
Dunia Rinduku Adalah Dirimu
Bab 3
"Iya, Mbak Sakshi ...."
Aku bangkit sambil melepas selimut yang masih melekat.
Angin dari kipas angin yang menempel di langit-langit itu seakan membelai tubuhku. Agak dingin juga untuk pagi ini.
Ke dua mataku rasanya sangat malas untuk terbuka karena bengkak sebab air mata tadi malam, namun kewajibanku sebagai santri pesantren ini yang membuat aku harus tetap membuka mata agar kegiatan terlaksana.
"Dik, kamu tidak apa-apa, kan? Mata kamu-"
"Tidak ada apa, Mbakku ...."
Aku tersenyum sambil mulai melipat selimut.
Rambutku masih acak-acakan, soal hijab yang aku pakai tadi malam mendadak hilang entah siapa yang memakai.
Tidak asing, mungkin dipinjam namun tidak bilang.
Aku tidak perlu khawatir soal itu. Memang tradisi pesantren begitu rata-rata.
Mereka entah pernah merasa takut kalau membawa tanpa bilang itu dosa atau tidak. Namun yang pasti, di pesantren itu adalah seperti kita disuruh belajar untuk ikhlas.
Semisal kalau hijab itu adalah milikku maka pasti nanti orang yang meminjam itu tanpa bilang itu juga yang akan memberikan hijab itu kembali padaku.
Tidak, tidak seperti hidup yang sekarang aku jalani ini.
Andai aku seperti barang yang dipinjam itu dan pemiliknya itu adalah Mas Ammad. Maka aku mungkin nanti akan dikembalikan kepada Mas Ammad kembali. Namun apakah benar itu akan tetjadi?
Sudah, jangan kamu buat pusing lagi Ay. Jalani jalanmu ini. Sementara abaikan hati kamu yang terus ingin menyampaikan kata rindu buat Mas Ammad.
Karena kamu mungkin bukan seperti barang yang dipinjam tanpa bilang itu, lalu dikembalikan pada pemiliknya lagi.
"Ay ... kamu memikirkan apa?"
Mbak Sakshi seperti menyadarkanku.
Sambil wajah geragapan aku menatap Mbak Sakshi dan ingin saja aku menjelaskan apa yang menjadi beban dipikiranku sesaat.
"Mbak, aku kenapa merasa akan dikembalikan kepada Mas Ammad, Tetapi aku sadar juga, kalau itu mustahil."
"Hssttt, pagi-pagi kok sudah bilang begitu. Sementara ini jangan kamu pikirkan itu lagi, ya. Kamu nanti pasti nangis lagi kalau memikirkan itu terus. Jangan dulu ya, Dik."
Aku mengangguk.
"Tetapi Kak-"
"Hsstt diam. Ayo kamu cepat mandi sana. Ke buru banyak yang antri kamar mandi loh. Yang sebelah utara kosong. Cepat kamu masukin sana ...."
***
Gus Ammad
"Mas, bangun yuk ... sholat sama Ay!"
Berasa kening ini ada yang meniup, kemudian berlajut ada yang mengusap kening ini dengan lembut.
Tangan yang lembut ini sudah jelas kalau ini adalah tangan Ay.
Apakah sepagi ini dia sudah mandi?
Keharuman Ay menyerbak di mana-mana dan aku sudah merasakan lagi.
Kecupan yang mendarat di keningku, setelah anak rambutku dibelainya perlahan.
"Ay ...."
Wajah cantik itu tersenyum merekah ketika pandanganku jatuh untuk menatapnya.
Ay masih sama.
Ketika senyum, cahaya matanya selalu meredup.
Ay begitu cantik.
Baju gamis dengan hijab pasmina yang serba hijau pupus itu, bagai membuat keanggunan buat Ay tersendiri.
Harum tubuh Ay bagai menenangkan.
Aku ingin memeluk Ay langsung rasanya.
"Sholat dulu, Sayang."
Tangan yang lembut itu kembali membelai rambutku. Kemudian bibir itu menempel di bibirku dengan nada yang pelan dan cukup lama.
Aku diam terpejam sambil meraba rasa bibir itu yang manis.
"Memang Ay sudah sholat?"
Aku bangun dari tidurku yang terlentang. Lallu tangan kananku menarik bagian punggung belakang Ay, sehingga Ay terduduklah dengan dengan dekapanku.
Aku memeluk Ay dari samping, semakin aku berusaha mendekatkan tubuhku. Semakin pula, Ay merapatkan tubuhnya padaku. Hangat ya, Ay?
Sesekali aku kecup kening itu, lalu turun ke tengah bibir Ay.
Aku tahu aku masih belum mandi kalau jam segini, tetapi Ay pasti selalu mau apa yang aku berikan atas dasar cinta untuk Ay. Bahkan aku hanya sekedar memeluk atau menciumnya saja, Ay sudah tersenyum.
Ndet-ndet ....
Ndet-ndet ....
Gawaiku tiba-tiba berbunyi.
Astaghfirullah, senua itu ternyata mimpi.
Aku mengangkat panggilan telpon.
Aku lihat di layar gawai, ternyata Mbak Risah yang menelpond. Memang jam segini ada apa Mbak Risah menelpond?
"Mad ... Ammad ...."
Aku terhenyak mendengar suara Mbak Risah yang tidak begitu jelas. Apa sinyalnya di sana buruk? yang aku dengar cuma manggil nama belakangku saja.
"Mbak ... ada apa?"
Panggilan terjeda, lalu kembali terhubung.
Ada hatiku yang seperti mengatakan kalau ada apa-apa dengan Mbak Risah. Memang ada apa?
"Mad ... Ammad ... bisa dengar?"
Nah, ini baru sedikit jelas, meski agak putus-putus.
Lagian memang ada apa jam segini telpon? Orang rumah sudah pada tidur kalau seperti ini. Kalau pun sholat, biasanya mepet sama jam subuh.
Untungnya aku langsung ngangkat.
"Iya, Mbak ... Ada apa?"
"Tolong sampaikan Abah sama Umi, Ibu mertuaku meninggal, Mad ...."
"Innalillahiwainnailaihiraji'un. Iya, Mbak ... sekaang Mbak ada di mana?"
Aku di sini tidak mendengar suara apa-apa, kecuali mendengar suara Mas Hasan, suaminya Mbak Risah yang menangis.
Apa masih di rumah sakit?
Aku tidak menyangka kalau Allah sudah menutup umur Ibu mertua dari Mbak Risah.
Aku kenal betul sama Ibu mertuanya Mbak Risah itu, orangnya baik dan ramah. Aku yang baru datang saja sibuk mengeluarkan semua makanan yang ada di al-maari. Padahal tujuanku mampir cuma mau silaturahmi sama maaf-maafan dan langsung pulang. Tetapi malah dibetah-betahin suruh mencicipi makanan yang sudah ditatanya di atas meja.
"Aku masih di rumah sakit, Mad."
"Iya, Mbak."
Tanpa salam Mbak Risah sudah menutup telpon.
Aku menghela nafas berat sambil memperhatikan laptop kerjaku yang belum aku masukan ke almari.
Mimpi yang barusan aku lalui tadi seakan nampak begitu nyata sampai aku tak sekalipun menyadari kalau memang itu mimpi.
Mungkin kalau Mbak Risah tadi telpon, aku tidak tahu cerita mimpi itu seperti apa. Tapi lupakan, aku ingin tidak memikirkan Lia terlebih dulu.
Gawai aku matikan. Lalu meletakkannya di atas meja, dekat dengan lampu tidur.
Aku bingung, mau ngabarin Umi sama Abah sekarang atau bagaimana? Apa menunggu besok waktu subuh, apa bagaimana? Mbak Risah tadi nyuruhnya suruh bilang ke Abah Umi tetapi jam segini Abah Umi itu, ya masih tidur.
***
Mbak Sakshi
"Kami meminta tolong, kepada kalian para pengurus pesantren putri. Terutama ketua pengurus! Kalian semua akan kami ajak untuk menjadi para penerima tamu. Besok pagi, kalian akan diberangkatkan dengan menggunakan bus mini. Jadi sebelum jam tujuh pagi, kalian sudah harus berada di lokasi. Oh iya, untuk ketua pengurus ... nanti santri putri yang bernama Ay Ay, suruh menuju ke ndalem untuk ketemu Umi."
"Baik, Gus ...."
Ay?
Kenapa dengan Ay? Kyai Abkhan ini mau mengajak kami menjadi penerima tamu? Apakah di suatu pernikahan? Hmm, sebentar.
Neng Nadah, dia kan katanya yang mau menikah dengan Gus Reza itu.
Apa Neng Nadah ya, yang kali ini menikah?
Kami yang para pengurus hanya bisa mengangguk dengan pandangan ke menatap teras yang berkapling.
Kami tidak berani bertanya kecuali yang sangat penting.
Mungkin aku akan ngasih tahu Ay saja, kan Ay nanti mau doajak ke ndalem.
***
Neng Ay
"Mas Wahyu?"
Aku melihat dari pagar pintu santri putri, aku melihat Abah Abkhan di depan sana dengan Mas Wahyu.
Mbak-mbak pengurus sepertinya membicarakan hal serius dengan Mas Wahyu dan Abah Abkhan.
Apa yang dibicarakan? Apa akan ada kegiatan baru di pesantren? Apa ada sesuatu untuk diurus para pengurus pesantren putri? Apakah ada tugas pembersihan?
Anda Mungkin Juga Suka





