
Escaping The Madhouse
Bab 3
“Kenapa gaun yang seperti ini?” aku terbelalak menatap gaun yang disodorkan Nadine padaku. Backless dress warna abu-abu muda dengan tali spageti di bagian belakang, belahan dada yang terlalu rendah juga sepertinya ini terlalu pendek.
“Bagus bukan… ini sangat cocok dengan kalung yang diberikan oleh Juan saat kamu berulang tahun beberapa bulan yang lalu. Aku yakin Gerald akan terkesima melihatmu,” Nadine menarik tanganku untuk berdiri lalu mengepaskan gaun itu di badanku. “Ukurannya juga sangat pas.”
“Nadine, sepertinya dress ini terlalu berlebihan…terlalu terbuka,” aku merasa seperti menjadi wanita rendahan yang menjual keindahan tubuhnya. Bukannya aku tidak suka, aku sangat suka memakai rok mini, aku juga punya baju yang memamerkan bahuku yang indah. Tapi ini, belahan dadanya begitu rendah juga punggungku yang terbuka sampai pinggang.
“Sudah waktunya kamu keluar dari zona nyamanmu dalam berpakaiannya Lana. Selera pakaianmu memang selalu terlihat begitu elegan dan berkelas, tapi sesekali berpakaian seksi seperti ini juga tidak masalah bukan? kamu sudah dewasa dan sebentar lagi akan menjadi seorang nyonya Thomlinson,” ujarnya.
“Tapi…dress ini…” aku memasang wajah tidak suka. Seumur hidupku, aku tidak pernah memakai dress seperti ini. Terlalu terbuka dan sangat memamerkan kulit dan lekuk tubuh.
“Alana, jangan terlihat seperti itu, kamu benar-benar tidak menghargaiku jika melihar dress pilihanku dengan tatapan tidak suka. Aku sudah memilih yang terbaik untukmu, aku akan sedih jika kamu benar-benar tidak menyukainya,” Nadine benar-benar terlihat sedih ketika aku menunjukan ekspresi tidak suka ku pada gaun ini.
“Bukan seperti itu…aku hanya tidak terbiasa dengan dress seperti ini. Kamu tahu aku tidak pernah sekali pun memakai pakaian yang begitu terbuka,” aku berusaha menjelaskannya pada Nadine agar dia tidak terluka dengan sikapku.
“Aku janji ini pertama dan terakhir kalinya kamu memakai dress seperti ini, aku ingin melakukan hal yang terbaik untuk hari lamaranmu dengan Gerald. Apa kamu ingin aku membelikan dress lain lagi? kita masih memiliki waktu untuk mencari dress yang kamu inginkan,” ujarnya dengan solusi lain.
“Tidak apa-apa, aku akan memakai ini saja karena kamu sudah susah payah mencari dress untukku. Aku hanya akan memakai ini satu kali saat acara lamaranku saja, kuharap kamu tidak keberatan dengan keputusanku ini,” pungkasku pada ibu tiriku yang langsung mengubah ekspresinya dari sedih menjadi senang.
“Aku sama sekali tidak keberatan, Alana, justru aku malah senang karena kamu mau memakai dress yang aku belikan untukmu. Maaf, aku sama sekali tidak melibatkanmu untuk memilihnya, aku hanya ingin yang terbaik untukmu dan Gerald,” Nadine memeluk tubuhku erat kemudian melepasnya.
“Nadine, emm maksudku Mom…maaf aku terkadang memanggilmu dengan nama langsung,” aku merasa bersalah karena selalu menyebut namanya langsung padahal dia sudah menikah dengan Dad.
“Tidak apa-apa, panggil aku sesukamu saja. Aku tidak mau memaksamu memanggilku dengan sebutan Mom. Ada apa? ada sepertinya ada yang ingin kamu bicarakan denganku,” entah kenapa aku merasa dia selalu bisa membaca pikiranku. Apa terlihat sekali di wajahku sampai dia bisa menebaknya dengan benar.
“Gerald, hari ini dia sama sekali tidak mengabariku, tidak ada telepon atau satu pesan apa pun darinya. Barusan aku meneleponnya, tapi yang mengangkat teleponku adalah seorang wanita,” ungkapku pada Nadine. Aku mengajaknya untuk duduk di kasurku agar mengobrol lebih nyaman lagi.
“Dia mungkin sedang sibuk, jangan terlalu berpikiran buruk tentangnya Lana. Itu tidak baik untuk hubunganmu dengannya, dia akan melamarmu bukan? itu artinya dia mencintaimu, kamu tidak perlu meragukannya lagi,” Nadine menasihatiku untuk tidak memiliki pikiran buruk pada pasanganku sendiri.
“Aku tahu, tapi ini tidak biasanya dia seperti ini. Dia tidak pernah mengabaikanku satu hari pun, sesibuk apa pun dia selalu memberiku kabar dengan mengirimiku pesan singkat. Lalu dia juga selalu menerima teleponku dan berbicara meskipun kurang dari lima menit. Tidak pernah dia mengabaikanku seperti ini, ditambah lagi seorang wanita yang mengangkat teleponnya. Aku takut dia berpaling dariku.”
Aku merasa cemas jika dia benar-benar berpaling dariku dan wanita itu ternyata jauh lebih cantik, lebih menarik sehingga Gerald akan mencampakkanku dan memilih untuk bersama wanita itu. Padahal aku jauh lebih cantik dan memiliki segalanya, aku tidak suka jika dia melirik wanita lain.
“Cemburu itu memang hal yang biasa dalam menjalin sebuah hubungan, tapi jangan terlalu berlebihan. Aku yakin dia hanya sibuk bekerja dan juga sibuk mempersiapkan kejutan untuk lamaranmu nanti. Jika dia mulai bertingkah macam-macam padamu atau bahkan menyakiti hatimu, aku akan memarahinya untukmu,” Nadine mengelus kepalaku, menenangkan hatiku yang sedang kacau.
“Tapi perasaanku sangat tidak tenang, seperti akan terjadi sesuatu yang buruk padaku atau mungkin sesuatu yang sangat menyedihkan. Bagaimana jika dia benar-benar selingkuh dariku? Dia diam-diam memiliki wanita lain selain aku?” aku menatap cemas pada Nadine, sebaliknya dia malah terlihat biasa-biasa saja.
“Sudahlah, kita tunggu saja sampai besok. Jangan terlalu mencemaskan hal yang belum pasti terjadi, jika sampai besok dia tidak menghubungimu, aku akan membuatnya datang padamu. Hm? Bagaimana?” aku mengangguk pelan padanya meskipun hatiku masih ingin menghubungi Gerald dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Istirahatlah dulu, tidak perlu memikirkan apa pun tentang Gerald dan hal-hal negatif tentangnya. Itu hanya akan membuatmu lelah secara mental dan bisa membuat hubungan kalian berdua menjadi buruk. Aku akan selalu ada untukmu, mendukungmu. Akan kuhajar dan membuatnya kembali padamu jika dia benar-benar melirik wanita lain. Good night, Alana.”
Begitu Nadine sudah keluar dari kamarku, aku berbaring di tempat tidurku sambil melihat-lihat fotoku dengan Gerald yang ada di ponsel. Semua ini adalah foto-foto lama saat dia berusaha mendekatiku dulu, lalu ketika kami mulai berkencan. Setelah itu, kami jarang berfoto bersama lagi entah karena apa. Satu tahun ini pun tidak ada foto baruku dengannya. Saat itu kami memilih untuk menghabiskan waktu bersama tanpa ingin diganggu apa pun dan siapa pun sehingga mematikan ponsel ketika berkencan.
'Hubungi aku jika kamu tidak sibuk. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.'
Aku mengirimkan pesan padanya, kuperhatikan selama satu menit hanya centang dua berwarna abu-abu. Dia sama sekali tidak membaca pesanku, mungkin dia memang benar-benar sibuk.
***
“Apa kamu bodoh?! Bukankah aku sudah bilang untuk tidak membuat kecurigaan sekecil apa pun padanya? dia bisa saja nekat dan mencari tahu apa yang terjadi. Tolong jangan rusak rencanaku,” Nadine berbicara dengan marah pada seseorang yang dia telepon.
“Aku tidak akan mengulanginya lagi, wanita itu sudah aku marahi karena sudah berani menyentuh barang pribadiku. Bagaimana dia sekarang?”
“Aku sudah membujuknya, bersyukurlah dia begitu bodoh dan mau menurutiku kata-kataku begitu saja. Semua persiapan sudah selesai? Apa kamu sudah menghubungi tempat itu?”
“Ya, aku sudah menghubungi mereka. Tapi…”
“Tapi apa?!” desak Nadine dengan tidak sabar.
“Orang itu bilang dia tidak bisa datang sesuai dengan yang kita rencanakan. Kita harus mengatur hari lain dan aku juga tidak bisa berpura-pura seperti itu saat tidak ada mereka. Bagaimana menurutmu?”
“Bagaimana dengan hari besoknya lagi? jika terlalu lama menundanya aku takut dia akan kembali curiga. Kita mundur satu hari saja katakan itu pada August,”
“Akan aku usahakan…”
“Jangan hanya diusahakan, tapi kamu harus segera mendapatkan kesepakatan itu dengannya. Aku akan mengurusnya sampai semuanya selesai, jangan lupa untuk menghubunginya atau kau tidak akan mendapatkan bagianmu.”
“Baiklah, baiklah… kamu memang selalu tegas dan kejam dalam urusan ini.”
“Kumatikan teleponnya. Segera hubungi aku jika ada sesuatu yang terjadi.”
Anda Mungkin Juga Suka





