Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Fake Marriage

Fake Marriage

Dikhianati calon suaminya tepat sebelum hari bahagia, Lunar melarikan diri hingga sebuah insiden menyeretnya ke dalam pernikahan kontrak dengan Arkan, pebisnis kaya raya. Di sisi lain, Arkan terpaksa membatalkan rencana lamaran bagi kekasihnya demi kesepakatan ini. Saat sandiwara mereka perlahan berubah menjadi perasaan tulus, keduanya terjebak dalam dilema emosi yang rumit. Akankah ikatan palsu ini berakhir menjadi kebahagiaan sejati bagi mereka?
Bab
Bagikan

Bab 3

Siapa yang tidak terkejut dengan kemunculan seseorang dari bagasi mobil? Terlebih mengenakan gaun pengantin membuat berita pernikahan Arkan benar-benar terjadi, yang pasti tidak seperti rencana sebenarnya.

“Anda berpikir untuk menyembunyikan pernikahan dari semua orang?"

Pertanyaan lainnya dilontarkan kepada Arkan, sebuah tape recorder mini itu disodorkan padanya. Sekretaris Ham langsung mengambil peran untuk menghalangi para wartawan mengambil gambar ataupun mencari informasi, merentangkan tangan di depan Arkan agar orang-orang sulit menerobos.

"Apa kalian hari ini akan pergi ke tempat acara pernikahan?"

Para wartawan tidak mudah berputus asa, beralih mempertanyakan perihal pernikahan pada wanita bergaun pengantin yang masih terlihat kebingungan lantaran tidak mendapatkan jawaban dari Arkan. Mereka melontarkan pertanyaan yang sama berulang kali, berharap ada informasi penting yang bisa didapatkannya mengenai Arkan, seorang pria yang selalu menjadi sorotan perhatian setelah mengambil alih untuk mengelola perusahaan besar di kota itu.

"Bolehkah kami tahu siapa nama Anda?"

Suasana menjadi hening usai pertanyaan itu dilontarkan seolah mereka semua di sana sangat penasaran akan jawabannya. Lunar memperhatikan sekeliling dengan mata terbuka lebar. Semua orang mengelilinginya dan juga memelototi tanpa ingin memalingkan perhatian darinya.

"Lunar." Dia berpikir dengan mengatakan namanya, mungkin dia akan berhenti dipelototi.

Sayangnya, Lunar semakin diserbu dengan pertanyaan beruntun yang tidak ada habisnya. Wartawan menanyakan tentang hubungannya dengan pria yang bernama Arkan. Nama itu terdengar sangat asing di telinga Lunar, apalagi mereka baru pertama kali bertemu.

"S-saya tidak kenal dengan pria yang bernama Arkan."

Lunar melirik orang yang berdiri di belakang pria yang merentangkan tangan. Apakah Arkan yang di maksud adalah pria yang mengerutkan dahi tersebut? Dia baru sadar akan siapa orang yang dibahas.

Para wartawan tampak saling berbisik satu sama lain. Mereka yang mendengar pengakuan itu berpikir kalau sang wanita bergaun pengantin hanya membual saja atau bisa jadi siasat agar pernikahan tidak diketahui.

Arkan sudah berusaha keras untuk menyembunyikan siapa calon yang akan dinikahi. Sekarang semuanya telah terbongkar karena mereka akhirnya menemukan siapa calon tersebut. Itu adalah menurut pemikiran mereka.

"Lunar adalah calon pengantin yang disembunyikan oleh Arkan. Kita harus menyebarkan beritanya sekarang juga."

Arkan yang kian marah di belakang sana karena situasi semakin memburuk pun segera menarik Lunar masuk ke dalam mobil bersamanya. Hari itu benar-benar bencana, semua rencana yang disusunnya secara rapi harus berantakan karena kehadiran wanita yang tidak diketahuinya siapa.

Bagaikan hama yang mengganggu, dia sama sekali tidak menginginkan pengacau dalam hidupnya, terlebih di dalam hubungannya dengan Raya.

Arkan ingin melampiaskan segala kemarahannya pada Lunar saat itu juga, tetapi para wartawan masih berada di sana, menggedor-gedor jendela seperti kawanan gagak. Sekretaris Ham sendiri bergegas menyusul dan melajukan mobil, meninggalkan kekacauan yang masih meradang di kerumunan.

"Ke-ke mana kalian akan membawaku? T-turunkan aku!" Lunar berteriak, mencondongkan tubuh ke depan agar bisa menghentikan pria yang mengendarai mobil, menarik lengan pria itu agar berhenti secepatnya. "Berhenti sekarang juga!" teriaknya lagi.

Arkan yang tidak ingin terjadi bencana lainnya menarik Lunar agar menjauh dari Sekretaris Ham. Perlawanan terjadi sehingga dia terpaksa menggunakan kekuatan agar kekacauan tidak bertambah.

Arkan merengkuh wanita yang tidak ingin diam itu menggunakan kedua tangan, menahan berontak sampai Lunar lelah dengan sendirinya. Meskipun begitu, dia tidak melepaskannya, bisa saja Sekretaris Ham diganggu lagi. Itu hanya akan membuat mereka berada dalam bahaya.

"Kalian bisa terkena hukuman penjara karena telah memaksa seseorang untuk pergi bersama kalian. Ini sama saja dengan penculikan!"

Arkan semakin terpancing kemarahannya karena orang yang membuat kekacauan sama sekali tidak memikirkan kesalahan yang dibuat. Dia mengangkat kedua bahu wanita itu agar bisa tampak bagaimana kemarahannya dengan jelas.

"Kau sudah membuatku berada dalam masalah besar! Apa kau sedang bermain petak umpet dan menjadikan bagasi mobilku sebagai tempat persembunyian?"

"A-aku hanya ...."

"Kau pasti seorang wanita gila yang bermain petak umpet dengan gaun pengantin. Dan kenapa kau melibatkan aku dalam permainanmu?"

Lunar meringis kesakitan karena bahunya diremas dengan kuat. Dia dilepaskan setelah itu dan membuatnya mundur ke belakang. Sepertinya memang benar kalau dia telah salah memilih tempat persembunyian. Ternyata dia yang berniat menghindari Nico dan Sora sampai pada melibatkan kehidupan orang lain.

Setelah perdebatan tadi tidak ada kata-kata yang terucap. Suasana di dalam mobil begitu tegang dengan kemarahan Arkan yang semakin terasa. Sekretaris Ham saja tidak berani untuk melirik ke bangku penumpang, sedangkan Lunar hanya bisa diam saja sambil mengurut bahunya yang masih sakit.

Hingga mereka sampai di depan sebuah rumah, Arkan menarik Lunar untuk ikut bersamanya. Tidak menggubris penolakan yang diterima. Dia tetap berjalan sampai mereka bisa berada di dalam sebuah ruangan. Tempat itu adalah ruang duduk yang sering dipakai Arkan ketika ada tamu penting yang datang ke rumahnya. Hari ini dia memakai ruangan itu untuk wanita asing yang telah mengacaukan hidupnya.

Kini mereka hanya berdua saja di dalam sana. Di sana baru Arkan melepaskan cengkeraman tangannya. Dia beralih duduk di sofa tunggal tanpa memedulikan Lunar lagi.

Arkan mengambil ponselnya yang bergetar, seperti dugaan kalau berita mengenai mereka sudah sampai ke telinga ayahnya.

"Sekarang aku berada di rumah bersama wanita yang telah membuat kekacauan,” ucapnya dengan geram tanpa melepaskan tatapan dari Lunar.

Lunar hanya memandang apa yang tampil di hadapannya. Pria itu tidak melepaskan tatapan darinya sejak tadi dan membuatnya diliputi rasa takut seolah dia sedang terdampar di pulau asing seorang diri, tanpa ada orang yang bisa dimintai bantuan. Ke mana dia harus mencari tempat aman untuk berlindung?

"Apa? Aku tidak akan melakukannya, Ayah."

Arkan tidak lagi melihat ke arahnya. Dari sudut pandang Lunar, pria itu kini terlihat gelisah. Tidak tahu hal apa yang membuat kegelisahan tercipta karena dia tidak bisa mendengar apa yang dikatakan oleh orang yang menelepon.

Arkan mematikan ponselnya secara total tidak lama kemudian, lalu meletakkannya di atas meja sebelum menatap wanita pembuat kekacauan yang dia sebutkan tadi pada ayahnya. Sekali lagi dia memperhatikan penampilan Lunar dari atas sampai bawah, sangat kotor sebagai seorang pengantin yang akan menikah.

"Apa kau orang gila?"

Lunar menggelengkan kepala sebelum menegakkan tubuhnya yang setengah beringsut. Apa yang dikatakan Arkan padanya jelas sangat menghina. Bagaimana bisa dia yang berdandan cantik dengan gaun pernikahan sebagai penampilan luar biasa, di mana hari ini seharusnya membuat semua orang berdecak kagum dikatakan sebagai orang gila? Dia masih waras!

"Kau yang sudah gila!"

"Baguslah."

Arkan sangat bersyukur akan hal itu, meskipun keputusan sang ayah masih tidak bisa diterima dengan baik. Dia tidak bisa membayangkan akan hidup bersama orang gila untuk ke depannya jika Lunar menganggukkan kepala tadi.

Pintu ruangan yang tadinya tertutup rapat tiba-tiba terbuka sepenuhnya memunculkan sosok pria yang sudah keriput kulitnya, tetapi tetap bugar untuk berjalan dengan tegap. Pria itu adalah Damien, ayahnya Arkan.

Jalannya cepat hingga bisa duduk di kursi yang ditempati anaknya dalam waktu singkat. Damien memperhatikan wanita yang termenung duduk dengan posisi sama sejak dia memasuki ruangan.

"Apa alasanmu tiba-tiba muncul dalam kehidupan anakku? Kau membutuhkan uang?" Damien langsung berucap tanpa ada basa-basi. Dia melirik perut yang tidak terlihat datar. "Arkan menghamilimu?"

Mendengar hal itu membuat Arkan langsung menyanggah, "Aku tidak melakukan hal itu, Ayah."

Bagaimana dia menghamili kalau bertemu saja baru beberapa jam yang lewat. Lagi pula dia tidak mungkin melakukan perbuatan itu pada Lunar yang sama sekali bukan tipenya.

"Kau tidak bisa menjawab?" Damien tampaknya tidak ingin mendengar sanggahan apa pun.

Lunar bingung harus menjawab pertanyaan tersebut bagaimana. Dia sudah tidak lagi mempunyai rumah dan tentu saja dia membutuhkan uang. Tetapi, terlalu licik jika dia memanfaatkan situasi hanya untuk mendapatkan tempat tinggal. Dia harus ingat kalau posisinya saat ini telah membuat kekacauan di kehidupan seseorang yang seharusnya tidak terlibat dalam pelariannya.

"Saya kabur dari pernikahan dan tidak sengaja menjadikan bagasi mobil Ar-kan,"—dia melirik pada orang yang memiliki nama sejenak, memastikan kalau dia tidak salah dalam menyebutkan nama—"sebagai tempat persembunyian. Sungguh, saya tidak tahu kalau situasinya akan menjadi rumit seperti ini. Maafkan atas apa yang telah saya lakukan, T—tuan."

Tanpa dikira keputusan Lunar adalah duduk di lantai sambil memohon. "Tolong jangan usir saya, Tuan. Tidak ada lagi tempat yang bisa saya datangi. Apa saja akan saya lakukan sekalipun harus menjadi pelayan di rumah ini."

Lunar tidak bisa memungkiri kalau dia memang membutuhkan tempat tinggal. Jika luntang-lantung di jalan bisa saja dia tertangkap oleh Nico dan Sora kembali. Melalui pria yang terlihat seperti memiliki kekuasaan untuk melindungi, sepertinya dia bisa menghindari pernikahannya dengan Nico. Tidak apa-apa dia menjadi pelayan, asalkan setelah ini dia bisa bebas. Harga dirinya disingkirkan sementara waktu agar dia mendapatkan tempat tinggal.

Damien melirik anaknya yang tampak sangat marah. Dia juga begitu kalau tidak karena harus mencari jalan keluar permasalahan yang terjadi. Jika dia meloloskan wanita asing itu, bisa saja media datang menemui untuk menggali informasi dan bisa saja hal yang tidak-tidak dikatakan wanita asing itu. Sebaliknya jika dia tidak meloloskan, semua berita akan segera mereda.

"Untuk sekarang pilihan terbaik adalah pernikahan. Kalian akan menikah secepatnya."

"Apa?! Me-menikah?" Lunar membelalakkan mata.

Arkan yang sudah mengetahui keputusan itu lebih dulu tidak terlalu terkejut lagi. Dia masih tetap tidak menerima kalau dia akan menikah dengan wanita yang tidak dikenali, apalagi dia sudah memiliki pilihan sendiri untuk pendamping hidup. Semua hancur dalam sekali hantaman saja. Apa dia benar-benar harus menikahi Lunar? Tidak adakah jalan yang lebih baik dari itu?

Damien yang memahami kalau mereka yang direncanakan untuk menikah tidak setuju langsung mengatakan maksudnya lebih jelas, "Hanya satu tahun saja sampai perpisahan kalian diumumkan.”

Itu adalah keputusan final yang tidak bisa diganggu gugat. Mereka berdua harus menikah.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95PCH" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95PCH
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta yang Sirna Sebelum Fajar
9.3
Shasa Handoko diam-diam menghitung mundur sepuluh hari terakhir sebelum prosedur donor ginjal untuk Arya Lexim dilakukan. Sebagai sosok pengganti yang selama ini dibenci oleh Arya, Shasa telah membulatkan tekad untuk pergi dan menghilang selamanya dari kehidupan pria itu setelah operasi selesai. Di tengah sisa waktu yang kian menipis, sebuah tanya terus membayangi benaknya: saat Arya akhirnya hidup bahagia bersama wanita yang benar-benar dicintainya, akankah pria itu masih mengingat kehadirannya?
Sampul Novel Istri Bodoh, Mantan Miliarder
8.1
Alisa terjebak dalam pernikahan menyesakkan bersama Dion, suami super pelit yang hanya memberinya uang belanja dua puluh lima ribu rupiah sehari untuk enam orang. Selain tekanan ekonomi, Alisa harus menelan makian mertua setiap hari. Situasi memburuk saat ia memergoki Dion mendekati mantan kekasihnya. Di tengah kemelut, Alisa menemukan aplikasi penghasil uang dan merahasiakannya. Namun, saat mencoba membongkar skandal Dion, ia justru difitnah menggoda ayah mertuanya sendiri.
Sampul Novel Istri Kedua Tuan Gio
8.5
Demi menyelamatkan ibu dan anaknya yang sakit, Liana terpaksa memohon bantuan finansial kepada Rafael. Namun, pria berkuasa itu memberikan penawaran yang mengejutkan. Rafael bersedia menanggung seluruh biaya pengobatan dengan syarat Liana harus bersedia menjadi istri keduanya. Terjepit dalam situasi sulit, Liana harus menghadapi kenyataan pahit dalam ikatan pernikahan yang tak terduga. Akankah ini menjadi awal kebahagiaan atau justru luka yang lebih dalam?
Sampul Novel Jangan Pernah Menyentuh Anakku
9.5
Demi masa depan putranya, Aurora Elenna terpaksa menerima pernikahan kontrak dari Kaelan Dirgantara, CEO dingin yang dulu menghancurkan hidupnya. Namun, Kaelan tak menyadari bahwa Ravi adalah darah dagingnya. Kini, Aurora yang cerdas kembali dengan identitas baru demi menghadapi ancaman Selina Pramudya. Di tengah intrik perebutan harta dan rahasia besar, Aurora harus memilih antara membalas dendam atau jujur saat Kaelan mulai mencurigai identitas asli istri kontraknya itu.
Sampul Novel Kekasih Bayaran
8.1
Demi melunasi utang ibunya, Tiara bersedia menjadi kekasih Adrian Wiratama. Namun, ia justru dicampakkan saat Adrian memilih menikahi tunangannya. Hancur karena hanya dianggap wanita simpanan, Tiara pergi dalam kondisi hamil dan menikahi pria lain demi ketenangan. Sayangnya, hidupnya tetap menderita karena sang suami membenci anaknya. Saat Adrian muncul kembali, ia justru merebut paksa putra Tiara hingga membuat wanita itu nyaris gila dalam kepedihan.
Sampul Novel LOVE
8.1
LOVE
Sejak tatapan pertama, hatiku langsung terpikat oleh pesonanya. Pertemuan kedua dengan pemilik mata indah itu semakin meyakinkanku bahwa aku telah jatuh cinta sedalam-dalamnya. Namun, meski aku berasal dari keluarga kaya dan terpandang, ada keraguan besar yang menghimpit dada. Kondisi fisikku yang lumpuh membuatku tak berani menyatakan perasaan pada gadis tersenyum manis itu. Mampukah pria cacat sepertiku memenangkan ketulusan cintanya yang berharga?