
DUNIA MAYA
Bab 2
Rani tersenyum sinis sambil memainkan ujung rambutnya.
“ Baiklah aku akan kesana” jawabnya sembari melangkah keluar yang sebelumnya mengunci pintu rumahnya.
Maya dan Rani menuju rumah berjalan kaki, selama perjalanan mereka juga tidak membicarakan apapun, walaupun Maya memendam rasa penasaran yang sangat besar.
Sesampainya dirumah, Mas Toni sudah selesai mandi, mengalungkan handuk di lehernya dan tersenyum menghampiri Rani.
“ Kemarilah sayang, Rani menghampiri Toni dan mereka saling berpagutan di depanku tanpa rasa malu dan bersalah. Aku terbelalak, badanku gemetaran menahan sakit dan amarah.
“Apa – apaan kalian!! Benar – benar tidak bermoral. Sejak kapan kalian berhubungan, aku istrimu Mas, kenapa kamu tega !! teriakku seperti orang kesurupan.
Aku sakit hati, aku marah, aku kecewa,
“ Rani pacarku, wajar kalau kami melakukan ini, aku menyukainya” ujar Mas Toni tanpa rasa bersalah.
Maya menangis dengan kencang, berteriak seperti orang kesurupan, mengacak – acak rambutnya sambil tertunduk berimpuh dilantai.
“ Pergi kalian!! Dasar manusia – manusia tidak punya hati! Enyahlah kalian!”teriak Maya sembari mengamuk melempar apapun yang ada didekatnya kearah Toni dan Rani.
Teriakan Maya membuat para tetangga berdatangan, karena menyadari hal itu, Toni dan Rani pergi begitu saja meninggalkan rumah karena khawatir warga akan menyerang mereka.
Datang seorang wanita paruh baya menghampiri Maya yang bersimpuh dilantai dengan tatapan kosong, Nenek Halimah mendekati Maya, kemudian memeluknya dengan erat sembari membelai rambut Maya. Nenek Halimah melihat semua yang terjadi di rumah itu, dia mengintip dibalik pintu, tapi tidak berani mendekat karena takut Toni akan berbuat kasar padanya, maka dia bergegas memanggil tetangga yang lain untuk datang kerumah Maya, dia takut Toni melakukan perbuatan kasar pada Maya seperti biasanya.
“Nek, kenapa Tuhan jahat nek, aku salah apa, kenapa semua ini menimpaku?” Maya menangis sejadi – jadinya di pelukan nenek halimah.
“ Sabar ya nduk, Tuhan tidak jahat, dibalik semua ini pasti ada hikmahnya, Tuhan sedang menyiapkan hal terindah untukmu nanti, nenek halimah berusaha menenangkan Maya.
Di malam ini, di saat semua telah terlelap, Maya seorang diri merenungi hidupnya. Melihat sinar Bulan yang sudah tampak di langit, tanpa ditemani cahaya bintang. Sepertinya yang juga hanya sendirian menghadapi hidup ini. Hanya ditemani nyanyian jangkrik yang saling bersahutan.
Alsya… Gumamnya lirih sambil kepalanya menyender di sisi jendela matanya menatap langit malam.
,Alsya gadis cantik berumur 10 tahun, anak yang aktif dan selalu ceria, berambut hitam sebahu, matanya yang coklat dan bulu mata yang lentik menambah kecantikannya. Alsya anak yang ditemukan Maya tergeletak dipinggir jalan bersimbah darah ketika dia baru pulang dari bekerja, sepertinya korban tabrak lari. Maya membawa Alsya ke rumah sakit, setelah sadar Alsya tidak ingat apapun. Menurut dokter Alsya mengalami gagar otak yang menyebabkan dia hilang ingatan.
Karena Maya tidak tahu harus mengantarnya kemana, maka Maya memutuskan untuk mengangkat Alsya menjadi anaknya, dan memberi dia nama Alsya.
Maya mengurus Alsya pasca kecelakaan dengan sangat telaten, dia ingin punya anak tapi belum di beri kepercayaan oleh Tuhan, mungkin kedatangan Alsya akan menjadi pengobat kesepian Maya karena suaminya jarang sekali pulang.
Tak terasa air matanya berderai membasahi pipinya, biasanya jika dia bersedih ibunya akan datang dan menenangkannya sembari memijit kakinya.
Dalam lamunan Maya, terlintas wajah ibunya yang teduh, memakai gamis dan kerudung panjang, ketika Maya menangis ibu akan datang membawakan teh hangat kekamarnya, mengelus – elus rambutnya, sebelum ibunya meninggal, ibu berkata “ Maafkan ibu Nak, yang tanpa mendengar penjelasanmu langsung menuduhmu yang bukan – bukan dan akhirnya kamu harus menikah dengan Toni” ibu menangis sesenggukan menyesali perbuatannya yang gegabah,
“ Waktu itu ketika ibu pulang dari pengajian, ibu di kejutkan dengan panggilan seorang pemuda yang ibu tidak kenal, dia berkata bahwa ada seseorang masuk kerumah melalui jendela, dia tidak berani menegur atau masuk dikarenakan pemuda itu bukanlah orang daerah ini, tanpa berpikir panjang ibu masuk kerumah dan melihat kesekitar ibu langsung menuju kamarmu, karena harta ibu dirumah ini cumin kamu Maya” cerita ibu sembari menangis tanpa henti.
“sudahlah bu, semua sudah terjadi, aku dan Mas Toni sebelumnya kan memang berhubungan jadi ibu tentu akan sangat panic dan mengira kami melakukan hal – hal yang tidak baik dalam posisi waktu itu”ucapku.
“ aku hanya tidak mengira bahwa Mas Toni dengan sekejap berubah sangat kasar, padahal dulu dia berujar amat sangat mencintaiku sebelum kejadian itu”lanjutku
***
Pagi ini sinar matahari tampak tak terlihat, karena sang mentari sedang bersembunyi diantara langit yang muram. Maya terbangun dari tidurnya, dia baru tersadar bahwa dia ketiduran diatas sajadah setelah sholat subuh tadi.
Maya kemudian bangkit, dia sama sekali tidak bergairah untuk keluar dari kamar, maka dari itu dia hanya beranjak merapikan alat sholatnya dan kemudian naik keatas ranjang kembali membungkus badannya dengan selimut. Kepalanya sangat berat karena dia kurang tidur dan semalaman tak hentinya menangis.
Ketika dia ingin memejamkan matanya kembali, terdengar sayup – sayup ketukan pintu dari arah luar. Dengan malas Maya turun dari tempat tidur dan melangkah menuju ruang tamu, sebelum membuka pintu dia mengintim dari balik jendela menyingkap gorden bunga – bunga yang terantung di jendela itu. Berdiri nenek halimah dengan membawa rantang menghadap membelakangi pintu.
Maya memutar kunci pintu perlahan dan membuka pintu, nenek halimah kemudian membalikkan badan menatanp Maya dengan tatapan iba.
“Kamu sudah makan nduk?tanya nenek halimah
Maya hanya menggeleng dan keluar menuju kursi di depan teras, disusul oleh nenek halimah duduk disampingnya.
“ini nenek bawakan bubur dan lauk sambel krecek kesukaan kamu, kamu harus makan nduk agar tubuhmu kembali segar,”sahut nenek halimah.
“iya nek, terimakasih, nanti aku makan” jawab Maya sambil tertunduk lesu.
“Nduk, kedatangan nenek kesini juga ada keperluan lain, ada beberapa hal yang akan nenek ceritakan padamu Maya, salah satunya adalah rahasia yang di simpan oleh ibumu bertahun – tahun lamanya.”jelas nenek halimah panjang lebar.
Maya menatap nenek halimah,” Ada apa nek?’tanya Maya kemudian
“ Sebelum nenek bercerita pesan nenek kamu harus kuat ya nak, semua yang terjadi adalah skenario dari Tuhan, pasti ada hikmahnya dibalik lika – liku hidupmu”jelas nenek halimah.
Nenek Halimah menghembuskan nafas panjang, seakan apa yang akan diceritakannya adalah sesuatu yang besar dan penting.
‘Kamu bukan anak kandung Farida’kata nenek singkat
Maya membelalakan matanya menatap tajam kearah nenek halimah, dan tanpa terasa matanya basah karena air mata yang menetes deras.
‘Jangan membuatku hancur nek, nenek ja-jangan bercanda’jawab Maya sesenggukan.
‘Itulah kenyataannya Maya.’lanjut nenek halimah sambil menatap sayu kedepan.
Anda Mungkin Juga Suka





