
GAIRAH CINTA PARTNER KERJA
Bab 3
Setelah satu tahun pacaran back street karena Prisa masih belum mau keluarganya tahu siapa Ozzie, Prisa ingin merayakan satu tahun jadian mereka berdua. Prisa mengajak Ozzie berlibur berdua. Semua biaya ditanggung oleh Prisa, karena ia tahu Ozzie tidak akan sanggup membayar liburan mahal yang dipilihnya. Mereka terbang dengan pesawat, dan Ozzie baru kali itu naik pesawat. Ia hanya mengikuti apa yang dilakukan Prisa. Meski hati kecilnya ingin menolak, namun jalan-jalan mewah seperti ini entah kapan dapat ia lakukan. Prisa membawa Ozzie menginap berdua saja di vila yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Ozzie merasa jengah, namun sikap Prisa yang biasa-biasa saja membuat ia pun menjadi santai.
Tiba di vila dan hanya tinggal mereka berdua, Prisa memeluk Ozzie. Tangan Prisa melingkar di leher Ozzie dan Ozzie melingkarkan tangganya di pinggang Prisa. Mereka saling berpandangan. Prisa berjinjit dan mencium bibir Ozzie. Tanpa menunggu lama, karena Prisa sudah memulainya, Ozzie pun memberi ‘perlawanan’ yang membuat Prisa mendesah. Saat Prisa melepaskan ciuman bibir dan dengan gerakan lembut ia menoleh ke arah lain, seperti memberi kode supaya Ozzie mencium pipi dan lehernya. Ozzie pun melakukannya. Hembusan napas Ozzie terasa hangat di telinga Prisa dan ia bergerak cepat karena tidak tahan dengan gerakan lambat dari Ozzie. Ia mencium leher Ozzie, membuka kaosnya dan melanjutkan ciuman ke dadanya. Ozzie terkejut namun menyukainya. Otaknya mulai saling bertengkar, antara teruskan dan berhenti.
Ozzie dengan sadar melepaskan pelukan Prisa. “Kita berenang yuk, sayang tuh kolam renang dianggurin,” katanya sambil tersenyum.
“Okey,” sahutnya pelan.
Ozzie melangkah mengambil tas dan memeriksa bawaanya.
“Mau ngapain?” tanya Prisa.
“Ganti celana pendek,” jawabnya sambil mencari celana yang ia inginkan.
“Nggak usah.” Prisa melepaskan kaos dan celana jeansnya. Ia langsung masuk ke kolam renang dengan pakaian dalam itu saja. Ozzie tercengang. Ia bergeming di tempat dan menatap Prisa yang mulai berenang.
“Ayo!” ajak Prisa.
Ozzie tidak lagi mencari celana pendek. Ia hanya membuka celana jeansnya dan terjun ke kolam renang dengan hanya mengenakan pakaian dalam. Begitu sampai di kolam renang, Prisa mendekatinya dan memeluk Ozzie. Ia kembali melingkarkan tangannya di leher Ozzie dan kakinya dipinggang Ozzie.
“Kamu nggak pernah berduaan sama cewek seperti ini?” tanya Prisa dan menatap Ozzie dengan tersenyum.
“Berduaan seperti ini, jelas nggak pernah. Baru sama kamu?”
“ML?”
Ozzie menggeleng. Prisa menjadi risau.
“Kamu pernah?” tanya Ozzie seperti bisikan, ia takut Prisa tersinggung.
“Kalo aku jawab sudah pernah, kamu marah?”
Ozzie menggeleng. Sejak putus dari Avanty, ia sadar bahwa pacaran zaman sekarang memang sebebas itu. Ia saja tidak berani karena belum sanggup bertanggung jawab.
“Kenapa tidak marah?”
“Bukan hal penting buat aku. Aku mencintai seseorang dengan tulus, tidak melihat masa lalunya. Selama ia juga menerima aku apa adanya. Kamu pernah?”
Prisa mengangguk lemah.
Ozzie mengusap punggung Prisa yang terendam air kolam. Diperlakukan seperti itu, Prisa mencium bibir Ozzie. “Terima kasih sayang,” bisiknya.
Ozzie mencium bibir Prisa yang berada dalam gendongannya di dalam kolam renang sebentar saja, dan ia mulai berenang. Sejatinya kolam renang memang untuk berenang bukan berendam. Prisa membiarkan Ozzie berenang bolak-balik sementara ia di tepi kolam saja. Sesekali Ozzie menciumnya sebentar dan kembali berenang lagi sampai ia merasa lelah dan berhenti. Prisa menarik Ozzie keluar dari kolam renang. Ozzie melihat seluruh tubuh Prisa yang hanya terbalut pakaian dalam dan ia menelan air liurnya sendiri karena melihat keindahan yang luar biasa di depannya.
“Zie,” panggil Prisa lembut saat mereka sudah membersihkan diri.
“Ya.”
“Bisa nggak kita melakukan ‘itu’?” tanya Prisa sambil menyusupkan kepalanya di dada Ozzie.
Ozzie tersentak. “Aku belum pernah Pris,” sahut Ozzie jujur.
“Mau nggak?” tanya Prisa sambil menatap Ozzie.
Ozzie mengangguk.
“Biarkan nalurimu yang menuntun,” bisik Prisa.
Mereka mulai saling mencium, melumat dan menyesap. Seluruh pikiran-pikiran yang berkecamuk di kepala Ozzie mulai dibungkam. Ia mengikuti keinginan tubuhnya untuk menyentuh ini dan itu, mencium ini dan itu, menggigit ini dan itu.
Saat Mereka sudah sama-sama polos, Prisa menghentikan Ozzie.
“Kamu bawa kondom?” tanya Prisa teringat sesuatu.
Ozzie menggeleng. Prisa lari ke depan dalam keadaan tidak mengenakan apa pun, dan kembali membawa tas tangannya, ia mencari sesuatu di sana dan menemukan bungkusan kecil. Ia membukanya dan memberikan isinya kepada Ozzie. Sayangnya Ozzie tidak mengerti harus bagaimana. Prisa hanya tersenyum kecil dan mengenakannya pada Ozzie yang terdiam dan mengamati. Prisa kemudian berbaring dan menyuruh Ozzie melakukan penyatuan. Prisa dengan senang hati menuntun Ozzie. Menyuruhnya cepat dan lambat, sampai ia menjerit karena pelepasannya, sementara Ozzie yang tidak mengerti segera mempercepat gerakannya sampai ada sesuatu yang ingin meledak dari dalam tubuhnya. Ledakan itu membuatnya menggeram, lemas diikuti perasaan nikmat dan bahagia. Ozzie turun dari atas tubuh Prisa dan berbaring di samping kekasihnya. Prisa tersenyum karena Ozzie bisa melakukan seperti yang ia harapkan.
Setelah itu, ada banyak liburan-liburan lain bersama Prisa. Mereka menikmati kebersamaan mereka sampai hubungan mereka diketahui oleh orang tua Prisa. Dengan mudahnya, papanya mengetahui siapa Ozzie. Mahasiswa beasiswa yang tidak punya apa-apa selain otaknya yang cerdas. Segera papanya tidak mengizinkan Prisa keluar rumah, bahkan untuk kuliah sekalipun. Ia memindahkan pendidikan Prisa ke luar negeri. Prisa berusaha untuk menemui Ozzie dan meminta kekasihnya itu untuk membawanya kabur. Ozzie hanya bisa menitikkan air mata. Ia tidak berani. Ia belum memiliki apa-apa. Ia tidak bisa membayangkan harus menghidupi Prisa sementara ia saja masih menanggung adik-adiknya. Prisa sangat kecewa. Sungguh sangat kecewa. Prisa meninggalkan Ozzie dan membenci keadaannya. Ia begitu mencintai Ozzie, namun pria itu tidak berani mengambil langkah yang berani. Walau ia sendiri tidak bisa membayangkan hidup tanpa kekayaan. Prisa pulang ke rumah orang tuanya dan mengikuti kemauan papanya untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri.
Sepeninggal Prisa, Ozzie sangat patah hati. Prisa adalah wanita pertama yang membuatnya menikmati kenikmatan dunia. Prisa adalah wanita yang memilihnya tapi ia tidak berani bertanggung jawab untuk kehidupan Prisa. Prisa adalah wanita pertama yang membuatnya mengerti bahwa kekuasaan dan uang menjadi penentu nasib seorang pria untuk bisa diterima oleh keluarga wanita.
Ozzie berusaha fokus pada kuliah dan mengacuhkan kehidupan percintaan. Ia tidak peduli saat teman-temannya mulai menjodohkan dengan mahasiswi baru. Ia fokus menyelesaikan kuliah lebih cepat dengan nilai sempurna. Setahun sebelum selesai kuliah, sebuah perusahaan asing ‘melirik’ Ozzie dan memintanya untuk mengikuti program yang setiap tahun mereka adakan untuk menjaring orang-orang cerdas dan bekerja di perusahaan mereka. Ozzie lulus tes dengan mudah. Di semester terakhir, sambil menyelesaikan skripsi ia sudah bekerja di perusahaan minyak internasional. Dengan mudahnya Ozzie menyelesaikan skripsi dengan nilai sempurna dan bekerja penuh waktu. Gaji yang diterima Ozzie tidak main-main. Ia menyerahkan tujuh puluh persen gajinya pada ibunya agar bisa diatur untuk keperluan ibu dan adik-adiknya. Buat Ozzie, sisanya cukup untuk keperluan dirinya, apalagi ia masih dibantu dengan membuat tulisan-tulisan di platform digital.
*
Setelah satu tahun bekerja Ozzie menerima bonus diluar gaji ke 13. Ia memberikan seluruh bonus kepada ibunya dan menikmati gaji ke 13nya saja. Keuangan keluarganya menjadi lebih baik. Ibunya sangat pintar mengatur uang, meski ia tidak lagi bekerja karena Ozzie menginginkan ibunya di rumah saja, membuka warung sambil menjaga adik-adiknya yang sudah remaja. Di tahun itu, atasan Ozzie meminta dirinya untuk bekerja di daerah terpencil untuk proyek yang baru saja dimulai. Ozzie menerima tugas itu dengan senang hati, karena bekerja di luar kota ia tidak perlu mengeluarkan biaya apa pun dan mendapat tambahan uang selain gaji. Ia bisa mengirimkan seluruh gaji kepada ibunya dan tunjangan proyek menjadi tabungannya.
Seluruh karyawan tinggal di mess yang disediakan perusahaan. Transport, makan dan cuci menjadi tanggungan proyek, sehingga mereka hanya fokus pada pekerjaan saja. Ozzie yang baru pertama kali bergabung di sebuah proyek sangat senang tinggal di sana. Ia tidak pernah mengeluh, walaupun beberapa teman-temannya mengeluh karena tidak ada hiburan di sana.
Buat Ozzie selama internet masih ada, berarti ia memiliki hiburan meski hanya mendengarkan musik dan menonton film. Sesekali mereka berkumpul dan bernyanyi-nyanyi bersama. Mess pria dan wanita dibedakan, tapi mereka boleh berkumpul bersama di area terbuka. Ozzie menghindari cinta lokasi dan lebih sering berada di kelompok yang isinya laki-laki saja.
Ada wanita yang Ozzie sukai, tapi wanita itu sudah menjadi pacar teman sekantornya. Sayangnya temannya tidak tergabung dalam proyek itu, mereka terpisah oleh jarak dan waktu. Teman wanitanya itu cukup dekat dengan Ozzie karena mereka bekerja di kontainer yang sama. Di proyek, kontainer dimodifikasi menjadi ruangan kerja dan ruangan lain-lain sesuai dengan kebutuhan. Jurusan kuliah dan jabatan yang sama di perusahaan itu, Ozzie menjadi dekat dengan Freya. Freya sangat terbuka mengenai hubungannya dengan Adam, dan Ozzie pun menceritakan kisah cintanya di masa lalu. Mereka saling bersimpati. Ozzie sangat menjaga hatinya untuk tidak jatuh cinta.
Bekerja di proyek setelah 90 hari, mereka diizinkan untuk pulang atau libur selama 14 hari. Jadwal kepulangan Ozzie dan Freya bersamaan karena 2 orang dengan posisi yang sama sudah tiba di sana beberapa hari yang lalu, sehingga mereka sudah menyerahkan pekerjaan mereka dan bersiap untuk pulang. Pagi-pagi sekali mereka sudah meninggalkan area proyek dengan menggunakan kapal kecil menuju pulau utama, memakan waktu sekitar 10 jam. Sampai di sana mereka masih harus menunggu pesawat kecil menuju pulau yang lebih besar lagi, di mana ada bandara besar. Menunggu dan naik pesawat kecil memakan waktu 3 jam. Mereka yang menerima jadwal yang sama sudah sangat bosan, namun begitulah waktu yang harus mereka lalui.
Sialnya Ozzie dan Freya hanya bisa sampai di daerah transit. Di sana perusahaan meminta Ozzie dan Freya membantu kantor cabang untuk mengurus beberapa pekerjaan selama satu minggu. Mereka diinapkan di hotel. Setiap pagi dijemput dan dibawa ke kantor. Di hotel tersebut kamar Freya dan Ozzie berhadap-hadapan sehingga untuk pergi dan pulang mereka selalu bersama.
Hari itu Freya sepertinya bertengkar dengan Adam di telepon. Sehingga Freya diam dan saat berjalan keluar dari lift dan berjalan menuju kamar ia menangis setelah ia bertahan cukup lama. Kontan, Ozzie memeluk Freya dan membiarkan gadis itu menangis di dadanya. Ozzie agak takut karena mereka di lorong hotel di mana hampir seluruh karyawan berada di lantai itu. Sangat berbahaya jika orang-orang mengetahui mereka berpelukan. Ozzie meminta kunci kamar Freya, ia menerima kartu yang menjadi kunci kamar Freya dan segera membuka pintu. Ia buru-buru membawa Freya masuk ke sana. Freya masih terus menangis di dada Ozzie. Mereka hanya dua langkah dari pintu, semoga tidak ada yang mendengar Freya menangis.
Setelah agak lama, Freya mulai tenang dan tangisnya berhenti. Ozzie menyuruh Freya untuk duduk di tempat tidur dan ia menyerahkan air mineral yang ada di kamar itu kepadanya. Freya menerima botol air mineral dan meminumnya. Ia menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Freya mulai tenang.
“Cuci muka Frey, biar segar,” kata Ozzie pelan.
Freya menurut. Ia bangkit berdiri dan masuk ke toilet dan membersihkan wajahnya. Ozzie duduk di sebuah kursi yang ada di kamar itu dan menanti Freya keluar.
“Gimana, sudah tenang?” tanya Ozzie melihat Freya sudah mencuci muka dan berhenti menangis.
Freya mengangguk.
“Oke, aku tinggal ya. Mending istirahat sebentar dan mandi. Kita turun lagi buat makan malam.” Ozzie berdiri dan membuka pintu, ia mengecek dulu apakah aman untuknya ke luar dari kamar Freya. Begitu dilihatnya lorong kosong, ia segera meninggalkan kamar Freya dan masuk ke dalam kamarnya.
Ozzie langsung melepaskan tas dan bajunya. Ia langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menyegarkan diri. Setelah itu baru membereskan barang dan bajunya yang ia buka begitu saja. Kemudian ia berbaring sambil menunggu jam makan malam. Ia menyetel tv dan memilih saluran film.
Ibunya menelepon saat Ozzie sedang berbaring. Ia lupa memberitahukan ibunya bahwa kepulangannya diundur. Begitu ibunya tahu bahwa Ozzie sehat dan kepulangannya di undur, ia merasa tenang dan memberikan nasehat pada Ozzie yang disambut baik olehnya. Baru saja ia memutuskan hubungan telepon saat bel kamarnya berbunyi. Ozzie segera bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu.
Freya langsung masuk ke kamar Ozzie dan memeluknya. Freya menangis lagi di dada Ozzie. Ia tidak habis pikir ada tangis babak kedua. Ozzie memeluk Freya dan membelai kepalanya dengan kanannya sementara tangan kirinya berada di punggung Freya. Ozzie mencium wangi harum dari rambut Freya yang basah. Gadis itu baru mandi dan keramas. Entah Freya sadar atau tidak, ia menggunakan gaun setali dan tidak menggunakan bra. Ozzie bisa merasakan payudara Freya ditubuhnya. Kulit Freya juga bersentuhan dengan kulitnya.
Ozzie mengangkat kepala dengan kedua tangannya. Freya menatap Ozzie demikian juga sebaliknya. Ozzie memberanikan diri mencium bibir Freya. Ia melupakan status Freya yang adalah pacar Adam, teman sekantornya. Dorongan kesedihan Freya membuat gadis itu tidak melawan dicium Ozzie. Freya bahkan mendapatkan dorongan entah dari mana untuk membalas ciuman itu. Sebentar saja ciuman itu menjadi lumatan yang penuh gairah. Ozzie yang pernah terbiasa dengan Prisa mengangkat gadis itu dan merebahkannya di tempat tidur. Ozzie mulai mengeksplorasi Freya yang membiarkan Ozzie menciuminya. Freya memejamkan mata dan mulai mendesah saat Ozzie mulai menyesap payudaranya meremas mereka bergantian. Ozzie mulai berani turun ke bawah karena ia melihat Freya mulai menikmati aktifitasnya. Tubuh indah Freya yang selama ini tertutup oleh baju kerja sekarang terlihat jelas. Tubuh mulus itu sudah polos tanpa sehelai benang. Ozzie mengaguminya sebentar dan mulai melanjutkan permainannya. Sesaat Freya tersadar bahwa ia belum pernah melakukannya sama sekali. Ciuman mereka membuat ia mengerang dan mengalirkan getaran aneh di seluruh tubuhnya. Tubuh mereka semakin panas dan semakin bergairah. Freya mengabaikan pikiran bahwa ia belum pernah melakukan hal itu. Ozzie berhenti sesaatu membuat Freya membuka matanyadan melihat tubuh atletis Ozzie yang juga sudah tidak mengenakan apa-apa. Freya terkejut melihat milik Ozzie. Ia belum pernah melihatnya pada laki-laki dewasa. Mata Freya membulat dan membayangkan itu masuk ke dalam tubuhnya. Freya melihat Ozzie memasang karet yang ia baru buka dalam bungkusnya. Freya sadar bahwa itu sebuah kondom. Selesai memasangnya, ia melihat Freya yang menatapnya. Ozzie langsung mencium bibir Freya dan melumatnya sehingga gadis itu melupakan apa yang baru saja dilihatnya. Ozzie membawa kejantanannya ke organ intim Freya. Gadis itu menggigit bibirnya, tatkala Ozzie menciumi lehernya dan membuat ia tenang dan membuka kedua kakinya, ia ingin bercinta dengan Ozzie. Ia wanita dewasa yang sudah siap pada hal ini. Ozzie menyelipkan tangannya di belakang kepala Freya dan kembali melumat bibir Freya. Gadis itu mengerang pelan karena merasakan sesuatu benda asik masuk ke dalam tubuhnya. Meluncur lambat. Freya berada di keraguan namun ciuman lembut Ozzie menenangkannya. Ia terus menutup mata.
Ozzie melihat wajah Freya yang tegang, dan berpikir bahwa ini adalah pertama kalinya Freya melakukannya. Seperti juga Ozzie dulu ditenangkan oleh Prisa, demikianlah ia menciumi Freya agar gadis itu tenang dan rileks. Ozzie melakukan penyatuan perlahan, berusaha tidak menyakiti Freya. Ketika penyatuan telah sempurna, Ozzie menahannya sebentar agar Freya bisa beradaptasi dengan benda asing yang masuk ke dalam tubuhnya. Kemudian Ozzie mulai bergerak perlahan-lahan dan ia meresa tenang karena desahan Freya dan tersenyum saat nama Ozzie disebut oleh Freya.
Entah mulai kapan, Freya tidak lagi memikirkan rasa sakit dan mulai fokus pada gairah yang dihasilkan olehsetiap gerakan mereka bersama. Freya menyesuaikan diri, dan menikmati gesekan tubuh Ozzie pada payudaranya. Kemudian klimaks membuat Freya menjerit, ia kaget mendengar suaranya sendiri dan wajahnya bersemu merah dipandangi Ozzie yang tersenyum. Tidak lama suara erangan dari Ozzie terdengar merdu ditelinganya.
Mereka tidak menghitung berapa lama mereka melakukannya. Freya pamit dari kamar Ozzie dan kembali ke kamarnya. Ozzie melihat seprei putih dengan noda darah. Ada perasaan menyesal, sekaligus perasaan bahagia berkecamuk dihatinya. Ozzie menarik seprei dan mencucinya dengan sabun mandi supaya noda darah itu hilang. Setelah beres ia membersihkan diri dan turun lebih dulu ke restoran untuk makan malam. Ia bertemu dengan teman-teman lain yang sudah lebih dulu tiba di sana. Ozzie bergabung dengan teman-teman prianya. Ia melirik ke arah Freya yang turun tiga puluh menit kemudian. Mereka tidak bertemu pandang, Freya sengaja menghindari tatapan Ozzie. Ia bergabung dengan teman-teman wanitanya yang hanya tiga orang.
Selesai makan malam, Ozzie dan teman-temannya keluar dari hotel dan berdiri di sebelah kanan lobi. Sebagian dari mereka merokok, Ozzie hanya ikut berbincang-bincang. Ia tidak merokok tapi bisa menerima berada di antara teman-temannya. Saat mereka ingin segera tiba di rumah karena rindu anak dan istri, Ozzie justru ingin berada di situ, karena apa yang sudah ia dan Freya lakukan barusan. Ozzie tidak tahu pasti jika Freya masih mau berhubungan dengannya.
Cukup lama juga ia ngobrol dengan teman-temannya dan Ozzie pamit untuk masuk kamar lebih dulu. Ia menghiraukan ledekan teman-temannya karena Ozzie selalu tepat waktu untuk tidur.
Justru di kepala Ozzie bukan ingin segera tidur. Ia tidak melihat jejak teman perempuan di restoran dan di kursi lobi. Ozzie mengambil kesimpulan bahwa perempuan-perempuan sudah naik ke kamar mereka masing-masing. Ozzie perlahan jalan di Lorong. Saat ia akan masuk kamar, ia melihat pintu kamar Freya terbuka tipis. Tanpa pikir panjang Ozzie segera mendorong pintu dan masuk ke dalam, menutup pintu dan menguncinya. Freya langsung memeluk Ozzie dan mereka berciuman. Tidak lagi dengan malu-malu. Tidak lagi merasa sungkan.
Anda Mungkin Juga Suka





