
Gadis buta Milik CEO
Bab 3
Laras tidak tahu berapa lama ia duduk di kursi goyangnya setelah Damar pergi. Suara hujan masih terdengar di luar, mengalun seperti nyanyian sunyi yang membangkitkan kenangan. Perasaan yang bercampur aduk-marah, rindu, takut-membuat dadanya terasa sesak. Ia ingin memaafkan, tetapi setiap kali mencoba membuka hatinya, bayangan malam itu datang menghalangi. Bayangan yang penuh dengan teriakan, tangisan, dan rasa sakit yang tak terperi.
Laras mengusap matanya yang mulai terasa perih. Ia tahu ia harus berjuang, tapi seberapa lama ia bisa bertahan? Setiap malam, mimpi buruk datang tanpa ampun, menampilkan sosok Damar yang berlari menjauh dari dirinya. Setiap malam, ia merasa ditinggalkan lagi. Namun, ada satu hal yang berbeda malam itu; ada sesuatu yang mengusik di dalam dirinya. Ada secercah keinginan yang mencoba menyelinap keluar, membawa harapan yang lama tertutup rapat.
Suara ketukan lembut di pintu membangunkannya dari lamunannya. Ia menahan napas, berharap itu hanya angin. Tapi ketukan itu datang lagi, lebih pasti, lebih nyata. Laras menelan ludahnya dan berdiri perlahan. Kaki-kakinya yang lemah mencoba menahan tubuhnya agar tetap tegak. Ia tahu itu Damar, dan hatinya berdegup cepat hanya dengan memikirkan kemungkinan dia di luar sana, menunggu untuk diberi kesempatan.
"Aku di sini, Laras," suara itu terdengar jelas, penuh penyesalan dan harapan. Laras tidak menjawab, hanya berdiri di sana, menunggu suara berikutnya.
"Dengar, aku tahu aku sudah banyak menyakiti, tapi aku harus memberitahumu sesuatu. Sesuatu yang tak bisa aku tahan lagi." Damar mengucapkan kata-kata itu dengan nada yang membuat jantung Laras berdetak lebih cepat. Ia tahu ada sesuatu yang berbeda dalam suara itu-tidak hanya penyesalan, tetapi juga keteguhan yang seolah siap mempertaruhkan segalanya.
Laras menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri sejenak. "Apa yang harus aku dengar, Damar?" Suaranya terdengar tenang, tetapi hatinya tidak bisa bohong. Ia ingin tahu, tetapi takut jawaban itu hanya akan membuatnya semakin terjerat dalam rasa sakit.
Damar tidak segera menjawab. Suara hujan di luar seakan menjadi saksi bisu dari ketegangan yang menyesakkan itu. "Aku ingin kau tahu bahwa aku tidak pernah berhenti mencintaimu, Laras. Tidak pernah, bahkan di saat-saat terburuk sekalipun."
Laras merasa panas di pipinya, seperti api kecil yang mulai membakar di dalam dirinya. Ia mengingat kembali waktu-waktu di mana Damar menemaninya, memberikan kekuatan saat ia merasa tidak ada lagi harapan. Ketika dunia itu mendadak gelap, Damar adalah satu-satunya cahaya yang membuatnya bertahan.
"Kenapa kau pergi, Damar? Kenapa?" suara Laras pecah, seolah mengalir dari lubuk hatinya yang terdalam. Ia memejamkan mata, berusaha menahan air mata yang sudah berada di ujung kelopak.
Damar menarik napas panjang, suaranya dipenuhi kesedihan yang dalam. "Aku pergi karena aku takut, Laras. Aku takut melihatmu terluka, takut kehilanganmu jika aku tidak bisa melindungimu. Aku tidak tahu bagaimana caranya menjadi kuat untukmu saat itu. Aku terlalu takut, dan aku memilih untuk lari."
Kata-kata itu mengalir seperti arus sungai yang mengikis batu, membuat Laras merasa seolah ada sesuatu yang mulai melunak di dalam dirinya. "Tapi kau tidak tahu, Damar. Dengan pergi, kau membuat aku jatuh lebih dalam. Aku bukan hanya kehilangan penglihatanku, tetapi aku juga kehilangan dirimu. Aku merasa seolah aku tidak berarti apa-apa bagimu."
Damar merasa seolah-olah dunia runtuh di sekitarnya. "Laras, aku salah. Aku tahu aku salah. Dan aku tidak bisa lagi hidup dengan penyesalan ini. Aku ingin memperbaikinya, meskipun aku tahu itu tidak mudah."
Keheningan menyelimuti ruangan, seolah seluruh dunia ikut menahan napas. Laras memandang ke arah Damar, seolah mencoba membaca ekspresinya meskipun matanya tidak bisa melihat. Ia merasakan getaran di udara, getaran yang mengingatkan pada masa lalu mereka-masa ketika mereka tertawa bersama, berbagi impian, dan saling menjaga.
"Damar, aku ingin tahu, apakah kau benar-benar siap menghadapi apa pun untuk mendapatkan hatiku lagi?" Laras akhirnya berbicara, suaranya lembut tetapi penuh tekad.
Damar mengangguk, matanya bertemu dengan ruang kosong di mana Laras berada. "Aku siap, Laras. Aku siap melakukan apa pun, bahkan jika itu berarti aku harus membuktikannya seumur hidupku. Aku tidak akan pergi lagi, dan aku tidak akan meninggalkanmu."
Hujan di luar mulai mereda, dan suasana di dalam rumah mulai berubah. Ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang seakan memberi harapan di antara kegelapan. Laras merasakan ada sesuatu yang mulai membebaskan dirinya, sebuah rasa percaya yang terpendam dalam-dalam, sebuah pertanda bahwa mungkin, hanya mungkin, ia bisa mencoba membuka pintunya sedikit demi sedikit.
"Kalau begitu, buktikan, Damar. Buktikan bahwa aku bisa percaya padamu lagi," Laras berkata, suaranya penuh dengan ketidakpastian tetapi juga ada secercah harapan.
Damar tersenyum, senyum yang penuh dengan rasa syukur dan tekad. Ia tahu bahwa jalan yang harus ia tempuh tidak akan mudah, tetapi di sinilah ia harus memulai. Di hadapan Laras, di ruang yang penuh kenangan dan rasa sakit, ia akan berusaha sekuat mungkin untuk membuktikan bahwa cintanya kepada Laras lebih dari sekadar kata-kata.
Malam itu, di tengah hujan yang terus mengalir, dua hati yang terluka mulai mencari cara untuk menyembuhkan diri mereka. Hujan, yang sebelumnya menjadi simbol kesedihan, kini menjadi saksi awal perjalanan mereka untuk menemukan kembali cahaya di antara kegelapan.
Ini adalah kelanjutan bab 3 dengan pengembangan yang lebih emosional dan penuh konflik batin antara Laras dan Damar. Apakah ini sesuai dengan yang Anda harapkan?**Bab 3: Melawan Bayangan**
Laras tidak tahu berapa lama ia duduk di kursi goyangnya setelah Damar pergi. Suara hujan masih terdengar di luar, mengalun seperti nyanyian sunyi yang membangkitkan kenangan. Perasaan yang bercampur aduk-marah, rindu, takut-membuat dadanya terasa sesak. Ia ingin memaafkan, tetapi setiap kali mencoba membuka hatinya, bayangan malam itu datang menghalangi. Bayangan yang penuh dengan teriakan, tangisan, dan rasa sakit yang tak terperi.
Laras mengusap matanya yang mulai terasa perih. Ia tahu ia harus berjuang, tapi seberapa lama ia bisa bertahan? Setiap malam, mimpi buruk datang tanpa ampun, menampilkan sosok Damar yang berlari menjauh dari dirinya. Setiap malam, ia merasa ditinggalkan lagi. Namun, ada satu hal yang berbeda malam itu; ada sesuatu yang mengusik di dalam dirinya. Ada secercah keinginan yang mencoba menyelinap keluar, membawa harapan yang lama tertutup rapat.
Suara ketukan lembut di pintu membangunkannya dari lamunannya. Ia menahan napas, berharap itu hanya angin. Tapi ketukan itu datang lagi, lebih pasti, lebih nyata. Laras menelan ludahnya dan berdiri perlahan. Kaki-kakinya yang lemah mencoba menahan tubuhnya agar tetap tegak. Ia tahu itu Damar, dan hatinya berdegup cepat hanya dengan memikirkan kemungkinan dia di luar sana, menunggu untuk diberi kesempatan.
"Aku di sini, Laras," suara itu terdengar jelas, penuh penyesalan dan harapan. Laras tidak menjawab, hanya berdiri di sana, menunggu suara berikutnya.
"Dengar, aku tahu aku sudah banyak menyakiti, tapi aku harus memberitahumu sesuatu. Sesuatu yang tak bisa aku tahan lagi." Damar mengucapkan kata-kata itu dengan nada yang membuat jantung Laras berdetak lebih cepat. Ia tahu ada sesuatu yang berbeda dalam suara itu-tidak hanya penyesalan, tetapi juga keteguhan yang seolah siap mempertaruhkan segalanya.
Laras menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri sejenak. "Apa yang harus aku dengar, Damar?" Suaranya terdengar tenang, tetapi hatinya tidak bisa bohong. Ia ingin tahu, tetapi takut jawaban itu hanya akan membuatnya semakin terjerat dalam rasa sakit.
Damar tidak segera menjawab. Suara hujan di luar seakan menjadi saksi bisu dari ketegangan yang menyesakkan itu. "Aku ingin kau tahu bahwa aku tidak pernah berhenti mencintaimu, Laras. Tidak pernah, bahkan di saat-saat terburuk sekalipun."
Laras merasa panas di pipinya, seperti api kecil yang mulai membakar di dalam dirinya. Ia mengingat kembali waktu-waktu di mana Damar menemaninya, memberikan kekuatan saat ia merasa tidak ada lagi harapan. Ketika dunia itu mendadak gelap, Damar adalah satu-satunya cahaya yang membuatnya bertahan.
"Kenapa kau pergi, Damar? Kenapa?" suara Laras pecah, seolah mengalir dari lubuk hatinya yang terdalam. Ia memejamkan mata, berusaha menahan air mata yang sudah berada di ujung kelopak.
Damar menarik napas panjang, suaranya dipenuhi kesedihan yang dalam. "Aku pergi karena aku takut, Laras. Aku takut melihatmu terluka, takut kehilanganmu jika aku tidak bisa melindungimu. Aku tidak tahu bagaimana caranya menjadi kuat untukmu saat itu. Aku terlalu takut, dan aku memilih untuk lari."
Kata-kata itu mengalir seperti arus sungai yang mengikis batu, membuat Laras merasa seolah ada sesuatu yang mulai melunak di dalam dirinya. "Tapi kau tidak tahu, Damar. Dengan pergi, kau membuat aku jatuh lebih dalam. Aku bukan hanya kehilangan penglihatanku, tetapi aku juga kehilangan dirimu. Aku merasa seolah aku tidak berarti apa-apa bagimu."
Damar merasa seolah-olah dunia runtuh di sekitarnya. "Laras, aku salah. Aku tahu aku salah. Dan aku tidak bisa lagi hidup dengan penyesalan ini. Aku ingin memperbaikinya, meskipun aku tahu itu tidak mudah."
Keheningan menyelimuti ruangan, seolah seluruh dunia ikut menahan napas. Laras memandang ke arah Damar, seolah mencoba membaca ekspresinya meskipun matanya tidak bisa melihat. Ia merasakan getaran di udara, getaran yang mengingatkan pada masa lalu mereka-masa ketika mereka tertawa bersama, berbagi impian, dan saling menjaga.
"Damar, aku ingin tahu, apakah kau benar-benar siap menghadapi apa pun untuk mendapatkan hatiku lagi?" Laras akhirnya berbicara, suaranya lembut tetapi penuh tekad.
Damar mengangguk, matanya bertemu dengan ruang kosong di mana Laras berada. "Aku siap, Laras. Aku siap melakukan apa pun, bahkan jika itu berarti aku harus membuktikannya seumur hidupku. Aku tidak akan pergi lagi, dan aku tidak akan meninggalkanmu."
Hujan di luar mulai mereda, dan suasana di dalam rumah mulai berubah. Ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang seakan memberi harapan di antara kegelapan. Laras merasakan ada sesuatu yang mulai membebaskan dirinya, sebuah rasa percaya yang terpendam dalam-dalam, sebuah pertanda bahwa mungkin, hanya mungkin, ia bisa mencoba membuka pintunya sedikit demi sedikit.
"Kalau begitu, buktikan, Damar. Buktikan bahwa aku bisa percaya padamu lagi," Laras berkata, suaranya penuh dengan ketidakpastian tetapi juga ada secercah harapan.
Damar tersenyum, senyum yang penuh dengan rasa syukur dan tekad. Ia tahu bahwa jalan yang harus ia tempuh tidak akan mudah, tetapi di sinilah ia harus memulai. Di hadapan Laras, di ruang yang penuh kenangan dan rasa sakit, ia akan berusaha sekuat mungkin untuk membuktikan bahwa cintanya kepada Laras lebih dari sekadar kata-kata.
Malam itu, di tengah hujan yang terus mengalir, dua hati yang terluka mulai mencari cara untuk menyembuhkan diri mereka. Hujan, yang sebelumnya menjadi simbol kesedihan, kini menjadi saksi awal perjalanan mereka untuk menemukan kembali cahaya di antara kegelapan.
Anda Mungkin Juga Suka





