Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Duda itu Suamiku

Duda itu Suamiku

Hidup Bianca berubah total sejak bertemu Bealize, balita yang terus memanggilnya 'Mami'. Demi Bea, Bianca terpaksa tinggal di rumah gadis kecil itu bersama ayahnya, seorang duda tampan. Merasa cemas akan pandangan orang dan getaran di hatinya, Bianca memilih kabur diam-diam untuk menghindari skandal. Ia mengabaikan nasib Bea demi kebebasannya sendiri. Namun, akankah sang duda membiarkannya pergi begitu saja atau justru mencarinya kembali?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Siapa kalian? Kalian mau apa?" teriak Bianca, langsung memposisikan diri di depan Bea untuk melindungi bocah itu.

Dia begitu takut jika para lelaki itu adalah komplotan penculik yang ingin menculik anak kecil. Mau bagaimana pun, Bianca tidak tahu siapa dan bagaimana bentuk orang tua Bea. Dia hanya ingin melindungi bocah itu sampai seseorang yang benar-benar bisa membuktikan jika mereka memang orang tua Bea, datang menjemput.

"Maaf, Nona. Kami hanya ingin mengajak Nona kecil kami untuk pulang," jawab seorang lelaki yang terlihat seperti pemimpin kelompok. Dengan cara berbicara yang begitu sopan pada Bianca.

Dahi Bianca berkerut dalam, masih merasa curiga dan tak mempercayai mereka. "Memangnya siapa Nona kecil kalian?" tanya Bianca ketus.

Lelaki yang berdiri di hadapan Bianca itu tak menjawab, hanya mengangkat dagu untuk menunjuk bocah yang ada di belakang Bianca.

Tak mendengar jawaban, membuat tatapan Bianca memicing. "Siapa nama Nona kecil kalian?" tanyanya lagi.

"Bealize Caethleen Stefanna." Lelaki itu menjawab tegas, penuh percaya diri.

Hal ini membuat Bianca menoleh. Melihat wajah Bea terlihat murung, Bianca pun menjadi heran. Wanita itu menarik Bea ke sudut ruangan. Hal ini membuat orang-orang berpakaian rapi itu mengikuti.

"Berhenti, jangan mendekat. Aku perlu bicara dengan bocah ini!" bentak Bianca menatap para lelaki itu dengan tajam.

Setelah melihat jika mereka semua memahami ucapannya, Bianca pun melanjutkan. Dia membawa Bea ke meja paling ujung kemudian mendudukkan bocah itu. Dirinya berjongkok menyamai tinggi Bea. "Bea sayang," panggilnya lembut. "Apa yang diucapkan lelaki itu benar jika itu nama lengkapmu?" tanyanya lembut.

Bea mengangguk kecil, tapi dengan bibir berkerut. "Meleka bukan olang jahat, Mama. Meleka olang suluhan Papa untuk menjaga Bea."

Bianca memejamkan mata sesaat karena Bea masih saja memanggilnya Mama. Hal ini membuatnya menghela napas panjang, begitu frustasi.

Bianca menoleh dan menatap para lelaki yang terlihat dingin itu. Matanya memicing, masih tak mempercayainya. Maka dari itu, dia berdiri dan mendekati mereka.

"Apa buktinya jika bocah itu adalah Nona kecil kalian?" tanya Bianca tetap ketus.

Lelaki yang berbicara dengan Bianca tadi, mengeluarkan telepon. Lalu menunjukkan foto-foto Bea.

Bianca mengerucutkan bibir, sepertinya dia harus pasrah dan percaya menerima jika mereka memang mengenal Bea.

"Kami ingin mengajak Nona kecil pulang, karena Tuan muda sudah menunggunya di rumah," kata lelaki itu tegas pada Bianca. Tatapan matanya melirik ke belakang, memberikan kode pada teman-temannya. Setelah itu Bianca bisa melihat jika orang-orang tadi mendekati Bea lalu menggendong paksa Bea.

Bea tentu saja berontak, bocah kecil itu berteriak kencang berusaha melepaskan diri. Bahkan bocah kecil itu tak segan menggigit penjaganya yang membuat para penjaga itu kesakitan dan melepaskan dirinya. Bea langsung melarikan diri ke arah Bianca dan memeluk kakinya erat.

"Boo didak amu puyang!" teriak Bea kencang.

"Anda harus pulang, Nona Kecil. Papa Anda baru saja kembali dari luar kota, dan beliau sudah menunggu Anda di rumah," kata lelaki pemimpin kelompok tadi berusaha membujuk Bea. Bisa panjang urusannya jika mereka tidak bisa membawa bocah itu pulang.

Bea terlihat cemberut dan matanya kembali berair. Bianca yang melihat ini merasa tidak tega lalu menggendong bocah kecil itu penuh sayang. "Bea pulang dulu, ya? Papamu pasti sedang merindukan dan mengkhawatirkan mu, Nak."

Bea menggeleng lemah. "Boo didak amu."

"Bea kan akan pintar. Tidak boleh seperti itu, ya," kata Bianca dengan lembut.

Bea menunduk dengan sedih, kemudian menatap para pengawalnya dengan mata berair. "Boo amu puyang, kalau Mama Boo ikut."

Mata Bianca melotot mendengar hal tersebut. Dia baru saja ingin memberi nasihat lagi untuk Bea sebelum lelaki di dekatnya mengulurkan sebuah telepon padanya. Dengan ragu, Bianca menerimanya. Lalu menempelkan benda tersebut ke telinganya.

"Aku sudah mendengar semuanya. Bisakah kau ikut sebentar agar Boo mau pulang?"

Itu bukan seperti sebuah pertanyaan, melainkan sebuah permintaan tegas yang tidak membutuhkan penolakan. Bianca merasa bingung, dari mana orang yang menelpon itu bisa tahu. Dan jawabannya, ternyata semua lelaki di sana memakai earphone yang bisa langsung tersambung ke seseorang yang menelponnya barusan.

Bianca menghela napas panjang. Ingin menjawab untuk menolak, namun matanya justru berpapasan dengan mata Bea. Dia tidak tega melihat bocah itu menjadi sedih.

"Baiklah." Maka dari itu, dia menyanggupi permintaan orang yang berbicara dengannya di telepon tadi.

Setelah hal kecil itu terselesaikan, Bianca siap-siap untuk ikut orang-orang yang berpakaian rapi tersebut. Bea benar-benar tak melepaskan dirinya sama sekali. Bocah itu bahkan terus minta gendong darinya.

Tepat ketika Bianca ingin keluar, langkahnya justru dihadang oleh Mary. Karyawannya itu menatapnya dengan cemas sekaligus panik. Memangnya orang normal mana yang terlihat biasa saat sang atasan dibawa orang asing?

"Bu … Ibu mau dibawa ke mana? Ibu tidak akan diapa-apain kan, sama orang-orang ini?" tanya Mary khawatir.

Bianca memaksakan senyum. "Santai saja, Mary. Lagi pula jika mereka macam-macam, aku akan menelepon polisi dengan cepat," candanya meyakinkan.

"Tapi, Bu—”

"Kita harus cepat, Tuan sudah menunggu!"

Ucapan Mary harus terpotong ketika lelaki pemimpin itu menyela. Dia menatap Bianca tajam dengan wajah tegasnya yang begitu dingin.

Mau tak mau Bianca mengangguk. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia kembali melanjutkan langkah mengikuti lelaki itu. Dia hanya mengacungkan jempol pada karyawannya dan berharap karyawannya itu tak terlalu mencemaskan dirinya.

Mobil mulai melaju dan suasana terasa begitu hening. Bea tak lagi banyak bicara seperti tadi, hanya memeluk Bianca sangat erat dalam diamnya. Bianca pun sama, tak mengenal lelaki yang semobil dengannya itu membuatnya merasa canggung. Dia juga tak tahu harus membahas hal apa selama perjalanan.

Hanya membutuhkan waktu sekitar empat puluh menit, mobil yang ditumpangi Bianca memasuki sebuah rumah yang begitu elit. Bianca turun dari mobil dan lagi-lagi Bea minta untuk digendong. Wanita itu terlihat mengagumi kemewahan bangunan tinggi di depannya. Tanaman-tanaman hijau di halaman rumah benar-benar membuat suasana sekitar menjadi sejuk. Dan entah kenapa, Bianca merasa senang akan hal itu.

Saking sibuknya melihat sekitar, Bianca sampai tak sadar saat langkahnya sudah berada di dalam rumah. Dia terkejut, saat tiba-tiba Bea berontak dalam pelukannya minta turun.

"Papa ..."

Saat itu juga, Bianca bisa melihat seorang lelaki yang duduk di ruang tamu. Sosoknya yang tegap, terlihat sangat tampan. Potongan rambutnya yang rapi, menambah nilai plus untuk wajahnya. Dan saat tersenyum membalas pelukan Bea, Bianca bisa melihat lesung pipit di salah satu lelaki itu. Entah kenapa, Bianca merasa terpesona.

Wanita itu sedikit gelagapan, saat lelaki itu menatapnya tajam. Namun, entah kenapa dia merasa kecewa apalagi saat lelaki itu tak lagi menunjukkan senyuman. Dan kini, Bianca merasa gugup karena lelaki itu menatapnya tajam.

"Kau bisa duduk!"

Perintahnya begitu tegas, membuat Bianca reflek menggerakkan badan dan menurut. Wanita itu merasa bibirnya lengket dan entah kenapa tak bisa dibuat untuk bicara sama sekali. Namun, meskipun lelaki itu terlihat dingin, jantung Bianca justru berdegup kencang dengan liar. Hati Bianca berdenyut nyeri, seolah merasakan tautan rindu yang selama ini tersimpan, dan ingin sekali dia menangis. Tetapi dia sendiri tidak tahu, perasaan apa yang sedang dia rasakan saat ini.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Baby Han - (Gx G)
9.5
Mikaela, janda muda asal Thailand yang tengah hamil lewat program bayi tabung, memulai karier di perusahaan J.H Fashion, Seoul. Meski bercerai dari David karena dikhianati, bakatnya menarik perhatian Minwo Han. Namun, Judith Han, sang pemilik perusahaan yang merupakan seorang lesbian, justru mulai terpikat secara alami setelah mengambil alih urusan Mikaela. Ketertarikan Judith berkembang menjadi obsesi mendalam saat ia terus memikirkan sosok Mikaela dalam benaknya.
Sampul Novel Istri Tercampakkan, Legenda Hukum Bangkit
8.9
Tiga tahun aku membuang karier hukumku demi menjadi istri idaman Baskara Wijoyo. Namun, kesetiaanku dibalas luka saat dia lebih memilih melindungi mantan kekasihnya, Aurelia, dari tumpahan kopi panas hingga membiarkan lenganku melepuh parah. Saat itulah aku memutuskan untuk pergi. Kini, aku kembali ke ruang sidang sebagai Nemesis, pengacara legendaris yang tak terkalahkan. Aku siap menghancurkan reputasi Baskara dalam kasus terbesar yang pernah ia hadapi.
Sampul Novel My Asshole boyfriend= Destined love
9.2
Reece Andromeda, pewaris konglomerat otomotif, terjerat taruhan konyol untuk memacari Airysh Merylia, gadis yang baru saja dikhianati. Meski awalnya demi pembuktian diri, hubungan mereka guncang saat konflik Reece dan sahabatnya mencuat. Seiring waktu, rahasia kelam pun terkuak. Reece ternyata berjuang melawan trauma masa lalu di balik popularitasnya, sementara Airysh terjebak dalam misteri keluarganya yang belum terpecahkan. Akankah cinta muncul di tengah luka?
Sampul Novel Pelarian Manis Istri Pengganti
7.8
Tiga tahun Cantika menyamar sebagai Aulia demi menyelamatkan label musik keluarganya. Meski menjadi istri Kenan Adiwangsa, ia hanya dianggap pengganti yang terabaikan. Di tengah dinginnya sikap Kenan dan kelicikan Elara, Cantika bertahan meski nyawanya terancam. Saat Aulia kembali, ibunya justru mengusir Cantika tanpa belas kasih. Kini, Cantika memilih pergi dan meninggalkan luka masa lalu. Ia pun menemukan cinta sejati serta kebahagiaan bersama pria yang menghargainya.
Sampul Novel Rahim Satu Miliar Milik CEO Arogan
8.8
Arsyana Quinshaa, gadis berusia 21 tahun, terpaksa mengambil keputusan drastis demi melunasi utang besar peninggalan mendiang ayahnya, Farel Quinshaa. Ia bersedia menyewakan rahimnya senilai satu miliar rupiah kepada Kelvin Daviandra. Kelvin adalah seorang CEO yang dikenal memiliki kepribadian dingin serta arogan. Arsyana kini harus mengandung dan melahirkan anak dari pria tersebut sebagai satu-satunya jalan keluar untuk memulihkan kehormatan keluarganya.
Sampul Novel SENANDUNG CINTA
8.3
Kisah ini menyoroti perjuangan luar biasa seorang wanita tangguh dalam membuktikan eksistensinya kepada dunia melalui kekuatan cinta. Lia telah memantapkan hati untuk mengungkapkan seluruh perasaannya di momen yang paling sempurna. Dengan keyakinan penuh, ia merencanakan masa depan yang indah bersama Rangga. Takdir membawa langkah mereka menuju Negeri Sakura, Jepang, tempat di mana janji suci pernikahan akan mengikat cinta sejati mereka selamanya.