
Forced Marriage
Bab 2
Kring.....
Dering alarm jam membangunkan wanita yang sedang tertidur pulas disamping pria bertubuh kekar itu , Liza mulai membuka matanya dan kembali mengingat kejadian malang yang menimpanya malam itu .Air matanya kembali terjatuh ia merasakan kepedihan menyayati hatinya .
Tak ingin larut dalam suasana itu Liza langsung membangunkan tubuhnya dari kasur meninggalkan Joan yang masih tertidur .Liza mulai bergegas menuju kamar mandi yang terletak didalam kamarnya untuk membersihkan diri .
Tak cukup 15 menit Liza sudah melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi dan langsung menuju kearah walk in closetnya yang berada disamping kamarnya .
Disisi lain Joan yang baru saja terbangun dari tidurnya langsung mencari - cari keberadaan perempuan yang telah ditidurinya malam itu .
Karena tak mendapatkan tanda -tanda keberadaan Liza diruangan itu , Joan akhirnya mengenakan kimono berwarna putih terlebih dahulu untuk menutupi tubuhnya yang telanjang ia kemudian melangkahkan kakinya menelusuri seluruh ruangan yang berada di
apartemen itu .
Pencarian Joan pun terhenti saat ia melihat Liza yang sudah cantik mengenakan dress berwarna hitam diruangan walk in closetnya .
Joan mulai menghampiri Liza yang masih menatapnya dengan tatapan tajam .Joan tahu persis apa yang dirasakan oleh Liza saat ini , wanita manapun pasti tak akan pernah memaafkan pria yang merebut masa depannya dengan paksa .
Dengan memberanikan diri Joan semakin mendekatkan tubuhnya dengan tubuh wanita yang memiliki tinggi 168 cm itu .Joan dengan cepat menarik tubuh wanita itu kedalam pelukannya , pria itu mulai merasakan tubuh wanita itu mulai bergetar diiringi Isak tangis .
" Maafkan saya Liza , saya sudah benar benar melewati batas" Bisik Joan namun tak digubris oleh Liza , wanita itu masih terdiam mematung tanpa mengucapkan sepatah katapun .
Joan semakin mengeratkan pelukannya ,karena wanita itu enggan membalas pelukan hangat yang diberikan olehnya .
Berbeda dengan Liza , kini ia mulai melepaskan tubuhnya dan mulai menjaga jaraknya dari tubuh Joan, perlahan Ia mulai menghapus air mata yang membasahi pipi mulusnya .Liza menatap Joan dengan tajam kali ini ia benar benar tak bisa menahan amarahnya menghadapi pria brengsek yang telah merenggut hal yang selama ini ia jaga .
Plak ...
Satu tamparan mendarat keras dipipi kiri Joan yang membuat pria itu refleks merintih kesakitan seraya memegangi pipi kirinya yang terasa perih itu .
Amarah Joan pun ikut memuncak karena sikap kasar wanita yang ada dihadapannya itu , Joan pun menatap Liza dengan tatapan yang tak kalah tajam , sedetik amarah Joan seketika hilang bersamaan dengan air mata Liza yang kembali mengalir membasahi kedua pipinya .Joan dapat melihat jelas bibir wanita itu bergetar dengan Isak tangis yang semakin keras dibandingkan sebelumnya.
" Liza saya akan berjanji akan menikahimu , jadi tolong berhentilah menangis seolah saya akan meninggalkanmu tanpa rasa tanggung jawab !" Perintah Joan yang membuat Liza menampilkan senyum sinisnya .
" Apa kamu kira dengan menikahiku akan menyelesaikan segalanya ?" Tanya Liza yang dibalas anggukan Joan .
Liza menggeleng tak mengerti lagi dengan pria yang ada dihadapannya ini " Tak peduli seberapa kayanya keluargamu , saya tak akan pernah sudi menikahi pria brengsek sepertimu .Sampah seperti dirimu bahkan tak layak untuk didaur ulang sekalipun " Ucap Liza yang membuat Joan malah menampilkan senyum smirknya .
" Lalu bagaimana denganmu Liza , masa depanmu telah kurenggut sepenuhnya .Entah siapapun pria yang kau cintai dimasa mendatang .Apakah kau pikir pria itu akan siap menerima kenyataan tentang dirimu ? " Ancam Joan yang membuat Liza memolototkan mata indahnya.
Joan tersenyum penuh kemenangan karena wanita yang sedang ia lawan itu kalah telak , pria itu memang paling handal dalam hal mengancam seseorang .
Melihat ekspresi puas yang dilontarkan Joan ,Liza akhirnya angkat bicara dan tak ingin dianggap kehabisan kata- kata .
" Sekali lagi saya akan menegaskan padamu , bahwa saya tak akan pernah menikahimu jadi tolong tolaklah pernikahan ini dihadapan kedua keluarga kita , anggap saja sebagai kompensasi atas apa yang telah kau lakukan terhadapku setelah ini kita tak akan pernah mempunyai urusan apapun .Saya akan melepaskanmu tanpa meminta pertanggung jawaban apapun , mengenai pria yang saya cintai itu tak ada urusannya denganmu karena pria yang akan saya nikahi dimasa depan nanti adalah orang yang bisa menerima saya dengan apa adanya " Ucap Liza yang membuat Joan tak berkutik dibuatnya .
***
Wanita bertubuh jangkung dengan anggunnya mulai memasuki mansion milik keluarga Rivenno .Wanita bermata monolid itu mulai membungkukkan tubuhnya memberikan hormat kepada kedua orang tuanya yang sudah setia menunggu kedatangan putra dan putrinya itu .
" Maaf pah mah , kali ini jadwal Sarah full banget makanya Sarah datangnya gak bisa tepat waktu " Ucap Sarah seraya mulai mendudukkan tubuhnya disalah satu kursi makan yang berada disebelah mamahnya .
Ansel Carlos Rivenno hanya bisa tersenyum tipis mendengar ucapan dari putri sulungnya itu .
" Iya gak papa sayang , mamah dan papah ngerti kok kalo jadwal kamu padat banget " jawab Auristella Rivenno seraya mulai mengelus rambut putrinya yang tergerai indah itu .
Sarah hanya bisa tersenyum tipis melihat kelakuan manis mamahnya itu , jujur saja ia sangat merindukan masa-masa kecilnya saat ia masih tinggal bersama kedua orang tuanya serta adik laki-lakinya di mansion mewah itu .
Berbeda dengan sekarang Sarah dan Joan justru harus tinggal berjauhan dengan kedua orang tuanya itu karena harus mengurusi setiap perusahaan keluarga yang berdiri dibidangnya masing -masing.Lokasi perusahaannya pun berbeda- beda , Sarah yang bertanggung jawab sebagai CEO perusahaan Angkasa pura yang membuat ia harus menghabiskan harinya untuk mengelola pengusahaan bandar udara .Berbeda dengan adiknya Joan yang bertanggung jawab sebagai CEO perusahaan IT terbesar dan paling berpengaruh didunia membuat ia harus menghabiskan hari - harinya untuk duduk didepan komputer dan melakukan penerbangan keluar negeri untuk mencapai kesepakatan bisnis .
" Maaf Joan telat datengnya " Ucap Joan memecah keheningan yang terjadi diruangan itu .
Ansel mulai tersenyum bahagia melihat kedatangan putra bungsunya itu , ia kemudian merangkul Joan dengan gembira yang membuat Sarah geram dibuatnya .Bagaimana tidak ? Jelas jelas papahnya itu memperlakukan mereka dengan berbeda , Jika tadi kedatangan Sarah dihiraukan bagaikan angin lewat namun kali ini kedatangan Joan justru dianggap papahnya bagaikan oksigen yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia .
Sarah menatap tajam kearah Joan , yang membuat Joan bergidik ngeri melihat tatapan mematikan dari perempuan yang berumur dua tahun lebih tua darinya itu .
Joan mulai memberanikan diri untuk mendudukkan tubuhnya disamping Sarah yang masih setia dengan tatapannya itu .
Melihat tingkah arogan kakaknya itu , Joan pun mulai memicingkan matanya seraya menampilkan senyum simpulnya .
" Malem ini Lo cantik banget kak , andai aja Darren datang pasti dia bakal muji Lo habis -habisan " Gombal Joan yang membuat kedua orang tuanya tertawa, sementara yang digombal malah memalingkan wajahnya .
Darren , mendengar nama tunangannya itu membuat nafsu makan Sarah seketika hilang begitu saja .Sarah bukannya tidak mencintai pria itu , justru pria itulah yang membuatnya merasa tak pernah dicintai .Sarah berkali -kali memergoki Darren bersama wanita lain ketika ia berlibur di Amerika dan yang paling parahnya pria itu mengencani wanita yang berbeda setiap Sarah memergokinya .
Sarah sebenernya ingin mengatakan hal ini kepada keluarganya dan segera membatalkan acara pernikahan yang akan digelar setelah kepulangan Darren dari Kanada , namun ia tidak ingin merasa disalahkan atas pilihannya.Dulu Sarah lah yang memacari dan memperkenalkan Darren kepada keluarganya , bahkan keluarga Rivenno juga sudah banyak membantu keluarga Darren mengatasi masalah krisis perusahaan yang membuat keluarganya hampir mengalami kebangkrutan.
Karena merasa terlalu banyak berkorban untuk kekasihnya itu , akhirnya Sarah memilih untuk tetap diam dan berpura -pura tidak terjadi apapun didepan keluarganya maupun didepan Darren .
Sarah kini mulai merilekskan pikiran serta perasaannya dan beralih menatap Joan yang sedang menyantap makanannya dengan lahap .
" Apa Liza menerima perjodohan ini ? " Tanya Sarah yang membuat Joan tersedak , ia pun memberikan segelas air minum kepada adiknya itu dan menunggu Joan meneguk air minumnya .
Setelah merasa tenggorokannya sudah membaik kini Joan akhinya angkat bicara .
" Masalah nolak atau nerima perjodohan , keputusan itu berada ditangan gue .Wanita itu gak punya hak untuk ngambil putusan apapun" Ujar Joan yang membuat Sarah kebingungan dibuatnya .
" Gak bisa gitu dong sayang , keputusan bakalan diambil dari dua belah pihak " Imbuh Auris yang membuat Joan tersenyum kikuk.
" Ucapan mamah kamu bener Joan , kita gak bisa memaksakan kehendak Liza hanya karena kita lebih kaya darinya " Ucap Ansel membenarkan perkataan istrinya itu .
Joan akhirnya terdiam seribu bahasa, bukan karena ucapan dari kedua orang tuanya namun karena ucapan Liza yang mengatakan bahwa dirinya memiliki kekasih kembali menghantui pikirannya .
Anda Mungkin Juga Suka





