
Gadis Bangsawan
Bab 2
Tuan Alessandro Pienza dengan sikap kebapakan mengelus-elus rambut Amore Cardozo Pienza , ingin rasanya gadis kecil itu mengatakan pada tuan Alessandro Pienza tapi terngiang - giang pesan mamanya ... Diam , jangan bicara. Tatapan matanya Amore Cardozo Pienza suram menyimpan sesuatu .
"Hei gadis kecil cantik ini masih marah karena papa terlambat menjemput ke sekolah ya.!. Maaf ya.!. Papa janji , tidak terlambat menjemputmu lagi .!"
Ujar tuan Alessandro Pienza sembari menggendong anak perempuan kesayangannya.
"aku tidak marah ,papa.!"
Bisik Amore Cardozo Pienza sembari memeluk erat leher tuan Alessandro Pienza.
"Terima kasih, gadis kecilku. Kita ajak mama makan di restoran langganan kita ya , Amore Cardozo Pienza.!"
Seru tuan Alessandro Pienza dengan riang gembira, gadis kecil itu merebahkan kepalanya di bahu papanya. Semua orang tahu tuan Alessandro Pienza dan nyonya Amedea Cardozo adalah sepasang suami istri yang sama-sama berprofesi sebagai pedagang yang memiliki sebuah toko syal rajutan dan mereka di karunia Amore Cardozo Pienza seorang putri yang cantik , pintar dan lucu. Keluarga kecil yang sangat bahagia ini bermukim di suatu kota kecil pinggiran Italia.
"TUAN ALESSANDRO PIENZA.....TUAN ALESSANDRO PIENZA....."
Teriakan beberapa orang yang berlari menghampiri pria tampan yang sedang berjalan sambil menggendong putri kecilnya .
"Ada apa.?"
Ekspresi wajah kebingungan tuan Alessandro Pienza melihat beberapa orang yang memegang lengannya.
"Sepertinya tokomu di rampok, cepatlah ke sana.!"
Seru seseorang sembari menunjuk ke arah toko syal rajutan miliknya. Terbelalak mata tuan Alessandro Pienza , yang dipikirkan bukan tokonya tapi keadaan nyonya Amedea Cardozo istrinya, seketika itu juga ia berlari dengan masih menggendong putrinya yang makin memeluk erat leher papanya karena takut jatuh. Banyak orang berkerumun di depan tokonya dan ada dua mobil polisi yang baru parkir di depan tokonya.
"AMEDEA CARDOZO.... AMEDEA CARDOZO.. ...."
Teriak tuan Alessandro Pienza sembari menerobos melewati kerumunan banyak orang di depan tokonya. Sontak kakinya berhenti berlari saat melihat tubuh istrinya tergeletak di lantai bersimbah darah. Seorang polisi menghampirinya..
"Tuan Alessandro Pienza , ada beberapa pembeli melaporkan pada kami jika nyonya Amedea Cardozo istri anda ditemukan meninggal di dalam toko ini.!"
Penuturan polisi membuat semua orang terhenyak.
"SIAPA YANG MEMBUNUH AMADEA CARDOZO ISTRKU.!"
Suara tuan Alessandro Pienza menggelegar di seluruh ruangan toko syal rajutan miliknya , dengan tatapannya seperti harimau yang hendak menerkam lawan.
"papa..!"
Suara lirih putrinya membuat tuan Alessandro Pienza memejamkan kedua matanya dan menarik nafas dalam-dalam untuk menguasai emosinya.
"Papa, itu mama tidur di lantai kotor.!"
Tangan gadis kecil itu menunjuk ke arah mayat nyonya Amedea Cardozo Pienza , buru-buru tangan tuan Alessandro Pienza mendekap kepala gadis kecil sampai wajahnya menempel di bahunya yang tegap..
"Jangan lihat mamamu, Amore Cardozo Pienza anakku sayang .!"
bisik tuan Alessandro Pienza dengan lembut kepada anaknya meskipun remuk redam hatinya melihat kenyataan tubuh istrinya tergeletak bersimbah darah.
"Ayo kita bangunkan mama , pa. ! Mama harus mandi, ganti baju terus kita antar ke dokter.!. Nanti aku bisiki dokter, jangan menyuntik mama.!. Kita antar mama ke dokter terus pulangnya makan. Ayo, pa.!"
Sesak dada tuan Alessandro Pienza mendengar celoteh gadis kecilnya yang belum tahu kalau mamanya sudah meninggal. Ia hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan berusaha keras tidak meneteskan air matanya walau setitik di hadapan Amore Cardozo Pienza. Terdengar sirine ambulans yang menyelamatkan tuan Alessandro Pienza yang masih kesulitan menjelaskan ke putrinya kalau mamanya mati terbunuh.
"Papa...itu ada dua pak dokter datang , membawa tempat tidur dorong.!. Oh mama mau dibawa ke rumah sakit ya.!"
Ujar Amore Cardozo Pienza dengan gaya sok tahu seorang anak kecil.
"Tidak ada barang yang hilang di toko ini , semua uang juga masih utuh di dalam laci meja kasir. Jadi ini bukan perampokan, tuan Alessandro Pienza. Tapi kami dari pihak kepolisian masih terus melakukan penyelidikan.!"
Ujar seorang polisi dengan santun pada tuan Alessandro Pienza tidak bisa menjawab karena masih shock namun masih sempat mengangguk meng-iya-kan perkataan polisi. Dalam hati ia berkata...
{"Bagaimana bisa Amedea Cardozo istriku tercinta di bunuh.?. Siapa yang membunuhnya dan kenapa membunuh istriku .?. Tuhan , tolong beritahu aku.!"}
"Tuan Alessandro Pienza , anakmu tertidur. Duduklah di sini.!"
Ujar seseorang sembari mendekatkan kursi kosong pada tuan Alessandro Pienza yang melirik gadis mungilnya yang tertidur di pelukannya. Ia duduk di kursi kosong sembari mengecup pucuk kepala Amore Cardozo Pienza.
"Kasihan tuan Alessandro Pienza dan Amore Cardozo Pienza putrinya. Siapa yang tega membunuh istrinya.?"
"Sungguh keji dan biadab orang yang membunuh nyonya Amedea Cardozo Pienza .?"
"Semoga pembunuhnya cepat tertangkap dan di jatuhi hukuman setimpal .!"
Bisikan semua orang yang terenyuh melihat seorang pria tenggelam dalam kesedihan sedang duduk sembari memeluk erat anak gadisnya yang masih berusia enam tahun. Di saat anak gadisnya yang kecil mungil itu tertidur di pelukannya, di saat itu pula tangannya menghapus air mata yang menetes di pipinya. Hati suami mana yang tidak hancur melihat istrinya mati dalam keadaan mengenaskan seperti ini .?. Padahal selama ini , rumah tangga mereka juga baik-baik saja.
"tuan Alessandro Pienza , aku turut bersedih atas kejadian yang menimpa Amedea istrimu .!
Kepala tuan Alessandro Pienza mendongak , melihat ke asal suara.
"Terima kasih, Achilleo."
Sahut tuan Alessandro Pienza dengan suara parau yang sarat dengan kesedihan mendalam.
Papa , aku lapar.!"
Gadis kecil itu menggeliat di pelukan tuan Alessandro Pienza,
"Hai anak cantik , siapa namamu .?"
Mendengar suara bariton seorang pria dewasa , seketika itu juga Amore Cardozo Pienza berhenti menggeliat. Ia seperti pernah mendengar suara bariton pria itu tapi di mana dan kapan .?. Otaknya mencoba untuk mengingat dan kedua bola matanya yang coklat indah melihat ke asal suara , serasa jantungnya berhenti berdetak. Bagaimana tidak ,?!. Pria yang menusuk mamanya , sekarang ada di hadapannya. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya dan teringat pesan mamanya... Diam, jangan bicara.!. Bahaya .!
Gadis kecil itu langsung diam seribu bahasa , tidak mau memberitahu namanya pada pria jahat itu. Cepat-cepat dipejamkan kedua matanya dan dibenamkan wajahnya ke dada tuan Alessandro Pienza.
"Ini Amore Cardozo Pienza anakku , Achilleo. Dia sedih melihat mamanya dan tidak mau menjawab pertanyaanmu ,!"
Tutur tuan Alessandro Pienza yang langsung mendekap erat Amore Cardozo Pienza anaknya.
"Ya, tuan Alessandro Pienza. Aku paham , namanya juga anak kecil pasti sedih.!"
Ujar Achilleo teman tuan Alessandro Pienza yang baru sebulan kenal tapi Achilleo selalu bersikap ramah , baik dan sopan.
Anda Mungkin Juga Suka





