
Gadis Terbuang vs Raja Bisnis
Bab 3
Sejak kejadian di lobi, Olivia tak bisa menghapus bayangan pria itu dari pikirannya. Alexander Drake. Nama itu berputar-putar di kepalanya sepanjang perjalanan pulang. Ia mencoba mengabaikannya, mencoba berpikir logis-apa pentingnya seorang CEO yang meliriknya sesaat? Toh, dia pasti sudah melupakan kejadian tadi.
Namun, mengapa ada sesuatu dalam sorot mata pria itu yang terasa begitu... berbeda?
Olivia menghela napas saat tiba di apartemen kecilnya. Ia membuka pintu, meletakkan map coklat yang kini terasa berat di meja, lalu menjatuhkan diri ke sofa yang sudah mulai usang. Seharian berjalan mencari pekerjaan membuat tubuhnya lelah, tapi pikirannya justru berputar semakin liar.
Ponselnya tiba-tiba bergetar, membuatnya tersentak. Ia mengerutkan kening saat melihat nomor tak dikenal di layar.
"Hallo?"
"Halo. Apakah ini Olivia Carter?"
Suaranya formal, profesional.
"Ya, saya sendiri. Dengan siapa saya berbicara?"
"Saya dari departemen HRD di Drake Corporation."
Jantung Olivia hampir berhenti.
"Kami telah meninjau lamaran Anda dan ingin mengundang Anda untuk wawancara besok pagi pukul delapan. Apakah Anda bisa datang?"
Olivia terdiam sejenak, mencoba memahami situasi ini. Bukankah tadi siang ia baru menyerahkan CV-nya? Tidak mungkin mereka sudah meninjaunya secepat itu. Ada sesuatu yang tidak biasa di sini.
Tapi ini adalah kesempatan yang sudah lama ia tunggu.
"Tentu, saya akan datang," jawabnya cepat.
"Bagus. Silakan langsung ke lantai 20, ruang wawancara utama."
Telepon terputus. Olivia masih terpaku, memegang ponsel di tangannya seakan benda itu baru saja memberikan takdir baru baginya.
-*
Keesokan paginya, Olivia berdiri di depan gedung Drake Corporation sekali lagi. Kali ini, ia mengenakan blus putih yang ia setrika dengan hati-hati tadi malam dan rok pensil hitam sederhana. Rambut cokelatnya dikuncir rapi, dan ia memastikan wajahnya terlihat segar meski tak banyak mengenakan riasan.
Sambil menarik napas dalam, ia melangkah masuk.
Setelah melapor di resepsionis, seorang petugas mengantarnya ke lantai 20. Ruangan itu terasa lebih sunyi dibandingkan lantai bawah, dengan suasana yang lebih profesional dan tertutup. Saat memasuki ruang wawancara, Olivia mendapati seorang wanita berusia sekitar empat puluhan yang duduk di balik meja besar.
"Silakan duduk, Nona Carter."
Olivia menurut, duduk tegak, mencoba menenangkan debaran jantungnya.
"Terima kasih telah datang. Kami melihat latar belakang Anda dan ingin tahu lebih banyak tentang pengalaman Anda."
Olivia mengangguk, mulai menjelaskan riwayat pekerjaannya yang terbatas, pengalaman magang yang ia miliki, dan keterampilannya.
Namun, sebelum wawancara benar-benar berlangsung jauh, pintu ruangan terbuka.
Langkah berat memasuki ruangan, dan Olivia langsung menegang saat melihat siapa yang datang.
Alexander Drake.
Pria itu berjalan masuk dengan tenang, tangannya terselip di saku celana jasnya, dan matanya langsung tertuju padanya.
Wanita HRD yang tadi mewawancarainya segera berdiri dengan hormat.
"Pak Drake, apakah Anda ingin saya-"
"Tidak perlu," potongnya singkat. "Saya sendiri yang akan menangani ini."
Olivia bisa merasakan ketegangan dalam ruangan itu meningkat drastis. Wanita HRD itu tampak ragu sejenak sebelum mengangguk dan segera meninggalkan mereka berdua.
Kini hanya ada mereka berdua di dalam ruangan.
Olivia menelan ludah. "Pak Drake..."
"Kau menginginkan pekerjaan di perusahaanku?" suaranya dalam dan terkontrol, tapi ada sesuatu dalam nadanya yang membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat.
Olivia mencoba menguatkan dirinya. "Ya, saya melamar karena saya memiliki keterampilan yang mungkin bermanfaat bagi perusahaan ini."
Alexander menatapnya lama, seolah sedang menilai sesuatu dalam dirinya.
Lalu, ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, jemarinya bertaut di atas meja.
"Aku punya tawaran lain."
Jantung Olivia berdebar keras. "Tawaran lain?"
"Kau tidak akan bekerja di departemen biasa. Aku ingin kau menjadi asistensi pribadiku."
Olivia nyaris kehilangan kata-kata. "Tapi... saya tidak memiliki pengalaman untuk itu."
"Aku akan mengajarimu."
Tatapan itu kembali menusuk ke dalam dirinya, membuatnya sulit bernapas.
Olivia tahu ada sesuatu yang tersembunyi di balik tawaran ini. Tapi pertanyaannya-apakah ia siap menerimanya?
Anda Mungkin Juga Suka





