Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gadis Kesayangan Tuan Muda

Gadis Kesayangan Tuan Muda

Syaqila Ayu Purnama terpaksa menjadi tunangan Aditya Garrett setelah ayahnya menjualnya demi melunasi utang. Meski benci dengan situasi ini, gadis remaja itu kini hidup bergelimang harta di rumah mewah dan sekolah elit. Di sisi lain, Aditya yang berusia 23 tahun sengaja memanfaatkan keadaan karena telah lama menyukai Syaqila. Ia terus memanjakan sang gadis, namun tantangan muncul dari pria-pria muda yang lebih tampan. Mampukah Aditya memenangkan hati Syaqila?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Permisi, Tuan. Maaf jika saya mengganggu, ada sesuatu yang mendesak."

Aditya yang tadi tengah memejamkan matanya kini menatap Romi yang menunduk hormat di depannya itu. Belum juga satu menit berlalu semenjak mereka berbicara, ada masalah apa lagi kali ini?

"Hem, ada apa?" tanya Aditya.

Semalam dia tak tidur karena ulah gila Qila, dan sekarang mau tidur pun susah sekali rasanya. Bagaimana bisa gadis sekecil itu menjatuhkannya dari kasur empuk selebar itu bahkan sampai tiga kali!

Sungguh ingin rasanya dia membuang gadis itu. Namun, mendapatkannya saja susah masa mau dilepas begitu saja?

"Nona tidak mau bersekolah dan tidak mau membuka pintu kamar Anda," ujar Romi sedikit ragu.

Bukan ragu karena tuannya akan marah. Melainkan dia ragu memikirkan cara agar jet pribadi ini tidak dipaksa berputar balik karena Aditya memang terkadang sedikit gila.

Lebih ngeri lagi kalau dia diminta terjun detik ini. Romi benar-benar ingin menggali kuburan untuk bersembunyi sementara rasanya.

"Apa?" sahut Aditya tenang.

Namun, dia lagi-lagi ingin membuang gadis itu ke laut bebas. Tapi jelas tak mungkin dilakukannya, jika dia melakukan hal gila maka usahanya selama 10 tahun benar-benar akan sia-sia saja.

"Maaf Tuan, saya hanya menyampaikan apa yang dikatakan para pelayan di rumah," tegas Romi agar Tuan-nya ini mengerti.

"Hng, kau boleh pergi. Biar aku yang mengurusnya," balas Aditya.

Setelah itu Romi membungkuk lantas pergi meninggalkan Aditya di ruangan khusus miliknya. Aditya menghela napas frustasi memikirkan kelakuan calon istri kecilnya yang makin hari makin minta digaplok saja.

Dia memikirkan cara agar bisa membuat gadis itu tunduk padanya. Namun, yang terlintas di otaknya hanya satu, yakni mengancam gadis itu sama seperti biasanya. Tapi, sepertinya cara itu sedikit membosankan.

"Aish, dasar Qila, dia pandai menggoda hingga selalu menawan di mata," gumam Aditya pelan lalu dia terkekeh sebentar dan menatap gundukan awan.

Aditya mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Dia sebenarnya malas memakai ponsel ini. Tapi ponselnya yang satu lagi sudah dihancurkan oleh Qila. Qila-nya itu memang selalu menyenangkan dan hobi menghancurkan.

["Halo,"] sapa Qila.

"Lagi apa?" tanya Aditya klasik. Pertanyaan itu lebih mirip orang yang sedang dalam masa pdkt.

["Aish Tuan, bukannya anda sudah tahu apa yang sedang saya lakukan sekarang?"] kekeh Qila.

Sesaat setelah Qila selesai mengatakannya Aditya membuka cctv yang berada di kamarnya. Di sana tampak Qila yang sedang telentang di atas ranjang mewah milik Aditya.

"Kamu masih mau di situ sampai kapan? Sekolah, kamu masih anak-anak jangan banyak bertingkah, Syaqila," tutur Aditya lembut.

["Tuan lupa ya? Kalo saya masih anak-anak tuan nggak mungkin mau jadiin saya nyonya besar di sini. Yah kecuali tuan muda memang punya bakat jadi pedofil sih,"] jawab Qila lempeng.

"Syaqila!" Aditya mulai jengkel. Pasalnya dia bukan pedofil. Usia mereka hanya selisih tujuh tahun. Jadi dari sisi mana dia dianggap pedofil?

Tak kunjung mendapatkan jawaban, Aditya pun berteriak sambil memijat pelipisnya pelan. Padahal bila dilihat dari cctv sekarang Qila sedang tak melakukan apa-apa. Lantas mengapa gadis kecil itu tak kunjung menjawab ucapannya tadi?

Meskipun memberikan jawaban, tapi pada akhirnya Qila malah membuat Aditya kian emosi saja. Namun, tetap saja terlihat dengan jelas bahwa dia memang benar-benar ingin obrolan ini segera berakhir.

Aditya mengatakan beberapa kalimat dan dia tak berbohong saat mengatakannya. Dia sekarang masih bisa maklum pada sikap Qila yang memang sangat kekanakan itu.

"Hum."

Dari jawabannya saja Aditya sudah tahu bahwa Qila memang benar-benar dalam mode malas sekarang.

Belum sempat Aditya mengucapkan sepatah kata Qila sudah nyerobot lebih dulu. Bukan menuruti ucapannya tapi Qila malah pamit untuk tidur lagi. Dan tak butuh waktu lama, gadis itu benar-benar menutup telepon setelahnya. Aditya lagi-lagi hanya bisa mengumpat kesal.

Dia lebih memilih diam untuk kali ini. Biarkan saja calon istrinya yang cantik itu berbuat semaunya. Karena untuk sekarang Aditya harus mencegah agar mamanya tak menjodoh-jodohkan dirinya lagi, dan juga karena dia ingin bersama Qila untuk waktu yang tak ada batasnya.

Hem iyah, menghalangi mamanya memang jauh lebih penting. Namun, bersama dengan Qila adalah prioritas utama.

Ya setidaknya hal itu berlaku untuk sekarang.

***

["Syaqila?!"]

Suara di seberang terdengar jengkel. Namun, Qila tetap mengabaikan hal itu. Dia sedang dalam mode malas berdebat.

["Qila saya ngomong sama kamu ya!"]

"Yang bilang tuan ngomong sama setan siapa?"

["Syaqila, mumpung saya masih sabar sekarang, kamu pergi sekolah."] Dan kali ini suara Aditya terdengar sedikit lebih lembut.

Namun, tentu saja Qila tak langsung menuruti perkataan Aditya itu. Lagipula dia bukan bonekanya Aditya yang mau saja disuruh-suruh macam ini.

"Mm," gumam Qila pelan tapi membuat Aditya jengkel mendengarnya. "Saya lagi pengen tidur, Tuan Muda. Dan, saya lagi males dengerin ocehan tuan. Jadi teleponnya saya tutup dulu," imbuh Qila kian memperkeruh suasana saja.

Setelahnya Qila benar-benar menutup telepon itu. Bukan hanya itu dia bahkan mematikan ponselnya, lagipula dia punya dua ponsel. Jadi kalau yang satu dimatiin yang dia tinggal main pakai ponsel lain.

"Gitu aja kok repot," cibir Qila lantas menguap dan bersiap tidur lagi.

Memang healing terbaik adalah tidur!

***

Aditya menghembuskan napas lelah. Dalam hati dia merutuk para sopir jet yang tidak berguna itu. Bagaimana bisa mereka menurunkan dirinya tepat di halaman rumah mamanya?

Dengan langkah kaki yang malas Aditya beranjak dari sofa panjang yang tadi digunakannya untuk mengistirahatkan diri setelah perdebatan dengan calon Istrinya tadi. Kedua kakinya mengayun pelan menuju pintu rumah yang terlihat begitu megah. Aditya beberapa saat masih memandangi pintu itu.

Sebenarnya pintunya bisa saja langsung terbuka sesaat setelah dia menginjakkan kaki di rumah ini. Namun, tadi dia sengaja menggunakan mode silent agar mamanya tak menyapa dirinya kelewat heboh. Karena hal itu sangat menyebalkan.

Aditya mengatakan sepatah kata. Lalu pintu itu terbuka dan menampakkan wajah wanita paruh baya yang melahirkannya.

"Sayang."

Laki-laki berusia 23 tahun itu hanya bisa mendengus pelan melihat kelakuan mamanya. Padahal di telepon tadi malam mamanya itu merengek dan berkata bahwa tak mau bicara lagi dengannya. Lalu sekarang ini apa?

"Ma, aku baru sampai. Capek," jawab Aditya pelan.

Dia tak tau berapa lama berada di atas awan. Dan entah kenapa badannya rasanya sangat remuk. Padahal dari rumahnya sampai ke rumah mamanya dia hanya tertidur. Ah tadi dia terbangun untuk menelepon calon istri kecilnya yang juga sedang dalam mode manja itu.

"Ih nggak bisa. Sekarang kamu harus mandi, makan dan setelahnya kita berangkat ke rumah temen mama. Di sana lagi ada pesta minum teh dan mama diundang. Ada cewek-cewek cantik loh, Dit!" seru sang Mama.

Mamanya mengerling. Aditya sih bodo amat. Dia berjalan meninggalkan sang Mama yang terus mengikutinya dan berusaha membujuk agar dia mau ikut serta dalam acara yang sebenarnya kurang kerjaan.

Hanya minum teh biasa sambil pamer harta. Cih, untuk apa dia datang di acara seperti itu? Ya kalau datangnya sama Qila jelas itu beda cerita.

"Aku capek, Ma," ujar Aditya lagi.

Lalu dia menutup pintu kamarnya dan membiarkan mamanya yang sibuk bermonolog di depan sana. Lagipula dia tak perduli seberapa banyak wanita yang akan hadir dalam acara itu. Karena bagi Aditya hadirnya Qila dalam hidupnya saja sudah lebih dari cukup.

"Aku nggak butuh wanita lain, Ma," lirih Aditya yang bersungguh-sungguh atas ucapannya itu.

-Bersambung....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tak Lain Hanyalah Tamu
8.9
Tujuh kali menikah dan tujuh kali diceraikan oleh pria yang sama membuat perasaan wanita ini mati rasa. Sang suami memanfaatkan pernikahan berulang ini hanya demi melindungi kekasih lamanya dari gosip. Setelah melewati fase histeris hingga kepasrahan mendalam di setiap perceraian, kini sang istri tidak ingin lagi menjadi mainan. Begitu mendengar kabar kepulangan wanita tersebut, ia menyerahkan surat cerai dengan tangannya sendiri dan bersiap pergi selamanya, mengakhiri siklus manipulatif ini.
Sampul Novel Delapan Tahun Menjadi Istri Rahasia
8.0
Clara berharap kehamilannya mengakhiri rahasia pernikahan delapan tahunnya dengan David. Namun, penolakan keras David justru memicu konflik fisik yang fatal hingga Clara kehilangan salah satu janinnya. Sadar hanya menjadi pengganti, Clara yang semula lembut berubah dingin dan menuntut cerai. Kini, David harus menghadapi kehancuran rumah tangganya dan rasa bersalah mendalam saat melihat istrinya tak lagi peduli pada hubungan mereka yang penuh kepalsuan.
Sampul Novel Dulu Kau Buang Aku, Kini Aku Milik Pamanmu!
8.3
Silvia mengorbankan segalanya demi Sienzo, bahkan ayahnya menggelontorkan investasi 20 triliun demi pernikahan mereka. Namun, malam pernikahan menjadi awal petaka mengerikan saat Sienzo menyerahkannya pada belasan temannya sebagai balas dendam atas kepergian kekasihnya, Tina. Setelah dikurung hingga tewas mengenaskan bersama bayinya, Silvia tiba-tiba terbangun di masa lalu, tepat saat Keluarga Gunawan memohon investasi. Kini, takdir berputar dan Sienzo yang akan menangis memohon ampun.
Sampul Novel Gairah Isteri Kedua
8.4
Ellea terpaksa mengambil keputusan besar dalam hidupnya dengan menjadi istri kedua bagi Anderson. Sebagai seorang CEO muda yang berkuasa, Anderson membawa Ellea masuk ke dalam kehidupan pernikahan yang penuh dengan teka-teki. Apa sebenarnya alasan kuat yang memaksa Ellea bersedia menerima posisi tersebut? Ikuti kisah romansa penuh konflik ini saat ia harus menghadapi kenyataan pahit di balik statusnya sebagai wanita kedua dalam hidup sang konglomerat.
Sampul Novel Kebahagiaan yang Pernah Kusimpan
8.0
Universitas Jido diguncang oleh skandal terbesar tahun ini setelah sebuah rekaman pribadi Arlena tersebar luas di grup kampus. Video yang diambil di dalam suite presiden sebuah hotel bintang lima tersebut memperlihatkan momen malam pertama Arlena bersama seorang pria yang jauh lebih tinggi darinya di depan jendela besar. Keintiman yang sangat intens dalam rekaman tersebut seketika menjadi pusat perhatian dan memicu kegemparan luar biasa di kalangan mahasiswa.
Sampul Novel Membangkitkan Kembali Cinta yang Kedaluwarsa
9.5
Tiga tahun Alicia menderita dalam pernikahan dingin bersama Erick Ellis. Saat harapan untuk dicintai muncul, ia justru mendapati Erick ingin kembali pada masa lalunya. Alicia pun memilih bercerai, namun Erick menolak melepaskannya. Kini, Alicia bangkit menjadi wanita sukses yang dikelilingi pengagum. Saat mereka bertemu kembali, kehadiran anak-anak di sisi Alicia membuat Erick memohon untuk menjadi ayah mereka. Meski ditolak mentah-mentah, Erick bersikeras mengejarnya.