
Fatal
Bab 3
"Sekarang, tidak ada yang percaya padamu lagi. Kau tahu kenapa? Karena kau sudah tidak waras. Kau adalah wanita gila yang membunuh temannya sendiri karena takut tersaingi. Kau pantas untuk mati!" Seorang wanita dengan seragam perawat memperlihatkan senyuman jahatnya di depan Esther sembari menodongkan sebuah pisau ke arahnya.
Esther yang saat ini berada di ranjang dengan kedua tangan yang terikat dan menyatu pada ranjang itu terus meronta untuk membebaskan dirinya. Esther tidak bisa berteriak meminta tolong karena mulutnya yang tertutup lakban.
Ketika perawat itu semakin mendekat padanya, Esther melihat ada seorang pria masuk ke ruangannya, lalu mengunci pintu. Pria itu naik ke atas tubuh Esther, lalu mencengkeram dagunya dengan begitu kuat. Di saat bersamaan, Esther merasakan tubuhnya mulai disentuh oleh pria yang ada di atasnya. Sementara bibir pria itu kini mulai mencium pipi Esther, kemudian beralih ke lehernya.
"Ayah, tolong selamatkan aku. Ayah!" Teriakan Esther menggema dan ia baru saja terbangun dari mimpi buruk keduanya hari ini.
Esther menatap sekelilingnya dan ia masih ada di tempat yang sama setelah Felix meninggalkannya. Esther terduduk dan melirik makanan yang ada di dekatnya, tapi itu terlihat seperti makanan untuk binatang. Esther tidak tahu sejak kapan makanan itu ada di sini karena ia sempat tidur setelah terus menangis.
Pandangan Esther kini mengarah ke arah jendela yang dilapisi oleh teralis besi dan sinar matahari sudah tidak terlihat lagi. Hari sudah mulai malam dan Esther masih terjebak di tempat ini. Esther menangis lagi dan kembali menggedor pintu untuk meminta di keluarkan, tapi ia tidak mendengar suara siapa pun dari luar. Tempat ini sangat sunyi seolah hanya ia di sini.
Sementara di tempat lain, Felix yang telah selesai dengan hari melelahkannya di kantor, kini terlihat pergi ke sebuah tempat hiburan malam untuk melakukan pesta bersama para wanita cantik yang ada di sana. Felix minum dengan penuh kegembiraan dengan seorang wanita berpakaian seksi duduk di pangkuannya. Felix juga sesekali menari bahkan mencium wanita yang terlihat mendekatinya.
Seperti inilah pelarian Felix karena ia merasa kesepian setelah orang tuanya berpisah saat ia berusia tujuh tahun. Felix ingat kalau penyebab keluarganya hancur adalah karena masalah ekonomi. Lalu, Felix dibawa pergi oleh ayahnya, meninggalkan ibu dan adiknya–Fiona yang saat itu baru berusia dua tahun.
Sejak saat itu, Felix tidak pernah lagi mendengar kabar ibu dan adiknya, apa lagi ayahnya menikah dengan atasan di kantornya, lalu ia dibawa pindah ke Amerika karena ayah serta ibu sambungnya memulai bisnis di sana yang membuatnya semakin jauh dari ibu dan adiknya.
Empat tahun yang lalu, ayah dan ibu sambung Felix mengalami kecelakaan pesawat yang merenggut nyawa mereka. Felix begitu terpukul karena kejadian itu, sebab ia sudah menganggap ibu sambungnya seperti ibu kandungnya karena ia mendapatkan kasih sayang yang sama bahkan kadang lebih dari ibu kandungnya.
Rasa kesepian itu membuat Felix mulai mencari tahu tentang keberadaan adik serta ibunya. Butuh waktu yang lama sampai ia mendapatkan informasi, tapi informasi yang Felix dapatkan sangat buruk, yaitu pembunuhan terhadap adiknya dan ibunya meninggal bunuh dirii hanya sebulan setelah kepergian Fiona.
Felix merasa sangat bersalah setelah mengetahui hal itu karena ia terlalu nyaman dengan keluarga barunya sehingga melupakan ibu dan adiknya, apa lagi setelah mendatangi rumah yang ditinggali oleh ibu dan adiknya, lalu Felix menemukan catatan milik Fiona tentang betapa besar mimpinya untuk menjadi seorang pemain cello terkenal. Fiona juga menuliskan untuk menemukan sosok kakak yang telah pergi darinya karena tahu bahwa ibunya sangat merindukan putranya.
Mulai saat itu, Felix bersumpah akan membalas dendam untuk ibu serta adiknya dan inilah hasilnya. Felix senang karena sejauh ini rencananya berjalan dengan lancar, tapi kesepian dan rasa bersalahnya tidak akan pernah bisa hilang. Kedua rasa bersalah itu akan bersama Felix untuk seumur hidupnya.
Walau Felix tertawa dan terlihat bahagia saat ini, tapi itu bukanlah perasaan yang benar-benar ia rasakan saat ini. Felix kini duduk di sebuah sofa panjang, kemudian menyalakan rokok dan setelahnya tampak melamun sembari menatap tiga wanita yang sedang melakukan tarian erotis untuk menghibur para pelanggan.
Di sisi lain, Daniel terlihat baru saja datang bersama tiga teman laki-lakinya dan ini adalah pertemuan pertama mereka setelah Daniel kembali dari luar negeri. Daniel sudah memesan meja, jadi bisa langsung mendapatkan tempat duduk, tapi pandangan Daniel kini mengarah pada Felix yang tampak duduk santai dan ada seorang wanita di sebelahnya.
"Bukankah itu suami adikmu?" ucap salah satu teman Daniel yang juga menyadari keberadaan Felix.
"Dia baru menikah, lalu kenapa dia di sini? Bahkan ada wanita di sebelahnya," ucap yang lain.
"Tunggu sebentar." Daniel kembali berdiri, kemudian mendekati Felix.
Melihat Daniel tiba-tiba muncul di depannya tidak membuat Felix kaget atau khawatir. Felix masih menikmati rokoknya dengan satu tangan ada di pinggang wanita yang duduk di sebelahnya.
"Apa yang Kakak lakukan di sini? Bagaimana dengan Esther?" tanya Daniel, tapi ia malah melihat Felix tersenyum dengan raut wajah yang terlihat tenang.
"Apa pria sudah menikah tidak boleh mencari hiburan? Lagi pula, aku tidak membawa wanita ini pulang dan Esther baik-baik saja di rumah. Jadi, apa masalahnya?" ucap Felix.
"Apa?" Daniel begitu terkejut mendengar jawaban dari Felix.
Felix menghela napas, lalu berdiri di depan Daniel. "Kau akan memahami hal ini nanti." Felix bicara sembari menepuk pundak Daniel dan tersenyum padanya.
"Namun, Kakak dan Esther baru menikah. Bagaimana bisa hal ini terjadi? Apa Esther mengetahui hal ini?" tanya Daniel lagi.
"Tentu saja dia tahu, tapi kenapa kau bersikap berlebihan seperti ini? Apa rumor yang aku dengar benar adanya? Apa kau menyukai Esther sebagai wanita bukan sebagai adikmu?" Felix memperlebar senyumannya pada Daniel.
"Tolong jangan menyebarkan rumor tidak benar seperti itu! Esther adalah adikku, lalu apa aku salah jika aku khawatir padanya?" balas Daniel.
Daniel mencoba untuk tetap tenang, tapi tatapan matanya telah menunjukkan semuanya sehingga membuat Felix tertawa pelan. Kisah cinta yang menyedihkan, pikir Felix. Tidak ada yang lebih buruk dari cinta yang terhalang hubungan persaudaraan.
"Maafkan aku. Aku pasti terlalu banyak minum sampai bicara omong kosong. Aku akan pulang sekarang karena Esther pasti sudah menungguku. Sampai jumpa lagi." Felix pun pergi meninggalkan Daniel yang masih terdiam di tempatnya.
"Apa yang terjadi padanya?" gumam Daniel.
Sejak Esther memperkenalkan Felix sebagai calon suaminya, Daniel memang tidak terlalu mengenal siapa Felix bahkan terkejut mengetahui Esther yang terkenal pendiam tiba-tiba memperkenalkan calon suaminya. Saat itu, Daniel mengira kalau Esther mungkin sudah menjalin hubungan dengan Felix untuk waktu yang lama, tapi menunggu waktu yang tepat untuk mengunkapkannya pada keluarga. Namun, bagaimana bisa Esther mencintai pria seperti Felix?
***
Felix kini kembali ke rumah sakit jiwa setelah meninggalkan Esther selama belasan jam dan hanya mengawasinya lewat sebuah kamera tersembunyi. Felix tahu kalau Esther tidak menyentuh makanan atau minuman yang disediakan untuknya dan hal itu membuatnya sangat marah.
Felix merebut kunci dari orang yang mengawasi Esther, lalu membuka pintu dan mendapati Esther terbaring di lantai dari ruangan yang kini tampak gelap. Felix menendang kaki Esther beberapa kali untuk membuatnya bangun, tapi tidak terlihat ada pergerakan dari Esther.
"Apa yang terjadi padanya? Bukankah dia seharusnya hanya tidur?" gumam Felix. Merasa ada yang tidak beres membuat Felix akhirnya meminta wanita tadi untuk menyalakan lampu, lalu ia berjongkok untuk melihat keadaan Esther.
"Esther!" Felix kini meninggikan nada suaranya sembari menepuk pipi Esther dengan pelan, tapi Esther tetap tidak bangun juga.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Felix pada wanita yang berdiri di belakangnya.
"Saya tidak tahu, tapi saya mendengar dia menjadi histeris lagi setelah Anda memberikan perintah agar lampu dimatikan, lalu setelahnya keadaan menjadi hening dan saya kira itu karena dia tidur." Wanita ini menjawab dengan perasaan yang takut. Tugasnya hanya mengawasi Esther, tapi apa yang sekarang terjadi pada Esther?
Anda Mungkin Juga Suka





