
Gadis Rahasia Kapten
Bab 3
Dua hari sebelumnya,
“Helen, apa yang sedang kamu lakukan di Rusia?” Suara berat dengan nada tenang sekaligus penuh penekanan pria itu terdengar dari seberang panggilan. Beberapa saat sebelumnya ia berbicara dengan kakaknya, namun baru sejenak ia berbicara ponselnya disahut oleh sang ayah.
Penerima panggilannya adalah seorang wanita muda berusia dua puluh lima tahun yang baru saja menyelesaikan kuliahnya. Wanita dengan paras rupawan, mata kehijauan dengan rambut panjang kecoklatannya. Tingkah lakunya sangat energik dan ceria, walau sedikit kekanakan dan tidak suka dikekang. Wanita yang memiliki hobi traveling berkeliling dari negara ke negara. Memuaskan rasa ingin tahu dan keinginannya belajar pada budaya baru. Sungguh wanita sempurna yang mampu memikat banyak pria yang mendekat.
Sayangnya, sang ayah adalah ayah yang sangat protektif sehingga Helen harus melakukannya diam-diam. Sialnya, kali ini ia tertangkap. Sebentar lagi entah apa langkah protektif yang akan ayahnya ambil.
Helen memutar bola matanya malas. Ia yakin kali ini ia pasti akan dimarahi hingga kupingnya panas.
“Ya, Yah? Aku memang baru saja sampai di Rusia. Ayah bagaimana? Sehat di sana? Tidak kangen putri ayah yang cantik ini?” jawab Helen mengalihkan perhatian demi mencegah Carlen Brandt, peneliti kenamaan serta kebanggaan asal Jerman sekaligus ayahnya, marah berkepanjangan. Walau Helen tahu pada akhirnya hati ayahnya akan melunak. Tapi tak ada salahnya kan menutup bom amarah yang akan meletus dengan karung basah?
“Helen, jangan mengalihkan pembicaraan. Ayah bertanya, mengapa kamu harus ke Rusia?” suara Carlen terdengar lebih berat dan penuh penekanan. Terasa sekali jika ia menahan emosinya karena putri pembangkangnya yang satu ini.
“Memangnya kenapa? Nggak boleh? Rusia kan negara impianku, Yah. Aku janji tidak akan memboroskan uang ayah kok. Janji!” janji Helen seperti anak kecil. Ia menebak ayahnya mungkin marah karena ia akan memboroskan uangnya di Rusia. Maklum, sudah jadi kebiasaan Helen jika bersolo travelling, ia akan menggunakan kartu kredit unlimited dengan sesuka hati.
Carlen hanya bisa mengelus dadanya. Putri pembangkangnya memang tidak pernah tahu sulitnya posisi Carlen saat ini. Bukannya ia melarang tanpa sebab. Pasalnya pusat riset miliknya sekarang menerima proyek besar senjata biokimia dari Amerika dan ia sudah menandatangani kontrak agar tidak bersentuhan atau bersinggungan dengan Rusia, negara yang masih berseteru dengan Amerika.
Sekarang malah putrinya dengan gampangnya berpelesir ke Rusia. Jelas posisi Carlen serba sulit.
“Helen, ini terakhir kali ayah mengingatkanmu. Ayah tidak mau marah dan ayah tidak ingin berdebat. Kamu tahu kan kalau perusahaan ayah dilarang bersinggungan dengan Rusia?”
“Iya, Helen paham. Lalu?”
Carlen sepertinya harus bersabar menghadapi putrinya yang entah pura-pura tidak tahu atau memang ia sendiri yang terlalu polos.
“Sekarang kau di Rusia.”
“Oh…” Hanya “Oh”??? Astaga! Helen memang tidak peka. Oke, sekarang darah panas Carlen sudah memuncak ke ubun-ubun. Dan… meledak!
“HELEN! PULANG SEKARANG! AYAH AKAN MENGIRIM JET PRIBADI UNTUKMU.”
“TIDAK MAU! AKU TIDAK MAU DAN TIDAK AKAN PULANG. TITIK!”
“HELEN!!!!” suara Carlen sudah naik ke ubun-ubun. Putri bungsunya memang benar-benar keterlaluan. Bahkan, Helen sudah menekan tombol mematikan ponselnya sebelum Carlen mengakhiri ucapannya. Ia tidak ingin mendengar ocehan dan ancaman dari ayahnya lagi. Ia hanya ingin berwisata di negeri beruang merah yang tengah bersalju lebat ini dengan tenang. Lupakan tentang ayahnya dan sekarang Helen akan menikmati perjalanannya.
“Tujuan pertama… shopping!” ucapnya berbinar begitu melihat toko-toko berjajar di area bandara. Helen pun tenggelam dalam dunia yang dicintainya.
***
Dada Carlen kembang kempis sedari tadi. Amarahnya sudah memuncak ke ubun-ubun akibat putri nakalnya yang membuatnya marah. Jika Helen ke negara lain mungkin Carlen masih bisa maklum. Tapi tidak dengan Rusia! Bisnis Carlen dalam masalah besar jika investor proyeknya tahu putrinya bahkan ke Rusia.
Carlen menghela nafasnya. Menurunkan tensi tinggi yang menghantam otaknya sekarang. Ia adalah ilmuwan dan ia harus lebih tenang menghadapi segala situasi.
“Anak itu! Bagaimana bisa dia pergi ke Rusia? Urusannya bisa menjadi rumit sekarang! Jangan sampai berita ini menyebar ke telinga investor, paham?” omel Carlen, mencoba memperingatkan Herald, putra sulungnya yang memegang posisi direktur di perusahaannya. Carlen lebih memilih berkutat dengan laboratorium dan penelitian, sementara putranya didapuk menjalankan bisnis dan manajemen perusahaannya.
Herald menghela nafas sambil menutup lembaran dokumen terakhir yang harus ia tanda tangan. Adiknya memang selalu begitu.
“Apakah perlu aku menjemputnya dengan jet pribadi, Yah?” tanya Herald yang mengerti sekali bagaimana jika ayahnya marah. Apalagi ini menyangkut putri tengil sekaligus adik kesayangannya.
“Tidak perlu. Jika memang dia tidak pulang, ya sudah! Jangan harap pintu rumah terbuka lagi untuknya. Dasar anak nakal! Aku ingin tahu bagaimana rasanya tinggal sendirian di negeri asing. Biar dia tahu rasa!” kata Carlen dengan emosi.
Namun Herald tahu jika kemarahan ayahnya hanyalah sementara. Ia tidak bermaksud mengusir atau mengutuk putrinya. Herald tahu betul ayahnya seperti apa. Ia pun menghitung dalam hati karena ayahnya biasa berubah pikiran setelah lima detik meluapkan emosinya.
“Lima…”
“Herald, apakah aku terlalu berlebihan? Bagaimana jika kita menjemput Helen sekarang juga?”
Herald tertawa.
“Tidak perlu, Yah. Ayah hanya perlu memberikan kepercayaan bagi Helen. Biarkan dia berwisata beberapa hari lalu kita akan jemput dia pulang. Sekarang lebih baik ayah berangkat dulu ke Estonia,” ucap Herald menenangkan. Ia beranjak dari tempat duduknya dan hendak membawa ayahnya pergi. Tapi ayahnya malah menampik tangan Herald. Sedikit bingung dengan ucapan putranya itu.
“Tapi…” Herald mendorong pundak ayahnya untuk terus berjalan ke depan.
“Sudah. Ayah tidak perlu mencemaskan apapun. Aku yakin Helen akan baik-baik saja. Dia sudah dua puluh lima tahun. Helen bisa menjaga dirinya sendiri.”
“Tapi…”
“Ayah hanya perlu fokus dengan riset. Investor sudah meminta prototipe produk itu diujicobakan segera. Aku akan mengurus Helen!” kata Herald dengan sedikit keras karena suara baling-balik helikopter terdengar kencang dari balik sebuah pintu di hadapannya.
Herald membuka pintu di ujung koridor yang menghubungkan langsung dengan helipad di mana sudah ada sebuah helikopter yang menunggu mereka. Tanpa bisa berbicara lebih banyak lagi, Herald membuka pintu helikopter dan mendorong tubuh pendek ayahnya untuk masuk ke dalam.
“Berangkat sekarang!” perintah Herald dengan sedikit berteriak pada pilot helikopter lalu ia menutup pintu dan melambaikan tangan pada ayahnya.
Carlen menghela nafasnya. Semoga Herald benar. Putri kecilnya tidak berbuat onar apalagi membuat masalah besar di Rusia. Lebih jauh lagi ia berharap semoga tidak ada investor yang mengetahui hal ini lalu membahayakan bisnisnya.
“Ke Estonia. Sekarang!” pintanya pada sang pilot. Helikopter itu pun terbang sesuai arahan dan petunjuk Carlen.
Setelah ayahnya pergi, Herald mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang di seberang sana.
“Ini aku. Batasi limit kartu kreditnya hingga cukup untuk dua hari di sana.”
Herald bernafas lega dan sambil tersenyum ia menggelengkan kepalanya. Semoga kemarahan ayahnya tidak berlanjut setelah ini.
“Helen… Helen… Kau memang gadis tengil!”
Anda Mungkin Juga Suka





