
Dunia Mimpi Para Jomblo
Bab 3
Aku melirik ke kanan dan kiri untuk memastikan situasi, kemudian aku bertanya dengan penasaran kepada pemuda itu.
“Apa kamu bisa membantuku?” Tanyaku serius.
“Soalnya, sejak peristiwa kemarin malam, aku sampai tidak bisa tidur karena bertanya-tanya, memikirkan seperti apa perasaan seseorang yang sedang jatuh cinta itu,” ucapku menatapnya.
Kemudian aku melirik ke kanan dan ke kiri lagi untuk memastikan bahwa yang ada di situ hanya aku dan dia.
“Aku belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta,” ucapku pelan.
“Hah, dasar orang aneh,” Ungkapnya sambil menggelengkan kepala karena tidak percaya.
Aku terdiam menunduk karena malu.
“Jadi bagaimana, apa kamu masih mau merasakan jatuh cinta?” Tanyanya.
“Aku hanya penasaran dengan perasaan orang-orang yang sedang jatuh cinta,” Jawabku menatapnya.
“Mmm, baiklah. Ayo sini, duduk dulu,” ucapnya menarik tanganku.
“Iiiya,” Kataku gugup.
Kemudian kami terdiam, timbul suasana hening dalam restoran kecil saat itu.
“Oke, aku akan mengabulkan keinginanmu,” ucapnya tiba-tiba sambil tersenyum.
“Serius?” Tanyaku.
“Ya. tentu saja serius. Apa wajahku seperti pembohong?” Jawabnya dengan bertanya balik kepadaku.
“Ah, tidak juga sih,” Jawabku mengamati wajahnya.
“Apa kamu sudah menemukan seorang perempuan untuk dijadikan teman kencanku?” ucapku pelan sambil mengamati sekeliling ruangan takut terdengar oleh Bapak dan ibu.
“Kenapa harus aku yang menemukannya. Cobalah untuk mencarinya sendiri, jatuh cinta itu perlu perjuangan. Jika kamu ingin jatuh cinta artinya kamu akan menjadi seorang pejuang,” Jawabnya menasihatiku.
“Tapi aku amatir, tidak tahu caranya dekat dengan seorang perempuan atau membuatnya senang, apalagi perempuannya itu tidak ku kenali,” Kataku jujur.
“Semua orang juga tadinya amatir, mungkin hanya keberuntungan saja yang membuat perbedaannya,” Balasnya seperti menyemangatiku.
“Tenanglah. Pengalaman menjadi seorang amatir itu adalah suatu keharusan dan sangat diperlukan” Sambungnya memegang pundaku.
“Menurutmu aku harus berpakaian seperti apa? Jaket levis dengan celana levis biru, bagus tidak? Atau memakai kaos tangan pendek warna putih dengan celana chino hitam? Atau...?” Aku terus bertanya padanya.
“Hei! tidak perlu yang wah, yang penting kamu nyaman dengan pakaianmu, itu sudah cukup,” Dia menasihatiku lagi.
“Seorang perempuan itu lebih menyukai seorang pria yang terlihat biasa dan natural. Meskipun hanya sedikit yang seperti itu,”. Sambungnya tertawa.
“Artinya aku harus berpakaian modis ya,” ucapku mengangguk-anggukan kepala.
“Tapi menurutku, jika kamu menemukan seorang perempuan yang seperti aku ucapkan tadi, kamu akan bahagianya dengannya,” Dia menimpaliku.
Aku hanya melihatnya sambil memikirkan apa baju yang harus kupakai nanti. Bapak kemudian tiba-tiba masuk dari arah pintu belakang. Dia melihat kami berdua yang sedang berbicara tentang cinta.
“Masih sepi ya nak?” Suara bapak mengagetkanku.
“Ah, i..iiya pak” Jawabku mencari dari mana suara itu berasal.
“Kenapa kamu celangak-celingukan gitu?” Bapak yang penasaran mendekati kami dan kembali bertanya.
“Enggak apa-apa pak,” Jawabku melihat bapak yang sedang berdiri di belakangku.
“Ini semuanya berapa?” Tiba-tiba pemuda itu bertanya dan beranjak dari tempat duduknya.
“Mm...satu bubur ayam alit dan satu jus jeruk, semuanya totalnya 10 ribu,” Kataku tersenyum.
“Ini uangnya,” Dia meletakannya di meja.
“Aku pergi, terimakasih buburnya,” Sambungnya, kemudian mengambil payung yang tersimpan di dekat pintu masuk.
“Terimakasih sudah datang,” ucapku sedikit menundukan kepala.
Kemudian setelah itu, aku mengambil uang yang ada di meja dan membawa mangkuk dan gelas ke dapur untuk segera dibersihkan.
“Sini biar bapak yang cuci,” ucap bapak mengambil mangkuk dan gelas dari tanganku.
“Kamu bersihkan saja meja yang tadi,” Sambung bapak.
“Iya, baiklah,” Balasku dengan pelan.
Sebelum aku membersihkan meja tersebut aku menaruh uang terlebih dahulu ke tempat kasir, kemudian bergegas pergi menuju meja pemuda tadi. Selagi aku membersihkannya aku menemukan sebuah kotak yang berukuran sebesar tangan anak SD. Pikirku sepertinya ini barang milik pemuda tadi jatuh.
“Aku harus mengembalikannya,” ucapku berdiri dan segera pergi ke luar.
“Sudah tidak ada ya?” Tanyaku melihat sekeliling.
Tiba-tiba tanganku menjatuhkan barang itu, dan terlihat bahwa yang ada didalam kotak tersebut adalah sebuah jam tangan. Dan terdapat sesobek kertas kecil didalamnya, kemudian aku membacanya.
“Jam tangan ini adalah hadiah dariku untuk mu. Pakailah, jika kamu masih ingin mengetahui seperti apa perasaan saat sedang jatuh cinta itu,” Tulis pemuda itu.
Kemudian aku melihat jam tangan tersebut dan benar saja, jam tangan itu tidak seperti jam tangan pada umumnya. Warna jam tangan itu putih dan angkanya hanya sebagian saja mulai dari angka 8 sampai angka 5, selain dari angak itu tidak ada.
“Kenapa dia memberiku jam tangan yang seperti ini?” Aku bertanya-tanya.
“No! Rino!” Bapak memanggil dari dalam.
“Iya pak, sebentar,” Balasku berteriak.
Dengan terburur-buru, aku langsung memasukan jam tangan itu ke dalam kotak yang tadi dan menyembunyikannya kedalam saku jaket.
Anda Mungkin Juga Suka





