
Gadis Nakal Sang Bidadari Surga
Bab 3
"Ini anak-anak saya yang pernah saya ceritakan. Arka, Ayana, ini Kyai Sulaiman dan Istrinya Nyai Sarah, pemilik pesantren ini." Jelas Marcel memperkenalkan kedua belah pihak.
"Halo Kyai, halo Nyai. Aku Ayana anaknya Papa Marcel dan Almarhum Mama Ayuna. Anak paling cantik, baik dan nggak bandel sama sekali," celetuk Ayana yang begitu randomnya memperkenalkan diri.
"Aduh... Sakit Bang!" Ringis Ayana mengusap pinggangnya yang menjadi sasaran cubitan Arka.
"Malu-maluin banget sih!" Ucap Arka pelan.
"Dari mananya?" Tanya Ayana dengan ketus, dan suara terdengar jelas.
Arka memberi pukulan kecil pada bahu Ayana. Kesal dan malu bercampur menjadi satu.
"Arka kamu duduk di sana. Jangan di dekat Adikmu!" Marcel tampak jengah melihat kelakuan kedua anaknya yang tak pernah akur, di mana dan kapan saja mereka selalu saja meributkan berbagai hal kecil.
Arka mendengus menurut, tak lupa memberi tatapan tajam pada Ayana.
"Hah... Maaf ya Kyai, Nyai, anak-anak saya memang seperti itu. Sekali berantem susah akurnya. Giliran mau jahilin Papanya baru mereka bisa kompak." Cetus Marcel.
"Nggak papa pak, namanya juga anak-anak. Ntah sudah berapa lama kita tidak bertemu, mereka dulu masih kecil sekarang sudah tumbuh besar." Sahut Kyai Sulaiman tersenyum ramah, begitupula Nyai Sarah yang tersenyum dan terus memandang pada Ayana.
Ayana salah tingkah sendiri di buatnya, ia tersenyum memamerkan deretan gigi yang terdapat gingsul.
"Ayana cantik yah Nyai, sampai di pandang gitu." Goda Ayana tersenyum centil.
"Astagfirullah bukan adek gua." Gumam Arka menyandarkan punggungnya sembari menutup setengah wajahnya.
"Haha... Iya kamu cantik, persis banget sama Mamamu. Mamamu dulu itu sahabat Umi, kita kenalnya sejak SMP. Dia sama sepertimu selalu tersenyum pada siapapun." Sahut Nyai Sarah.
Mata Ayana berbinar dan dalam sekejap sudah berada di samping Nyai Sarah.
"Astagfirullah." Marcel tentu saja kaget, Ayana melangkahinya begitu saja. Untung, anak sendiri kalau tidak sudah pasti Marcel akan memarahinya.
Sedang Arka terus beristigfar ia kesal dan malu. Saking malunya, ingin rasanya Arka menenggelamkan diri ke dasar laut hingga tak di temukan lagi.
"Benerkah? Nyai sama Mama sahabatan? Wah, keren dong. Ceritain dong tentang Mama. Mama dulu kayak apa? Mama pasti cantikkan? Iyalah Ayana aja cantik! Mantan pacar Mama ada berapa dulu? Atau berapa cowok yang pernah Mama tolak? Hingga memilih Papaku." Ayana duduk di sebelah Nyai Sarah sembari menggandeng tangan wanita berhijab panjang itu.
Begitulah Ayana, jika menyangkut sang Mama ia selalu antusias mendengarkannya.
"Ayana jangan kayak gitu nak. Nggak enak sama Nyai, sini duduk dekat Papa." Panggil Marcel dengan lembut menepuk sofa di mana tadi Ayana berada.
"Nggak papa Pak, saya malah senang, Ayana mau dekat saya." Sahut Nyai Sarah, lalu beralih menatap Ayana. Di usapnya wajah Ayana dengan lembut.
"Panggil Umi aja yah."
"Iya Umi."
Nyai Sarah tersenyum.
"Mama kamu dulu memang sangat cantik, banyak yang suka sama Mamamu. Tapi, alhamdullilah Beliau selalu menolak, dan nggak mau pacaran, karena Beliau tau itu dosa." Jelas Nyai Sarah.
"Denger tuh," ucap Arka dengan sinisnya.
"Dih, Ayana denger kok! Ayana juga belum pernah pacaran tuh. Abang Arka tuh yang pernah pacaran sampai sekarang belum move on." Sinis Ayana.
"Enak aja! Sembarangan kalau ngomong." Protes Arka tak terima, karena nyatanya itu memang bohong, hanya saja ia menyukai seseorang, dan berniat melamarnya, hanya saja wanita itu malah pergi meninggalkannya yang ntah sekarang berada di mana.
"Heh, sudah jangan bertengkar lagi. Kamu juga Arka, diam! Nanti kamu Papa masukin juga ke pesantren." Ancam Marcel.
"Ya terserah Papa. Bagus juga sih, Arka juga nggak perlu pusing-pusing bantu Papa ngurus perusahaan lagi," celetuk Arka yang selalu berhasil melawan skatmat Papanya, dan tentunya Ayana selalu protes meski pada akhirnya ia selalu mengikuti langkah kakaknya.
"Heh, berani melawan Papaku kau yah! Mau ku pukul hah!" Sangar Ayana
"Ayo, siapa takut!" Tantang Arka.
"Ayana! Arka! Sudah kalian duduk yang tenang!"
"Kasian banget Om Marcel, ngurus dua anak nakal yang hobinya ribut mulu. Nggak tau tempat lagi!" Suara dari teras rumah terdengar menggelengar.
"Diem lu di luar!"
"Eh, Arka! Mending lu yang keluar! Dari tadi lu yang cari ribut loh." Protes salah seorang di antara mereka menampakkan diri di ambang pintu.
"Dih nggak mau!"
"Om, Kyai, Nyai, Ayana aku ambil orang ini dulu yah. Sini lo!" Tanpa menunggu persetujuan dia menyeret Arka begitu saja.
Marcel mengusap kasar wajahnya, membiarkan putranya di seret begitu saja oleh temannya yang memang sudah tak segan padanya.
"Maaf yah Kyai, Nyai, kelakuan mereka memang seperti itu. Mereka juga maksa ikut buat antar Ayana yang di anggapnya sebagai adik sendiri." Sahut Marcel yang merasa tak enak.
"Tidak apa-apa Pak, namanya juga anak muda," ucap Kyai Sulaiman dengan ramahnya.
"Oh, iya umi, Farhan kok belum datang?" Sambung Kyai Sulaiman bertanya pada sang Istri.
"Mungkin masih ngajar Abi. Kita tunggu dulu yah." Ujar Nyai Sarah.
"Emm, begitu yah. Maaf yah Pak Marcel, jadinya nunggu lama, buat kenal calon menantu bapak." Celutuk Kyai Sulaiman yang seketika membuat Ayana yang menyeruput teh hangatnya yang hampir habis, tersembur! Beruntung sudah tak ada lagi Arka di sana.
"Astagfirullah, Ayana!" Geram Marcel yang tertahan.
"Siapa yang bakal nikah? Calon menantu maksudnya gimana tuh?" Kompak Ayana, Arka dan para the wild ants yang tiba-tiba menyerobot masuk, hingga terjadi keributan dan rintihan kesakitan akibat dorongan.
"Ee, Astagfirullah, ini kenapa pada kaget begini? Sampai-sampai dorong-dorongan masuk." Tanya Kyai Sulaiman yang tampak terkejut, tapi tak ada raut wajah marah melihat keberutalan para anak muda itu.
"Apa maksud kyai, soal calon menantu Papa saya?" Tanya Arka mewakili.
Kyai Sulaiman mengerutkan keningnya, lantas menoleh pada Marcel yang tampak menghela nafas.
"Maaf kyai saya belum cerita sama mereka!" Ucap Marcel lantas menatap Arka dan the wild ants, lalu beralih fokus pada Ayana.
"Ini permintaan almarhum Mama, dia ingin kamu menikah dengan Gus Farhan!" Tegas Marcel.
Ayana menunjuk dirinya.
"Pah! Ayana masih 17 tahun, baru mau naik kelas tiga. Kenapa malah mau di nikahin aja! Papa menyuruhku ke pesantren untuk belajar atau mau menikahkanku!" Ucap Ayana dengan suara meninggi.
"Dua-duanya. Kamu akan tetap pesantren dan juga menjadi Istri Gus Farhan."
"Papa kenapa nggak nunggu, Ayana lulus aja." Saran Arka yang juga tak rela.
"Ini permintaan terakhir almarhum Mamamu Nak. Saat itu beliau berpesan agar anak kami, Farhan! Mau menikahi putrinya. Dan mungkin ini memang saatnya." Jelas Nyai Sarah.
"Kyai, Nyai, Papah menjadi saksi permintaan terakhir Mama." Sambung Marcel menatap yakin pada kedua anaknya.
Ayana terdiam menunduk, jika menyangkut soal Mamanya ia selalu seperti itu. Begitupun dengan Arka yang sudah diam tanpa protesan lagi. Sedang The Wild Ants mereka saling lirik-melirik termasuk melirik pada Hanif yang terlihat amat kecewa, tapi tak ada yang berani menengur.
"Apa dia sudah tahu soal ini?" Tanya Ayana setelah diam beberapa saat.
"Siapa nak, Farhan?"
Ayana mengangguk.
"Alhamdullilah dia sudah tahu. In Sha Allah dia akan menerima." Jelas Nyai Sarah yang masih dengan lemah lembutnya.
"Di mana dia sekarang?"
"Masih di pesantren, sebentar lagi akan kesini."
Tanpa bertanya lagi Ayana pergi melenggang begitu saja.
"Ay... Aya, tunggu!" Teriak Arka mengejar Ayana.
"Eh, Kyai, Nyai, Om tunggu di sini aja yah. Nggak usah khawatir. Biar Arka dan kami yang susulin Ayana." Ungkap salah satu di antara mereka.
"Hah? Kalian juga?"
"Iya Om, Ayana adik kami juga. Kami permisi, Assalamualaikum." Pamit mereka memberi salam secara bersamaan tak beraturan.
Marcel kembali menghempaskan tububnya, lagi-lagi ia minta maaf pada kedua tuan rumah di depannya yang selalu teduh memandang.
Anda Mungkin Juga Suka





