
Dua Sahabat yang Bercerai
Bab 2
Riko terdiam sejenak.
"Mely pasti sudah gila. Dia bahkan bohong dan bilang kalau neneknya mati. Suruh dia jangan main-main lagi, cukup! Aku pasti akan kembali setelah urusanku selesai."
Riko sudah lebih dulu mematikan telepon sebelum sahabatku sempat angkat bicara lagi.
Sahabatku mengembalikan ponselku lagi padaku, dan aku melihat unggahan terbaru dari akun Twitter Anita.
Dia sedang memeluk anjing peliharaannya di tepi laut sambil tersenyum lebar.
Di bawah unggahan tersebut tertulis, "Kiki hampir hilang, untung saja ayahnya menemukannya tepat waktu. Kami senang sekali!"
Aku tersenyum getir melihat unggahan tersebut, air mataku terus mengalir deras.
Sungguh ironis.
Riko bukannya menyelamatkan nenekku, malah berkeliling dan liburan bersama mantan kekasihnya serta anjing peliharaannya.
Pernikahanku dengan Riko benar-benar karena sebuah kebetulan semata.
Dia adalah dokter yang merawat nenekku. Saat itu, nenek membutuhkan biaya pengobatan yang sangat besar, dan aku sangat cemas karena tidak punya uang sebanyak itu. Riko yang menawarkan untuk membiayai pengobatan tersebut, asal aku mau menjadi pacarnya.
Dia melakukan hal itu karena tekanan dari kedua orang tuanya. Dia ingin aku pura-pura menjadi pacarnya di depan keluarganya.
Aku pun setuju. Seiring berjalannya waktu yang kami habiskan bersama, aku mulai jatuh cinta padanya.
Karena sahabatku juga menikah dengan adik lelakinya, kurasa menjadi saudara ipar dengan sahabatku sendiri juga bukan ide buruk. Aku pun mulai berusaha merebut hati Riko, hingga kami resmi pacaran sungguhan.
Sahabatku memelukku ketika melihatku menangis.
"Jangan sedih, Mely. Pria jahat itu nggak pantas diharapkan."
Aku merasa sangat terpukul mengingat kepergian nenek untuk selamanya.
Dengan suara tersedu aku berkata, "Winda, aku sudah nggak punya nenek lagi."
Sahabatku menepuk punggungku sambil menenangkanku, "Kamu kan masih punya aku, Mely. Aku akan selalu menemanimu."
Aku mengangguk.
Aku dan Winda Larasati sudah kenal sejak kecil. Kami adalah sahabat yang selalu saja punya topik untuk dibicarakan berdua. Kami bahkan lebih dekat daripada saudara kandung.
Lalu, tiba-tiba ponsel sahabatku berbunyi.
Ada telepon dari Rafi Wicaksono.
Sahabatku dan Rafi menikah karena urusan bisnis. Setelah menikah, Rafi terus saja diterpa gosip. Dulu sahabatku tidak percaya kalau Rafi akan mengkhianatinya, sampai semalam media memberitakan kalau pria itu pergi berlibur ke luar negeri dengan seorang aktris. Foto-foto kedekatan kedua orang itu juga tersebar.
Begitu Winda menerima telepon, dia mendengar suara Rafi yang terdengar marah, "Winda, aku baru turun dari pesawat dan kamu langsung cari masalah?"
"Aku cuma kebetulan bertemu dengan aktris itu di restoran. Hubungan kami nggak seperti yang diberitakan oleh media. Kenapa kamu mempermasalahkan hal sekecil itu sampai minta cerai? Sudahlah."
Winda tertawa sinis, "Kebetulan tapi kok makan bersama? Belanja berdua, bahkan menginap di hotel yang sama? Rafi, jangan kira aku ini bodoh, ya!"
Rafi tidak merasa bersalah sama sekali, "Itu semua cuma akal-akalan media saja. Aku nggak pernah menduakanmu. Terserah kamu mau percaya atau nggak. Terserah kamu juga kalau mau cerai."
Winda marah dan mau memakinya, "Rafi ... tut ... tut ...."
Panggilan sudah lebih dulu diakhiri.
Winda menyeka air matanya, "Mereka benar-benar saudara kandung. Dua-duanya sama saja. Kita harus menceraikan mereka dan menjauhi pria brengsek seperti mereka!"
Aku tahu sebenarnya Winda sangat terluka. Dia memang menikah demi urusan bisnis, tapi Winda sangat mencintai Rafi. Winda adalah putri keluarga kaya yang tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah, tapi dia rela belajar memasak demi Rafi.
Pada hari ulang tahun Rafi, pria itu pergi ke luar negeri karena urusan pekerjaan. Winda rela terbang selama lebih dari sepuluh jam hanya untuk merayakan ulang tahun pria itu. Dia juga sering begadang demi menemani Rafi lembur.
Tapi Rafi malah mengira Winda tidak punya kerjaan dan selalu mengganggunya setiap hari, membuatnya sangat kesal.
Aku dan Winda berpelukan sambil menangis.
Setelah nenek dimakamkan, aku mengirimkan pesan pada Riko. Aku menanyakan kapan dia punya waktu untuk mengurus perceraian kami.
Riko butuh waktu lama sebelum akhirnya dapat membalas pesanku.
"Mely, sampai kapan kamu mau terus pura-pura? Kamu masih saja marah hanya karena aku pergi lebih awal saat acara resepsi kita, 'kan? Kita ini sudah resmi menikah, mau ada resepsi atau nggak itu sudah nggak penting."
"Kalau kamu terus mengancam minta cerai, apa kamu nggak takut kalau aku malah mengabulkannya? Penyesalanmu akan sia-sia kalau sampai itu terjadi."
Anda Mungkin Juga Suka





