
Gadis Imigran
Bab 3
Setelah menghabiskan malam yang melelahkan tanpa mendapatkan uang sepeser pun, Iris pun jatuh sakit.
Peter datang berkunjung dan menyelipkannya uang dua ratus dolar untuknya. Iris terdiam dengan tubuh lelah dan demam. Dalam kamar kecil dan sempit di apartemennya, Iris menarik selimut hingga batas leher. Tubuhnya gemetar, menggigil kedinginan.
Demam itu begitu menyiksa tubuhnya yang mungil. Mustahil bagi Iris untuk tidak jatuh sakit. Wanita tersebut menghabiskan lebih dari empat jam nonstop, melayani para tamu tadi malam.
Terkadang muncul keinginan untuk mengakhiri hidupnya, tetapi ketika erangan ayahnya terdengar dari kamar sebelah, Iris menangis dan keinginan itu pun menghilang.
Apa yang salah dengan hidupnya dan seberapa besar dosa yang ia miliki, sehingga harus menerima cobaan yang begitu berat? Mengapa hidup memperlakukannya begitu kejam dan tidak ada jeda untuknya bernapas lega?
Jan muncul dengan secangkir teh panas di tangan.
"Kamu membutuhkan ini." Jan mengulurkan cangkir padanya. Iris tersenyum tipis dan dengan gemetar mencoba untuk bangun.
Jan tercengang saat tangan Iris tersentuh olehnya.
"Kamu demam, Iris! Sebaiknya kita ke dokter. Aku akan mengantarmu!" cetus Jan cemas.
"Aku sudah minum obat, Jan. Semuanya akan baik-baik saja, jangan khawatir," kata Iris, berusaha menghindari permintaan adiknya tersebut.
"Aku tahu risiko pekerjaanmu, Iris. Tolong, temui dokter dan pastikan kamu baik-baik saja," pinta Jan dengan suara gemetar.
Iris tersentak dengan kekhawatiran yang Jan ungkapkan. Dia tahu bahwa beberapa temannya telah meninggal karena tertular HIV. Terkadang Iris takut suatu saat dia akan berada di titik itu, meskipun dia selalu menerapkan seks aman sepanjang waktu. Iris berusaha terlihat tenang dan membelai lengan adiknya sambil tersenyum.
"Oke, aku akan menemui dokter. Tapi aku akan pergi sendiri. Ayah butuh suntikan insulin dalam satu jam, dan aku ingin kamu melakukannya untukku, oke?" kata Iris. Jan tersenyum lega dan mengangguk.
"Sepertinya aku harus mulai bekerja lebih keras. Mungkin putus kuliah dan bekerja penuh waktu di toko itu akan lebih baik untuk situasi kita saat ini.”
"Apa? Tidak, Jan!" kata Iris buru-buru, "Kamu harus tetap kuliah, karena aku tidak punya masa depan lagi!"
Jan membuang muka sementara menahan air mata.
"Aku tidak ingin kamu terjebak dalam profesi itu, Iris. Tidak sanggup melihatmu terjebak dalam kehidupan mengerikan seperti yang sedang kamu jalani.”
Tangan Iris meraih wajah Jan untuk berbalik ke arahnya dengan lembut.
"Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Kita harus mewujudkan cita-citamu dan bertahan sedikit lebih lama, agar semua tercapai. Ini akan menjadi akhir yang bahagia untuk kita, Jan. Percaya padaku kali ini, oke?"
Jan baru berusia sembilan belas tahun dan cukup membantu dirinya sendiri. Tapi bukan itu yang diinginkan Iris! Adik laki-lakinya adalah seorang pemuda yang sangat manis dan baik. Iris sangat bangga pada Jan, yang akan menjadi sarjana ekonomi dalam satu tahun ke depan.
Setelah mendapat gelar, Iris berharap Jan mendapatkan pekerjaan yang terhormat dan tidak menjadi pengedar narkoba atau anggota geng seperti anak muda yang ada di lingkungan mereka.
"Sukses selalu disertai dengan rasa sakit. Biarkan itu menjadi bagianku, karena kesuksesanmu adalah yang utama. Demi keluarga kecil ini dan juga untuk masa depan kita bertiga.”
Jan memeluk Iris dengan erat. Kakaknya mengelus punggung kurus pemuda itu. Iris tahu bahwa Jan telah belajar dan bekerja keras selama ini. Terkadang dia melihat adiknya bekerja hingga larut malam. Jan selalu berusaha menyelesaikan tugas kuliahnya tepat waktu, agar bisa lulus secepatnya.
"Bersabarlah, Jan. Semuanya akan berakhir baik, aku janji," bisik Iris.
Jan mengangguk dengan mata merah, menahan haru juga tangis.
**
Setelah berganti pakaian, Iris menuju ke klinik layanan masyarakat gratis terdekat. Antrian sore itu cukup panjang, dan Iris dengan sabar menunggu sementara tubuhnya semakin menggigil.
Duduk di ruang tunggu selama lebih dari dua jam dan sempat jatuh tertidur, Iris akhirnya mendengar namanya dipanggil. Dengan tergagap dia memperbaiki rambutnya dan memasuki ruangan.
Dokter muda itu menatap Iris dengan tercengang, hingga lupa menyapa pasiennya yang baru saja masuk. Pria tampan dengan lesung pipit menawan itu begitu mengagumi perempuan jelita yang hadir di hadapannya.
"Dokter Rene?" Asistennya mengingatkannya untuk fokus.
"Oh ya! Selamat siang, eh, malam. Silakan duduk di sana," jawab dokter itu, tampak jengah karena konsentrasinya teralihkan.
Iris mengangguk dan naik ke tempat tidur kecil tempat pasien biasa berbaring. Dia melirik nama di dada dokter.
Rene Marschall.
Iris menduga, karena logatnya yang cukup kental, dokter itu berasal dari Prancis.
"Apa yang kamu rasakan?" tanya Rene sambil memakai stetoskopnya.
"Demam tinggi dan nyeri di sekujur tubuh, Dok,” jawab Iris pelan.
Rene memeriksa dengan cermat. Setelah selesai, dia meminta Iris untuk mengancingkan kembali blusnya.
Sambil duduk dan menulis catatan di lembar medis, dokter muda itu mengajukan beberapa pertanyaan sesuai standar pemeriksaan biasa.
"Dok, saya adalah ….” Iris menghentikan kalimatnya dengan ragu, " Sa-saya ... saya adalah seorang pelacur." Akhirnya, Iris berhasil melontarkan kalimat itu dengan terbata-bata.
Tangan Rene berhenti menulis. Wajahnya terangkat dan menatap Iris dengan pandangan yang sangat sulit untuk dijelaskan.
"Mungkinkah saya mengidap penyakit dalam atau kelamin?" Iris bertanya sambil menahan air mata. Helaan napas terdengar dari mulut Rene.
"Tidak semudah itu untuk menarik kesimpulan. Seharusnya ada pemeriksaan lebih lanjut di area itu ... kau tahu maksudku, kan?" Rene menjawab. Iris mengangguk gugup.
"Selain itu tes darah juga akan menentukan kelengkapan diagnosa. Kebetulan saya dokter spesialis penyakit dalam. Kalau tidak keberatan, perawat bisa ambil contoh darahmu dulu, barulah nanti saya dan rekan dokter spesialis lainnya akan selidiki dan analisa lebih lanjut. Bagaimana menurutmu?"
"Mungkin tidak hari ini, Dok. Saya tidak punya cukup uang sekarang," balas Iris.
"Saya bisa menempatkanmu dalam program dukungan untuk wanita, Miss Barcova. Selain itu, ini adalah klinik gratis dan Anda tidak perlu membayar apa pun," ucap Rene dengan nada lembut. Iris mengangguk ragu.
"Perawat saya akan menindaklanjuti nanti. Semuanya akan ditangani dengan upaya terbaik kami, kamu jangan khawatir lagi, oke?" lanjut Rene dengan senyum simpatik.
Dengan jantung berdebar, Iris mengiyakan. Hatinya terlalu kalut, dan dia tidak tahu harus berpikir apa.
Setelah mengambil darah dan juga mengisi formulir, Iris pun kembali ke rumah. Perasaannya sedikit lega. Setidaknya dia telah melakukan langkah pertama pada saat ini untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk.
Setelah Iris pergi, Rene melirik dengan rasa ingin tahu pada formulir yang telah diisi wanita itu sebelumnya.
Matanya mengamati dengan cermat semua informasi. Ternyata wanita itu telah bekerja sebagai PSK selama tujuh tahun.
Dia menyesal bahwa wanita muda seperti itu harus menjalani kehidupan yang pahit. Iris Barcova, Rene mengeja nama itu tanpa suara.
Mata dan raut wajah wanita itu begitu terukir di benaknya. Dia menangkap kejujuran yang diucapkan dengan ekspresi putus asa dalam diri Iris.
Pengakuan Iris sangat menyentuhnya. Alih-alih menilai dengan sebelah mata, Rene justru merasakan simpati yang kian mendalam terhadap wanita tersebut.
Terlalu banyak wanita menarik yang hadir dalam hidupnya. Namun mata bening dengan bulu mata lentik tanpa maskara, dan wajah polos tanpa riasan justru menjadi kesederhanaan yang membuatnya terpikat.
Rene selalu mengagumi sosok wanita dengan garis wajah klasik Eropa.
"Dok, pasien berikutnya?" tanya asisten Rene untuk ketiga kalinya.
"Ah, oke! Maaf," Rene tergagap. "Silahkan panggil pasien berikutnya." Lamunannya tentang Iris mengalihkan perhatiannya pada saat ini.
"Masih memikirkan wanita itu tadi? Ratusan wanita cantik masih banyak berkeliaran, Dok!" cela asistennya dengan ekspresi mencemooh. Nada suaranya sangat merendahkan.
"Apa yang membuat wanita itu tidak pantas mendapatkan perhatianku?" tanya Rene sambil menuliskan catatan di jurnalnya. Asisten Rene gugup dan menyadari bahwa dia telah membuat kalimat yang salah.
"Maaf, Dok. Saya tidak bermaksud....”
"Menghinanya, apakah itu maksudmu? Mary, masyarakat di sekitar kita saat ini rata-rata memberikan sudut pandang penuh penghakiman, persis seperti yang baru saja kau lakukan. Semua orang begitu kejam, menuduh tanpa menoleransi penyebabnya!" ucap Rene dengan nada tajam.
"Dia tidak ada bedanya seperti manusia yang lain dan bukan sampah masyarakat. Jika kamu ingin menyebut seseorang sampah, koruptor, penyebar kebencian dan teroris, itu jauh lebih pantas daripada gadis tadi." Kata-kata Rene sekarang lebih lembut dari sebelumnya.
Mary menundukkan kepalanya karena malu. Mulutnya terlalu lancang, dan hatinya sudah menjatuhkan prasangka.
"Maaf, Dok. Saya salah,” sesalnya.
Rene menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. Asistennya menghindar dengan sikap salah tingkah dan segera memanggil pasien berikut.
***
Iris tidur dengan kepala berat dan dada sesak. Demamnya perlahan naik lagi.
Jan mengintip kakaknya yang sesekali mengigau. Iris tidak membiarkan dirinya mengompres. Dalam batin tertekan oleh pekerjaan dan jadwal kuliah, Jan terpaksa harus pergi sementara Iris masih dalam kondisi sakit.
"Semakin cepat kamu mandiri, semakin baik. Buat kami bangga dan kamu harus menjadi manusia yang memiliki pangkat dan martabat di masyarakat kita!" Itu yang selalu Iris katakan pada Jan.
Dia tidak pernah keberatan melakukan hal terbaik untuk memenuhi harapan dan cita-cita tersebut. Iris adalah segalanya bagi Jan.
Jan berjanji akan lulus dalam setahun dan berharap akan segera mengambil alih beban keluarganya.
Jan ingin Iris bahagia, bahkan mungkin menikah dengan pria dan memiliki keluarga. Meski profesinya kini menjadi aib, jiwa gelap seperti Iris juga butuh cinta yang tulus untuk memberinya kebahagiaan tersebut
Anda Mungkin Juga Suka





