Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dunia Rinduku Adalah Dirimu

Dunia Rinduku Adalah Dirimu

Dalam suasana mencekam, Ammad tiba-tiba memeluk tubuhku dari belakang dan membungkam mulutku dengan telapak tangannya. Aroma cendana yang khas dari bajunya tercium sangat kuat saat dia melarangku bersuara. Meski aku berusaha memanggilnya, Ammad justru semakin merapatkan dekapannya hingga tubuh kami bersentuhan tanpa jarak. Aku pun bertanya-tanya dalam hati, apakah tindakan mendadak ini dilakukan dengan sengaja atau murni karena situasi yang panik.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Iya, Mbak Sakshi ...."

Aku bangkit sambil melepas selimut yang masih melekat.

Angin dari kipas angin yang menempel di langit-langit itu seakan membelai tubuhku. Agak dingin juga untuk pagi ini.

Ke dua mataku rasanya sangat malas untuk terbuka karena bengkak sebab air mata tadi malam, namun kewajibanku sebagai santri pesantren ini yang membuat aku harus tetap membuka mata agar kegiatan terlaksana.

"Dik, kamu tidak apa-apa, kan? Mata kamu-"

"Tidak ada apa, Mbakku ...."

Aku tersenyum sambil mulai melipat selimut.

Rambutku masih acak-acakan, soal hijab yang aku pakai tadi malam mendadak hilang entah siapa yang memakai.

Tidak asing, mungkin dipinjam namun tidak bilang.

Aku tidak perlu khawatir soal itu. Memang tradisi pesantren begitu rata-rata.

Mereka entah pernah merasa takut kalau membawa tanpa bilang itu dosa atau tidak. Namun yang pasti, di pesantren itu adalah seperti kita disuruh belajar untuk ikhlas.

Semisal kalau hijab itu adalah milikku maka pasti nanti orang yang meminjam itu tanpa bilang itu juga yang akan memberikan hijab itu kembali padaku.

Tidak, tidak seperti hidup yang sekarang aku jalani ini.

Andai aku seperti barang yang dipinjam itu dan pemiliknya itu adalah Mas Ammad. Maka aku mungkin nanti akan dikembalikan kepada Mas Ammad kembali. Namun apakah benar itu akan tetjadi?

Sudah, jangan kamu buat pusing lagi Ay. Jalani jalanmu ini. Sementara abaikan hati kamu yang terus ingin menyampaikan kata rindu buat Mas Ammad.

Karena kamu mungkin bukan seperti barang yang dipinjam tanpa bilang itu, lalu dikembalikan pada pemiliknya lagi.

"Ay ... kamu memikirkan apa?"

Mbak Sakshi seperti menyadarkanku.

Sambil wajah geragapan aku menatap Mbak Sakshi dan ingin saja aku menjelaskan apa yang menjadi beban dipikiranku sesaat.

"Mbak, aku kenapa merasa akan dikembalikan kepada Mas Ammad, Tetapi aku sadar juga, kalau itu mustahil."

"Hssttt, pagi-pagi kok sudah bilang begitu. Sementara ini jangan kamu pikirkan itu lagi, ya. Kamu nanti pasti nangis lagi kalau memikirkan itu terus. Jangan dulu ya, Dik."

Aku mengangguk.

"Tetapi Kak-"

"Hsstt diam. Ayo kamu cepat mandi sana. Ke buru banyak yang antri kamar mandi loh. Yang sebelah utara kosong. Cepat kamu masukin sana ...."

***

Gus Ammad

"Mas, bangun yuk ... sholat sama Ay!"

Berasa kening ini ada yang meniup, kemudian berlajut ada yang mengusap kening ini dengan lembut.

Tangan yang lembut ini sudah jelas kalau ini adalah tangan Ay.

Apakah sepagi ini dia sudah mandi?

Keharuman Ay menyerbak di mana-mana dan aku sudah merasakan lagi.

Kecupan yang mendarat di keningku, setelah anak rambutku dibelainya perlahan.

"Ay ...."

Wajah cantik itu tersenyum merekah ketika pandanganku jatuh untuk menatapnya.

Ay masih sama.

Ketika senyum, cahaya matanya selalu meredup.

Ay begitu cantik.

Baju gamis dengan hijab pasmina yang serba hijau pupus itu, bagai membuat keanggunan buat Ay tersendiri.

Harum tubuh Ay bagai menenangkan.

Aku ingin memeluk Ay langsung rasanya.

"Sholat dulu, Sayang."

Tangan yang lembut itu kembali membelai rambutku. Kemudian bibir itu menempel di bibirku dengan nada yang pelan dan cukup lama.

Aku diam terpejam sambil meraba rasa bibir itu yang manis.

"Memang Ay sudah sholat?"

Aku bangun dari tidurku yang terlentang. Lallu tangan kananku menarik bagian punggung belakang Ay, sehingga Ay terduduklah dengan dengan dekapanku.

Aku memeluk Ay dari samping, semakin aku berusaha mendekatkan tubuhku. Semakin pula, Ay merapatkan tubuhnya padaku. Hangat ya, Ay?

Sesekali aku kecup kening itu, lalu turun ke tengah bibir Ay.

Aku tahu aku masih belum mandi kalau jam segini, tetapi Ay pasti selalu mau apa yang aku berikan atas dasar cinta untuk Ay. Bahkan aku hanya sekedar memeluk atau menciumnya saja, Ay sudah tersenyum.

Ndet-ndet ....

Ndet-ndet ....

Gawaiku tiba-tiba berbunyi.

Astaghfirullah, senua itu ternyata mimpi.

Aku mengangkat panggilan telpon.

Aku lihat di layar gawai, ternyata Mbak Risah yang menelpond. Memang jam segini ada apa Mbak Risah menelpond?

"Mad ... Ammad ...."

Aku terhenyak mendengar suara Mbak Risah yang tidak begitu jelas. Apa sinyalnya di sana buruk? yang aku dengar cuma manggil nama belakangku saja.

"Mbak ... ada apa?"

Panggilan terjeda, lalu kembali terhubung.

Ada hatiku yang seperti mengatakan kalau ada apa-apa dengan Mbak Risah. Memang ada apa?

"Mad ... Ammad ... bisa dengar?"

Nah, ini baru sedikit jelas, meski agak putus-putus.

Lagian memang ada apa jam segini telpon? Orang rumah sudah pada tidur kalau seperti ini. Kalau pun sholat, biasanya mepet sama jam subuh.

Untungnya aku langsung ngangkat.

"Iya, Mbak ... Ada apa?"

"Tolong sampaikan Abah sama Umi, Ibu mertuaku meninggal, Mad ...."

"Innalillahiwainnailaihiraji'un. Iya, Mbak ... sekaang Mbak ada di mana?"

Aku di sini tidak mendengar suara apa-apa, kecuali mendengar suara Mas Hasan, suaminya Mbak Risah yang menangis.

Apa masih di rumah sakit?

Aku tidak menyangka kalau Allah sudah menutup umur Ibu mertua dari Mbak Risah.

Aku kenal betul sama Ibu mertuanya Mbak Risah itu, orangnya baik dan ramah. Aku yang baru datang saja sibuk mengeluarkan semua makanan yang ada di al-maari. Padahal tujuanku mampir cuma mau silaturahmi sama maaf-maafan dan langsung pulang. Tetapi malah dibetah-betahin suruh mencicipi makanan yang sudah ditatanya di atas meja.

"Aku masih di rumah sakit, Mad."

"Iya, Mbak."

Tanpa salam Mbak Risah sudah menutup telpon.

Aku menghela nafas berat sambil memperhatikan laptop kerjaku yang belum aku masukan ke almari.

Mimpi yang barusan aku lalui tadi seakan nampak begitu nyata sampai aku tak sekalipun menyadari kalau memang itu mimpi.

Mungkin kalau Mbak Risah tadi telpon, aku tidak tahu cerita mimpi itu seperti apa. Tapi lupakan, aku ingin tidak memikirkan Lia terlebih dulu.

Gawai aku matikan. Lalu meletakkannya di atas meja, dekat dengan lampu tidur.

Aku bingung, mau ngabarin Umi sama Abah sekarang atau bagaimana? Apa menunggu besok waktu subuh, apa bagaimana? Mbak Risah tadi nyuruhnya suruh bilang ke Abah Umi tetapi jam segini Abah Umi itu, ya masih tidur.

***

Mbak Sakshi

"Kami meminta tolong, kepada kalian para pengurus pesantren putri. Terutama ketua pengurus! Kalian semua akan kami ajak untuk menjadi para penerima tamu. Besok pagi, kalian akan diberangkatkan dengan menggunakan bus mini. Jadi sebelum jam tujuh pagi, kalian sudah harus berada di lokasi. Oh iya, untuk ketua pengurus ... nanti santri putri yang bernama Ay Ay, suruh menuju ke ndalem untuk ketemu Umi."

"Baik, Gus ...."

Ay?

Kenapa dengan Ay? Kyai Abkhan ini mau mengajak kami menjadi penerima tamu? Apakah di suatu pernikahan? Hmm, sebentar.

Neng Nadah, dia kan katanya yang mau menikah dengan Gus Reza itu.

Apa Neng Nadah ya, yang kali ini menikah?

Kami yang para pengurus hanya bisa mengangguk dengan pandangan ke menatap teras yang berkapling.

Kami tidak berani bertanya kecuali yang sangat penting.

Mungkin aku akan ngasih tahu Ay saja, kan Ay nanti mau doajak ke ndalem.

***

Neng Ay

"Mas Wahyu?"

Aku melihat dari pagar pintu santri putri, aku melihat Abah Abkhan di depan sana dengan Mas Wahyu.

Mbak-mbak pengurus sepertinya membicarakan hal serius dengan Mas Wahyu dan Abah Abkhan.

Apa yang dibicarakan? Apa akan ada kegiatan baru di pesantren? Apa ada sesuatu untuk diurus para pengurus pesantren putri? Apakah ada tugas pembersihan?

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95FUM" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95FUM
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Hanyalah Ilusi Cinta Pertamanya
8.6
Pernikahan dengan Stephen terjalin bukan karena cinta, melainkan sebagai balas budi setelah aku menyelamatkannya dari tikaman pisau. Namun, hubungan ini langsung kandas saat cinta pertamanya kembali dan Stephen memilih membatalkan pernikahan kami. Kecewa dengan pengkhianatan ini, aku memutuskan untuk menggugurkan kandungan dan pergi menjauh. Keputusan ekstrem tersebut justru membuat Stephen kehilangan akal dan berbalik mengejarku dalam kegilaan yang terlambat.
Sampul Novel Cinta Segitiga Yang Rumit
9.6
Alana Putri Pratama terjebak dalam pernikahan hambar dengan Raihan Wijaya, manajer muda yang hanya menjadikannya alat untuk memancing cemburu mantan kekasihnya. Raihan yang terobsesi masa lalu mengabaikan Alana sepenuhnya hingga sang cinta pertama kembali muncul mengusik mereka. Di tengah kerapuhan ini, hadir Daniel Sanjaya, CEO tampan yang mulai mendekati Alana. Akankah Raihan sadar sebelum Alana berpaling, ataukah bayang masa lalu akan menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Di Atas Ranjang Tuan Nick
8.7
Akibat tuduhan palsu sebagai perusak hubungan, Keyla menghadapi nasib kelam. Nick, CEO berkuasa, menculiknya tepat di hari pertunangan demi menghancurkan masa depan wanita itu. Setelah dilecehkan secara paksa, Keyla yang putus asa mencoba mengakhiri hidupnya. Namun, Nick justru menyelamatkannya hanya untuk mengikatnya dalam pernikahan yang menyesakkan. Kini, Keyla terjebak sebagai tawanan di kediaman megah pria yang telah menghancurkan martabatnya tersebut.
Sampul Novel Istri Simpanan Itu Akan Menyesal
8.7
Nayla Azzura dan Rafka Dirgantara terlihat seperti pasangan sempurna dengan rumah tangga tanpa cela. Namun, kenyataan pahit terungkap saat Rafka diketahui memiliki istri simpanan. Bukannya menyerah, Nayla justru menyusun taktik balas dendam yang cerdas dan penuh kejutan unik. Di tengah rencana liciknya, kehadiran pria lain justru memicu percikan tak terduga dalam hubungan mereka. Siapakah yang akhirnya memenangkan permainan penuh rahasia dan pengkhianatan ini?
Sampul Novel Jessica, Luka Yang Terpendam
9.3
Jessica, seorang agen properti andal, terkejut saat Moses membawa klien yang ternyata mantan kekasihnya, Tommy. Pria itu datang bersama calon istrinya untuk mencari hunian menjelang pernikahan mereka enam bulan lagi. Meski awalnya bersikap seolah tak saling kenal, Tommy justru muncul di rumah Jessica keesokan harinya untuk bicara empat mata. Akankah pertemuan ini membangkitkan perasaan lama, atau justru mengacaukan rencana pernikahan Tommy yang sudah di depan mata?
Sampul Novel Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
8.6
Menghadapi perselingkuhan yang menyakitkan, seorang istri mengambil keputusan berani untuk melepaskan pasangannya. Tanpa ragu, ia menyerahkan suaminya secara langsung kepada wanita idaman lain tersebut. Baginya, pria yang telah berkhianat tidak lebih dari sekadar sampah yang tidak layak dipertahankan lagi. Kisah ketegasan seorang wanita dalam membuang masa lalu yang pahit demi harga dirinya, sembari memberikan pria tak setia itu kepada sang pelakor.