
Duda kesayangan Gladis
Bab 3
Just info ; Di kisah Awan ini, kenapa saya nggak mau bahas kehidupan blangsak Awan dan Manda, karena memang dari awal tokoh Manda udah resek, jadi di sini, mau fokus ke si Awan dan seseorang ini. Tapi ... Awan masih begitu menyesal udah lepas Aira, gitu pokoknya ya. Untuk Manda si medusa, nanti akan muncul tapi nanti di tengah-tengah 😁.
Yuk, kita ikutin kelanjutannya.
Lav you readers ❤
_____________
Rumah bertipe 54 dengan posisi rumah di huk, membuat tampak luas. Perempuan itu tinggal di komplek perumahan biasa, awalnya, Awan berpikir jika perempuan ini anak seorang kaya raya, sehingga ia cukup minder untuk bertemu. Ia juga berpikir kalau ayahnya seolah menjual dirinya pada keluarga itu. Piciknya pikiran Awan, ya wajar, karena ia tak berpikir untuk jatuh cinta apalagi menikah lagi.
Nama Aira masih terus terngiyang di kepalanya. Mereka bertiga turun dari mobil - Ayah, Awan dan Kesya - kedatangan mereka sudah di sambut tuan rumah dengan wajah sumringah. Kedua pria tua itu saling berpelukan, istrinya berjabat tangan dengan Ayah Awan lalu berganti ke dirinya dan terakhir Kesya yang menggandeng tangan Awan erat.
"Mari... mari, masuk, Pak Bima." Sambutan ramah begitu terasa. Kelimanya duduk di ruang tamu dengan nuansa modern. Kesya duduk di antara Kakek dan Ayahnya. Ia menarik-narik tangan Awan. Pria itu mendekatkan telinga ke bibir anaknya.
"Rumahnya bagus, Ayah, bersih banget." Kesya nyengir setelah berbisik.
"Husss," bisik Awan lalu tersenyum ke putrinya.
"Awan, kamu sudah tau tujuan kamu ke sini apa?" tanya Askoro, teman Ayahnya itu.
"Tau, Pak," jawab Awan sopan.
"Sebentar saya panggilan putri saya, ya," ucap Sri, istri Askoro.
"Jadi, saya mau menjodohkan kalian, selain karena saya kenal baik dengan Bima, Ayah kamu ini, juga karena kami yakin kalau kamu bisa ngemong putri kami. Putri kami bukannya manja, tapi pola pikirnya suka nekat, dan spontan. Nggak berpikir resiko ke depannya. Juga, karena kami berdua, saya dan istri mau menetap di daerah lain. Kedua anak saya lainnya sudah menikah dan menetap di negara dan kota lain. Saya berharap, Awan nggak tersinggung atau keberatan dengan perjodohan ini." Askoro tersenyum, jelas tampak harapan besar dari sorot matanya.
"Tapi, Pak, saya duda anak satu. Ini putri saya, Kesya, apa keluarga Bapak nggak mempermasalahkan?" Awan kini membahas tentang statusnya. Askoro tertawa. Ia justru merasa senang, berarti Awan pria dewasa. Itu saja sudah cukup baginya.
Lalu muncul Sri dan wanita cantik berambut potongan bob seleher, dengan warna ungu. Awan terkejut, bahkan Kesya memekik.
"Halo...," sapanya. Awan menoleh ke Kesya yang tertawa. Tampak lucu melihat penampilan perempuan itu.
"Ini putri saya, maafkan penampilannya, dia agak nyentrik memang. Habis bikin video untuk channelnya di youtube," ucap Sri. Perempuan itu tersenyum, ia melirik ke Awan. Awan menatap tanpa ekspresi.
"Rambutnya ungu... lucu." Kesya tak bisa menahan tawa, bukannya marah atau tersinggung, perempuan itu ikut tertawa dan memanggil Kesya supaya menghampiri. Kesya mengangguk, ia beranjak dan berkenalan dengan perempuan itu.
"Eh kamu namanya siapa?" tanyanya.
"Kesya, Tante," jawab Kesya.
"Kesya, namanya lucu. Aku Gladisya. Panggil aja Gladis." Senyuman Gladis membuat Kesya ikut tersenyum.
"Rambut Tante asli, ini? Warna ungu?" tunjuk Kesya. Gladis menggelengkan kepala.
"Ini rambut palsu," ucap Gladis seraya tersenyum.
"Udah... udah, kenapa jadi obrolin rambut palsu," tukas Sri. Awan hanya diam dan cenderung tak kau merespon sikap baik Gladis ke putrinya. Ia sesekali malah menunduk, seolah tak mau tau dan memasrahkan semua kepada Bima - Ayahnya.
"Kalau bulan depan gimana? Terlalu lama tidak?" tanya Bima. Kedua orang tua Gladis saling menatap.
"Kami justru mau dua minggu lagi, Pak Bima. Bukan apa-apa, kami tidak mau jika--"
"Gladis setuju. Dua minggu lagi, iya kan, Ibu, Ayah?" Senyum Gladis atau biasa dipanggil Gladis tampak merekah, seperti bahagia jika ia akan menikah dengan Awan. Senyuman kedua orang tuanya merekah sempurna, akhirnya, semua sepakat dan memutusnya 14 hari lagi Awan dan Gladis akan menikah.
"Bagaimana, kalau kita makan siang bersama, kebetulan saya sudah masak tadi, Awan, mungkin bisa berkenalan dengan Gladis, dan Kesya juga." Ide itu meluncur dari bibir Sri, Awan hanya mengangguk pelan, sedangkan Gladis berbicara dengan Kesya.
Para orang tua sudah bercengkrama di ruang makan, ruang tamu itu tersisa tiga orang itu.
"Saya Awan," ucap Awan seraya mengulurkan tangan.
"Gladisya. Maaf Mas, jadi terlibat di keinginan orang tua saya. Jujur saya nggak tau mau bilang apa, cuma ... saya pribadi mohon maafff... sekali dengan Mas Awan, ini semua karena, karena..."
"Ayah, Key, mau pipisss..." kalimat Gladis terpotong dengan suara pelan Kesya.
"Kesya, sama Tante, yuk, pipisnya, lets go," ajak Gladis.
"Dis," panggil Awan. Gladis menoleh.
"Kesya udah bisa sendiri, antar sampai depan pintu kamar mandi aja kalau nggak repotin." Awan beranjak menatap Gladis tak enak hati.
"Iya, Mas, nggak apa-apa, kok, yuk, Kesya." Gladis mengajak ke arah toilet yang ada di dekat tangga, Awan berjalan ke arah meja makan sambil melihat interior rumah itu. Kedua orang tua Gladis meminta Awan bergabung, pria itu mengangguk sopan, ia menarik kursi dan duduk di sebelah Ayahnya.
***
Mereka pulang pukul 2 siang, obrolan melebar karena nanti keluarga Gladisya yang akan mengurus surat nikah ke KUA, Awan akan melengkapi dokumennya malam hari, esok pagi ia akan antar ke rumah itu lagi.
Bukan pernikahan mewah, pernikahan di laksanakan di restaurant yang di sewa, hanya tetangga, dan kerabat dekat saja yang diundang. Awan tampak fokus menyetir, padahal di kepalanya terus terbayang apakah pernikahan ini berhasil. Jika dari fisik, memang Gladis layaknya mahasiswi baru lulus kuliah, usianya juga berbeda jauh dengan Awan yang sudah 35 tahun sedangkan Gladis masih 22 tahun.
"Kamu kenapa nggak berusaha nolak perjodohan ini, Wan?" Kini Bima bersuara. Awan hanya tersenyum tipis.
"Apa Awan ada pilihan lain, Yah? Ayah kan tau, Awan sekarang pasrahin apapun, Awan udah ada Kesya, takut hukum karma atas kesalahan yang pernah Awan lakukan. Kesya perempuan, Awan takut nanti di masa depan, karena kelakuan bejat Ayahnya, Kesya kena imbas. Awan nggak bisa. Jadi urusan kayak gini, Awan serahin ke keluarga aja." Kalimat Awan membuat Bima tertawa. Ia melirik ke jok belakang, tampak Kesya tertidur.
"Laki-laki kok, nyerah, Wan, nggak mau ada usaha buat cari jodoh lagi sendiri," ledek Bima.
"Bukan gitu, Yah, Awan cuma nggak siap kalau gagal lagi dengan pilihan Awan, lebih ke kapok mungkin. Lagian, jujur, Awan nyesel sakitin Aira, lihat Aira sekarang semakin..." Lidahnya kelu, ia diam tak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Aira cerita lama kamu, kita semua akui dia wanita luar biasa, dan kamu laki-laki gobloknya luar biasa, ya kan. Tapi untuk apa ingat Aira terus, kalian sudah harus bahagia dengan pilihan masing-masing. Makanya Ayah setuju waktu Askoro mau kamu jadi calon menantunya."
"Cinta juga akan datang sendiri, Wan, nanti. Dari pada kamu pacaran lagi nanti makah berzina lagi. Ayah dan Bundamu sudah tua. Jangan biarkan kami terus merasa gagal didik kamu sebagai anak yang ternyata baik di permukaan aja, tapi dalamnya buruk."
Kalimat panjang yang menohok. Awan memang bodoh, wajar ia kini memilih diam dan menuruti kemauan orang tuanya tanpa protes.
Ponsel Awan berbunyi, pesan masuk muncul. Ia menepikan mobil saat memasuki pintu gerbang komplek perumahannya untuk membaca pesan singkat itu.
"Mas, ini Gladis. Simpan nomor ini ya." Hanya itu isi pesannya. Lalu Awan menyimpan nomor ponsel perempuan itu dengan nama : Calon Istri.
Air muka Awan datar, ia tak merasa senang atau sebal, sewajarnya aja ia akan berekspresi.
"Awan," panggil Bima.
"Iya, Yah," toleh Awan saat kembali melajukan mobilnya.
"Jangan cerai lagi, ya, hadapi apapun nanti masalah rumah tangga kalian. Gladisya anak baik, lupain Aira, Ayah mohon." Tatapan keduanya bertemu. Awan mengangguk dengan cepat supaya hati Ayahnya lega.
Ia justru sebenarnya takut, apa nanti bisa cinta atau tidak dengan Gladisya. Keraguannya mendadak muncul. Semoga saja, ia mampu menjalani pernikahan ketiganya itu dengan baik.
Bersambung,
Anda Mungkin Juga Suka





