
Gadis Tanpa Ayah
Bab 2
Jalanan Ibu Kota padat merayap. Bersileweran anak-anak manusia dibawah kolong langit yang mulai memerah, dengan cahayanya yang masih terang benderang dengan meninggalkan hangatnya mentari di kulit, siap untuk menjemput malam. Dengan gesit Suci melajukan motornya. Walaupun terhalang kemacetan tidak memupus niatnya. Akhirnya sampai juga ditujuan. Suci memarkirkan Honda Beatnya di pinggir warung nasi campur. Lalu menjinjing keranjang ke dalam warung.
"Ee ... Cece sudah datang, ayo masuk sudah bibi siapin semuanya," sapa Bi Ati pemilik warung langganan Suci. Bi Ati mengambil keranjang bawaan Suci lalu menyusun nasi bungkus sampai penuh di kedua keranjang tersebut. Ditambah dua kantung besar yang isinya juga nasi bungkus. Kemarin Suci pesan 200 bungkus, lebih banyak dari biasanya. Kalau di akhir pekan hanya 75 bungkus kadang lebih tergantung dana sumbangan.
" Ini bi uangnya, aku lebihin dua lembar Bi." Suci menyerahkan lembaran merah, dari dalam tas kerjanya disambut Bi Ati dengan senang.
"Masya Allah ... makasih banyak Ce, semoga Cece diberikan kesehatan selalu, dijauhkan dari hal-hal buruk, berkah melimpah buat Cece."
" Amin ... doa yang sama juga buat Bibi. Aku cabut dulu ya Bi."
Bi Ati menatap kepergian Suci yang sudah menghilang di ujung jalan. Ada rasa haru dan takjub.
"Kok ada ya jaman sekarang gadis seperti dia, sempetin waktu untuk peduli sama orang lain, udah cantik, baik hati lagi. Semoga kamu selalu dilindungi nak, jangan putus berbuat kebaikan." Bi Ati berbicara pada dirinya sendiri sambil melanjutkan pekerjaannya. Ia selalu kagum dengan sosok Suci.
Avanza putih dari kejauhan setia membuntuti Suci. Memantau gerak gerik Suci dari jarak yang aman. Di ujung lampu merah, sekitar sembilan anak mulai berhamburan menuju Suci saat dia memarkirkan motornya. Mereka berlarian dengan dagangan asongan mereka tanpa merasa terbebani. Tampak rona kebahagiaan dari wajah-wajah kucel mereka.
"Hore ... Cece datang!" Tanpa sungkan mereka saling berebutan memeluk Suci. Ia balas memeluk mereka tanpa rasa jijik. Tingkah mereka menarik perhatian orang-orang yang berlalu lalang. Perbedaan yang mencolok dari penampilan mereka yang bagaikan langit dan bumi menjadi tanda tanya.
"Loh kok kucel begini." Suci menepuk lembut dan mengusap kepala mereka satu per satu.
"Mana baju yang hari itu Cece belikan Dam, udah Cece bilangkan jangan pake baju seperti gini," ujar Suci pada bocah yang bernama Adam, sambil membetulkan kancing kemeja yang lusuh dan nampak kumal dengan sobekan di sana sini.
"Kata bapak jangan pake baju bagus nanti nggak ada yang kasian, jualan Adam nanti nggak laku." ujar bocah sembilan tahun itu.
"Memangnya Adam mau jualan atau ngemis?"
"Jualan Ce."
"Nah Adam niatnya untuk jualankan? kalau pake baju seperti gini malah orang nggak tertarik untuk beli jualan Adam. Apalagi yang dijual makanan. Nggak boleh lho mengharapkan pengasihan orang lain, nanti Tuhan ma ...."
"Rah ... " sambut anak-anak itu kompak.
"Tadi sekolahkan?"
"Sekolah!" jawab mereka kompak.
"Yuk makan dulu ... yang lain kemana?" tanya Suci sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling tapi tidak tampak yang lainnya. Suci menatap bocah-bocah di depannya, mereka saling pandang-pandangan lalu menunduk tanpa menjawab.
"Yang lain kemana?" tanya Suci lagi dengan kening mengerut.
"Mereka di tempatnya Kang Badri, dipaksa ngemis lagi Ce," jawab tuti yang langsung disikut sama Adam.
"Huuss ... jangan bilang-bilang nanti kang Badri pukul kamu," bisik Adam pelan namun masih terdengar oleh Suci.
"Tuti nggak takut, kan ada om Polisinya Cece," balas Tuti.
"Jadi Kang Badri masih ngotot untuk paksa yang lain ngemis lagi ya?" Mereka serempak menggangguk. Suci menghela napasnya dalam-dalam, perlahan lepaskan. Sudah berkali-kali Badri berurusan dengan Polisi karena memaksa anak-anak dibawah umur untuk mengemis.
"Yah sudah makan dulu ...." Suci membagikan nasi bungkus lalu mengeluarkan tissu basah dan hand sanitizer yang sudah disiapkannya.
"Cece, aku nambah ya buat Mak di rumah, Mak sakit tidak bisa masak," tukas Fadil.
"Loh Mak sakit apa Dil," tanya Suci.
"Demam aja Ce, tadi Fadil udah belikan obat dari tabungan Fadil."
Suci melirik arlogi di tangannya. Niat hati untuk menjenguk Mak Fadil tapi takut kemalaman, apalagi nasi bungkusnya masih banyak.
"Nih gantiin tabungan kamu, sekalian beliin Mak obat ya. Bukanya kamu nabung buat beli sepatu, kalau ada apa-apa hubungi Cece aja. kalau masih sempet nanti Cece mampir."
Suci menyodorkan uang lima puluh untuk Fadil. Sebenarnya Suci bisa memberikan lebih tapi Suci dalam proses mengajarkan mereka untuk menabung dan mandiri.
"Yang lain tabungannya amankan, jualannya gimana masih bisa muter nggak?"
"Aman Ce, malah bisa nabung lebih dari hari sebelumnya," ujar Adam.
Suci tersenyum, bahagia rasanya sudah mulai berhasil mengajarkan mereka, untuk sisihkan sebagian buat ditabung. Tidak sia-sia Suci modalin mereka, yang sebelum ketemu dengannya hampir sebagian besar ngemis. Sebenarnya Suci mau melarang mereka jualan biar fokus sekolah saja, tapi tuntutan ekonomi mengharuskan seperti itu. Suci sendiri belum dapat berbuat banyak, ia masih memikirkan solusinya seperti apa.
Sambil melambaikan tangan Suci melajukan motornya, bocah-bocah cilik itu balas melambai dengan senyum yang mengembang.
Avanza hitam masih setia mengekori. Suci mulai menyadarinya dari spion. Lalu menghentikan motornya di pinggir jalan. Ia ingin memastikan apakah benar mobil itu mengikutinya atau hanya perasaannya saja. Gadis cantik itu mengambil ponselnya dan menelpon sambil melirik kearah mobil tersebut, dan benar saja mobil itu sedang parkir di kejauhan. Nada panggilan berbunyi berulang-ulang tapi tidak di angkat. Suci kembali memacukan baet merah itu di antara kuda besi lainnya yang sedang berbaris rapi bergerak perlahan. Ia memutar belok di gang sempit mencoba mengelabui penguntit itu. Setelah merasa aman. Suci kembali masuk jalan besar lalu menuju pangkalan anak jalanan.
Sekitar tiga puluh anak-anak dengan rentang usia enam sampai delapan belas tahun terlihat sedang sibuk di rumah petak, yang disewa Suci untuk tempat mereka berkarya. Tiga orang dari mereka berdiri lalu mengangkat keranjang dan kantong yang dibawa Suci.
"Di bagikan Jo, yang keranjang satunya tolong bawakan ke tempatnya Sari." Sari merupakan ketua di komunitas perempuan anak jalanan berada tiga blok di belakang gang.
"Wah ... ada proyek rupanya." Suci mengedarkan pandangannya begitu masuk, di seantero ruangan yang tidak terlalu besar itu, banyak potongan-potongan bambu yang sebagian besar sudah dijadikan gantungan kunci. Anak-anak yang sedang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing, langsung berdiri menyalami Suci.
"Iya Ce, Rumah Singgah Peduli mengadakan Talk Show di Depok jadi pesan gantungan kunci untuk cenderamata," ujar Rudy ketua kelompok komunitas. Komunitas Kami Bisa, di bentuk oleh anak-anak jalanan dari berbagai latar belakang ada yang pengemis, pengamen, gelandangan dan lainnya.
Mata Suci memincing ketika melihat mobil yang terparkir di ujung jalan.
"Kenapa Ce?" tanya Rudy mengikuti arah pandangan Suci.
"Mobil itu ngikuti Cece dari tadi Rud," Suci menunjuk dengan dagunya. Rudi dan lainnya serempak berdiri, sebagian langsung berjalan ke arah mobil tersebut.
Seperti dikomando mereka serempak merangsek maju, dengan bambu di tangan mereka.
Suci terpaku, seperti ini kah mereka? Hampir dua tahun bersama tapi baru kali ini mereka menunjukan sifat rimba mereka. Sikap yang ekstrem seperti sudah melekat dengan jiwa. Karakter yang terbentuk karena kerasnya kehidupan jalanan sewaktu-waktu membuat mereka bertindak di luar kehendak mereka.
"Eh ... ngapain? ayo balik!" teriak Suci. Namun mereka tidak menghiraukan. Dengan lincah mereka melangkah.
Anda Mungkin Juga Suka





