
Gairah Ceo Arogan
Bab 3
"Ya," jawab Adam singkat sambil menatap wanita yang tak lain adalah Linda, ibunya.
"Adam, bagaimana bisa kamu memaafkan wanita jalang itu! Dia menghianatimu!" pekik Chelsea, wanita yang sangat di inginkan Linda untuk jadi menantunya. Sayangnya Adam selalu menolak dan tak pernah peduli dengan keinginan sang ibu.
"Karena Jeslyn membutuhkan ibunya," jawab Adam.
"Dia bukan ibu kandung Jeslyn, Adam!" pekik Chelsea kembali.
Adam menoleh ke arahnya sambil menyunggingkan senyuman. "Bagiku dia adalah ibu Jeslyn saat ini," ucapnya sambil kembali mengayunkan langkah kaki.
"Kamu mau kemana?" tanya Linda kembali membuat Adam menghentikan langkah.
"Mencari ketenangan," jawab Adam. Ia hendak melangkahkan kakinya kembali, tapi terhenti seketika dan kembali menoleh ke arah sang ibu. "Aku harap mama bisa memberi tahu semua orang agar tidak masuk ke kamar Ashley. Siapapun termasuk dia," ucap Adam sambil menatap ke arah Chelsea.
Adam berlalu tanpa menoleh kembali, sementara Linda hanya bisa menghela nafas menahan kesalnya. Andai saja semua harta peninggalan suaminya atas namanya, mungkin dia tidak akan semenurut dan setakut itu terhadap Adam.
"Tante, apa yang harus kita lakukan?" tanya Chelsea merengek seperti anak kecil.
Linda hanya melirik ke arah Chelsea, laku kembali duduk. Ia menatap ke lantai atas dengan perasaan kesal.
"Adi bilang jika mobil wanita jalang itu masuk jurang bersama pacarnya, dan ia memastikan jika mereka tidak mungkin selamat. Tapi kenapa kenyataannya si jalang itu baik-baik saja?" ucap Linda.
"Mungkin dia pura-pura mati agar Adam memaafkannya, tante," sahut Chelsea.
"Dia benar-benar wanita licik dan sangat pintar bersandiwara," ucap Linda kembali.
Sementara di kamar, gadis yang dianggap sebagai Asley kini tengah berusaha menggapai pakaiannya. Berjalan setengah menyeret badan menuju kamar mandi, memeluk pakaian yang terlepas secara paksa dari tubuhnya, di iringi air mata yang tak kunjung berhenti.
Ia membersihkan tubuhnya yang terasa sudah menjadi hina baginya. Menangis dan semakin menangis kala mengingat kesucian yang sudah di renggut paksa oleh pria yang baru pertama kali ia temui.
Ia kembali menaiki ranjang, meski tak tahu persis di mana ia saat ini. Namun yang pasti saat ini yang ia inginkan adalah beristirahat.
Alin kembali membuka matanya. Melihat waktu di jam dinding yang menunjukan pukul enam pagi. Ia turun dari ranjang, meringis kesakitan di bagian intimnya, lalu kembali menyeka air matanya.
"Aku harus segera pergi dari tempat ini," ucapnya. Ia mencari tas kecil miliknya, tapi di setiap sudut kamar tak ia temukan. "Apa mungkin mereka sudah membuangnya?" gumam Alin kembali.
Ia yang kini merasa lebih baik, memberanikan diri untuk keluar dari kamar. Ia tak peduli lagi dimana mereka menyimpan tas miliknya. Yang terpenting saat ini adalah meninggalkan tempat asing yang bagai neraka baginya itu.
Alin memberanikan diri keluar kamar, tapi ia sangat terkejut mendapati rumah yang ternyata sangat besar dan mewah. Ia melangkah, mengendalikan seperti maling menuruni tangga. Sakit di bagian intim tak ia pedulikan, meski terasa sangat perih.
"Apa kamu mencoba kabur?"
Sura Linda mengagetkan Alin, ia pun segera menoleh ke arah suara tersebut yang berada di atas anak tangga.
Linda menuruni anak tangga, mendekat ke arah Alin yang berhenti di tengah anak tangga. "Setelah kabur dengan pria lain, sekarang kembali dengan penuh kepura-puraan. Heh, dasar tidak tahu malu," ucap Linda sambil menyunggingkan senyuman.
"Maaf, tapi aku benar-benar tidak tahu apa yang anda katakan. Aku hanya ingin pergi dari sini, dan—"
"Pergilah. Pergi dan jangan pernah kembali," ucap Linda memotong ucapan Alin. "Aku rasa aku tidak perlu menunjukan di mana letak pintu rumah padamu," imbuhnya.
Alin menggeleng. Ia tidak tahu persis wanita yang ada di hadapannya, tapi ia yakin jika wanita tersebut tak lebih baik dari pria yang memperkosanya. Ia pun memilih untuk menghindar daripada menambah masalah, kembali melangkah menuruni anak tangga.
Namun sayangnya baru beberapa langkah ia menuruni anak tangga,Linda sambil menyunggingkan senyum tiba-tiba mendorongnya dari belakang.
"Aaahkkk……!" pekik Alin saat tubuhnya menggelinding menuruni anak tangga. Meski anak tangga itu sudah tidak terlalu tinggi, tapi tetap saja hal tersebut berhasil menambah rasa sakit di tubuhnya.
Alin meringkuk di bawah tangga kesakitan, tapi tak ada yang datang menolongnya, meski beberapa pelayan melihatnya.
Linda dengan santainya menuruni anak tangga, lalu mensejajarkan tubuhnya pada Alin. "Jangan terlalu banyak sandiwara, jalang," ucap Linda lalu berdiri tanpa terlihat iba sesikitpun, ia bahkan berjalan melangkahi tubuh Alin yang tengah kesakitan dan membiarkannya terkulai di lantai.
Setelah Linda pergi, baru ada seorang pelayan yang mendekat ke arah Alin. "Nona Asley, apa anda baik-baik saja," ucapnya sambil membantu Alin untuk berdiri.
"Kenapa semua orang menganggapku sebagai Asley?" tanya Alin.
"Memangnya anda bukan nona Asley?" tanya Pelayan tersebut yang langsung di jawab gelengan kepala Alin.
Kleeekkkk….
Pintu rumah terbuka. "Apa yang terjadi?" tanya Adam yang sepertinya baru pulang pagi ini.
Anda Mungkin Juga Suka





