
Fanboy Romantis
Bab 2
Seminggu berlalu setelah kejadian pertengkaran Fayrin dan Kiky di dalam kafe, di Kemang.
“Mbak Tyas, makan di luar nggak?”
“Bentar, lagi urusin laporan ini dulu.” Tyas menoleh singkat, lalu sibuk lagi dengan dokumen yang ada di depannya. Di depan teller bank itu juga. Sedang membahas keuangan.
Kiky mengangguk takzim, berusaha memaklumi. Namanya juga orang sibuk. Di sini, Tyas yang menawarkan Kiky untuk magang. Dari lima mahasiswa yang mengajukan permohonan magang, untungnya kesempatan datang pada pemuda itu.
“Permisi, mau tanya, manajer bank di mana ya?” Perempuan menghampiri meja teller bank yang dibatasi dengan kaca transparan putih. Ada lubang kecil untuk transaksi keluar-masuk dokumen, uang atau lainnya. Kiky menoleh, menatap perempuan muda dengan dress bunga-bunga. Pakai kacamata, topi pantai besar. Kulitnya putih bersih. Saat menurunkan sedikit kacamata besarnya dipangkal hidung, saat itu juga wajah Kiky jadi masam. Dia kenal betul dengan perempuan berengsek itu. Si laknat yang menyiramnya dengan jus jeruk waktu itu.
Jika ini bukan di bank, Kiky barangkali sudah mengabaikannya. Namun tidak etis jika tidak menjawab pertanyaan Fayrin. Masalahnya, di sini Kiky sebagai seorang karyawan biar kata hanya magang. Dia dituntut memahami SOP perusahaan, termasuk bertutur kata yang ramah. Masa Kiky kalah dengan satpam yang menjaga pintu keluar masuk di depan sana. Selalu tersenyum pada siapapun yang datang ke gedung keuangan ini.
“Ada tuh, tunggu saja.”
Fayrin mendengus. Huh, pria itu. Sama seperti Kiky, gadis ini juga masih ingat rupanya. Fayrin tidak akan lupa kejadian seminggu lalu. Dia dibilang gadis gila. Di depan banyak orang, coba?
“Bisa antarkan aku menemuinya?”
Kiky mendelik. “Maaf, ini jam istirahat, Bu! Menemui kepala manajer juga harus ada prosedurnya. Tunggu saat jam istirahat berakhir, baru boleh menemui beliau. Ibu ....”
“Sejak kapan aku menikah dengan Bapakmu?” Fayrin memotong kalimat. Tidak senang dipanggil ibu. Terasa seperti sedang dipanggil anaknya saja. Hei, Fayrin itu aset perusahaan tempat yang menaunginya di dunia entertainment ini. Orang-orang menghormati dia. Tidak seperti Kiky yang selalu membuat Fayrin kesal. Apalagi harus dipanggil ibu. Memangnya muka Fayrin setua itu untuk disebut seorang ibu?
Kiky mendesah gusar, tidak ingin berdebat. Apalagi setelah dibentak Fayrin dengan suara agak tinggi, Kiky memilih mengalah. Menahan amarahnya kali ini. “Oke, Nona. Saya mengerti.”
“Hanya itu?”
“Maunya bagaimana lagi?” Kiky kian kesal. Mukanya memerah. Tyas dan rekan kerjanya yang ada di samping Kiky, menatap heran dua orang itu. Ada apa dengan mereka?
“Kamu berhutang maaf padaku. Cepat katakan maaf untuk semua yang kamu lakukan padaku!”
Kiky mendecak sebal. “Dengar ya Nona yang terhormat. Di sini aku belum makan siang sama sekali, pertama. Kedua, aku sedang tidak ingin berdebat, oke. Ketiga, jangan menguras emosi, tenaga, pikiranku untuk marah saat ini. Jika tidak ada kepentingan, sebaiknya Nona pergi.”
“Ky, nggak boleh gitu.” Tyas menyahut. Tersenyum tipis pada Fayrin. Tyas tahu siapa dia, Fayrin adalah cucu konglomerat itu. Salah satu asetnya berada di bank ini. Di simpan dalam bentuk tabungan jangka panjang. Bisa dibilang, Fayrin adalah tamu penting. Mungkin Kiky tidak tahu, makanya Tyas merasa tidak enak hati karena adik sepupunya ini bersikap galak.
“Kamu nggak kenal siapa aku?”
“Anda bukan orang penting. Aku tidak peduli siapa kamu!” Kiky menjawab ketus.
“Ky, jangan bicara begitu.” Tyas menyahut lagi, mengode dengan tatapan tajam. Tapi Kiky tidak paham maksud kode yang Tyas lakukan.
“Mbak sebaiknya diam saja. Ini urusanku dengan perempuan sinting ini. Dia harus diajak bicara kasar supaya paham etika. Orang seperti ini biasanya cuma mengandalkan mulutnya yang cerewet buat berdebat. Aslinya, dia tidak paham sama sekali yang namanya penting beramah-tamah.”
Fayrin menelan ludah, wajahnya terlihat marah. Perempuan ini siap sekali menghajar Kiky. Satu-satunya orang yang berani merendahkannya. Namun dia berhasil menahannya. Kebetulan ketika melirik ke samping kiri, tidak jauh dari meja kerja teller bank, ada pintu. Tulisan di atasnya ruang manajer. Fayrin meninggalkan tempatnya berdiri.
Susah memang bicara dengan pria galak, nyebelin dan suka berdebat. Awas saja, Fayrin telah menandai Kiky sebagai pria paling buruk perilakunya. Kalau dia bertemu lagi dengan Kiky, mungkin Fayrin akan membalas perbuatannya hari ini dan seminggu lalu. Fayrin masih dendam padanya.
“Hei manajer!” Fayrin berseru lantang di bingkai pintu, membuka pintu ruangan lebar-lebar. Manajer bank terkejut bukan main, soalnya mendadak berteriak dengan nada tinggi.
Teh panas yang baru saja diseruput, dimuntahkan dan disemburkan. Sialan. Buat orang jantungan saja. Manajer bank menahan pedih di lidah. Mana panas. Kagetnya bukan kepalang. Tidak sopan sekali tamu yang datang siang ini.
“Fa—fayrin ....”
“Ya ..., ini aku,” kata Fayrin angkuh, mendesis ketus. Melangkah masuk ke dalam, duduk di sofa ruangan. Melipat satu kakinya di kaki lain, melepas kacamata besarnya. Padahal belum disuruh duduk sama sekali oleh si pemilik ruangan. Tapi begitulah Fayrin, cukup tahu saja kalau dia tidak butuh persetujuan untuk melakukan segala tindakannya.
Manajer bank duduk di sofa, menemani Fayrin di sana. Sebenarnya, pria tua dengan kepala agak plontos ini tidak pernah melihat Fayrin secara langsung seperti ini. Kecuali di teve. Di dalam film yang diperankannya. Dia salah satu penggemar Fayrin yang telah berusia uzur. Sebelumnya, tiga hari lalu, manajer Fayrin menghubungi kepala bank untuk bertemu. Membahas jumlah kekayaan kakeknya yang tertimbun di bank ini. Maksudnya, ada harta warisan yang seperempat ditabung di dalam bank ini.
Sisanya, kekayaan keluarga kakek disembunyikan di bank-bank luar negeri seperti Swiss, Singapura, British Virgin island dan lain-lain. Dikelola oleh keluarga, yakni ayahnya. Fayrin dapat sedikit informasi uang ini ketika kakek berada di rumah sakit, enam tahun lalu. Katanya, manajer bank tahu soal simpanan ini. Simpanan khusus buat Fayrin seorang yang tidak boleh diketahui siapapun selain mereka berdua.
“Buatkan teh untuk ....”
“Nggak perlu!” Fayrin menyahut, memotong kalimat.
Telepon genggam yang ada di tangan manajer menggantung di telinga. Detik berikutnya, telepon terputus. Diletakkan di atas meja kaca. Manajer tua itu menyandarkan punggung di sofa, lalu memulai pembicaraan ringan. Meski sebenarnya dia sudah gugup bisa melihat wajah super cantik aktris muda berbakat ini.
“Ini mau bahas yang mana dulu, Fayrin?”
“Soal kekayaan kakek!” Fayrin menegaskan. “Kakek bilang manajer tahu tabungannya di bank ini. Jadi aku ingin meminta rekapitulasi laporan keuangan beliau. Enam tahun lalu usiaku belum legal jadi penerima warisan. Sekarang aku datang karena usiaku sudah cukup untuk menerima warisan sesuai apa yang tertulis dalam surat wasiat.”
“U—uang itu?”
“Ya. Uang itu. Mau apa lagi?” Fayrin mengangguk takzim. “Aku ingin semua uang simpanan kakek masuk ke dalam rekeningku. Makanya aku datang ke sini, minta diurus apapun yang bersangkutan dengan harta warisannya. Nggak perlu bawa pengacara segala, kan?”
“S—soal itu, kami tidak bisa memindahkannya dalam waktu singkat. Paling tidak, seminggu. Karena ada beberapa rekonsiliasi bank, laporan pemindahan dana dan beberapa dokumen lain yang harus kami selesaikan.”
“Oke. Tidak masalah. Yang penting bisa dipindahkan.” Fayrin menatap kukunya yang tadi pagi di cat hijau tosca daripada memerhatikan gaya bicara bapak tua yang gemetaran.
Pak tua itu menelan ludah gugup. “Bisa kita foto berdua? Anakku ....”
“Permisi Pak. Ini laporannya sudah selesai.” Kiky masuk ke dalam ruangan manajer, tidak mengetuk pintu sama sekali. Pak tua itu mendesis kesal, Kiky mengganggu momen ini. Seharusnya tadi dia sudah berhasil mengambil satu foto bersama artis idola anaknya.
Biasanya Kiky memang begitu. Kadang saat pintu diketuk, Pak manajer tidak menyahut. Makanya Kiky main nyelonong masuk. Bukan karena Kiky tidak sopan dan tidak tahu tata Krama atau etika, cuma Pak manajernya saja yang suka menulikan panggilan.
“Sial. Ganggu saja.” Pak tua bergumam lirih.
Melihat Kiky ada di dalam ruangan ini, Fayrin menyeringai. Oh, dia punya sesuatu yang akan dibalaskan pada pemuda itu. Fayrin berdiri, meraih kacamata dan tasnya.
“Pembicaraan kita sudah jelas, Pak manajer. Aku akan menantikan kabar baiknya. Sampai bertemu lain hari.” Fayrin meninggalkan tempatnya duduk, berjalan mengarah ke pintu, ada Kiky di sana. Mereka berpapasan, Fayrin melirik wajah menggemaskan pemuda itu. Fayrin menyeringai lagi. Langkahnya tiba-tiba berhenti, pas di samping Kiky.
“Selera bank ini agaknya sedikit tidak bagus dalam merekrut karyawan magang.” Fayrin melirik ke Pak tua di belakangnya. “Ngomong-ngomong, aku tertarik foto bersama Anda. Sayangnya, waktu berdua kita terganggu ulah pria ini. Dia adalah perusak suasana terbaik.”
Kiky menahan kepalan tangan, sebal disindir. Apalagi di depan Pak manajer yang lagi mengaduh kesakitan. Kakinya terbentur sudut meja. Sakit sekali. Sampai harus dipegang dengkulnya.
“Oh iya, satu lagi. Pegawai ini kelihatan sedikit agak menggemaskan. Tapi sayang, dia agak galak dan cerewet.”
“Kamu menyindirku?” Kiky menjawab, berkomentar. Sejak tadi dia diam, hanya karena ingin mengalah di depan Pak manajer.
Fayrin menurunkan kacamatanya sampai pangkal hidung. Kemudian tertawa sumbang, memandang wajah imut pemuda di depannya ini. Kiky punya wajah kecil. Hidungnya juga cantik, agak berpunuk, terangkat tajam, ditambah ada satu tahi lalat samar. Duh, makin menambah aura yang cocok jadi simpanan om-om gadun. Bibir sedang Kiky merah merekah, rupanya dia bukan perokok aktif.
“Ayolah sayang, jangan bicara kasar begitu. Kamu terlalu sensitif.” Fayrin membisik pelan di telinga Kiky. Dua detik berikutnya, dia mendekatkan bibir ke dada bidang Kiky yang dibaluti kemeja putih bersih. Menempelkan cap bibir merahnya di pakaian itu. Demi Tuhan, bibir lembut Fayrin terlukis di baju putih itu. Fayrin membisik lagi di telinga Kiky seusai mengecup dadanya. “Itu balasan untuk kamu yang telah berani bicara bahasa kasar padaku.”
Anda Mungkin Juga Suka





