
Gairah Ceo Arogan
Bab 2
Wanita berparas cantik dengan pakaian sederhana tersebut pun menoleh. "Maaf, ada yang bisa saya bantu?" ucapnya dengan ramah.
Kedua pria tersebut saling tatap, mereka heran dengan wanita yang ada di depan mereka. Seolah tak mengenali kedua pria yang setiap hatinya melayaninya, dan cara bicara pun sudah berubah.
"Nona Asley, nona muda Jeslyn sangat merindukan anda, dan tuan Adam sangat marah karena anda yang meninggalkan rumah begitu saja, di tambah anda telah berbohong dan tertangkap basah tengah berselingkuh. Jadi, sebaiknya anda segera ikut kami pulang sebelum tuan muda benar-benar tak bisa lagi memaafkan anda."
"Emm, maaf aku tidak mengerti maksud kalian. Sepertinya kalian salah orang. Namaku Alin, bukan Asley," jawab wanita yang mengaku bernama Alin dengan nada bicara yang sangat lembut.
Kedua pria tersebut kembali saling tatap, lalu salah satu dari mereka menatap ke arah Alin. "Nona Asley, tolong jangan berpura-pura lagi, waktu anda untuk bersantai dengan bebas sudah selesai, dan kami merasa lelah mencari anda selama ini."
"Sudah aku katakan namaku bukan Asley, tapi Alin. Sebenarnya siapa kalian ini?" tanya Alin.
"Mungkin dia sedang pura-pura, atau mungkin lupa ingatan," bisik salah satu pria pada rekannya.
"Kita pakai cara berikutnya saja. Aku tidak mau buang-buang waktu." Rekannya tersebut pun mengangguk, dan mereka berlalu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Ck, dasar orang-orang aneh," gumam Alin sambil menggelengkan kepalanya.
Alin, kembali bekerja di toko bunga seperti biasa. Setelah sore, ia pun pulang melewati jalan yang biasa ia lewati. Namun hari ini sesuatu yang tak pernah ia duga terjadi padanya.
Sebuah mobil mengikutinya, lalu berhenti tak jauh di depannya, tepat di tempat yang sepi. Alin tak begitu curiga melihat pria yang ia temui siang tadi. Pria tersebut melangkah cepat menghampiri Alin, dan saat Alin melihat tangan pria tersebut yang menggenggam sebuah sapu tangan, saat itu juga firasat Alin mulai tak baik.
Alin berbalik arah dan hendak berlari, sayangnya pria tersebut lebih cepat mendapatkannya, dan langsung membekap mulutnya sebelum ia sempat berteriak meminta pertolongan.
Alin limbung dan langsung tak sadarkan diri. Ia dibawa ke dalam mobil dan dibawa ke suatu tempat.
Adam menatap wanita yang menjadi istrinya tersebut, yang kini terbaring di atas ranjang tak sadarkan diri. Tatapan Adam penuh amarah yang tak terbendung lagi.
"Apa kamu pikir dengan berpenampilan seperti ini akan membuat aku tak mengenalimu?" gumamnya.
Dengan penuh kekesalan Adam menaiki ranjang, dan menindih kaki gadis tersebut.
Merasa ada seseorang di atas tubuhnya, Alin pun membuka mata. Ia sangat terkejut saat menyadari apa yang sedang terjadi. "Kamu siapa?" ucapnya lirih penuh kepanikan.
"Jangan berusaha membodohiku. Katakan padaku apa alasanmu menghianatiku, Asley!" bentak Adam.
"Aku bukan Asley. Kamu salah orang."
"Diam!" bentak Adam. Ia menggapai pipi Alin dan mencengkramnya kuat. "Jangan berusaha membodohiku Asley! Kamu tahu siapa aku dan tahu bagaimana perjanjian kita! Kamu mencari laki-laki lain hanya karena kurang puas denganku, hah!" bentak Adam kembali.
"Apa maksud— emm," ucapan Alin terpotong saat Adam langsung menyambar bibirnya. Sayangnya tubuhnya masih lemas hingga membuatnya tak bisa melawan.
"Eeemmm!" rintih Alin berusaha menghindar dari ciuman Adam. Namun alih-alih berhenti, Adam justru semakin mengganas. Ia terus mencumbui Alin penuh nafsu dan amarah. Pengkhianatan yang di lakukan Asley kelewat batas dan tanpa ampun.
"Aku mohon hentikan, aku bukan wanita yang kamu maksud," ucap Alin,rapi tak dihiraukan Adam.
Adam melepas semua pakaian Alin hingga membuat gadis tersebut tak memakai sehelai kain pun.
"Aku mohon dengarkan aku, kamu salah orang," ucap Alin lirih di tengah serangan Adam. "Tolong hentikan," ucapnya kembali tanpa mendapat kepedulian dari Adam.
"Ini yang kamu inginkan! Ini yang kamu mau hingga lebih memilih berkhianat, hah? Sudah aku katakan jangan pernah menghianatiku, maka apapun yang kamu inginkan akan kamu dapatkan. Tapi kenyataannya apa?" ucap Adam sambil terus menghujam Alin.
Alin hanya bisa menangis, tubuhnya yang baru sadar dari pingsan tak bisa memberontak sedikitpun. Ia hanya bisa menangis menerima hujaman dari Adam yang tak kunjung berhenti.
Sakit di tubuh dan hatinya menjadi satu. Ia sama sekali tak mengenal pria yang kini tengah menikmati tubuhnya, tapi ia pun tak bisa menghentikannya, dan itulah yang membuat ia semakin hancur.
Berbeda dengan Adam yang mengira jika saat ini ia tengah memberikan hukuman pada Asley, istri yang telah membuat ia murka dengan pengkhianatannya.
"Aaahkkk….!" Adam mengerang saat ia sampai puncaknya. Namun ada hal yang mengejutkannya setelah ia menarik tubuh dari tautannya pada Alin.
Sebuah bercak merah yang menodai sprei putih membuatnya terdiam sesaat. Ia menatap ke arah Alin yang terkulai lemas dengan isakan dan air mata di wajahnya.
Adam yang tak peduli akan perasaan Alin menunjukan betapa egois dan arogannya dia. Ia mengambil pakaiannya dan berlalu pergi meninggalkan kamar begitu saja. Menuruni anak tangga dengan langkah tanpa rasa bersalah.
"Kamu memaafkannya?" tanya seorang wanita membuat Adam menghentikan langkahnya.
Anda Mungkin Juga Suka





