Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gadis Nakal Sang Bidadari Surga

Gadis Nakal Sang Bidadari Surga

Ayana adalah pemimpin geng motor The Wild Ants yang terkenal pemberontak. Kenakalannya membuat sang Papa mengirimnya ke pesantren untuk dibina. Di sana, ia terkejut saat mengetahui dirinya dijodohkan dengan Gus Farhan, putra pemilik pesantren. Ayana tak berdaya menolak karena perjodohan tersebut merupakan wasiat terakhir almarhumah ibunya. Kini, ratu jalanan itu harus berjuang menghadapi kehidupan religi dan komitmen pernikahan yang tak pernah ia duga.
Bab
Bagikan

Bab 2

Keesokan harinya, rumah Ayana sudah ramai di penuhi teman genk motor Arka. Sebenarnya Ayana termaksud salah satu anggotanya, bahkan ia di jadikan ratu di genk yang bernama 'the wild ants' atau dalam artian 'semut liar'.

Semut! Mungkin terdengar hewan lemah tapi cara kerja samanya membuat grub ini terbentuk.

Ayana memandang dirinya di depan cermin, bukan gamis yang melekat di tubuhnya sesuai permintaan Ayahnya. Melainkan jaket yang terdapat gambar semut bermahkota, dan sebuah celana panjang telah membalut tubuhnya.

Untuk hijab ia tetap menggunakannya, bagaimanapun ia akan langsung ke pesantren jadi tentunya ia harus menggunakan hijab.

"Ternyata aku cantik juga yah, pake hijab gini." Ayana cekikikan memuji dirinya.

Ayana lalu bersiap untuk segera turun, dan pastinya juga mentalnya harus ikut siap karena ia yakin Papanya atau Arka pasti akan memarahinya.

"Aku datang!" Teriak Ayana berlari menuruni tangga.

Semua orang yang berada di ruang tamu menoleh dengan serentaknya, tatapan kagum melihat Ayana berhijab tentunya tak dapat di elakkan dari mereka.

"Halo semuanya." Sapa Ayana.

"Cakep bener lu pakai hijab!"

"He, iya dong," ucap Ayana mengusap pelipisnya dengan bangga.

"Bagus tuh pakai hijab aja terus."

"Doain aja," ucap Ayana tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang memperlihatkan sebuah ginsul.

"AYANA MUBSIRA!" Teriak Arka terdengar marah yang membuat mereka terkejut dan beristigfar serempak. Suara lantang Arka benar-benar membuat siapa saja selalu takut mendengarnya.

"Ka, mau marah-marah, jangan teriak gitu dong!"

"Diem lo!" Bentak Arka kembali menatap tajam pada Ayana, yang sudah bersembunyi di balik pilar. Sepertinya wanita berhijab tapi masih berpenampilan preman itu tahu akan di amuk oleh saudaranya galaknya itu.

"Sini kamu Ayana! Kenapa kamu pake baju begitu! Papa udah bilangkan, pake gamis!" Sentak Arka.

"Ada apa nih?" Marcel menuruni tangga dan saat itu juga Ayana berlari ke arah Papanya mencari perlindungan.

"Pah, liat tuh Abang Arka, marah-marah!" Adu Ayana menunjuk ke arah Arka yang berjalan mendekat dengan tatapan menghunus tajam.

"Bang, kenapa?" Tanya Marcel menoleh pada putranya.

"Lihat pakaian Ayana Pah! Bandel banget di bilanginnya. Di suruh pake gamis malah pakai gituan." Tunjuk Arka begitu tajam pada Ayana yang memperlihatkan wajah polosnya.

"Cuma kali ini doang kok Pah. Sekali aja, sebelum Ayana ke pesantren, boleh yah Pah!" Rengek Ayana cepat sebelum suara Papahnya ikut terdengar memarahinya. Marcel terdiam sejenak, lalu tersenyum.

"Boleh," ucap Marcel di sertai anggukannya.

"Pah." Kompak Ayana dan Arka dalam artian berbeda. Ayana dengan kegembiraannya sedang Arka tampak protes.

"Nggak papa Arka, ini terakhir kalinya," sahut Marcel tersenyum mengusap lembut kepala Arka berharap anak sulungnya itu tak lagi marah.

"Yeas... Makasih Papa. Papah yang terbaik, Ayana sayang Papah. I love you Papahku." Ayana memeluk dan mencium wajah Marcel berkali-kali.

"Eleh, kemarin ngambeknya sampe nggak makan malam," celetuk Marcel mendorong kening Ayana agar menjauh tak lupa mencubit gemas pipi Ayana.

"Hehe... I love you Papah," ucap Ayana terakhir kalinya lalu mendekat ke Arka dan menjulurkan lidahnya.

"Wleee nggak bisa marah." Ledek Ayana lalu berlalu pergi. "Ayo berangkat, barang-barangku tolong bawain ke mobil yah." Teriak Ayana bersenandung riang sembari melompat kecil.

Ayana berjalan menuju bagasi rumah di mana terdapat deretan mobil dan motor, ia berjalan menuju salah satu motor yang terparkir agak luar.

"Halo Kitty, ini terakhir kalinya kita akan bermain bersama. Aku pasti akan merindukanmu! Huhuhu..." Ayana memeluk stang motor sport miliknya. Motor yang di beri beberapa stiker lambang 'the wild ants'.

"Kitty kamu jangan ngambek yah! Ini salahku yang terlalu nakal, jadinya harus pergi meninggalkanmu. Kamu baik-baik yah di sini." Ayana menepuk-nepuk stang motornya.

"Dasar aneh! Motor kok di ajak ngomong, malah di peluk-peluk lagi."

Ayana mendengus tanpa menoleh ia sudah bisa menebak siapa yang ada di sana. Suara anggota the wild ants sudah amat di hafalnya.

"Kenapa? Situ cemburu, minta di peluk juga?" Sinis Ayana.

"Dih, nggak tuh."

Ayana bangkit, menoleh dan melipat tangannya.

"Eleh bilang aja kali. Kalau suka bilang, keburu aku di pinang, rugi loh, Bang Hanif nanti nyesel loh," goda Ayana tersenyum centi pada pria tinggi bernama Hanif itu. Pria di depannya itu tampak menggelengkan kepalanya.

"Ck... siapa yang bakal meminang, bocah nakal sepertimu," ucap Hanif tersenyum sinis. "Paling juga jodohmu nanti itu hasil pinanganmu, bukan hasil di pinang!" Sambungnya dengan nada meledek.

"Ih, ngesellin. Ayana tuh cantik, banyak yang mau!" Ketus Ayana yang siap memberi pukulan pada pada Hanif. Sayangnya pria itu segera menghindar, menyilangkan tangannya seolah memeluk dirinya, membuat Ayana tak jadi memukul, ia hanya tampak mendengus kesal.

"Cantik sih cantik, tapi nyebellin, rese, nakal, bawel, siapa yang mau coba," ucap Hanif yang kembali mengejek.

Ayana meraih wajah Hanif agar menatapnya, satu... dua... tiga... detik mereka saling memandang.

"Astagfirullah." Hanif segera menepis tangan Ayana, dan berulangkali beristigfar mengusap dadanya.

"Kau menyukaiku kan? Jujur aja kali."

"Nggak tuh," elak Hanif memalingkan wajahnya yang memerah.

"Elleh, mukamu merah tuh. Cowok kok malu-malu kucing." Ledek Ayana lalu merampas ponsel Hanif .

"He, mau ngapain, sini ponselku."

Ayana menjauhkannya.

"Passwordnya apa?"

"Nggak perlu kamu tau, siniin!"

" Ya sudah, aku juga cuma mau foto." Cetus Ayana mengeser layar ponselnya hingga memperlihatkan wajahnya.

Ayana melakukan beberapa kali foto selfi baru setelah itu dia mendekat pada Hanif dan melakukan satu kali cekrek.

"Eh." Hanif yang tak siap tentu kaget.

"Hihi... nah, buat kenangan. Karena kamu pasti akan merindukanku," ucap Ayana dengan santainya menyerahkan kembali ponsel Hanif.

"Wow... Wow... ada apa gerangan nih. Apa ada yang pamit nih? Bakal rindu nih."

Mereka tertawa sembari meledek Hanif.

"Diam lu anak s*tan." Ketus Hanif.

****

Deruman suara motor memenuhi jalan, Ayana naik menggunakan motor sport miliknya, di ikuti genk the wild ants di belakangnya, sedang Arka dan Marcel naik mobil menuju pesantren.

Di pertigaan jalan lagi-lagi Ayana berulah, saat mobil yang di tumpangi Arka sudah melesat lebih dulu. Ayana membelokkan ke arah lain, membuat the ants mengerem mendadak dan pastinya terjadi keributan.

"Astaga Ayana mau ke mana tuh?" Tanya salah satu di antara mereka yang mengabaikan suara klakson di iringi sahutan berupa umpatan dari pengendara lain.

"Udah kalian lanjut aja, biar aku nyusul Ayana. Mungkin saja Ayana mau menemui Nenek Darmi lebih dulu." Ucap Hanif.

"Oh, oke, ingat bawa ke pesantren jangan sampai dia kabur!"

Hanif mengangguk lalu membelok tajam motor sportnya, ia sudah cukup ketinggalan hingga Ayana tak terlihat lagi. Tapi tebakan Hanif sungguh benar, Ayana datang ke panti jompo, tempat yang memang sering di datangi 'the wild ants' setiap sekali seminggu.

Salah satu orangtua di panti jompo yang sangat dekat dengan Ayana, adalah nenek Darmi. Ayana sendiri sudah menganggapnya sebagai neneknya sendiri.

Hanif berjalan mendekati Ayana yang tampak menyuapi Nenek Darmi sesekali di ajaknya bercanda hingga tertawa.

Hampir setengah jam mereka di sana, setelah itu barulah Hanif mengajak Ayana pergi.

"Aku yakin Arka akan memarahimu."

"Bodo amat! Bay... duluan yah."

Hanif tersenyum lantas memakai helmnya dan segera menyusul Ayana.

Di pesantren atau lebih tepatnya di rumah pemilik pesantren tampak Arka berdiri tegap di depan pagar yang tak terlalu tinggi. Ia bersedekap sembari menatap tajam pada jalan yang sudah menampilkan dua motor yang saling beriringan.

Nafas Arka kian memburu, ia melangkah ke tengah jalan hendak menghalangi keduanya.

"Eh..." Arka berlari terbirit saat melihat kedua motor di depannya tak kunjung memelankan motornya.

Beberapa langkah dari Arka yang duduk di jalan Ayana dan Hanif menghentikan motornya dengan mengerem kuat hingga ban belakang motor keduanya terangkat.

"Mau mati?" Kompak Ayana dam Hanif meledek.

Tawa pun terdengar dari dalam sana.

"Ayana awas kamu yah! Turun sekarang!" Teriak Arka membentak, sayangnya Ayana tak mendengarnya, ia memasukkan motornya ke pekarangan rumah dan segera berlari ke sang Papa sebelum Arka berhasil meraihnya.

"Papa, tolong!" Pekik Ayana berlindung di balik tubuh Marcel.

"Sini kamu!"

"Sudah Arka! Adikmu juga sudah di sini. Cukup, jangan berantem lagi, malu-maluin aja." Tegur Marcel.

"Ayo masuk! Udah di tungguin pemiliknya nih." Ajak Marcel mengandeng tangan Ayana.

Ayana menjulurkan lidahnya mengejek.

"Huft... itu Adek siapa sih!" Kesal Arka.

"Adek lu!" Kompak The wild ants lalu di iringi tawa mereka.

"Diam lu pada, sana pulang! Kalian nggak di butuhin!" Ketus Arka yang kemudian melangkahkan kakinya mengikuti Ayana dan Marcel dari belakang.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alkisah Bunga Teratai
9.8
Terinspirasi oleh simbol reinkarnasi bunga teratai, tujuh pemuda dengan kekuatan mistik luar biasa disatukan dalam satu tim khusus. Di bawah bimbingan Sagara Widyatama, mereka menjalani latihan keras demi menstabilkan dunia supranatural yang sedang kacau. Namun, misi berbahaya yang mempertaruhkan nyawa ini bukan sekadar pertarungan fisik. Kehadiran Sagara perlahan membuka tabir rahasia mengenai hubungan mendalam mereka di kehidupan masa lalu yang misterius.
Sampul Novel Because of Mistake
9.6
Akibat kesalahpahaman fatal, Eudora terperangkap dalam penderitaan sebagai tawanan Legolas yang haus akan balas dendam. Kehidupannya hancur dalam siksaan hingga ia merasa maut lebih baik daripada bertahan hidup. Namun, kebenaran akhirnya terkuak bahwa Eudora adalah sosok penyelamat nyawa Legolas di masa lalu. Kini, rasa benci dan kekecewaan mendalam menyelimuti hati Eudora. Akankah cinta bersemi kembali atau mereka justru terjebak menjadi musuh abadi?
Sampul Novel Dewa perang jadi Pengawal Pribadi CEO
8.8
Setelah sekian lama pergi, sang jagoan tangguh bernama Xion akhirnya kembali dengan satu misi besar: menuntaskan segala dendam masa lalu dan membalas budi baik orang-orang yang pernah membantunya. Langkah pertamanya membawanya menjadi sosok pelindung di balik bayang-bayang seorang CEO wanita yang sangat cantik. Xion rela mengabdikan dirinya sebagai pengawal pribadi demi menjaga sang wanita, menghadapi rintangan berbahaya dalam dunia modern yang penuh intrik dan perebutan kekuasaan demi menegakkan keadilan pribadinya.
Sampul Novel KEBANGKITAN HADES BAKER
9.1
Hades, seorang pemuda rupawan, mendapatkan kesempatan langka untuk bangkit kembali demi menuntaskan dendam atas kematian orang tuanya. Ia terlempar melintasi waktu menuju tahun 2001. Di masa lalu tersebut, Hades tidak menyia-nyiakan peluang emas yang ada. Ia menyusun strategi cerdik guna mengumpulkan kekayaan melimpah dan memperkuat dirinya. Perjalanan lintas zaman ini menjadi awal bagi Hades untuk mengubah nasib serta membalas semua ketidakadilan.
Sampul Novel Love a Sweet Psycho
7.9
Hun dikenal sebagai pria rupawan bak pangeran dongeng, namun aku sama sekali tak tertarik padanya. Kehidupan tenangku terusik saat pria berdarah dingin ini mulai terobsesi mengejarku. Ia bertindak ekstrem demi melindungiku, mulai dari membunuh ular hingga nyaris mencekik orang yang menggangguku. Aku benci menjadi pusat perhatian dalam drama gila ini. Mengapa Tuhan mengubah hidup mediokerku menjadi pelik karena campur tangan cowok psikopat ini?
Sampul Novel MENYUSUI MAFIA KEJAM
8.6
Hidup Alena Adriani Quensyah hancur seketika saat orang tuanya tega menjadikannya jaminan utang kepada seorang mafia kejam. Kini, Alena terjebak dalam kehidupan yang terasa seperti penjara, sembari terus dibayangi trauma masa lalu yang kelam. Di tengah penderitaan itu, ia bertekad mencari jawaban atas alasan kedua orang tuanya pergi meninggalkan dirinya dalam bahaya. Mampukah Alena bertahan dan menemukan kembali keluarganya yang hilang?