
Gadis Rahasia Kapten
Bab 2
Tembakan-tembakan berkumandang ke semua sudut tempat itu. Ditambah beberapa granat - granat gas air mata dilemparkan dan membuat ledakan di setiap tempat. Membuat semua orang di dalamnya panik dan mereka semua berlarian keluar.
Hanya orang-orang teler dan tak bisa bergerak yang tertinggal di sana. Mereka yang sudah tenggelam dalam fantasinya dan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Saat seluruh penjaga berhasil dibekuk, Kapten Anatoly memimpin anak buahnya untuk masuk ke dalam dan menyelamatkan semua korban.
Mereka menyisir setiap ruangan dan menggeledah setiap sudut ruangan. Membebaskan semua tawanan dan para korban. Membawa mereka keluar dan membawa mereka ke dalam mobil van dengan tujuan ke rumah penampungan sementara atau juga kantor imigrasi untuk mengurus pemulangan mereka kembali. Satu per satu wanita malang itu dibebaskan.
Anatoly terus menyisir ruangan dengan teliti agar tidak ada korban yang tertinggal. Hingga akhirnya kaki Anatoly sampai di ruangan paling ujung. Ruangan paling belakang yang sepertinya terhindar dari tembakan-tembakan yang diluncurkan tadi. Dindingnya yang lebih tebal masih terlihat bersih dari tembakan dan lubang. Sebuah ruangan dengan dinding antipeluru. Satu-satunya ruangan yang istimewa. Kata Dennis, itu adalah ruangan bagi sang primadona. Sebuah ruangan yang menjadi tempat korban baru sekaligus primadona lelang mereka “diperiksa".
Walau ia benci harus berhadapan dengan wanita, namun sekali tugas selamanya adalah tugas. Penyisiran tetap harus dilakukan.
Anatoly membuka pintunya perlahan sambil menyiagakan senjatanya. Berjaga-jaga jika di dalamnya ada orang-orang yang bisa mencelakakannya.
Dari luar, ia mendengar suara tangisan seorang wanita namun suaranya terdengar tertahan karena bibirnya disumpal sesuatu. Selebihnya telinganya mendengar suara tertawa seorang pria dan sedang mengucapkan kata-kata kotor dan penuh nafsu dalam Bahasa Rusia.
"Pria bodoh! Hanya demi lendir dan lubang, dia rela menghabiskan uangnya. Bodoh!" makinya dalam hati. Mengata-ngatai pria tambun yang tak tahu diri dan hanya berani pada wanita lemah tak berdaya. Andai saja wanita itu tidak diikat, ia ingin tahu seberapa kuat wanita itu akan melawannya. Bahkan mungkin saja sang wanita lebih perkasa dibanding tubuh pria tambun itu. Ia hanya tebal dompet tapi ototnya setipis kertas.
Anatoly membuka pintu ruangan itu lebih lebar dan melihat seorang wanita muda dengan rambut panjangnya menjuntai menutupi separuh wajahnya, yang tangan kaki serta mulutnya terikat sedang meringkuk di belakang sana. Sebagian wajahnya terlihat lebam dan tangan kakinya terluka karena tali-tali kasar yang menggores kulit tipisnya, apalagi di cuaca bersalju seperti sekarang. Cuaca dingin membuat kulit terasa lebih tipis, kering dan gampang tergores luka.
Di balik setiap luka dan lebam itu, Anatoly menemukan wanita dengan penampilan yang berbeda dibanding korban yang telah diselamatkan, bahkan bisa dibilang memiliki postur tubuh yang istimewa. Paras wanita itu cantik dengan rambut kecoklatan bergelombang dan sepasang bola mata kehijauannya yang indah. Tubuhnya proporsional dengan lekuk tubuh yang indah. Tunggu! Sepertinya ada yang salah di sini. Mengapa Anatoly begitu mengamati fisik wanita itu? Bukankah dia tidak peduli dengan wanita? Lagipula, wajah wanita itu masih tertutup helaian rambutnya. Benarkah dia seistimewa itu? Anatoly tidak mau lagi peduli. Ia harus menyelesaikan misi.
Anatoly mengamati gerak-gerik wanita itu dari jauh. Ia melihat tubuh wanita yang ringkih itu terlihat bergetar. Wanita itu tampak begitu ketakutan dan air mata trauma itu luruh begitu saja di pipi mulusnya. Ia hanya bisa menatap nanar dan memelas pada pria hidung belang yang sudah membuat penampilannya seperti ini. Ia sepertinya sudah diperlakukan dengan kasar dan dianiaya. Pakaiannya sudah koyak di sebagian besar bagian area dada dan menunjukkan kulit mulusnya yang bahkan sudah dipenuhi luka lebam, luka cakaran dan bekas-bekas kebiruan berbentuk menyerupai bibir.
Wanita itu melirik ke arah Anatoly dan sekilas wanita itu menatapnya dengan penuh harapan. Ia hanya berharap seseorang yang datang adalah penolongnya. Tapi apakah seperti itu? Wanita itu kembali dilanda ketakutan saat kembali menoleh ke arah pria bertelanjang dada yang kini di hadapannya dan hendak mencumbu serta memuaskan hasratnya pada tubuh wanita itu tanpa peduli jika pintu ruangannya sudah terbuka.
"Mari selesaikan semuanya!" Anatoly menghitung satu hingga tiga lalu masuk mendadak ke dalam dengan senjata teracung.
Begitu Anatoly masuk, pria tambun itu terkejut bukan main. Ia hendak menyerang namun dorr! Tembakan itu berhasil melumpuhkan pria tambun itu dan jatuh tengkurap kemudian tak bergerak. Menyisakan wanita yang baru saja berteriak ketakutan bersama dengan Anatoly.
Wanita itu dilanda ketakutan sekarang. Pertama kalinya ia melihat mayat jatuh di hadapannya. Dan pria bengis yang membunuh pria tambun itu sekarang sudah ada di hadapannya sambil membawa senjatanya yang masih berasap.
“Kapten, kami sudah mengamankan semua korbannya,” suara dari wireless walkie talkie-nya terdengar dengan bahasa yang wanita itu tidak pahami. Apa yang mereka katakan? Wanita itu bergidik ngeri. Mungkin saja rencana pembunuhannya yang entah karena apa sebentar lagi.
Anatoly tidak mengindahkan laporan yang terakhir. Ia malah berdiri lalu terdiam di hadapan wanita malang itu. Mata Anatoly sepertinya tidak bisa lepas dari wanita cantik di hadapannya itu. Padahal, sebelumnya ingin rasanya ia mengelak dari wanita itu, tapi apa boleh buat,tugas dan tanggung jawab jualah yang membuatnya bertahan. Namun bertemu dengan wanita itu seperti membangkitkan sesuatu yang terpendam dari benak Anatoly. Apa itu?
Tidak, ada rasa yang tak beres dalam dadanya. Darahnya berdesir melihat wanita yang tengah menatapnya dengan pandangan ketakutannya. Wajah itu nampak tak biasa dan memantik rasa lain yang tak pernah ia rasakan.
Anatoly meneguk ludahnya kasar. Merasakan ada yang salah pada dirinya tapi ia tak tahu rasa apa itu.
Wanita itu memundurkan dirinya hingga membentur dinding demi menghindari Anatoly. Tidak ingin dibunuh atau bahkan diperlakukan lebih buruk dari pria tambun itu. Bagaimanapun juga sang gadis masih ingin hidup!
Wanita itu kemudian menangis lirih sambil menggeleng saat melihat Anatoly mendekat. Otaknya mendeteksi kehadiran Anatoly adalah tanda bahaya. Sudah cukup ia berhadapan dengan pria kurang ajar seperti tadi, ia hanya berharap pria dengan pistol itu tidak akan melakukan hal buruk padanya. Saat punggungnya membentur dinding, wanita itu makin meringkuk di sudut ruangan dan tangisannya makin menjadi.
“Ampuni aku… Ampuni aku… hiks,” ucapnya sambil menangis dan dalam mulut tersumpal. Tentu saja Anatoly tidak paham arti ucapan wanita itu. Ia bisa menebak wanita itu pasti berasal dari negara-negara seperti Belanda atau Jerman. Pelafalannya sedikit berbeda dan cukup unik. Namun semuanya tidak bisa dipastikan karena bibir tipis menggoda itu masih tersumpal.
Anatoly yang semula membawa pistolnya kini menyarungkannya kembali lalu berjongkok di depan wanita itu sambil menatapnya dalam dan misterius. Menyadari bahwa korban yang diselamatkannya kali ini sudah ketakutan. Akan lebih merepotkan jika wanita itu memberontak saat dibawa keluar. Ia harus bersikap lebih baik sekarang. Lupakan jargon-jargon anti wanita dan wanita itu merepotkan yang biasa ia kumandangkan. Lupakan juga perasaan aneh yang ia rasa. Untuk urusan perang dan menyelamatkan sandera, semuanya tidak berarti. Anatoly harus bergegas menyelesaikan misi.
“Apa istimewanya dirimu hingga mereka menjadikanmu calon primadona di sini?” gumamnya dalam Bahasa Rusia yang wanita itu tidak pahami, mencoba mengingkari pesona wanita itu padanya. Ia menyibakkan rambut dari wajah wanita itu. Anatoly terperanjat! Anatoly akui, wanita itu adalah wanita paling cantik yang pernah ia temui. Darahnya berdesir walau ia tidak tahu apa artinya semua hal itu dalam dirinya. Ia menampik jauh-jauh anggapan bahwa dirinya sedang jatuh cinta karena nyatanya memang Anatoly tidak ingin jatuh cinta pada wanita. Gengsi untuk mengatakan tertarik pada wanita. Ya, mungkin itu isi hati Anatoly sebenarnya.
Begitu menatap Anatoly yang bergumam tidak jelas, wanita itu hanya menggeleng dan menangis. Takut pria tampan di hadapannya ini bertingkah lebih kejam dibandingkan pria-pria hidung belang lainnya di luar sana. Apalagi kali ini wanita cantik itu tidak bisa berkutik lebih jauh lagi. Pria di hadapannya memegang senjata api yang siap dilesatkan kapan saja.
Tangan kokoh Anatoly mengambil pisau dari saku belakang celananya dan hendak membuka tali pengikat wanita itu. Namun sang wanita yang ketakutan itu mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyeruduk Anatoly hingga tersungkur. Lalu dengan kakinya yang masih terikat, ia berusaha melompat-lompat menuju ke arah pintu ruangan. Bagaimanapun wanita itu ingin melarikan diri. Ia tidak mau berlama-lama di sini.
“DASAR MEREPOTKAN!” Sekali lagi jargonnya terbukti. Memang wanita itu makhluk paling merepotkan yang pernah ada. Bukannya sadar ia akan ditolong, Anatoly malah diseruduk seperti matador dan bantengnya. Ia hilang kesabaran. Wanita itu akan berulah jika ia tidak melakukan sesuatu.
Anatoly melesatkan tembakan ke atap sebanyak dua kali dan membuat wanita itu langsung merunduk ketakutan. Bunyi gelegar peluru yang menembus atap itu terdengar seperti halilintar yang menyambar ganas. Ia tidak ingin jadi sasaran peluru sembarangan dari tentara itu. Ia shock dan tubuhnya kembali bergetar sambil menutupi telinganya.
Anatoly menghembuskan nafasnya kasar lalu berjalan mendekati wanita itu dan menarik tangannya yang terikat untuk berdiri. Menatap dalam mata kehijauan wanita itu yang begitu indah di balik tabir air matanya untuk beberapa detik. Ada rasa aneh yang kembali muncul dalam benak Anatoly saat menatapnya tapi ia tidak tahu apa artinya itu.
Tidak... tidak! Anatoly harus fokus pada misinya. Tidak boleh ada wanita dalam hidupnya. Itu prinsipnya.
Namun otaknya terus saja memproses rasa aneh yang muncul itu. Apakah otaknya merasakan iba? Apa? Iba? Bagaimana bisa Anatoly memiliki rasa iba dan simpati pada seorang wanita? Jelas, ini tidak mungkin! Anatoly menampik jauh-jauh pikiran itu. Sudah sejak lama ia mengubur dalam-dalam rasa iba dan simpati pada wanita. Tidak mungkin ini keluar begitu saja pada wanita yang baru bersentuhan kulit dengannya.
"Ini hanya pikiran tidak jelas. Wanita seperti dia pasti hanya akan merepotkanku!" ia mencoba mengenyahkan isi hatinya. Jika terus dipikirkan, lama-lama ia akan menikmatinya. Tapi Anatoly tidak mau terjebak. Ia butuh cepat sebelum perasaan dan pikirannya berubah. Lebih baik kembali bersikap antipati.
“Bekerja samalah atau kau akan celaka,” kata Anatoly ketus di hadapan wanita yang tengah menangis itu. Tak ingin berlama-lama dalam situasi ini, Anatoly harus bertindak agar wanita itu tidak membuat onar lagi atau agar perasaan aneh itu tidak datang lagi. Tangannya secepat angin mendarat dengan keras di atas tengkuk wanita itu dan membuat kesadaran sang gadis terbang seketika. Wanita itu langsung lunglai di tempat.
Dengan tangan kokohnya, Anatoly menggendong tubuh lunglai wanita itu ke atas lengan kokohnya dan keluar dengan senyuman misterius di bibirnya. Otaknya sudah merencanakan banyak hal dan tidak ada yang bisa menebak jalan pikirannya yang selalu misterius.
“Ledakkan sekarang!”
Seketika bangunan di belakangnya meledak tak bersisa.
Anda Mungkin Juga Suka





