iya, Tante. Makasih banyak loh, ya. Next time kami akan ke sini lagi," sambar Sinta di sambung Amel.

Diana menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah temannya. "Next time harus belajar dulu baru di siapkan jamuan ya, Ma!" ancam Diana dengan maksud canda.

"Ih, apaan sih, Di! Jahat banget, lo! Ya, sudah ... kita pulang dulu, ya."

Ketiga temannya berpamitan dan bersalaman dengan Paula. Diana menuntun mereka sampai depan gerbang dan melambaikan tangannya pada mereka yang menjauh dari pandangannya.

***

Pagi-pagi sekali Diana sudah sampai sekolahnya di antar oleh sopir pribadinya. Ia sengaja datang lebih pagi karena berniat meminjam buku di perpustakaan dan berniat membacanya lebih awal sebelum bel masuk berbunyi.

Ternyata tidak hanya dirinya yang singgah ke perpustakaan. Ada beberapa anak dari kelas lain yang tengah belajar dan beberapanya seperti menyalin tugas temannya.

Mata Diana bertemu dengan mata Arga secara tak sengaja. Mereka saling bertatapan dalam beberapa detik sampai Diana berbalik dan menuju barisan buku sesuai yang sedang ia cari.

"Jadi lo mau sampai kapan diam sama gue?" tanya Arga tiba-tiba dengan suara pelan.

Diana menoleh ke kanan dan kirinya, memastikan bahwa orang yang Arga ajak bicara adalah dirinya. "Apa sih, Ga? Ganggu saja."

"Ganggu? Lo muncul cuma lihat gue. Kemarin juga cuma lihat gue. Kita saling pandang-pandangan, Di. Dan gue tahu lo pasti merasakan hal yang sama kayak gue, kan? Lo cuma malu mengakuinya, kan?" sambar Arga.

Diana berdecak namun matanya tetap melihat-lihat buku yang ia incar. "Mana, ya?" tanyanya lebih pada dirinya sendiri.

"Cari apa lo?" Tanya Arga.

"Novel romansa terjemahan."

"Apa judulnya?" tanya Arga memancing, masih menatap Diana.

"Cinta Yang Dipertaruhkan," jawab Diana singkat.

Tiba-tiba satu tangan Arga naik ke atas menunjukkan novel yang dicari Diana. Novel itu ada digenggamannya. Diana membelalakan matanya dan menyambarnya. Sayangnya tidak mudah karena Arga menghalanginya.

"Lo tahu itu yang gue cari?" tanya Diana kesal.

"Bahkan gue tahu ukuran bra lo berapa, Di," jawab Arga yang membuat wajah Diana merah padam.

"Siniin. Gue lagi mau baca itu!" seru Diana dengan pelan dan menahan malunya.

Arga menggelengkan kepalanya dan menyembunyikan novel itu ke balik tubuhnya. Ia membiarkan Diana memberontak dan kemudian merasa menyerah.

"Karena gue tahu novel ini nggak akan tercetak lagi, jadi gue jadiin jaminan buat lo agar jawab pertanyaan gue di awal," kata Arga.

"Duh, yang mana? Percepat ajalah!"

Baru beberapa menit bicara saja Diana sudah lupa akan topik yang tadi di bahas oleh Arga. Membuatnya sedikit gemas namun kesal juga.

"Lo suka gue juga atau nggak?" tanya Arga mengulanginya.

Diana tidak punya waktu banyak untuk semua ini. Ia lebih memilih novel itu dibanding yang lain. Tapi pertanyaan Arga itu bukan pertanyaan main-main. Terpaksa Diana pun menjawabnya.

"Iya. Gue juga suka sama lo. Tapi itu nggak akan mengubah keadaan, Ga. Gue nggak bisa pacaran sampai gue benar-benar menghasilkan uang sendiri. Lo paham?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Asa di Ujung Sajadah#bukuke-2
9.2
Dalam buku kedua trilogi Women Power Series, Jihan Khairiyah menghadapi kehancuran rumah tangga di tengah kehamilan tua. Reuni membawa petaka saat suaminya, Tommy Wiranata, terjerat CLBK dengan Diana, tetangga yang dianggap saudara sendiri. Meski Tommy berdalih hanya khilaf, Jihan menyadari pengkhianatan emosional tetaplah perselingkuhan. Kini Jihan harus memilih antara bertahan demi nafkah atau pergi demi harga diri dari lingkaran dusta yang menyakitkan.
Sampul Novel Begitu Reinkarnasi, Kutukar Kondom Suamiku
8.8
Setelah dikhianati hingga mendekam di penjara dan didenda puluhan miliar akibat fitnah keji sahabatnya yang mengaku dihamili suaminya, sang protagonis mendapat kesempatan kedua untuk hidup kembali. Di kehidupan lalu, kebaikannya menampung sahabat yang mengaku korban KDRT justru berujung kehancuran keluarganya melalui bukti DNA palsu. Kini, terbangun di hari pertama sahabatnya menumpang, ia langsung menukar kondom suaminya dengan milik mertuanya untuk membalikkan keadaan.
Sampul Novel Di Jodohkan Dengan Om Galak
8.2
Nessa, mahasiswi cantik berkepribadian bebas, terpaksa menerima perjodohan dengan Arga, CEO dingin yang pernah ia temui dalam situasi buruk. Meski Arga masih dibayangi masa lalu, keduanya sepakat menjalani pernikahan kontrak selama setahun tanpa sepengetahuan orang tua. Namun, dinamika di antara mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu. Akankah cinta tumbuh di tengah rahasia ini, ataukah kembalinya masa lalu Arga akan menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Kubalas Selingkuh Suamiku dengan Indah
9.2
Zivanna Yahya mencintai Rio Wibisono dengan ketulusan yang tak terhingga. Namun, Rio justru memintanya untuk tidak mencintai terlalu dalam demi menghindari luka. Di tengah kerumitan tersebut, muncul Gregory Abel yang tidak memedulikan batasan moral. Baginya, mencintai milik orang lain adalah sebuah dosa paling indah, dan ia bertekad untuk memiliki Zivanna sepenuhnya. Kisah ini terjebak dalam pengkhianatan dan obsesi yang mengancam kebahagiaan mereka semua.
Sampul Novel Menggoda Ibu Tiriku
9.2
Demi membiayai pengobatan keluarga, Sierra Nevada bersedia menjadi istri kontrak seorang konglomerat tua. Namun, ia harus menghadapi Sebastian Sagala, putra tirinya yang tampan sekaligus sangat membencinya. Sebastian bertekad membuktikan bahwa Sierra hanya wanita rakus harta yang harus diusir. Ironisnya, saat Sebastian berusaha menjatuhkan Sierra, ia justru terjebak dalam gairah terlarang dan menginginkan ibu tirinya sendiri lebih dari apa pun.
Sampul Novel Paman Terobsesi Padaku
8.3
Dahulu, hidup Serena terasa sempurna bersama Paman Xavier dan kedua orang tuanya yang penuh kasih. Namun, tragedi kematian orang tuanya mengubah segalanya. Xavier mendadak menjadi sosok posesif yang mengekang seluruh ruang gerak Serena. Pria itu berubah menjadi ancaman mengerikan; ia bisa bersikap lembut jika dipatuhi, namun tak segan mengancam dengan pisau saat dibantah. Serena kini terjebak dalam obsesi gila pamannya yang menghancurkan hidupnya.