
Duda kesayangan Gladis
Bab 2
Awan diam, menatap mata wanita di hadapannya yang sedang mengandung. Beberapa waktu lalu baru ia menatap foto maternity-nya, kini wanita itu ada di hadapan dirinya. "Apa kabar, Mas?" Aira mendahului bertanya.
"Ba... baik, aku baik Aira." Jawab Awan sedikit terbata.
"Ayah!" Teriak Kesya sambil berlari kecil menghampiri.
"Kesya," sapa Awan lalu meraih jemari mungilnya.
"Ayah ke mana? Kesya bangun tidur Ayah nggak ada di dalam," gerutu bocah itu.
"Ayah di sini," jawab Awan sambil merapikan kunciran rambut putrinya. Aira menyapa, suara lembutnya bahkan mampu membuat jantung Awan berdebar.
"Halo, kamu siapa namanya?" Aira bertanya. Kesya menoleh menatap Aira lalu berganti ke Ayahnya. Awan tersenyum, mengizinkan Kesya menjawab.
"Kesya," jawab pelan bocah itu.
"Hai, Kesya, saya Tante Aira." Ia tersenyum menatap Kesya. Kedua matanya menatap Awan, meminta penjelasan. Namun Awan diam.
"Aira," suara berat lain terdengar. Ia menoleh, dan melihat Galang yang berwajah tak bersahabat saat melihat Awan.
"Hey," tangan Aira menyambut uluran tangan suaminya.
"Galang," sapa Awan. Suami Aira itu hanya mengangguk.
"Ayo, Sayang, kita pulang, udah selesai di cuci mobilnya," ucap Galang tanpa menggubris sapaan Awan. Aira mengangguk, ia lalu pamit dengan singkat lalu berjalan menggandeng lengan Galang. Saat mereka sudah berjalan cukup jauh ke arah mobil mewah mereka. Awan menoleh karena Kesya menarik-narik tangannya.
"Apa, Sayang?" tanya Awan menatap putrinya yang mendongak.
"Tantenya cantik, temen Ayah?" Kesya menunggu jawaban Awan, ia tersenyum mengangguk.
"Ayo kita ke dalam, udah mau tutup, kita pulang ya, Key." Key merupakan panggilan sayang Awan untuk putrinya. Kesya mengangguk. Mereka berjalan bersama, berpapasan dengan mobil sedan mewah Galang yang melewati ia dan Kesya.
"Ayah, apa Ibu Kesya cantik kayak Tante yang tadi? Kesya kok nggak inget wajah Ibu, ya?"
Awan begitu tertohok mendengar kata-kata Kesya. Ia hanya bisa mengusap kepala putrinya itu sembari bertanya hal lain. Mengalihkan pembicaraan. Keduanya berjalan cepat ke ruang kerja Awan, tawa Kesya membuatnya ikut terbawa, walau di dalam hati dan pikirannya, ia terus terbayang raut wajah Aira tadi yang ia akui semakin cantik dan mempesona.
***
Kamar bernuansa warna cokelat itu menjadi saksi malam-malam yang sudah di lewati anak dan Ayah itu. Alasan Kesya ingin tinggal di rumah lain karena ia, tidur bersama Awan di satu kamar itu. Ia ingin memiliki kamar seperti seorang anak kecil pada umumnya. Berhias gambar princes, atau kuda poni. Awan mengusap punggung Kesya yang sudah tertidur pulas menghadap ke arahnya, sudah rutinitas Awan yang melakukan usapan itu. Ia beranjak perlahan, berjalan ke arah lemari baju Kesya kemudian mengambil seragam sekolah putrinya yang akan ia kenakan esok hari.
Awan diam, menatap Kesya dengan begitu sendu. Merasa kasihan dengan putrinya yang hidup tanpa sosok seorang Ibu. Ia kemudian ikut merebahkan tubuhnya sambil menghadap Kesya dan memeluk tubuh putrinya itu.
Tak pernah ia memikirkan jika jalan hidupnya akan seperti itu, menjadi seorang duda dua kali dengan satu orang putri, tinggal di rumah orang tuanya dan membuka usaha bengkel yang ia rintis dari awal sejak empat tahun lalu. Ya, walau membuahkan hasil yang cukup untuk menghidupi ia dan putrinya, tapi banyak hal lain yang ia tak bisa penuhi untuk Kesya.
Kepalanya terus berfikir tentang kerja sambilan lainnya, ia mantan seorang marketing handal perusahaan mobil, masih bisa jika ia ingin bekerja menjadi tenaga marketing freelance, yang penting tak memakan waktu sehingga mengorbankan Kesya.
Pagi menjelang.
Suasana meja makan seperti biasa, Kakek dan Nenek Kesya sayang dengan cucunya itu bagaimana pun juga bocah itu darah daging putrnya. Kedua adik Awan sudah bekerja, adik yang lelaki bahkan hanya sesekali menginap di rumah itu, karena ia sudah memiliki rumah sendiri yang ia cicil dari gaji perbulannya. Adik perempuannya bekerja di instansi pemerintah, lolos jalur murni karena memang pintar dan lulusan Hukum.
"Mas Awan, kemarin gue ketemu Kak Aira sama suami dan anaknya, lagi hamil juga sekarang dia, kembar katanya," ucap Adik perempuannya. Awan menoleh, menatap Adiknya itu.
"Kamu ngobrol sama dia?" Kini Awan yang tampak terkejut.
"He-em, Kak Aira yang nyapa aku duluan, aku juga di kenalin ke suami sama anaknya yang cowok, Jevan namanya. Ganteng banget. Mereka lagi belanja perlengkapan bayi di mall itu, gue pas kebeneran makan siang di sana sama orang kantor."
"Oh ...." hanya itu reaksi Awan.
"Aira udah mau tiga anaknya, ya? Hmmh... Bunda kangen sama Aira," mendadak wajah Bunda menjadi sendu. "Perempuan baik akan selalu dapat kehidupan yang baik," lanjutnya.
"Kak Aira makin cantik, Bun, suaminya juga kelihatan cinta dan sayang banget sama dia. Lucunya, Kak Aira malah tanya kabar Mas Awan. Kayak ngerasa biasa aja, nggak ada cerita kusut di masa lalu." Kini mata Adiknya itu melirik sinis ke Awan. Pria itu hanya diam sambil menyuapi putrinya makan.
"Aira yang hatinya lapang, dia nggak akan bisa benci sama orang lama-lama, pintar dan juga ramah. Beda sama Am--" mulut Bunda terkunci karena Ayah menepuk-nepuk bahu istrinya.
"Udah, Aira udah bahagia. Kita ikut senang untuk hal itu," sahut Ayah.
"Aira, maksudnya Nenek sama Kakek, Tante Aira yang kemarin di bengkel itu ya, Ayah? Tante yang nyapa Key dan wajahnya cantik itu, 'kan?"
Sontak semuanya menatap ke Kesya. "Kalian ketemu?!" Mata Bunda membulat sempurna. Awan mengangguk.
"Mereka cuci mobil di bengkel, ketemu Galang juga, cuma Galang gak bersikap baik, maksudnya... balas sapaan Awan juga enggak, diem aja. Malah sorot kebencian kelihatan banget di matanya." Tukas Awan.
"Wajar lah, dia saksi mata semua kelakuan lo sama, dia." Sambung Adik lelaki Awan. Maksud 'Dia' di sini adalah Amanda, si wanita ular itu, mantan istri kedua Awan yang juga dulu selingkuhannya.
"Udah, nggak usah bahas yang lalu-lalu, ngapain. Sekarang bahas masa depan aja. Awan, Ayah mau kenalin kamu sama anak temen Ayah, temen lama. Kemarin sempet ketemu waktu reuni pensiunan kantor, kamu nggak masalah kan, kalau harus coba dekat dengan anaknya?"
Awan menatap lekat Ayahnya. Lalu mengangguk tanpa berusaha bertanya apapun. Awan memang menjadi lebih pendiam dan manut jika kedua orang tuanya memintanya ini dan itu. Dosa dan kesalahannya sudah terlalu menggunung kepada kedua orang tuanya, ia tak mau semakin memperkeruh keadaan juga.
"Kalau gitu, siang nanti ikut Ayah ke tempat mereka, karena, teman Ayah ini, udah bingung harus dengan cara apa lagi untuk cari jalan keluar permasalahannya." Ayah menatap lekat Awan, lalu berganti ke istri dan dua anak lainnya.
"Awan mau Ayah nikahkan sama anak teman Ayah itu, secepatnya." Kalimat Ayah membuat semua terkejut. Tak terkecuali Awan yang kaget bukan main, tapi ia hanya bisa diam.
"Kesya, nanti kenalan sama calon Ibu Kesya ya," ucap kakeknya lagi. Kesya yang bingung menatap Awan.
"Nanti Ayah jelasin, ayo, kita berangkat, sekolah Key masuk satu jam lagi, takut macet." Awan memberikan teh manis ke putrinya, lalu membersihkan bibirnya dengan tisu karena belepotan selai cokelat roti bakar yang di makan Kesya.
"Nenek, Kakek? Ibu Kesya mau pulang? Udah nggak pergi lagi?" kepolosan bocah itu membuat semuanya tersenyum, lalu Bunda mengangguk.
"Jam sepuluh nanti, Ayah ke bengkel, kita bareng-bareng ke rumahnya, ya, Awan?" Pria tua iti beranjak, mengambil topi sekolah TK cucunya lalu memakaikan ke atas kepalanya.
"Nanti Key bisa jadi anak baik kan, kalau ikut Kakek sama Ayah, Key nanti pulang sekolah lebih awal ya?" Pria itu mencium kening cucunya. Lalu Kesya menghampiri satu persatu semua orang di rumah itu untuk menyalim tangan sebelum berangkat sekolah.
Awan menyambar kunci mobil lalu berjalan ke garasi menuju ke mobilnya.
"Ayah yakin?" tanya Adik laki-laki Awan ke ayahnya.
"Gadis ini anak baik, baru lulus kuliah, tinggal wisuda dua bulan lagi." Jawab Ayah.
"Nanti Mas Awan tinggal di sini sama istrinya?" Kini Adik perempuan Awan yang bertanya.
"Awan tinggal di rumah gadis itu, karena teman Ayah, orang tua gadis itu mau tinggal di luar kota, menetap di sana. Daerah pegunungan, mereka mau saat mereka pergi, anak gadisnya sudah ada yang meminang, dan ya, Ayah yakin ini jodohnya Awan selamanya. Feeling Ayah kuat soal ini, mudah-mudahan, ya."
Semuanya mengangguk. Padahal, mereka tak tahu, jika Awan mendengarkan percakapan itu dari pintu garasi samping yang tembus ke meja makan. Ia memejamkan mata. Jujur, semenjak ia bertemu dengan Aira, ia berharap bisa berhubungan baik dengan mantan istri luar biasanya itu, tapi harapan itu sepertinya pupus.
Bersambung,
Anda Mungkin Juga Suka





