Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Duda itu Suamiku

Duda itu Suamiku

Hidup Bianca berubah total sejak bertemu Bealize, balita yang terus memanggilnya 'Mami'. Demi Bea, Bianca terpaksa tinggal di rumah gadis kecil itu bersama ayahnya, seorang duda tampan. Merasa cemas akan pandangan orang dan getaran di hatinya, Bianca memilih kabur diam-diam untuk menghindari skandal. Ia mengabaikan nasib Bea demi kebebasannya sendiri. Namun, akankah sang duda membiarkannya pergi begitu saja atau justru mencarinya kembali?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Boo … ayo tidur, ini sudah malam."

Seruan tegas penuh perintah tiba-tiba mengalihkan Bea dan Bianca yang sedang bermain ular tangga di ruangan khusus bermain. Bianca segera duduk tegak dan lagi-lagi dia menjadi gugup saat harus berhadapan dengan Papa Bea.

Tadi saat pertemuan pertama mereka, keduanya hanya berbincang sebentar sebelum akhirnya Papa Bea menerima telepon dan meninggalkan mereka. Bea yang masih ingin bersama dirinya, memaksanya untuk ikut bermain. Bianca sebenarnya sudah menolak halus karena mau bagaimana pun dia harus pulang untuk melihat tokonya lagi. Tetapi, lagi-lagi Bea menangis dan merengek padanya yang membuat Bianca kalah telak, tidak tega.

Untung saja selama beberapa jam terakhir ini, Papa Bea tak ikut bermain. Mau bagaimana pun, Bianca merasa tak nyaman. Karena Papa Bea telah membuat jantungnya berdegup kencang dengan liar sore tadi.

Tapi kini lelaki itu kembali muncul di hadapannya. Dan lagi-lagi, Bianca tak bisa mengontrol detak jantungnya. Cepat-cepat dia mengalihkan pandangan, berusaha menenangkan dirinya sendiri.

"Boo," panggil Papa Boo lagi dan kini ikut berjongkok di hadapan sang anak.

Bianca mati-matian tak menoleh, memilih untuk menunduk. Godaan pria di hadapannya itu sungguh maut.

"No, Papa, ini beyum malam. Tuh iat, macih jam tujuh," tolak Bea menggeleng, menyibukkan diri dengan permainannya.

"Tapi pengawal bilang tadi siang Boo tidak tidur," tutur Papa Bea lembut, kembali membujuk. "Tidur, yuk? Kita bisa main lagi besok."

Boo cemberut, ingin sekali dia menolak. Tapi saat melihat Papanya menatap lekat penuh ketegasan, dia tak berani membantah. "Boo mau tidul kalau ditemani sama Mama dan Papa."

Papa Bea menepuk dahinya frustasi. "Boo sayang, Tante ini bukan Mamamu, Nak. Boo tidur sama Papa saja, yuk."

"Didak amu, Boo amu cama Mama cama Papa." Bea merajuk, cemberut dengan kedua tangan saling melipat di dada.

"Tapi setelah itu Boo janji akan tidur, ya?" bujuk Papa Bea lagi. Memastikan kalau kali ini bukan hanya akal-akalan putrinya saja.

Bianca yang mendengar itu melotot. Bagaimana bisa Papa Bea menyetujui hal tersebut? Bianca ingin membantah, tapi Bea sudah menarik tangannya. Raut wajah bahagia bocah tersebut, membuat hati Bianca meringis karena tak mampu menolak. Dia benar-benar tak ingin membuat bocah itu merasa sedih.

Akhirnya, Bianca hanya bisa menurut saat Bea mengajaknya ke kamar. Bocah itu segera mengambil posisi, menarik Bianca untuk berbaring di sisi satunya. Dan tak lama, Bianca melihat Papa Bea ikut menyusul sambil membawa buku bacaan dongeng.

"Mama peyuk Boo."

Bianca memaksakan senyum karena harus menuruti permintaan konyol Bea. Dan saat dia mendongak, tak sengaja matanya bertatapan dengan mata Papa Bea. Dia terdiam memandangi lelaki itu beberapa saat, sampai Papa Bea berdehem membuang wajah.

"Pada suatu hari …"

Papa Bea begitu pengertian membacakan dongeng untuk anaknya dengan sangat lembut. Bianca tetap diam menyimak, sambil mengusap-usap kepala Bea lembut. Entah apa yang terjadi, Bianca juga ikut mengantuk. Tak henti-hentinya dia menguap beberapa kali.

"Bianca."

Sampai sebuah suara memanggil, membuatnya terkejut. Bianca membuka matanya tergesa dan bisa melihat Papa Boo sedang tersenyum padanya. "Ya?" sahutnya menjawab.

"Ayo keluar, Boo sudah tidur," ajak ayah Bea.

Bianca menunduk, dan dia baru sadar ternyata bocah kecil itu sudah memejamkan mata pulas. Pelan-pelan, dia melepaskan pelukan itu lalu bangun dari ranjang. Bianca benar-benar merasa malu, karena tak sengaja ikut tertidur saat dibacakan dongeng oleh Papa Bea.

"Kumpulkan nyawamu terlebih dulu, sebelum bersiap untuk jalan," perintah Papa Bea terkekeh kecil.

"I–iya, Tuan." Bianca hanya bisa mengangguk, sambil meremas kedua tangannya malu.

Akhirnya setelah Bianca sepenuhnya sadar, Papa Bea mengajaknya keluar. Dia hanya bisa menurut saat lelaki itu membawanya turun ke ruang makan.

"Makanlah. Aku tahu kau tadi tidak sempat makan karena terus-terusan menemani Boo," kata Papa Bea, menarik kursi dan meminta Bianca untuk duduk.

Bianca menurut dengan baik. Tak sedikit pun dia membantah karena bagaimana pun dia memang merasakan perutnya lapar saat ini. Melihat banyaknya makanan yang tersaji di meja, dia ingin cepat-cepat mengambilnya.

"Terima kasih, Tuan," kata Bianca tersenyum tipis menatap Papa Bea.

Bryan mengangguk, dan ikut duduk di hadapan Bianca seraya menemani wanita itu makan. Tak ada yang bersuara setelah itu kecuali suara sendok dan garpu yang berdenting ketika menyentuh piring. Keduanya sama-sama menikmati makan dalam diam. Entah karena makanannya terasa nikmat, atau malah karena canggung dan tak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.

"Aku sudah kenyang." Hampir setengah jam, akhirnya Bianca menyelesaikan makannya. Dia yang gugup ditemani Bryan hanya mampu menikmati sedikit menu makanan. Wanita itu memilih untuk mengakhiri semuanya, sambil mengusap mulutnya dengan serbet putih yang tersedia di depannya.

"Kau hanya makan sedikit, bagaimana bisa dianggap kenyang?" tanya Bryan, mengangkat sebelah alisnya menatap Bianca heran.

"Begitulah kenyataannya," jawab Bianca sekenanya.

Bryan mengangguk-anggukan kepala lalu menyelesaikan suapan terakhirnya sebelum meraih gelas air di depannya. Tepat setelah dia meneguk hampir setengah isinya, dia menatap Bianca dan bertanya, "Jadi, apa rencanamu selanjutnya?"

"Tentu saja aku ingin pulang. Lagi pula, Bea sudah tertidur sekarang, dia tidak akan menahanku lagi. Kemungkinan besok juga dia akan melupakanku," kata Bianca terus terang.

"Jadi, kau berniat tidak berurusan lagi dengan anakku?" tanya Bryan dengan suara rendah sepertinya mengintimidasi.

Hal ini membuat Bianca menjadi gugup. Dia menarik napasnya dalam-dalam sebelum menjawab, "Bukan begitu maksudku, Tuan. Hanya saja … kau tahu sendiri, putrimu itu selalu memanggilku Mama. Jujur, aku merasa tertekan, dan aku juga merasa bersalah. Bagaimana jika nantinya Ibu kandung Bea, atau istrimu tersinggung dengan hal ini? Aku benar-benar tidak ingin membuat masalah baru."

"Baiklah. Kalau begitu aku akan mengantarmu pulang."

Bianca mengira, Bryan akan marah. Tapi ternyata lelaki itu berbicara lembut padanya. Padahal tadi Bianca bisa melihat jelas jika lelaki itu menatapnya tajam setelah berbicara seperti itu. Hati Bianca merasa heran, dan ingin sekali mempertanyakan. Namun, logika Bianca meminta berhenti karena tak ingin mencampuri urusan orang lain.

Akhirnya setelah menyetujui, kini Bianca diajak Bryan menuju halaman rumah di mana mobil terparkir. Lelaki itu cukup sopan untuk membukakan pintu sebelum masuk ke mobil.

Selama perjalanan itu, suasana mobil benar-benar begitu sunyi. Bianca merasa canggung saat ini. Ingin sekali dia mengajak Bryan mengobrol, tapi dia takut jika lelaki itu tak akan menanggapi. Hal ini yang membuat Bianca memilih diam dan menyandarkan tubuh sambil memandangi jalanan yang begitu kerlap-kerlip di malam hari.

"Jadi, yang mana rumahmu?"

Pertanyaan Bryan membuat Bianca tersadar. Saking sibuknya dengan lamunan sendiri, dia sampai tak tahu jika mobil yang ditumpangi telah masuk di kawasan perumahan. Wanita itu mengatur duduknya kembali tegak lalu memperhatikan sekitar.

"Itu, gerbang warna hitam kanan jalan," tunjuknya sambil mengarahkan jari telunjuknya ke depan pada Bryan.

Bryan mengangguk dan setelah itu tak ada kata-kata lagi yang keluar dari bibirnya. Dia terus melajukan mobilnya pelan, sampai akhirnya tiba di rumah yang ditunjuk Bianca tadi. Setelahnya, dia membantu wanita itu untuk keluar mobil.

"Terima kasih, Tuan," kata Bianca tersenyum manis, berusaha bersikap sopan karena telah diantarkan pulang.

"Kalau begitu aku pulang dulu," ujar Bryan, berpamitan.

Bianca mengangguk. "Hati-hati," ucapnya pelan, sambil terus memandangi Bryan masuk ke dalam mobil.

Bahkan saat mobil itu mulai melaju meninggalkan rumahnya, Bianca terus saja mengamati. Entah kenapa, ada perasaan tak rela dalam hatinya saat melihat kepergian Bryan. Dan dia merasa jika dirinya telah gila, karena mengharapkan Bryan selalu ada di sisinya.

***

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Baby Han - (Gx G)
9.5
Mikaela, janda muda asal Thailand yang tengah hamil lewat program bayi tabung, memulai karier di perusahaan J.H Fashion, Seoul. Meski bercerai dari David karena dikhianati, bakatnya menarik perhatian Minwo Han. Namun, Judith Han, sang pemilik perusahaan yang merupakan seorang lesbian, justru mulai terpikat secara alami setelah mengambil alih urusan Mikaela. Ketertarikan Judith berkembang menjadi obsesi mendalam saat ia terus memikirkan sosok Mikaela dalam benaknya.
Sampul Novel Istri Tercampakkan, Legenda Hukum Bangkit
8.9
Tiga tahun aku membuang karier hukumku demi menjadi istri idaman Baskara Wijoyo. Namun, kesetiaanku dibalas luka saat dia lebih memilih melindungi mantan kekasihnya, Aurelia, dari tumpahan kopi panas hingga membiarkan lenganku melepuh parah. Saat itulah aku memutuskan untuk pergi. Kini, aku kembali ke ruang sidang sebagai Nemesis, pengacara legendaris yang tak terkalahkan. Aku siap menghancurkan reputasi Baskara dalam kasus terbesar yang pernah ia hadapi.
Sampul Novel My Asshole boyfriend= Destined love
9.2
Reece Andromeda, pewaris konglomerat otomotif, terjerat taruhan konyol untuk memacari Airysh Merylia, gadis yang baru saja dikhianati. Meski awalnya demi pembuktian diri, hubungan mereka guncang saat konflik Reece dan sahabatnya mencuat. Seiring waktu, rahasia kelam pun terkuak. Reece ternyata berjuang melawan trauma masa lalu di balik popularitasnya, sementara Airysh terjebak dalam misteri keluarganya yang belum terpecahkan. Akankah cinta muncul di tengah luka?
Sampul Novel Pelarian Manis Istri Pengganti
7.8
Tiga tahun Cantika menyamar sebagai Aulia demi menyelamatkan label musik keluarganya. Meski menjadi istri Kenan Adiwangsa, ia hanya dianggap pengganti yang terabaikan. Di tengah dinginnya sikap Kenan dan kelicikan Elara, Cantika bertahan meski nyawanya terancam. Saat Aulia kembali, ibunya justru mengusir Cantika tanpa belas kasih. Kini, Cantika memilih pergi dan meninggalkan luka masa lalu. Ia pun menemukan cinta sejati serta kebahagiaan bersama pria yang menghargainya.
Sampul Novel Rahim Satu Miliar Milik CEO Arogan
8.8
Arsyana Quinshaa, gadis berusia 21 tahun, terpaksa mengambil keputusan drastis demi melunasi utang besar peninggalan mendiang ayahnya, Farel Quinshaa. Ia bersedia menyewakan rahimnya senilai satu miliar rupiah kepada Kelvin Daviandra. Kelvin adalah seorang CEO yang dikenal memiliki kepribadian dingin serta arogan. Arsyana kini harus mengandung dan melahirkan anak dari pria tersebut sebagai satu-satunya jalan keluar untuk memulihkan kehormatan keluarganya.
Sampul Novel SENANDUNG CINTA
8.3
Kisah ini menyoroti perjuangan luar biasa seorang wanita tangguh dalam membuktikan eksistensinya kepada dunia melalui kekuatan cinta. Lia telah memantapkan hati untuk mengungkapkan seluruh perasaannya di momen yang paling sempurna. Dengan keyakinan penuh, ia merencanakan masa depan yang indah bersama Rangga. Takdir membawa langkah mereka menuju Negeri Sakura, Jepang, tempat di mana janji suci pernikahan akan mengikat cinta sejati mereka selamanya.