Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Foto Bayi di Ponsel Suamiku

Foto Bayi di Ponsel Suamiku

Monalisa adalah istri setia hingga ia menemukan foto bayi misterius di ponsel Bayu, suaminya. Meski Bayu berdalih gambar itu dari internet, kecurigaan Mona menuntunnya pada kenyataan pahit: suaminya telah memiliki anak dengan wanita lain. Hancur karena dikhianati, Mona menolak terpuruk dalam kesedihan. Ia justru bangkit dan menyusun rencana matang untuk membalas dendam, berniat menghancurkan hidup Bayu serta selingkuhannya dengan rasa sakit yang jauh lebih hebat.
Bab
Bagikan

Bab 3

Bagian 3

Baru saja aku hendak meletakkan kembali ponsel Mas Bayu, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.

"Dek, ponsel Mas ketinggalan," ucap Mas Bayu begitu tiba di kamar.

"Iya, baru saja ada pesan masuk dari BRI NOTIF. Mas baru narik uang ya?"

Raut wajah Mas Bayu mendadak berubah, terlihat sekali kalau suamiku ini sedang menyembunyikan sesuatu.

"Untuk apa, Mas?" tanyaku lagi.

"Ini, Dek. Mas perlu uang untuk membayar barang pesanan toko. Kamu kan tahu sendiri kalau Mas beli barang pakai modal sendiri, Dek. Makanya Mas narik uang di ATM barusan."

"Bukannya kalau mau beli barang atau bahan bangunan, Mas selalu putar modal yang didapat dari hasil penjualan?"

Biasanya memang begitu. Mas Bayu tidak pernah menggunakan uang tabungan untuk membeli barang-barang toko. Setiap barang yang terjual akan di catat. Dan uangnya akan digunakan untuk membeli stok barang yang baru. Begitulah seterusnya.

"Akhir-akhir ini toko lagi sepi, Dek. Makanya Mas bingung mau nyari uang di mana lagi untuk membeli stoknya. Kok kamu jadu curiga gitu, Dek? Jangan bilang kamu telah berpikiran buruk pada Mas?"

Aku hanya diam, menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Percuma diteruskan. Mas Bayu tidak akan mau mengakuinya.

"Masih pamit ya, Dek!"

Aku hanya menjawabnya dengan anggukkan kepala.

Jika saja pagi ini aku tidak buru-buru, pasti aku akan mengikutinya.

Jarum jam di pergelangan tangan kiriku sudah menunjukkan pukul 07.40 WIB. Aku pun langsung mengambil tas dan juga kunci motor yang digantung di salah satu paku dinding kamar.

"Bu, Mona pamit ya," ucapku pada ibu mertua yang sedang bersantai di ruang tamu. Aku meraih tangannya hendak menciumnya, tapi Ibu malah menepisnya.

"Itu piring kotor nggak dicuci dulu sebelum pergi? Ibu paling malas kalau liat piring kotor numpuk di wastafel."

"Maaf, Mona buru-buru, Bu, takut telat!"

"Alasan saja! Apa susahnya sih menuruti perintah ibu?" Kini Ibu berdiri, melipat kedua tangan di depan dada sambil menatapku dengan tatapan tajam.

Selalu saja begitu. Padahal semuanya sudah aku kerjakan. Mulai dari memasak, mencuci pakaian, membersihkan rumah, menyapu halaman, semuanya sudah beres. Tunggal piring bekas sarapan tadi yang belum aku cuci. Itu juga masih dipermasalahkan. Harusnya jika Ibu keberatan, ia bisa mengerjakannya sendiri. Nggak harus menungguku.

"Mona pamit, Bu, assalamualaikum."

Aku segera berlalu dari hadapannya, tidak akan ada habisnya jika aku masih berdiri di situ.

Buru-buru kukeluarkan motor matic milikku dari garasi, menghidupkan mesinnya, lalu tancap gas menuju tempat kerjaku.

***

Hari ini aku sama sekali tidak bersemangat dalam menjalankan pekerjaanku. Pikiranku dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab.

Anganku menerawang jauh, memikirkan nasib rumah tanggaku. Entah bagaimana nasib rumah tanggaku nantinya jika terbukti bahwa Mas Bayu telah mengkhianatiku. Tidak mungkin aku bisa bertahan menerima kebohongannya.

Lebih baik berpisah daripada harus diduakan. Itu prinsipku. Pekerjaan ada, gaji ada. Jadi, aku tidak perlu takut jika memang harus berpisah dengannya.

Hanya satu yang aku takutkan, takut jika penyakit Bapak akan kambuh jika mendengar kabar yang tidak menyenangkan. Pasti Bapak akan kepikiran nantinya.

Astaghfirullah … aku mengucap istighfar berulang kali agar hati ini bisa tenang.

"Mona, kok wajahmu murung begitu? Apa kamu sedang tidak enak badan?"

Pertanyaan Umi Hikmah, sang pemilik toko laundry membuyarkan lamunanku.

"Jika sedang tidak enak badan, kamu boleh pulang, kok," ucapnya lagi.

"Mona Nggak apa-apa, Umi. Mona baik-baik saja!"

Jujur, aku merasa tidak enak hati padanya. Beliau tadi sempat melihat wajahku saat murung. Aku takut Umi Hafsah akan berpikir buruk tentangku. Takut dikira malas.

"Syukurlah kalau begitu. Oh ya Mona, hari ini kita tutup cepat ya. Silakan tulis pengumumannya dulu lalu tempelkan setelah menutup rolling door."

"Tutup cepat? Memangnya ada apa, Umi? Apa Mona membuat kesalahan?" Aku memberanikan diri untuk bertanya soal itu.

"Nggak kok. Kebetulan hari ini anak Umi yang sedang kuliah di luar kota mau pulang. Umi mau menyambut kedatangannya. Semua karyawan bagian cuci, setrika serta packing sudah Umi suruh pulang dari tadi."

Iya, ya. Ternyata semua teman-teman kerjaku sudah pulang. Buktinya tinggal motorku saja yang masih berada di tempat parkiran. Sungguh aku benar-benar tidak fokus hari ini.

"Ya sudah, kamu pulang sekarang ya! Istirahatlah di rumah! Untuk beberapa hari ke depan, laundry akan tutup. Tapi tenang saja, untuk masalah gaji, Umi tidak akan memotongnya."

Ah, Umi Hikmah baik sekali. Coba saja ibu mertuaku seperti dia. Pasti aku akan sangat bahagia.

"Baik, Umi. Mona mau beres-beres dulu ya!"

"Jangan lupa pengumumannya di tempel ya. Cantumkan juga no HP-nya Widya. Siapa tahu ada konsumen yang ingin mengambil pakaian, mereka bisa menghubungi nomor Widya," titah wanita berjilbab syar'i tersebut.

Aku segera melaksanakan perintahnya, setelah semuanya beres, aku pun menuju parkiran.

"Mona, tunggu!" Umi Hafsah menghampiriku, lalu memberikan sesuatu padaku.

"Apa ini, Umi?" tanyaku penasaran.

"Umi tadi bikin kue, ini untukmu. Ambillah!"

Aku pun mengambilnya, lalu mengucapkan terima kasih.

Sebelum menghidupkan mesin motor, aku berpikir sejenak. Jika aku pulang ke rumah, pasti Ibu akan mengomel dan mengatakan aku ini pemalas. Sebenarnya aku malas pulang karena kerjaan di rumah tidak ada habisnya. Ibu mertua selalu saja menyuruhku untuk mengerjakan ini dan itu. Untuk beristirahat sejenak saja pun tidak bisa.

Sebaiknya aku mendatangi tokonya Mas Bayu saja. Siapa tahu aku bisa menemukan bukti di sana.

***

"Siang, Neng," sapa Kang Jono saat aku tiba di toko material milik suamiku.

"Siang juga, Kang," balasku sambil menyunggingkan senyum ke arahnya.

Kang Jono sedang sibuk dengan aktifitasnya, yaitu mencetak batako.

"Mas Bayunya ada, Kang?"

"Sedang keluar, Neng. Mungkin sedang mengantar barang pesanan pelanggan," jawabnya sambil fokus pada alat yang sedang dipegangnya. Alat yang terbuat dari besi, yang digunakan beliau untuk mencetak batako.

"Sudah lama, Kang?"

"Kurang tahu juga sih, Neng. Sebaiknya Neng tunggu di dalam saja. Di sini panas!"

"Tunggu dulu, Kang. Biasanya kan mobil itu yang digunakan untuk mengantar barang pesanan pelanggan." Aku menunjuk mobil carry pick up berwarna hitam yang terparkir di samping toko.

Apa lagi ini? Siang-siang begini malah Mas Bayu tidak ada di toko. Ke mana perginya Mas Bayu?

"Kang, boleh tanya sesuatu nggak?"

Kang Jono menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu beralih menatapku.

"Mau nanya apa, Neng?"

Aku tahu Kang Jono orangnya jujur, pasti ia akan jujur menjawab pertanyaanku.

"Apa akhir-akhir ini toko sedang sepi?"

"Nggak kok, Neng. Malah sekarang toko makin rame. Penjualan semakin meningkat. Pesanan batako juga makin banyak. Memangnya ada apa, Neng?"

"Nggak ada apa-apa kok, Kang. Mona nunggu Mas Bayu di dalam saja."

"Baik, Neng!" Kang Jono pun melanjutkan pekerjaannya kembali.

Aku bergegas masuk ke dalam untuk memeriksa laporan penjualan. Setelah membuka lembar demi lembar buku laporan penjualan tersebut, ternyata benar, omset penjualan di toko ini semakin meningkat. Lantas, kenapa Mas Bayu berbohong padaku?

"Neng Mona? Ngapain di sini? Nunggu Pak Bayu ya?" tanya Mas Amar. Ia menghampiriku yang sedang duduk di meja kasir. Mas Amar adalah asisten Mas Bayu, sekaligus merangkap sebagai knet yang bertugas memuat dan mengantar barang pesanan pelanggan.

"Iya, ni. Mas Bayu kemana ya?"

"Keluar, Neng. Nggak tahu kemana," jawabnya singkat.

"Ya sudah, nggak apa-apa. Mona pulang saja. Nggak usah kasih tahu Mas Bayu kalau Mona datang ke sini, ya. Rencananya tadi mona mau kasih kejutan pada Mas Bayu. Karena Mas Bayu nya lama, kejutannya di rumah aja." Aku sengaja berkata seperti itu pada Mas Amar. Semoga saja beliau bisa diajak kompromi.

"Iya, Neng, beres!"

Aku pun keluar dari dalam toko tersebut, menemui Kang Jono dan mengatakan hal yang sama. Memintanya agar tidak memberitahu kedatanganku ke toko ini.

Satu kebohongan Mas Bayu telah terungkap. Entah apa tujuannya membohongiku. Mengatakan bahwa toko materialnya sedang sepi. Padahal tokonya sedang ramai-ramainya. Jatah bulananku juga dikurangi karena alasan itu.

Apa maksud dari semua ini?

Apa ini ada kaitannya dengan foto bayi yang kulihat di ponselnya Mas Bayu tempo hari?

Baiklah, aku akan menyelidiki dan mencari tahunya sendiri.

Bersambung

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95ETS" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95ETS
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dia Mengendalikan Dunia
9.3
Grace, miliarder yang lama disembunyikan pemerintah, akhirnya menemukan kasih sayang di keluarga Holden. Meski dituduh penipu, identitas aslinya sebagai profesor jenius, bos perusahaan besar, dan peretas andal perlahan terungkap. Di tengah kesuksesannya yang mengguncang dunia, Colton sang taipan misterius datang menagih komitmen masa depan. Dengan tawaran pulau mewah untuk setiap keturunan, Colton bertekad mengikat Grace dalam romansa yang tak terelakkan.
Sampul Novel Dicambuk atau Diceraikan?
9.4
Menjalani hukuman cambuk di Diusz menjadi momen paling memalukan bagi sang protagonis wanita. Di hadapan beberapa pria kekar yang menyingkap roknya secara paksa, ia harus pasrah menerima cambukan. Namun, tindakan kejam ini justru memicu reaksi tak terduga dari suaminya sendiri yang mendadak bergairah melihat penyiksaan tersebut. Kejadian intim malam itu akhirnya mengembalikan kebahagiaan rumah tangga mereka yang telah lama hilang dalam novel romantis modern yang penuh ketegangan ini.
Sampul Novel Gadis Terbuang vs Raja Bisnis
8.7
Olivia menyusuri jalanan dengan lelah, menggenggam map lamaran kerja sambil berharap ada lowongan bagi dirinya. Saat ia bertanya pada satpam, perhatian teralih oleh kedatangan Alexander Drake, pengusaha berwibawa yang turun dari mobil mewahnya. Pertemuan singkat itu menciptakan ketegangan saat mata mereka beradu. Meski Olivia merasa rendah diri dan Alexander bersikap dingin, ketertarikan mulai muncul. Tanpa disadari, momen di gerbang kantor itu akan mengubah hidup Olivia selamanya.
Sampul Novel Hot Secret On The Rooftop
8.5
Angela mulai curiga dengan keganjilan di kantor tantenya, terutama skandal rooftop dan hubungan gelap antara Tristan si bos galak dengan sekretarisnya, Tike. Di tengah tekanan tugas tak biasa dan gangguan Mark yang licik, Angela harus menjaga reputasi Yoke dari musuh-musuhnya. Tantangan semakin rumit saat ia harus memilih antara sumpah menghindari rekan kerja atau menerima perlindungan tulus dari Tom. Mampukah ia mengungkap rahasia rooftop dan bertahan di lingkungan penuh intrik ini?
Sampul Novel I Love My Mother's Ex Lover
8.0
Tujuh belas tahun lamanya Song Dasom memendam rasa pada aktor Yoo Junsu. Tak disangka, sang idola membalas perasaannya hingga mereka berkencan. Namun, di balik perhatian itu, Junsu menyimpan rahasia kelam: ia hanya mendekati Dasom karena kemiripannya dengan sang mantan kekasih yang ternyata ibu kandung Dasom sendiri. Saat kebenaran terungkap, Junsu harus menebus dosanya dengan bersimpuh memohon ampun. Di tengah luka dan rintangan, mereka berjuang untuk saling memulihkan.
Sampul Novel Istri Kedua, Luka Pertama
9.1
Rafindra Mahardika, pewaris tunggal ningrat, dipaksa ayahnya mencari keturunan baru setelah kematian putri sulungnya. Nadira, gadis 19 tahun, terpaksa menjadi istri kedua demi biaya pengobatan ibunya meski ia sangat mencintai kekasihnya, Farel. Di kediaman Rafindra, Nadira menderita akibat perlakuan buruk istri pertama tanpa perlindungan dari suaminya. Mampukah ia bertahan di tengah intrik kejam keluarga ini ataukah hatinya akan hancur selamanya?