Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gadis Jaminan Tuan Max

Gadis Jaminan Tuan Max

Hera mengira penderitaannya sudah mencapai batas, namun kemalangan lebih besar justru datang menghampiri. Ibunya terjerat utang pada Max, seorang lintah darat kejam, dan kini Hera yang harus menanggung konsekuensinya. Ia dijadikan tawanan sebagai jaminan hingga utang tersebut lunas sesuai tenggat waktu. Jika sang ibu gagal membayar, Hera harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk dalam hidupnya. Akankah ia mampu bertahan di bawah kendali penuh Max?
Bab
Bagikan

Bab 3

Sebenarnya, Max tidak menerima kabar apapun tentang kematian Mina dan sebenarnya ia juga tidak peduli dengan hal itu. Mina dibunuh atau bunuh diri, apakah itu penting untuknya? Tentu saja tidak, karena sudah ada Hera di tangannya. Max berbohong karena merasa itu adalah salah satu cara untuk membuat Hera mau makan. Max tidak bisa melihat harta karunnya menjadi rusak di depan matanya. Jika Hera tidak terikat utang ibunya, maka Max tidak akan peduli dia mau mati atau tidak.

"Siapa yang membunuh Ibuku? Tolong katakan padaku." Hera yang dalam keadaan kacau kini tampak memohon pada Max.

Max diam-diam tersenyum karena tidak menduga kalau Hera akan percaya dengan begitu mudahnya. Biar Max tebak, Hera pasti sedang begitu putus asa saat ini dan keinginannya hanya satu, yaitu mengetahui siapa pembunuh ibunya. Max hanya berpikir, kenapa Hera begitu yakin kalau ibunya dibunuh bukannya bunuh diri?

"Kau tahu pasti kalau aku tidak akan memberikan sesuatu tanpa sebuah imbalan, tapi tenang saja karena aku tidak akan meminta uang, kau cukup makan saja. Setelah kau makan, maka kita baru bisa bicara. Apa kau mengerti?" Max menatap Hera, lalu melirik makanan yang ada di atas meja sebagai isyarat agar Hera mau makan.

Hera yang dalam keadaan kalut dan seolah mendapatkan dukungan tentang keyakinan kalau ibunya dibunuh, kini langsung makan karena ingin segera mendengar apa yang Max ketahui tentang kematian ibunya.

"Gadis bodoh!" Max bicara dalam hati, lalu setelahnya keluar dari ruangan itu. Max nyaris menabrak seorang pria saat keluar, yaitu pria yang memakai gelang titanium hitam, tapi ia tidak terlalu mempedulikannya.

Max menyalakan rokok begitu sampai di luar, lalu ponselnya berdering karena telepon dari Dion. Entah untuk apa pria itu meneleponnya, pikir Max. Namun, Max tetap menjawab telepon dari Dion.

"Ada ada?" tanya Max.

"Aku tidak tahu ini penting atau tidak untukmu, tapi ada sesuatu tentang kematian Mina yang perlu aku sampaikan padamu. Beberapa hari terakhir, ada orang yang tertangkap CCTV sering berada di depan sekitar tempat tinggal Mina, wajahnya tidak terlihat karena dia memakai penutup hoodie, tapi aku yakin dia adalah orang yang sama. Saat hari kematian Mina, orang yang memakai hoodie juga terlihat mengikuti Mina setelah dia keluar minimarket. Apakah aku harus mengatakan ini pada anggota keluarganya?" Dion bertanya seolah meminta persetujuan karena Mina berhubungan dengan Max. Ini adalah peraturannya, Dion wajib meminta persetujuan sebelum mempublikasikan apapun yang menyangkut Max.

"Apa artinya itu? Apakah itu berarti Mina tidak bunuh diri, tapi orang itu yang telah membunuhnya?" Max bertanya, lalu kembali menghisap rokoknya.

"Itu bisa saja terjadi, tapi belum ada bukti kuat untuk membuktikan asumsi itu dan identitas orang itu belum diketahui. Kualitas CCTV dikawasan itu tidak begitu bagus, jadi sulit untuk mengenalinya."

Max tidak menduga hal ini, baru saja ia mengatakan pada Hera kalau ada petunjuk bahwa ibunya kemungkinan dibunuh, lalu sekarang datang kabar seperti ini dari Dion. Menarik, pikir Max, ia harus memanfaatkan hal ini.

"Selidiki siapa orang itu dan apa hubungannya dengan Mina, tapi jangan publikasikan hal itu. Kabarkan perkembangannya hanya padaku dan kirimkan rekaman CCTV itu. Apa kau mengerti?"

"Ya, aku mengerti," ucap Dion, lalu pembicaraan itu pun selesai.

Setelah bicara dengan Dion, Max kembali masuk ke dalam ruangan tempat Hera makan tanpa menyadari kalau pria yang memakai gelang titanium itu diam-diam mendengar ucapannya tadi. Saat sampai di ruangan itu, Max melihat Hera yang makan dengan buru-buru sampai membuatnya batuk-batuk.

"Makan dengan perlahan. Aku bisa rugi jika kau mati karena tersedak," ucap Max yang berdiri di sebelah Hera.

Hera mengusap mulutnya, lalu berdiri di depan Max dan berkata, "Aku sudah selesai makan, jadi cepat katakan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi pada Ibuku?"

"Aku dengar, akhir-akhir ini ada orang yang memakai hoodie sering berada di sekitar tempat tinggalmu dan di hari kematian ibumu, seseorang yang serupa mengikutinya." Tidak hanya bicara, tapi Max juga menunjukkan rekaman CCTV yang baru saja dikirimkan oleh Dion. Hanya saja, Max menunjukkan rekaman itu dalam waktu singkat.

"Bukankah orang itu mencurigakan? Bagaimana jika dia ternyata membunuh ibumu?" ucap Max setelahnya.

"Aku bahkan belum melihatnya dengan jelas."

"Aku adalah Max dan Max tidak sebaik itu sampai memberikan sesuatu padamu secara cuma-cuma. Kasus ini ada di tanganku sekarang dan kau bisa mendapatkan informasi terbaru setelah melakukan kewajibanmu sebagai seorang jaminan. Pikirkan 100 juta Won milikku, bukankah kau harus mengembalikannya?"

Hera sadar dirinya telah melakukan kesalahan, yaitu terlalu percaya pada Max. Kewajiban sebagai seorang jaminan, apa artinya itu?

"Tenang saja karena aku tidak akan membunuhmu. Pergunakan tubuhmu, tangkap pria kaya, lalu bawa ke ranjangmu, dan bawakan uang untukku. Bukankah itu mudah? Aku akan membantumu mencari pria berhoodir itu jika kau bisa menghasilkan uang lebih dari utang ibumu. Sebenarnya, itu bukan total keseluruhan utang ibumu karena belum termasuk bunga. Jumlah total beserta bunga dan tagihan rumah sakitmu adalah 140 juta Won (Rp. 1,638 Miliar). Bunganya terus membengkak karena ibumu terus lari saat ditagih dan sekarang dia bahkan pergi ke alam lain."

"Kau benar-benar suka mencekik orang lain dengan bunga yang tinggi," balas Hera.

Max tertawa dan setelahnya berkata, "Aku harus mencekik atau aku yang akan tercekik. Seperti itulah cara manusia bertahan hidup. Kau harus menjadi berkuasa, kejam, dan menakutkan agar bisa mengimbangi dunia yang kejam."

"Aku tidak akan pernah menjadi monster sepertimu dan aku tidak akan melakukan apapun yang kau katakan!"

"Cobalah untuk melakukannya. Kau tidak akan bisa lari jika aku tidak menginginkannya." Max menarik salah satu sudut bibirnya, lalu pergi meninggalkan Hera yang masih terdiam di tempatnya.

Hera menangis, lalu tubuhnya merosot ke lantai. Hera tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Segalanya berubah dalam waktu yang singkat, ia ingin menyerah saja seperti sebelumnya, tapi bagaimana dengan ibunya? Bagaimana jika ibunya sungguh tidak bunuh diri? Siapa yang akan memberikan keadilan untuk ibunya?

***

Setelah pemakaman ibunya selesai, Hera harus kembali ke rumah Max. Tidak ada kesempatan melarikan diri karena anak buah Max yang selalu berada tepat di belakangnya. Hera bahkan tidak tahu seperti apa perkembangan kasus ibunya karena ia seolah telah menjadi tahanan di rumah mewah Max.

Hera kembali terkunci di kamar yang sama, terjebak dalam situasi yang sangat tidak ia inginkan. Lalu, anak buah Max masuk ke kamarnya dan mengatakan kalau Max ingin bicara dengannya di tempat khusus. Hera semakin takut sekarang, tapi tetap tidak ada yang bisa ia lakukan.

Hera dibawa masuk ke sebuah kamar dan di sana sudah ada Max. Pria itu hanya memakai bathrobe berwarna navy, duduk di sofa tunggal sembari merokok dan menikmatk minumannya. Lalu, Hera ditinggalkan di sana hanya bersama Max saja.

"Apa lagi sekarang?" tanya Hera.

"Duduklah dulu," ucap Max dengan santai sembari menunjuk sofa di dekatnya.

"Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" Hera tetap bertanya dan tidak melakukan apa yang Max minta.

Max hanya tersenyum tipis, lalu berdiri dan mengambil gelas berisi wine yang ada di atas meja. Minuman itu kini disodorkan tepat di depan wajah Hera.

"Ini wine mahal, jadi cobalah," ucap Max.

"Apa yang sebenarnya ..." kalimat Hera terhenti karena Max yang tiba-tiba mendorongnya hingga terduduk di ranjang, lalu memaksanya meminum wine itu. Max benar-benar memastikan kalau wine itu masuk ke tenggorokan Hera.

"Kau memang suka diberi perlakuan kasar," ujar Max setelah merasa cukup bagi Hera untuk meminum wine itu.

Hera sampai terbatuk-batuk karena perbuatan Max dan masih tidak mengerti kenapa pria itu memaksanya minum. Apakah ada sesuatu dalam minuman itu?

"Apa yang sebenarnya kau inginkan?!" bentak Hera yang saat ini sudah kembali berdiri di hadapan Max.

Max meletakan gelas di atas meja, kemudian mengunci pintu dan kuncinya ia masukan ke dalam saku bathrobe yang ia gunakan. Max kini kembali mendekat pada Hera yang terlihat ketakutan. "Aku harus melihat kemampuanmu dulu sebelum kau resmi bekerja di tempatku. Aku mungkin perlu mengajarimu juga agar tidak mengecewakan pelangganku." Dan Max bicara sembari melepas ikatan bathrobe.

"Apa katamu?" Hera bergerak menjauh, tapi Max dengan cepat meraih tangannya dan memaksanya untuk berbaring di ranjang, lalu pria itu naik ke atasnya. Dari bawah sana, Hera bisa melihat area privasi Max yang terlihat mulai menegang. Hera menjadi semakin takut sekarang.

"Lepaskan aku!" bentak Hera sembari mendorong Max agar menjauh darinya. Namun, sialnya, Hera malah semakin berada dalam kondisi yang sulit karena Max membuatnya berada dalam posisi telungkup dengan kedua tangannya ada di atas kepala dan dicengkeram kuat oleh Max.

"Aku mohon, lepaskan aku." Hera memohon, tapi Max seakan telah menjadi tuli.

Max mencium pipi Hera, lalu turun ke lehernya dan memberikan beberapa tanda di sana. Salah satu tangan Max kini bergerak turun untuk meraih ujung dari baju Hera, lalu ia naikkan baju itu dengan paksa hingga memperlihatkan punggung putih Hera. Max memainkan jarinya di sana, lalu melepas pengait pakaian dalam Hera sembari mengecup punggungnya.

Hera berusaha berontak dan menolak sentuhan Max, tapi ia justru merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya. Hera mulai merasakan panas disekujur tubuhnya dan ia mulai menikmati sentuhan Max bahkan menginginkan lebih dari ini. Hera menggelengkan kepalanya untuk tetap mempertahankan akal sehatnya, tapi sensasi aneh itu semakin terasa.

"Obatnya bereaksi dengan cepat, kan?" Max bicara sembari menjilati daun telinga Hera.

Mendengar kata obat membuat Hera yakin kalau Max pasti telah memasukan sesuatu ke dalam minumannya sampai membuatnya seperti ini. Hera ingin bicara, tapi Max sudah lebih dulu melumat bibirnya setelah mengubah posisinya menjadi berhadapan dengan pria itu. Hera bahkan merasa dirinya seolah tidak mampu menolak lagi sekarang. Pikirannya kacau dan tubuhnya terus menyambut baik sentuhan Max.

Hera seolah terjebak dalam fantasi indah yang menyesatkannya, sehingga tidak bisa menolak ketika Max melepas seluruh pakaiannya sehingga tidak ada sehelai belang pun yang melekat di tubuhnya. Hera hanya bisa terbaring tidak berdaya dan menerima semua permainan jari Max di area paling sensitifnya. Rasanya sakit, tapi juga nikmat di saat yang bersamaan sampai membuat tubuh Hera bergerak tidak karuan dengan dibarengi oleh desahan yang tidak henti-hentinya keluar dari bibir manisnya.

"Kau bahkan baru merasakan jariku dan kau sudah seberisik ini. Lihatlah betapa basahnya dirimu." Max tersenyum pada Hera sembari terus memainkan jarinya.

Max kini kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Hera dan hasratnya benar-benar memuncak sekarang. Max tidak menduga kalau Hera akan menjadi semenarik dan sepanas ini saat di ranjang. Max menjadi semakin tidak tahan untuk memulai inti permainan.

Max melepaskan bathrobenya dan ia buang asal ke lantai. Max membuka kaki Hera dengan lebar dan dirinya berada di tengah-tengahnya. "Apa kau siap untuk memulai permainan yang sesungguhnya?" Max menatap Hera sembari membelai wajahnya dengan begitu lembut. Sial, Max benci melihat Hera menjadi semakin menarik di matanya.

"Aku mohon, bebaskan aku. Aku sangat tersiksa." Hera yang berada dalam pengaruh obat kini bicara berbanding terbalik dengan dirinya yang sebelumnya.

Max tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke telinga Hera, kemudian berkata, "Tenanglah, Sayang, Daddy akan membebaskanmu dari semua siksaan ini dengan penuh kenikmatan." Di saat bersamaan, Max mulai menyatukan dirinya dan Hera dengan perlahan.

Hera menancapkan kukunya di punggung Max karena ini adalah hubungan pertama kali untuknya, jadi rasanya cukup sakit, tapi juga nikmat di waktu yang bersamaan. Hera sudah lupa bagaimana caranya menolak, ia hanya bisa menerima dan terus menginginkan lebih.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95MAF" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95MAF
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BUKAN SUAMI RAHASIA
8.1
Ava dan Jay terjebak dalam pernikahan paksa selama dua tahun. Sementara Jay terus berselingkuh, Ava membalasnya dengan memadu kasih bersama pria kaya dari keluarga terpandang. Meski keduanya mendambakan perpisahan, perceraian bukanlah sebuah pilihan. Jay pun akhirnya setuju membiarkan Ava menjalani hubungan tersembunyi dengan lelaki lain. Namun, mampukah rahasia besar ini bertahan selamanya tanpa terungkap ke permukaan? Akankah sandiwara mereka terus berjalan?
Sampul Novel Cinta masa kecil
9.0
Dina dan Arga berbagi masa kecil yang indah sebelum akhirnya terpisah oleh jarak dan ambisi. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di kota besar. Dina kini menjadi desainer gigih, sementara Arga telah bertransformasi menjadi pengusaha sukses. Meski kehidupan mereka telah berubah, perasaan lama yang terpendam perlahan muncul kembali. Di tengah keraguan masa lalu, mereka harus mencari tahu apakah ikatan masa kecil ini adalah jodoh sejati.
Sampul Novel I am always waiting for you (I'm fine 2)
7.8
Aldy Fathee, CEO arogan dari Fathee Grup, menjadi makin kejam sejak ditinggal Ara Valeria. Ara pergi tanpa kabar demi mengobati HIV akibat trauma masa lalu. Takdir mempertemukan mereka kembali dalam proyek besar saat Aldy telah bertunangan dengan Melly. Meski Aldy ingin mendekat, Ara kini bersikap dingin dan tak tersentuh. Setelah sebuah kecelakaan menimpa Ara, Aldy bertekad mengungkap rahasia di balik sikapnya. Akankah cinta mereka bersatu atau Ara kembali menghilang?
Sampul Novel I'm Your Wife : Bukan Dia Tapi Aku
8.9
Alan, wanita kutu buku, terjebak pernikahan tanpa cinta dengan CEO arogan, Gavin Wildberg. Gavin justru menjalin hubungan gelap dengan adik angkat Alan, Aluna. Derita Alan memuncak saat ibu mertuanya mengusir dan memaksanya bercerai karena dianggap buruk rupa. Di titik terendah saat ingin mengakhiri hidup, seorang pria menyelamatkannya dan mengungkap identitas asli Alan. Kini, sebagai pewaris takhta konglomerat, Alan kembali untuk menuntut balas pada mereka.
Sampul Novel Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda
9.2
Pertemuan kembali dengan Kayden Narasoma, sang miliarder sekaligus ayah dari putranya, menjadi awal dari konflik batin Lunara Angkasa dalam novel romantis ini. Takut kehilangan sang anak, Lunara berusaha menjaga hubungan profesional di kantor. Kayden yang awalnya menyimpan dendam dan ingin menyakiti Lunara, perlahan justru ingin menyatukan kembali keluarga mereka saat melihat kerapuhan wanita itu. Ketika kebenaran masa lalu terungkap, Kayden menyadari bahwa dendamnya hanya melukai diri sendiri.
Sampul Novel Kutukan Cinta Sang CEO
9.7
Khaidar Wijaya memikul kutukan maut: siapa pun yang tulus mencintainya akan ditimpa petaka hingga tewas. Setelah kehilangan orang tua, ia hidup terasing demi melindungi sesama. Saat neneknya sekarat dan ingin kutukan itu sirna, Khaidar terpaksa menikahi Viona, mantan teman sekolah yang membencinya. Kesepakatan ini diambil demi ketenangan sang nenek. Akankah Viona mampu menjaga hatinya tetap dingin, atau ia justru akan menjadi korban cinta berikutnya?