
FATED (Tuan Mafia dan Nona Badut)
Bab 3
"Ke mana saja kamu seharian ini hah?" Raline nyaris terjungkal kala ayahnya membentak kasar. Ia kaget. Untungnya ia masih sempat meraih pegangan pintu. Akan sangat memalukan kalau ia terjerembab seperti katak lompat di depan semua orang.
Saat ini yang tampak dalam penglihatan Raline adalah ayah dan ibunya, Pak Riswan serta dua orang bodyguard si aki-aki yang biasa. Ayah dan ibunya duduk bersisian di sofa. Sementara Pak Riswan duduk di hadapan kedua orang tuanya. Kedua bodyguard Pak Riswan masing-masing berdiri di belakang sofa dalam posisi siaga. Sepertinya Pak Riswan tengah mengintimidasi kedua orang tuanya.
Raline tidak langsung menjawab pertanyaan ayahnya. Melainkan ia menatap Pak Riswan dengan pandangan penuh kebencian.
Ketika tatapan Raline bersirobok dengan Pak Riswan di udara, si tua bangka itu mengedipkan sebelah matanya mesum. Raline memelototi Pak Riswan. Dulu ia memang takut pada Pak Riswan. Makanya Raline tidak pernah menatap mata Pak Riswan secara langsung. Tapi kali ini beda. Sudah ada Axel yang berdiri di sampingnya. Bersama Axel, Raline tidak takut terhadap apapun lagi.
"Raline mencari uang, Yah. Ayah jangan marah-marah terus. Duduk dulu, Yah. Nanti darah tinggi Ayah naik lagi. Kita sedang tidak punya uang ke rumah sakit bukan?"
Setelah memberi tatapan peringatan kepada Pak Riswan, Raline bergegas menghampiri ayahnya. Ayahnya berdiri sembari memegangi dada. Raline takut kalau ayahnya kolaps lagi. Dalam sebulan ini sudah dua kali ayahnya kolaps karena tensinya melonjak. Ia sampai harus menjual tas branded terakhirnya demi membawa ayahnya ke dokter.
"Mencari uang katamu? Lantas mana uangnya?" Pak Adjie menepis tangan Raline. Selain marah, sesungguhnya ia juga cemas. Seharian putrinya ini tidak pulang-pulang. Ponselnya juga tidak aktif. Bagaimanapun Raline itu putrinya. Ia takut kalau putrinya yang naif ini mendapat masalah di luar sana. Belum lagi Pak Riswan yang mengamuk karena mengira dirinya bersekongkol dengan Raline untuk mengelakkan perjodohan.
Dan kini pulang-pulang putrinya malah membawa seorang laki-laki bule. Ia sangat antipati pada bule. Karena di masa lalu, putrinya ini sudah pernah ditipu oleh seorang bule. Bagaimana ia tidak makin jengkel karenanya?
"Bule ini siapa?" Pak Adjie menunjuk Axel.
"Ini Mas Axel, Yah. Sebagai informasi Mas Axel bukan bule original. Tapi bule KW. Kata Lily, almarhum papanya saja yang orang Prancis. Kalau mamanya mah asli Ciamis." Raline mengedit tuduhan ayahnya.
"Mau original, mau KW, tetap saja judulnya bule. Apa kamu tidak kapok pernah ditipu bule?" sembur Pak Adjie gusar. Putrinya ini memang susah diajak berbicara serius. Kekurangancerdasannya lah yang kerap membuat putrinya ini mudah dipengaruhi dan ditipu.
"Tapi sepertinya Ayah pernah melihat wajah orang ini. Tapi entah di mana?" Pak Adjie mengerutkan kening. Ia mencoba mengingat-ingat di mana ia melihat wajah bule dingin ini. Tatapan mata sang bule begitu mengintimidasi. Ada aura sangar yang menguar dari raut wajahnya. Pak Adjie mengalihkan tatapan. Ia ngeri memandang sang bule. Perbawa bule ini jelas menyiratkan ancaman tanpa kata-kata. Siapa dia?
Akan halnya Pak Riswan, nyalinya langsung ciut ketika mendengar Raline menyebut nama Axel. Ternyata dugaannya benar. Bule gahar ini adalah anak almarhun Pierre Delacroix Adams. Kakak angkat almarhum Texas Delacroix Bimantara, sahabat lamanya.
Walau semua orang mengenal Axel sebagai anak kandung Pierre, sesungguhnya Axel adalah anak kandung Texas. Aimee, ibu Axel, sebelumnya adalah pacar Texas sebelum menikah dengan Pierre. Rahasia ini hanya segelintir orang yang tahu. Sebelum Texas tewas tertembak karena mencoba menyerang Lily, sahabatnya itu sempat memberitahu rahasianya.
Sebenarnya ia telah mempunyai prasangka, kala menatap wajah dingin si bule. Garis wajahnya bagai pinang dibelah dua dengan Texas. Namun ia masih berharap semoga dugaannya salah.
Tapi ketika Raline menyebut nama Axel dan Lily, Pak Riswan seketika loyo. Nama anak-anak Pierre memang Axel dan Lily. Dulu, ia pernah beberapa kali bertemu dengan anak-anak Pierre, kala ia menemani Texas mengunjungi kakak angkatnya. Saat itu Pierre belum tewas. Texas menembak kakak angkatnya sendiri karena cemburu. Waktu berlalu begitu cepat. Axel sekarang sudah sedewasa ini.
Nama Delacroix Adams sendiri adalah nama yang paling menakutkan dalam dunia hitam. Tiga generasi Delacroix Adams, terkenal bengis kalau diusik. Dimulai dari Javier, Pierre dan kini Axel. Sepertinya niatnya memperdaya Pak Adjie agar bisa memperistri Raline, tidak akan terwujud. Putra Texas ini sudah menandai daerah teritorinya. Bersahabat dengan Texas, membuat Pak Riswan khatam dengan karakter sahabatnya itu. Texas itu kalau sudah punya mau, semua rintangan akan ia terjang. Darah Texas dan Axel sama. Keduanya pasti memiliki karakter yang kurang lebih sama juga.
"Nanyanya satu-satu dong, Yah. Raline bingung kalau pertanyaan Ayah keroyokan begini. Yang mana dulu yang harus Raline jawab? Oh, sepertinya masalah uang saja dulu yang Raline jelaskan. Ayah 'kan suka sekali dengan uang."
Raline menjentikkan jari dengan gembira. Ia bangga atas ide cemerlang yang tiba-tiba saja singgah di benaknya. Ayahnya pasti tidak jadi marah kalau dirinya membahas masalah uang.
"Ayah tadi tanya mana uang yang Raline cari bukan? Nah, ini uangnya." Raline menepuk-nepuk saku celana Axel dengan senyum lebar.
"Lo biasa naroh uang di saku yang mana? Saku celana atau saku jas?" bisik Raline lirih.
"Di saku jas." Axel balas berbisik lirih. Ia memang selalu membawa cek di saku jasnya untuk pembayaran dalam jumlah besar. Di saku celana, ia mengisi dompet dengan uang cash beberapa lembar dan beberapa kartu sekedarnya saja.
"Oke, gue ngerti." Raline mengangguk takzim. Kalimatnya salah. Untuk itu ia akan mengulanginya lagi.
"Di sini uangnya, Yah. Raline salah tunjuk." Raline menepuk-nepuk saku jas Axel dengan bangga.
"Apa maksudmu, Line?" Pak Adjie meremas rambut frustasi. Putrinya ini sedang kambuh onengnya. Lain yang ia tanya, lain juga yang ia jawab.
"Maksud Raline, Mas Axel ini membawa uang dua--"
"Biar saya saja yang akan menjelaskan semuanya." Axel mendekat dan dengan cepat memotong kata-kata Raline. Ia juga mengganti kata gue dengan saya. Bagaimanapun tidak respeknya dirinya pada orang tua Raline, tetap saja mereka berdua akan menjadi mertuanya. Adab harus ia utamakan.
"Saya Axel Delacroix Adams. Saya akan membayar hutang Anda pada orang ini sebesar dua milyar, beserta bonus bunga dari saya ; calon menantu Anda." Axel menunjuk Pak Riswan saat mengucapkan kata orang ini.
"Hah, bayar hutang? Calon menantu?" Diberi kejutan bertubi-tubi, membuat Pak Adjie kebingungan.
"Ah saya ingat sekarang. Kamu ini adalah Axel Delacroix Adams. Kakak Lily, istri Heru. Kamu ini seorang mafia!" Bu Lidya bangkit dari sofa. Sekarang ia ingat di mana ia pernah melihat bule gahar ini. Di pernikahan Heru dan Lily!
"Betul. Bawa kedua orang tuamu ke dalam Alka--" Axel mendecakkan lidah. Ia lupa lagi nama perempuan ini.
"Raline. Nama gue Raline. Inget baik-baik. Jangan lupa lagi. Bagaimana ortu gue percaya kalo lo serius pengen nikahin gue, kalo nama gue aja lo lupa?" bisik Raline di sisi telinga Axel.
"Oke. Ra--line." Axel balas berbisik.
"Pinter. Oh ya, jangan lupa. Nanti pas lo ngelamar, bilang kalo lo itu kaya. Ortu gue suka khilaf kalau membahas soal harta. Oke kakaknya Lily?" Raline mambalas Axel iseng. Ia mendadak ceria karena telah lepas dari cengkraman Pak Riswan.
"Axel. Nama gue Axel. Tapi nanti setelah kita nikah, lo bisa manggil gue Mas Axel." Axel mengultimatum tegas.
"Sekarang juga nggak apa-apa, Mas Axel." Raline nyengir. Kedua mata sipitnya membentuk bulan sabit kala ia tertawa. Sejurus kemudian Raline memandu kedua orang tuanya masuk ke ruang keluarga. Raline mamahami maksud Axel. Axel akan membahas masalah hutang piutang dengan Pak Riswan.
"Raline, ingat janji lo," teriak Axel. Ia mengingatkan Raline akan janjinya yang tidak boleh membuka mulut.
"Siap, Mas Axel," Raline balas berteriak seraya membuat gerakan mengunci mulut. Setelahnya ia kaget sendiri.
"Set dah, mulut gue kok lancar amat ya manggil itu mafia reseh, Mas?" Raline bingung sendiri.
"Udah ah, biarin aja. Gue lagi males mikir." Raline menyusul kedua orang tuanya masuk ke dalam ruang keluarga. Akhirnya ia bebas juga dari keharusan menjadi istri aki-aki tua bau tanah. Alhamdullilah.
***
"Raline, coba ceritakan bagaimana ceritanya mafia itu ujug-ujug bisa menjadi calon suamimu? Ayah bingung."
Di ruang keluarga, Pak Adjie berjalan hilir mudik. Sungguh, ia tidak mengerti bagaimana putrinya bisa berhubungan dengan seorang mafia berbahaya seperti Axel.
"Ehem.. ehem... ehem..." Raline menjawab dengan bahasa isyarat seraya menggeleng-gelengkan kepala. Sesuai janjinya dengan Axel, Raline tetap menutup mulut.
Saat ini ia duduk manis di sofa keluarga bersama sang bunda. Ia menjawab pertanyaan ayahnya hanya dengan deheman. Ia tetap memegang teguh janjinya pada Axel, walau ia pusing melihat tingkah ayahnya. Ya, ayahnya terus mondar-mandiri di depannya seperti setrikaan yang tidak licin-licin.
"Ham... hem... ham... hem... melulu. Kamu kenapa Line? Tenggorokanmu gatal?" Pak Adjie kesal karena tingkah aneh putrinya.
Raline menggeleng cepat. Ia kemudian menunjuk mulutnya. Memberi kode kalau ia tidak bisa berbicara dengan gerakan tangan seperti mengunci.
"Oh, kamu tiba-tiba sakit gigi?" Kali ini Bu Lidya yang menebak. Raline kembali menggeleng.
"Bukan sakit gigi? Kamu sariawan?" tebak Bu Lidya lagi. Raline tetap menggeleng. Melihat gelengan kepala putrinya Bu Lidya menepuk kening putus asa.
"Astaga, kenapa kamu mendadak gagu begini?" Pak Adjie yang ikut putus asa menghempaskan pinggul di sofa.
"Lihat, anak perempuanmu, Lid. Bagaimana caramu mendidiknya sampai berperangai seperti ini?" Pak Adjie memijat-mijat keningnya.
"Raline bukan cuma anakku seorang, Mas. Aku tidak bisa hamil sendirian. Itu artinya mendidiknya juga bukan tugasku seorang. Mengenai perangainya, itu juga di luar kuasaku. Aku bukan Tuhan," desis Bu Lidya geram.
Raline diam seribu bahasa. Perdebatan kedua orang tuanya selalu tidak jauh-jauh dari kekurangannya. Raline sedih. Jujur kadang ia ingin sekali protes. Dirinya selama ini selalu menuruti keinginan kedua orang tuanya, walau terkadang keinginan mereka berdua bertentangan dengan hati nuraninya. Tetapi ia tetap menurut, agar kedua orang tuanya bahagia. Jikalau dalam menjalankan aksinya, ia gagal dan kedua orang tuanya kembali kecewa, itu bukan salahnya bukan? Manusia hanya bisa merencanakan, namun Tuhan yang punya kuasa. Begitulah kalau menurut tanggapan Lesty Kejora.
"Kalian berdua ini orang tua macam apa? Menghina dan mematahkan hati anak kalian sendiri, yang sesungguhnya kalian juga tahu semua itu bukan salahnya? Anak kalian toh tidak pernah minta dilahirkan?" Axel yang sebenarnya sudah berdiri cukup lama di koridor ruang keluarga, tidak tahan untuk tidak memaki kedua orang tua egois ini.
"Dengan baik-baik. Kalian berdua tidak fair jika kalian menyalahkan anak, atas segala ketidakpuasan kalian. Kalian itu punya pilihan untuk mau, atau tidak mau punya anak. Tetapi anak, mereka tidak punya pilihan. Mereka ada, karena kalian keenakan berhubungan."
Raline menatap Axel dengan mata berair. Untuk pertama kalinya ada orang yang mampu menyuarakan isi hatinya. Apa yang dikatakan oleh Axel sebenarnya sudah lama sekali ingin ia ungkapkan. Namun ia tidak sampai hati mengucapkannya.
Ia menyayangi kedua orang tuanya, bagaimanapun keadaan mereka. Ia tidak pernah membanding-bandingkan kedua orang tuanya yang selalu bertengkar dalam segala hal, dengan orang tua-orang tua teman-temannya yang harmonis. Ia memahami bahwa tiap-tiap keluarga mempunyai nilai plus dan minusnya sendiri.
Ia juga tidak pernah iri melihat orang tua-orang tua teman-temannya, selalu mendukung dan memuji anak-anak mereka, baik dikala anak-anak mereka menang ataupun kalah. Sementara kedua orangnya tidak pernah sekalipun memuji dirinya pada saat ia menang, apalagi kalah. Namun begitu, ia tidak benci apalagi menyesal mempunyai orang tua seperti orang tuanya. Ia mencintai keduanya tanpa syarat.
Pak Adjie dan Bu Lidya terdiam. Mereka berdua tidak bisa membantah kata-kata Axel, karena memang benar adanya. Mereka sadar, mereka memang salah. Tapi sebagai orang tua, wajar kalau mereka sesekali kesal karena anak mereka tidak seperti anak orang lain yang cerdas dan pintar.
"Saya telah menyelesaikan masalah hutang piutang kalian berdua dengan Pak Riswan. Saya pastikan, mulai hari ini dan seterusnya Pak Riswan tidak akan berani mengusik Anda lagi."
Entah mengapa Raline jadi kepingin bergoyang bebek mabuk, seperti yang diajarkan Lily di rumah sakit kemarin. Lily adalah rivalnya dalam meraih cinta Heru dulu sekaligus adik perempuan Axel. Entah mengapa Raline jadi akrab dengan Lily akhir-akhir ini. Lily itu sama somplaknya seperti dirinya. Bedanya Lily sedikit lebih cerdas darinya. Ingat ya, sedikit saja.
Lily mengajarkannya banyak hal. Salah satunya adalah ; Apabila kita sedang kesal, sedih, senang, kecewa ataupun bahagia, jogetin saja. Dengan begitu semua perasaan hati kita akan tersalurkan tanpa kita harus bunuh diri ataupun memamerkan masalah kita.
Perlahan, Raline meper-meper ke dapur. Setelah sedikit menjauh dari ruang keluarga, Raline menundukkan tubuh seksinya sambil menggoyangkan bokongnya ke kiri satu kali dan ke kanan dua kali. Ia terus berjoget berulang-ulang sampai dirinya puas.
Axel yang telah selesai bernegosiasi dengan kedua orang tua Raline dan berniat ke toilet, meringis melihat calon istrinya bergoyang heboh sendirian. Tidak adik, tidak istri, ternyata keduanya doyan berjoget dangdut campur sari. Hidupnya tidak jauh-jauh dari perempuan-perempuan istimewa sepertinya. Sebentar lagi ia akan bergabung dengan Christian dan Heru, dalam club para istri istimewa.
"Dikhawatirkan lantai dapur akan runtuh kalau kamu terus bergoyang heboh seperti itu."
Raline yang baru menggoyangkan bokong sekali ke kiri, seketika berdiri tegak. Mampus, ia ketahuan sedang joget bebek mabuk oleh Axel.
"Ah lo ngagetin aja kayak jaelangkung. Urusan lo dengan ortu gue udah kelar belum?" Demi menutupi rasa malu, Raline pura-pura acuh. Axel mengangguk singkat.
"Cakep. Lo ngomong apa sih sama mereka?" Raline penasaran. Cepat sekali Axel meluluhkan hati kedua orang tuanya. Jangan-jangan Axel menodongkan senjata pada keduanya?
"Seperti yang lo pesan. Gue bilang kalo gue kaya."
Anda Mungkin Juga Suka





